UR 08 : Tidak Profesional

1096 Words
Bina keluar dari ruangan Haga dan segera berjalan menuju kamar mandi. Rekan kerjanya—Gilang, Dimas, dan juga Reno menatap kepergiannya dengan heran. “Dia kenapa?” tanya Dimas bingung. Gadis itu keluar dari ruangan dan langsung berjalan terburu-buru menuju kamar mandi tanpa mau menyapa mereka sedikit pun. “Kebelet kali,” balas Reno cuek. Berbeda dengan Reno, Gilang justru tidak merasa begitu. Perkara ingin buang kecil tidak akan membuat gadis itu berlari-larian seperti tadi. Setelah beberapa lama, Bina keluar dari kamar mandi. Membuat ketiga rekannya menatapnya penasaran. “Kebelet banget ya, Na? Sampai lari-larian begitu?” pancing Dimas. Bina menatap laki-laki itu bingung, tapi kemudian ia mengiyakannya dengan bahasa tubuhnya yang terlihat gugup. Dimas lalu mengangguk-angguk paham, dan kembali fokus pada pekerjaannya kembali. Tapi ada satu orang lagi yang masih terlihat penasaran, ia bahkan masih menatap intens Bina hingga membuatnya risih dengan tatapannya itu. “Lo nangis, ya?” tebaknya membuat Bina kelabakan. “Ngomong apa sih? Nggak jelas banget,” elaknya. Bina berharap sikapnya sekarang terlihat meyakinkan. Dalam hati ia mengutuk si Gilang itu, kenapa sih pria di sampingnya ini begitu peka? Kadang kepekaannya ini sering membuatnya repot! “Nggak usah bohong, mata lo merah tuh! Kelihatan banget kalau abis nangis.” Ucapan Gilang langsung membuat Dimas turut menatap Bina intens, bahkan Reno yang biasanya cuek pun juga ikut-ikutan menatapnya penasaran. Gilang sialan! “Pak Haga marahin lo?” Kali ini Dimas yang bertanya. Wajahnya terlihat begitu khawatir. Semua mata kini tertuju padanya. Mau bohong pun rasanya percuma. “Iya, ada kerjaanku yang salah. Wajar kok kalau Pak Haga marah.” “Soal desain tim UI yang salah itu, ya?” tebak Gilang yang dibalas Bina dengan anggukan lemahnya. Terkadang Bina heran, apa Gilang semacam dukun atau cenayang? Kenapa pria ini bisa tahu segalanya? “Diapain lo sama dia? Kok bisa sampai nangis gitu?” Terlihat kekesalan di wajahnya. Tapi kenapa dia harus marah? Yang harusnya marah di sini kan Bina. Dan sejak kapan dia sepeduli ini padanya? “Bukan apa-apa kok. Memang aku yang lagi PMS aja kayaknya,” elak Bina. Dia ingin menyimpan kalimat menyakitkan Haga untuk dirinya sendiri, dia tidak mau memperumit segalanya. “PMS? Bukannya udah tanggal lima kemarin?” Pertanyaan spontan Gilang langsung membuat Bina melotot. Sejak kapan pria ini tahu tanggal datang bulannya?! “E-eh, waktu itu gue nggak sengaja lihat ada pembalut di tas lo,” ungkapnya buru-buru. Pembelaan Gilang ini justru semakin membuat Bina melotot tajam. Ia juga jadi malu. Bagaimana tidak malu? Dia perempuan sendiri di sini, dan Gilang dengan entengnya membahas-bahas tentang jadwal menstruasinya, dan bahkan juga pembalut yang memang selalu dibawanya di tanggal-tanggal itu. “Waktu itu gue minjem hand sanitizer, dan kata lo suruh langsung ambil di tas. Jadi ya..., nggak sengaja lihat barang itu.” Wajah Bina semakin merah padam. Gilang telah berhasil mengubah rasa sedih karena ucapan Haga beberapa saat lalu menjadi perasaan marah bercampur malu! “Bukan salah gue ‘kan? Lo yang minta gue buka tas lo, dan mana gue tahu kalau di dalamnya ada—“ “Udah jangan dilanjutin lagi, lo bikin dia tambah malu,” kata Reno memotong kalimat Gilang. Gilang langsung menelan kalimatnya kembali. Tangannya bergerak menggaruk tengkuknya canggung. Mungkin dia baru menyadari atas ucapannya yang ternyata membuat gadis itu tidak nyaman. “Lagian gue juga nggak mau denger lebih lanjut soal jadwal menstruasinya Bina, apalagi sampai merk pembalut apa yang dia pakai,” lanjut Reno dengan entengnya. Dimas terlihat menahan tawa, sedangkan Gilang semakin canggung di tempatnya. Dasar Reno sialan! *** Haga terlihat gelisah di ruang kerjanya. Sepertinya tadi dia sudah keterlaluan pada Bina. Gadis itu terlihat seperti menahan tangis karena ucapannya. “Ck, sial!” umpatnya pada diri sendiri. Ini semua karena matcha latte sialan itu! Ia kesal karena Bina memberikan minuman itu pada pria lain. Gadis itu terang-terangan menolaknya, dan itu membuat harga dirinya terluka. Helaan napas lelah keluar dari bibirnya. Memang tidak seharusnya ia mencampur adukkan urusan pribadi ke ranah pekerjaan. Ia merasa sangat tidak profesional. Jadi dengan tekad yang sudah bulat, Haga berniat mendatangi Bina dan meminta maaf kepadanya. Ia menyadari kalau ucapannya tadi memang tidak pantas. Haga berjalan mendekati pintu, dan begitu pintu terbuka, pemandangan menyebalkan lagi-lagi berhasil mengusiknya. Ia pikir ia akan mendapati Bina dengan wajah murung dan sedih, tapi apa ini? Wajahnya justru terlihat memerah malu-malu, begitupun dengan wajah pria di sampingnya yang siapa lagi kalau bukan Gilang—pria yang sama yang telah membuatnya kesal beberapa saat lalu. Lalu dilihatnya Dimas dan Reno yang sibuk tertawa sambil menggoda keduanya. Apa-apaan ini? Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka berdua?! “E-eh, Pak Haga. Ada perlu apa?” sapa Dimas yang pertama kali menyadari kehadirannya. Tapi Haga tetap bergeming. Yang bertanya Dimas, tapi matanya justru menghunus ke arah Gilang. Membuat Gilang mengkerut di tempatnya. “K-kenapa ya, Pak?” tanya Gilang yang bingung dengan kilatan amarah di wajah atasannya. Seingatnya dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa tatapan bosnya sampai seperti itu kepadanya? “Bina.” Suara rendah Haga membuat Bina langsung bersikap siaga. “Y-ya, Pak?” jawabnya takut-takut. “Kamu lembur hari ini.” Titah yang membuat orang-orang di meja itu menelan ludahnya gugup. “Revisi pekerjaan kamu harus selesai besok pagi, jadi selesaikan hari ini juga.” Bina hanya bisa mengiyakan tanpa berani menatap mata bosnya. Haga saat ini terlihat sangat menyeramkan baginya. “Untuk yang lainnya, kalian bisa pulang tepat waktu.” “Tapi Pak, kalau mau selesai hari ini bisa-bisa selesainya tengah malam. Bina kan perempuan, apa nggak sebaiknya dilanjut besok aja?” bela Gilang. Dia tidak tega kalau Bina—yang merupakan satu-satunya perempuan di tim harus lembur sendirian. “Ini konsekuensi kalau kamu melakukan kesalahan. Dan ini pelajaran buat kalian juga, kalau sudah melakukan kesalahan ya harus berani dengan segala konsekuensinya.” Semuanya terdiam, tidak berani membantah ucapan team leader-nya yang tidak tahu kenapa terlihat sangat ganas hari ini. Atau memang ini wajah aslinya? “Kalau begitu saya ikut lembur aja, Pak. Saya nggak tega kalau dia harus lembur sendirian, apalagi belakangan ini rawan kejahatan,” kata Gilang tidak menyerah. Dimas dan Reno menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya bercampur kagum. Mereka merasa Gilang benar-benar keren. “Nggak perlu repot-repot. Kebetulan hari ini saya juga mau lembur. Teman kamu ini biar saya yang jaga, jadi kamu bisa pulang dengan tenang,” katanya dengan tatapan yang masih sama tajamnya. Haga merasa dadanya semakin panas. Tapi dia berusaha untuk menahan diri—ingat, dia harus bersikap profesional. Dia tidak mau Bina—gadis yang bahkan tidak lagi mengenalnya, membuat dirinya terlihat tidak profesional di hadapan para anggota timnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD