UR 09 : Lembur Berdua

1849 Words
Sudah jam setengah sembilan, tapi Bina masih berkutat dengan laptop di depannya. Matanya sampai panas karena harus menatap rentetan coding selama berjam-jam. Kini tinggal dirinya sendirian di ruangan, sedangkan ketiga rekan timnya yang lain : Gilang, Dimas, dan Reno sudah pamit sejak beberapa jam yang lalu. Helaan napas putus asa terdengar dari bibir tipisnya, bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan revisi project ini dalam semalam? Rasanya tidak mungkin. “Ya Tuhan... ini gimana?” gumam Bina yang kembali mendapati error di rentetan coding yang sedang dikerjakannya. Rasanya dia ingin menangis. “Udah sampai mana?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di samping mejanya. Sesaat dia lupa kalau masih ada Haga yang sedari tadi berada di dalam ruangan pribadinya. Karena terlalu fokus, ia sampai tidak mendengar pintu ruangan laki-laki itu yang terbuka. “Dari tadi masih sampai sini?” katanya terdengar tidak suka. Bina terlihat menggigit bibirnya gugup. Ucapan menyakitkan Haga beberapa saat lalu masih belum hilang dari ingatannya, dan dia tidak sanggup jika laki-laki di sampingnya ini kembali menghujaninya dengan kata-kata sadis. “Lanjutkan, saya mau keluar sebentar.” Helaan napas lega langsung keluar dari bibirnya. Ia pikir Haga akan kembali mencaci maki dirinya, tapi ternyata tidak. Kali ini semesta benar-benar memihak kepadanya. Haga lalu keluar dari ruangan, dan bersamaan dengan itu Bina langsung menyenderkan punggungnya kasar. Ia rentangkan kedua tangannya dan melakukan gerakan-gerakan pemanasan kecil. Hari ini ia bekerja sudah lebih dari 9 jam. Ia merasa tubuhnya benar-benar remuk. Tadinya Bina berencana untuk istirahat barang lima menit saja, tapi deretan coding yang dihiasi dengan warna merah kembali mengusiknya. Bina harus segera menyelesaikannya, atau bisa-bisa dia harus bermalam di sini—dan tentu dia tidak ingin hal itu terjadi. Bina kembali fokus pada pekerjaannya. Project yang sedang dikerjakannya ini akan di-launching besok hari. Tanggal launching-nya memang sudah diset oleh divisi marketing dari jauh-jauh hari. Awalnya Bina pikir tidak ada masalah, semua sudah selesai dan sudah dapat approval juga dari Hilman yang merupakan team leader-nya saat itu. Tapi semuanya berantakan begitu Haga yang kelewat cermat menemukan kesalahan yang ternyata cukup fatal, hingga mau tidak mau mengharuskan Bina merombak habis project yang sudah dikerjakannya dengan susah payah. Tapi menyelesaikan semua ini dalam semalam benar-benar terasa mustahil baginya. Memangnya dia pikir Bina kekasih Roro Jonggrang yang bisa membuat seribu candi dalam semalam?! Haga dengan permintaan tidak masuk akalnya memang sangat merepotkan! Tapi Bina yang hanya bawahan bisa apa? Dia ini ibarat kacung yang dituntut untuk mengiyakan segala permintaan tuannya—meski dirasanya tidak mungkin sekalipun. Dan ngomong-ngomong soal Haga, kemana perginya laki-laki itu? Sudah satu jam berlalu tapi dia tidak kunjung kembali. Dia tidak mungkin pulang dan meninggalkannya sendirian di sini kan? Mata Bina mengamati keseluruhan ruangan yang sudah sepi. Tidak ada orang di sini, hanya ada dirinya. Ruangan divisi lain juga sudah kosong semua. Apa hanya dirinya yang tersisa di sini? Tiba-tiba ia merasa takut. Sejujurnya dia ini memang penakut. Dia takut dengan segala sesuatu yang berbau horror. Dan ditinggal di dalam kantor seorang diri benar-benar membuatnya takut bukan main. Kini ia sudah tidak bisa lagi fokus pada pekerjaannya. Fokusnya sudah tersita oleh rasa takut dalam dirinya. Apalagi suasana di sini sekarang benar-benar mendukung, suasananya sangat sunyi sampai-sampai ia bisa mendengar suara sekecil apapun. “Tenang Bina, kantor ini aman kok. Nggak ada hantu di sini,” ucapnya berusaha menyugesti diri sendiri. Di saat Bina berusaha tenang, ia mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat. Ia mencoba mengintip ke arah luar, siapa tahu itu suara langkah Haga yang datang. Lama Bina menunggu, namun tidak terlihat tanda-tanda kedatangan Haga. Hanya ada suara langkah kaki tanpa ada sosok yang terlihat. Ketakutan kembali menghampirinya. Ia berusaha tenang, tapi sudah tidak bisa lagi. Lembur malam memang selalu menjadi bencana baginya! Langkah kaki itu terdengar semakin dekat. Ia takut. Kedua tangannya bergerak menutup telinganya rapat, ia pejamkan kedua matanya erat-erat. Mulutnya komat-kamit merapalkan doa-doa, berharap itu bisa mengusir hantu-hantu yang berkeliaran di sekitarnya. Tapi bukannya menghilang, suara langkah itu malah terdengar semakin jelas. Batin Bina mulai kesal. Apa hantu jaman sekarang memang tidak mempan dengan doa-doa?! “Ngapain sih?” Sentakan itu membuat Bina membuka matanya seketika. Di depannya ada Haga yang menatapnya dengan kening berkerut beserta dengan dua cup kopi di kedua tangannya. Jadi laki-laki ini tadi pergi membeli kopi? “Ngapain merem-merem begitu? Pake komat-kamit segala lagi,” kata Haga heran. Perlahan Bina mulai menurunkan tangannya dari kedua telinganya. Dia berdehem singkat untuk meredakan rasa malunya. Sial, Haga pasti menganggapnya orang aneh sekarang. “Buat kamu.” Tiba-tiba Haga sudah meletakkan salah satu kopi di tangannya ke atas meja Bina. Bina menatap kopi itu dengan pandangan penuh tanya. “Buat teman lembur,” kata Haga seolah bisa membaca maksud dari tatapan matanya. “Teman kamu bilang, kamu suka kopi. Delapan tahun berlalu dan ternyata banyak yang berubah dari kamu.” Haga mengatakannya dengan sangat santai. Sesekali ia menyesap kopi di tangannya tanpa beban. Sikapnya sangat berbeda dengan Bina yang lagi-lagi harus gemetaran karena kembali diingatkan akan masa lalunya. “Ayo minum. Atau... kamu mau matcha latte aja? Seingat saya kamu memang lebih suka itu sih,” kata Haga yang terdengar seperti menyindir. Buru-buru Bina meraih cup kopi itu. Perlahan ia teguk meski tenggorokannya terasa sulit sekali untuk menelan. Jika dengan meminum kopi ini bisa membuat Haga berhenti membicarakan masa lalu di antara mereka, maka dengan senang hati Bina akan melakukannya. *** Sudah jam sepuluh malam, dan Haga memintanya untuk berkemas. Padahal pekerjaannya masih belum selesai, tapi tahu apa yang dia bilang? “Nggak apa-apa, biar besok saya minta tim marketing buat atur ulang jadwal launching-nya.” Menyebalkan bukan? Tahu begitu kenapa tidak dikerjakan besok saja? Kenapa harus lembur sampai semalam ini seolah jadwal launching itu tidak bisa diganggu gugat! “Kamu pulang naik apa?” tanya Haga disaat mereka sama-sama sedang menunggu lift terbuka. Ternyata di kantor ini memang hanya tersisa mereka berdua. “Naik taksi.” “Saya antar sekalian aja.” Itu ajakan pulang bersama kan? Tapi kenapa lebih terdengar seperti perintah? Laki-laki ini sepertinya memang tidak tahu cara bertutur kata yang benar. “Nggak usah, Pak. Saya naik taksi aja,” tolak Bina. Jangan harap dia mau satu mobil dengannya! “Udah malem, Na. Bahaya kalau naik taksi malem-malem begini, apalagi kamu perempuan.” Benar, memang bahaya kalau harus naik taksi semalam ini—apalagi kita semua tahu ibu kota memang rawan tindak kriminalitas, terutama untuk perempuan seperti dirinya. Tapi menurut Bina pulang bersama Haga juga tidak kalah berbahayanya. Ya, bahaya bagi kesehatan mentalnya! “Enggak usah, Pak. Saya baik-baik aja, Bapak nggak perlu khawatir,” tolak Bina lagi-lagi. “Keras kepala,” gumam Haga yang sayangnya masih bisa didengar oleh Bina. “Apa Bapak bilang?” Wajahnya sudah terlihat kesal, dia tidak terima dikatai begitu. “Ayo saya antar. Saya kan juga udah janji sama temen kamu, nanti dikira saya nggak gentleman lagi.” Teman? Teman yang mana? “Tolong kerja samanya ya, Na. Saya nggak mau dimarahi teman kamu yang protektif itu.” Sepertinya yang dimaksud Haga itu Gilang. Ada atau tidaknya Gilang selalu saja membuatnya repot! *** Dengan sangat amat terpaksa Bina menyetujui ide Haga untuk pulang bersama. Dan sekarang di sinilah dia, duduk manis dengan Haga yang sibuk menyetir di sampingnya. Rasanya agak canggung... “Rumah kamu masih sama?” Haga sepertinya masih teguh pada pendiriannya. Dia selalu saja memancingnya agar kembali mengingat-ingat hubungan mereka yang dulunya memang ‘cukup spesial’. “Saya tinggal di kost sekarang. Nanti biar saya kasih tau arahnya.” Ya, sepertinya percuma juga untuk berpura-pura tidak saling kenal. “Terus rumah kamu yang dulu?” “Itu rumah kontrakan,” jawab Bina singkat. Dan kenapa dia malah menjawabnya? Bukankah ini hanya akan membuat Haga senang dan semakin bersemangat untuk bertanya lebih? “Ibu kamu terus gimana? Ikut nge-kost juga?” See? Dia jadi tidak bisa berhenti bertanya! “Rumah saya ke arah sana, Pak.” Bina menunjuk ke arah kanan yang langsung dituruti oleh Haga. “Jadi selama ini kamu tetep stay di Jakarta? Atau sempat merantau ke luar kota?” tanya Haga lagi. “Di depan nanti ada pertigaan, terus belok kiri ya, Pak.” Bina seolah sedang menghindari pertanyaannya, membuat Haga tanpa sadar menghela napas putus asa. Menyadari Bina yang selalu menghindari pertanyaannya, Haga pun memilih diam. Suasana menjadi hening, membuat Haga merindukan masa-masa dulu, masa dimana Bina suka berceloteh ini dan itu kepadanya. Ternyata waktu berlalu begitu cepat, dan dia tidak menyangka waktu bisa mengubah semuanya menjadi seasing ini. “Saya boleh nyalain radionya nggak, Pak?” pinta Bina. Mungkin dia juga tidak tahan dengan suasana yang sesunyi ini. “Silakan.” Tangan Bina bergerak memutar radio acak, dan berhenti begitu lagu let it be dari the beatles mengalun. Kini ia terlihat lebih rileks. Bibirnya sesekali ikut bersenandung mengikuti irama, membuat Haga tanpa sadar tersenyum lembut. Gadis ini masih menjadi penggemar berat the beatles ternyata... Haga ikut menikmati alunan lagu dari band favorit gadis di sampingnya. Haga bersyukur karena setidaknya waktu tidak mengubah kecintaan Bina yang satu ini. Setidaknya Haga tidak terlalu merasa asing dengan sosok Bina sekarang ini. “And in my hour of darkness,” senandung Bina dengan suara lirihnya. Bibir Haga berkedut menahan senyum, dan tanpa diduga ia ikut melanjutkan, “She is standing right in right of me.” Bina terkejut mendapati Haga yang ikut melanjutkan nyanyiannya. Ia tidak tahu kalau sedari tadi Haga menyadari dirinya yang bersenandung pelan. “Suara kamu bagus,” puji Haga membuat pipi Bina memerah. Buru-buru ia membuang muka ke arah luar. Itu tadi benar-benar memalukan! *** Perjalanan menuju kost Bina ternyata cukup jauh. Kira-kira gadis itu harus berangkat jam berapa setiap harinya? Mengingat jalanan yang selalu macet sepertinya dia memang harus berangkat pagi-pagi sekali. “Kenapa nggak nyari kost yang deket kantor aja?” Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Haga sudah berusaha menahannya, tapi rasa penasarannya tidak bisa lagi ia bendung. “Karena di sana mahal.” Jawaban singkat yang langsung membuat Haga terdiam. Dia jadi tidak enak karena sudah bertanya. Haga tahu Bina memang bukan dari keluarga berada. Ia mengetahuinya dari rumahnya dulu yang jauh dari kata mewah, yang ternyata juga hanya rumah kontrakan—kenyataan itu juga baru ia ketahui hari ini. Tapi sekarang Bina sudah bekerja di HappyShop, dan Haga tahu gaji pegawai di sana tidaklah sedikit. Apa menyewa apartemen di sekitar kantor terbilang berat untuk gadis itu? Tapi rasanya cukup kalau melihat gaji di sana yang tidak sedikit. Tapi kebutuhan orang siapa yang tahu? Dan Haga juga nyatanya tidak terlalu mengenal Bina secara mendalam. Jadi tentu dia tidak bisa berasumsi seenak jidatnya. “Akh!!” Jeritan di sampingnya membuat Haga tersentak. Ia langsung menoleh dan mendapati Bina yang memeluk erat perutnya dengan ekspresi menahan sakit. “Na, kamu kenapa?” tanyanya khawatir. Tapi gadis itu tidak menjawab dan terus merintih kesakitan. Buru-buru Haga menepikan mobilnya. Ia lihat keadaan Bina, dan ia dapati wajah gadis itu yang kini berubah pucat. Haga panik, dan tanpa banyak bicara langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Selama perjalanan, Haga diliputi rasa takut dan bingung. Tadi Bina masih terlihat baik-baik saja. Gadis itu bahkan masih bisa bernyanyi-nyanyi bersamanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis di sampingnya ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD