Haga mondar-mandir di depan pintu UGD. Dia cemas karena dokter tak kunjung keluar dan memberitahu keadaan Bina. Mengingat wajah gadis itu, membuat Haga kembali dilanda rasa cemas.
Ya Tuhan, kapan terakhir kali ia secemas ini?
Biasanya ia selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun, bahkan saat ayahnya harus di-opname karena penyakit jantungnya yang kembali kambuh, Haga masih bisa tenang dan berpikir jernih. Tapi kenapa sekarang ia tidak bisa tenang?
“Keluarga saudari Bina?”
Dokter keluar dari ruangan membuat Haga tergopoh-gopoh menghampiri. “Ya, Dok?”
“Anda keluarganya?”
Ditanya seperti itu membuat Haga bingung. “Saya temannya,” jawabnya setelah berpikir cukup lama.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Haga tidak sabar.
“Saudari Bina punya penyakit GERD, dan penyakitnya kambuh. Kemungkinan disebabkan karena pola makan, atau bisa juga karena mengonsumsi makanan yang dilarang seperti makanan asam...”
“—atau bisa juga kopi,” lanjut dokter itu.
Sesaat Haga terdiam. Kopi? Jadi, gadis itu tidak bisa minum kopi?
Bodoh...
***
Haga memasuki ruang rawat Bina. Gadis itu sudah keluar dari UGD, dan kini sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Keadaannya sudah membaik, namun masih harus dirawat beberapa hari untuk memastikan kondisinya sudah benar-benar stabil.
“Lho, Bapak masih di sini?” tanya Bina yang heran dengan keberadaan Haga.
“Kamu pikir saya bisa pulang dengan kondisi kamu tadi?” balasnya jengkel.
Jangankan pulang, untuk sekedar duduk saja Haga tidak sanggup!
“Makasih ya, Pak. Makasih karena udah repot-repot bawa saya ke rumah sakit.” Wajah Bina kini sudah tidak sepucat tadi, dan hal itu cukup membuat Haga lega.
“Kamu bikin saya takut,” kata Haga sambil mendudukkan dirinya di kursi samping tempat tidur Bina.
Jarak mereka yang sedekat ini membuat Bina tidak nyaman, belum lagi dengan posisinya yang saat ini tengah berbaring.
“Keadaan kamu gimana? Sudah baikan?” Haga menatap intens ke arah mata Bina, membuat Bina berusaha mengalihkan pandangannya karena salah tingkah.
“Ba-baik,” jawabnya terbata-bata.
Haga masih terus menatap wajah gadis di depannya. Wajahnya kini sudah banyak berubah. Haga baru menyadari kalau memang sudah banyak yang berubah dari diri Bina.
Bina yang dulu terlihat mungil, dan khas dengan dandanan polosnya, kini menjelma menjadi wanita dewasa yang semakin cantik tentunya.
Banyak hal yang sudah Haga lewatkan selama delapan tahun ini, banyak hal yang tidak ia ketahui juga tentang Bina—termasuk riwayat penyakit apa yang ia punya serta apa-apa saja yang tidak boleh dikonsumsinya.
“Kamu nggak bisa minum kopi?” tanya Haga membuat Bina terdiam.
Sikap diam Bina, Haga simpulkan sebagai jawaban ‘iya’. Haga merasa bodoh karena bahkan tidak mengetahui hal itu. Dulu seingatnya Bina hanya tidak suka minum kopi, dia tidak tahu kalau ternyata gadis itu juga tidak bisa minum kopi.
“Kenapa kamu nggak bilang?” ucap Haga frustasi.
“Ya karena Bapak nggak tanya,” jawabnya membuat Haga geleng-geleng kepala. Sebenarnya apa yang ada di dalam otak gadis ini?
“Harusnya kamu jangan minum, kamu mau bunuh diri atau gimana sih?!” ujarnya jengkel. Bina membuatnya kesal pada dirinya sendiri, secara tidak langsung dirinyalah yang membuat gadis itu celaka.
“Jangan bikin saya takut dong, Na! Kamu ini mau bikin saya mati muda apa?” katanya sembari meraih tangan Bina yang tidak terinfus ke dalam genggaman tangannya.
Bina mematung. Tangannya kini berada di dalam genggaman hangat tangan Haga. Harusnya sekarang ia memberontak, tapi kenapa dia malah diam saja? Ada apa dengannya?
Keduanya kini sama-sama diam. Matanya saling menatap lekat. Suasana macam apa ini? Rasanya aneh, tapi juga menyenangkan.
“Na, lo nggak apa-apa?!” suara lengkingan diiringi dengan dorongan pintu yang kencang membuat keduanya kompak melepas tatapan masing-masing.
Itu Karen. Bina memang meneleponnya beberapa saat lalu. Dia hanya ingin mengabari saja, dia tidak menyangka bahwa sahabatnya ini akan langsung mendatanginya ke rumah sakit malam-malam begini.
“Gimana keadaan lo? Apanya yang sakit?” tanyanya heboh. Mulutnya terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang sudah mirip seperti rel kereta api.
Tapi begitu matanya mendapati sosok laki-laki di samping sahabatnya, mulutnya pun langsung tertutup rapat. Belum lagi begitu ia mendapati tangan sahabatnya yang bertaut erat dengan tangan si laki-laki.
Apa tadi ia melewatkan sesuatu?—batin Karen penasaran. Apa jangan-jangan Bina sudah benar-benar menyerah pada Radit? Jika memang begitu baguslah, Radit memang tidak sebagus itu untuk diperjuangkan oleh perempuan sebaik Bina.
Menyadari tatapan Karen yang mengarah ke tangannya, Bina buru-buru melepaskan genggaman Haga. Bagaimana bisa dia tidak sadar kalau tangannya masih berada di genggaman Haga?
“Kalau begitu saya pamit pulang dulu,” kata Haga yang kini sudah bangkit dari duduknya. Ternyata bukan hanya Bina yang terlihat salah tingkah, karena Haga pun sama. Rasanya memalukan dipergoki seperti ini.
Setelah kepergian Haga, Karen langsung memberondong Bina dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhasil membuat kepalanya pusing!
“Aduh, apa sih, Ren? Dia cuma team leader-ku, ini nggak seperti yang kamu pikir!” ucapnya mulai jengah.
“Oh, jadi cuma teman kerja nih? Tapi kok pake pegang-pegangan tangan segala?” godanya tidak menyerah.
“Jangan-jangan sebelum gue dateng kalian udah ngapa-ngapain?” tanya Karen sambil tersenyum miring.
“Ngaku kalian tadi udah ngapain aja? Ya Ampun, sahabat gue udah gede sekarang, udah ngerti yang begituan.“
Dengan segera Bina melempar selimut di samping tempat tidurnya ke arah wajah sahabatnya.
“Jangan ngaco kalau ngomong!” tegur Bina.
Buru-buru Karen membuang jauh-jauh selimut itu dari wajahnya. “Bau tau!!” omelnya yang memang tidak pernah suka dengan bau-bau rumah sakit, termasuk juga selimutnya.
Memang dasar kurang ajar si Bina ini!
***
Malam ini Karen menginap di rumah sakit. Dia bilang dia ingin menjaga Bina. Karen terlihat tengah tertidur pulas di sofa panjang yang tidak jauh dari ranjangnya. Bina tersenyum tanpa sadar, dia yakin besok Karen akan mengeluh badannya pegal-pegal.
Padahal Bina merasa tidak perlu dijaga. Ia sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri, dari dulu hingga sekarang. Dia punya ibu, tapi rasanya seperti tidak punya.
Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk meratapi masalah keluarganya. Kini ia harus memikirkan soal Haga. Bina merasa ia harus mulai menjaga jarak dari pria itu. Dia hanya takut terjerat pesona pria itu seperti yang sudah-sudah. Dan tentu hal itu tidak boleh terjadi lagi.
Dia tidak mau sakit untuk ke sekian kalinya. Hidupnya sudah cukup hancur karena pria itu, dia tidak ingin lagi membuat hidupnya semakin hancur. Dan lagi, dia juga sudah punya Radit.
Tadi, saat Haga menggenggam erat tangannya, ia merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia merasakan perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan. Bina jadi merasa bersalah pada Radit.
Tangannya bergerak meraih ponselnya. Ia mencari kontak Radit, dan langsung menghubunginya. Ia lihat jam di dinding, pukul 12 malam. Sudah sangat malam, tapi rasa bersalah membuat Bina ingin segera menelepon kekasihnya.
“Halo?” jawab seseorang dengan suara seraknya.
“Radit,” ucap Bina kegirangan. Dia tidak menyangka bahwa Radit akan mengangkat teleponnya. Belakangan ini pria itu sulit sekali dihubungi, jadi tidak heran jika dia sesenang ini.
“Kamu udah tidur?” tanyanya lagi. Matanya terlihat berbinar-binar. Rasanya sudah lama ia tidak mendengar suara kekasihnya itu. Bina benar-benar merindukannya.
“Ini Bina?” tanyanya terdengar linglung. Terdengar suara gemeresak, mungkin pria itu sedang mengecek nama yang tertera di layar ponselnya.
Padahal Bina sudah senang bukan kepalang, tidak tahunya Radit hanya asal mengangkat telepon saja tanpa tahu siapa yang menelepon.
“Ada apa? Aku ngantuk banget ini,” keluhnya. Dari suaranya, Radit memang terdengar sangat mengantuk.
“Aku matiin, ya? Kita lanjut teleponan besok pagi aja.”
Besok pagi? Yang benar? Bina malah meragukan hal itu. Dia yakin Radit tidak akan menghubunginya lagi besok, dan berakhir sulit dihubungi seperti yang sudah-sudah.
“Tunggu!” cegah Bina. Sulit baginya untuk bisa terhubung dengan Radit, dia tidak mau panggilan telepon mereka berakhir begitu saja.
“Radit, aku lagi dirawat di rumah sakit. GERD aku kambuh,” adunya pada kekasih yang begitu dicintainya.
Sebenarnya ini bukan Bina sekali. Biasanya dia tidak pernah mengadu hal-hal semacam ini karena tidak mau membuat kekasihnya khawatir. Tapi kali ini berbeda, dia ingin Radit mengkhawatirkannya. Dia ingin diperhatikan seperti pasangan kebanyakan.
“Terus sekarang gimana? Ada Karen kan di sana?”
“Iya, ada Karen.”
“Yaudah, aku tenang sekarang. Selama ada Karen kamu pasti aman,” ucapnya membuat bahu Bina merosot.
“Kamu... nggak mau jenguk aku?” Bina terlihat harap-harap cemas. Sudah hampir dua minggu mereka tidak bertemu, Radit selalu saja membatalkan rencananya untuk menjenguknya di Jakarta. Dia berharap dengan sakitnya ini bisa membuat Radit datang ke Jakarta.
“Buat sekarang nggak bisa. Aku lagi sibuk banget.”
Lagi-lagi alasannya sibuk...
“Kalau minggu depan?” tanya Bina mencari peruntungan.
“Maaf, Na. Masih belum bisa, aku lagi ada project baru di kantor dan aku harus fokus 100% ke situ. Aku nggak mau fokusku ke-distract ke yang lain.”
Begitu, ya? Dia tidak mau fokusnya terbagi untuk yang lain, termasuk juga untuk kekasihnya? Padahal Bina sudah banyak bersabar. Dia sudah sering memaklumi pekerjaan Radit, tapi lama-lama dia muak juga.
“Yaudah kalau gitu, semoga project-nya lancar ya,” kata Bina yang lagi-lagi tak berani protes.
“Aku tutup teleponnya.”
Sambungan dimatikan. Hanya begitu saja, Radit bahkan tidak menanyakan soal kondisinya. Tidak ada nada khawatir dari suara Radit. Terkadang Bina bertanya-tanya, apakah Radit sudah tidak lagi mencintainya? Kenapa semakin lama ia merasa seolah laki-laki itu semakin menjauh?