“Na, udah dibales sama tim UI belum?” tanya Gilang membuat Bina buru-buru mengecek emailnya kembali.
“Belum, Mas.” Ia sudah mengirim emailnya sejak beberapa jam lalu, tapi masih belum ada balasan juga.
“Coba tanyain langsung deh, urgent soalnya.”
“Oke. Aku tanyain dulu ya, Mas.” Bina buru-buru bangkit dari duduknya, dan langsung berjalan menuju ruangan tim UI design.
Sesampainya di sana, ia mendapati ruangan tim UI yang juga tak kalah sibuknya dengan tim developer. Sepertinya divisi product memang sedang sibuk-sibuknya.
Hampir semua orang sibuk dengan PC di depannya, Bina jadi bingung harus berbicara kepada siapa.
“Eh, kenapa, Na?” tanya Karen yang menyadari keberadaan Bina.
“Ada perlu apa?” Sahabatnya ini memang sangat peka.
“Ini Ren, aku ada pesen dari Mas Gilang soal hasil desain dari tim UI. Katanya nggak sesuai style guide yang dikasih.”
“Eh, masa sih?” balas Karen ikut panik.
“Tapi desain yang dikasih kan udah hasil approve ketua tim UI, Na. Masa masih ada yang salah?”
“Aku sendiri juga bingung, coba tanyain dulu ke ketua tim kamu,” saran Bina.
Dia yang masih junior pun juga bingung, dan kalau boleh jujur, dia pun ikut panik. Hampir semua project-nya kemarin mengikuti hasil desain tim UI, dan dengan style guide yang ada juga. Kalau salah, itu artinya ia harus merombak habis project-nya kemarin.
Argh... memikirkannya saja sudah membuatnya pusing!
“Oke deh, abis ini ya, Na. Soalnya Pak Julian masih ada meeting, nanti selesai meeting langsung gue kabarin.”
“Oke, makasih ya, Ren. Oh iya, ini buat kamu.” Bina meletakkan kopi dengan logo brand ternama ke atas meja Karen.
“Dalam rangka apa nih?”
“Nggak dalam rangka apa-apa. Itu cuma kopi dari ketua timku yang baru. Maaf, kopinya juga udah agak dingin.” kata Bina tidak enak. Itu adalah kopi pemberian Haga tadi yang untungnya sempat Bina bawa.
“Oh, karena lo nggak minum kopi ya?” tebak Karen. Dia tahu kalau Bina memang tidak pernah bisa minum kopi. Selain karena tidak suka, dokter juga melarangnya. Beberapa tahun terakhir lambungnya bermasalah, dan dokter memberinya beberapa pantangan—termasuk mengonsumsi kopi.
Lagipula, kopi juga membuat insomnianya semakin parah...
“Oke, makasih ya, Na. Entar kalo ketua tim lo ngasih kopi lagi, oper ke gue aja,” gurau Karen.
Sayangnya Bina malah berharap Haga tak lagi memberinya apapun lagi. Dia benci menerima sesuatu dari Haga. Meski hanya kopi sekalipun.
***
Haga mempelajari file-file di dalam laptopnya dengan teliti. Matanya terlihat fokus, sampai rasanya tidak sempat untuk berkedip. Sesekali dahinya berkerut mendapati hal yang menurutnya tidak benar.
“Kacau,” gumamnya dengan wajah keruh.
Ia kembali mengamati hasil pekerjaan salah satu anggotanya sekali lagi, dan decakan kembali terdengar dari bibirnya.
Pekerjaan ini milik Bina, dan bagaimana bisa gadis itu mengerjakannya sekacau ini? Haga tahu Bina memang yang paling junior di timnya, tapi itu juga tidak bisa dijadikan alasan untuk membuat kesalahan sefatal ini.
Haga bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar. Ia berniat memanggil Bina ke ruangannya, namun ia tidak mendapati Bina di tempatnya.
“Lang, Bina kemana?” tanyanya pada Gilang yang mejanya tepat di sebelah meja Bina.
“Lagi ke ruangannya tim UI, Pak.”
“Nanti kalau udah balik, suruh masuk ke ruangan saya,” perintah laki-laki itu. Gilang hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh, meski sebenarnya lidahnya sudah gatal ingin bertanya.
Haga sudah akan kembali ke ruangannya, namun urung begitu matanya menatap matcha latte yang tadi pagi ia belikan untuk Bina.
“Itu bukannya punya Bina?” tanya Haga sambil melirik ke arah matcha latte di atas meja Gilang yang kini sudah tinggal setengah.
“Bina nggak mau, Pak. Katanya lebih suka kopi,” katanya membuat wajah Haga semakin keruh.
Gadis itu tidak suka matcha latte? Hah, yang benar saja! Haga yakin itu hanya akal-akalan Bina saja. Gadis itu hanya tidak mau menerima minuman pemberiannya, Haga yakin itu.
Jadi ini yang Bina mau? Bersikap seolah tidak mengenalnya, dan menolak segala pemberiannya? Baik, jika itu yang dia mau, maka dengan senang hati Haga akan mengabulkannya.
***
Bina berdiri di depan ruangan Haga, matanya masih menatap ke arah seniornya di kubikel-kubikel yang tidak jauh dari posisinya sekarang.
Dimas terlihat memberinya senyuman menenangkan, sedangkan Reno terlihat tidak peduli—bahkan melihatnya saja tidak. Dan Gilang? Jangan ditanya, bukannya menenangkan laki-laki itu malah memberinya mimik wajah seolah akan terjadi hal buruk di dalam sana.
Memang hanya Dimas yang waras di sini!
Bina berusaha mengabaikan Gilang yang masih berusaha menakut-nakutinya. Bina berusaha memejamkan matanya lalu ia hela napasnya pelan-pelan untuk menenangkan diri. Namun bagaimanapun ia berusaha menenangkan diri, hatinya tetap tidak bisa tenang. Tidak tahu kenapa firasatnya seolah setuju dengan Gilang, ia merasa seolah memang akan terjadi hal buruk begitu ia memasuki pintu ini.
Bina menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, dia tidak boleh termakan oleh orang semacam Gilang. Jadi dengan tekad yang kuat ia ketuk pintu di depannya perlahan. Suara berat dari dalam memintanya untuk masuk, dan setelah menghela napas satu kali lagi, ia pun masuk melewati pintu.
Terlihat Haga di kursi kebesarannya. Dia hanya seorang ketua tim, tapi ruangannya terlihat tidak main-main. Cukup besar untuk sekelas team leader. Ya, perusahaannya ini memang sangat memanjakan karyawannya.
Tapi ruangan ini terlihat agak berbeda dari terakhir kali Bina melihatnya. Mungkin Haga sudah sempat merombaknya. Dulu waktu Hilman yang menempati, kesannya sangat monoton. Sedangkan sekarang terlihat lebih enak dilihat, Haga memberikan ornamen-ornamen yang membuat ruangan ini terlihat tidak membosankan.
Lihat saja bingkai-bingkai itu? Sangat artsy sekali. Tanpa sadar mata Bina terus menatap ke arah dinding. Bingkai-bingkai ini sangat menyita perhatiannya. Bingkai tersebut bergambar hasil potret laut yang dibuat hitam putih. Benar-benar indah.
“Sudah puas melihat-lihatnya?”
Suara Haga membuat Bina tersentak. Dia terlalu fokus pada ornamen di ruangan ketua timnya, sampai-sampai melupakan tujuannya kemari.
“M-maaf, Pak. Fotonya bagus, jadi saya—“
“Jadi kamu masih suka sama fotografi?” potongnya membuat Bina termenung.
Mereka berada di ekskul yang sama saat sekolah dulu, yaitu fotografi. Dan laki-laki di depannya ini ternyata masih belum menyerah juga soal masa lalu mereka.
“Maaf, Bapak ada perlu apa ya manggil saya?” tanya Bina yang terlihat sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
Haga menatapnya lama, lalu helaan napas pasrahnya terdengar. Tidak tahu kenapa Bina merasa kalau laki-laki di depannya ini terlihat begitu lelah.
“Duduk,” suruhnya.
Bina mendekat dan mengambil duduk di depan mejanya. “Kamu yang handle untuk tambahan menu kategori di website dan aplikasi kan?” tanyanya dengan mata yang sudah kembali fokus pada PC di depannya.
“I-iya, Pak.” Tiba-tiba Bina merasa gugup. Firasat buruknya kini semakin kuat.
“Kacau.” Hanya satu kata, namun berhasil membuat jantung Bina berdegup tidak karuan.
“Maaf?” tanya Bina. Siapa tahu dia salah dengar.
“Kerjaan kamu kacau semua.” Haga sudah memutus pandangannya dari PC, dan menatap Bina tajam.
Sejak kapan pria itu memiliki tatapan setajam ini?
Tanpa sadar Bina menelan ludahnya gugup, firasatnya mengatakan ini ada kaitannya dengan style guide yang bermasalah waktu itu.
“Kamu pakai style guide yang udah jelas-jelas salah ini?” kata Haga sambil memutar layar monitornya ke arah gadis di depannya.
Firasatnya ternyata benar...
“Masalah style guide itu, saya nggak tahu kalau itu salah, Pak. Dari tim UI katanya oke, jadi saya—“
“Harusnya kamu lihat dulu dong, sekali lihat aja udah ketahuan kalau ini salah,” potong Haga tanpa ampun.
“Tapi dari Mas Hilman juga katanya oke, jadi saya—“
“Jangan bawa-bawa orang yang udah nggak kerja di sini. Memangnya saya bisa marahin orangnya, enggak ‘kan?” sentak Haga yang lagi-lagi memotong penjelasannya.
Bina melipat bibirnya rapat-rapat. Haga saat marah benar-benar menakutkan, bahkan lebih menakutkan daripada Hilman dulu.
“Kamu udah setahun kan di sini? Masa masih nggak bisa bedain masa style guide yang bener sama mana yang enggak?”
Bina hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, dia memang salah jadi memang sudah sepantasnya ia dimarahi.
“Kamu lihat Gilang, dia juga dapat style guide yang salah dari tim UI. Tapi dia cross-check dulu, nggak main eksekusi kayak kamu.”
Bina menggigit bibirnya kuat-kuat. Semakin lama ucapan Haga semakin pedas saja.
“Kamu masuk ke sini murni ‘kan?”
“Maksud, Bapak?” tanya Bina yang kali ini memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya.
“Kinerja kamu jauh dari yang lainnya. Saya tahu kamu masih junior, tapi itu tetap nggak bisa kamu jadikan alasan terus menerus.”
“Dan saya dengar dari atasan sebelum saya, kamu memang kerjanya nggak bagus, lambat. Dulu kamu diterima di sini lewat orang dalam apa gimana?” katanya begitu pedas.
Bina menatap nanar pria di depannya. Hatinya sakit dianggap begitu. Padahal nyatanya dia mati-matian untuk bisa diterima di sini.
Tapi mau bagaimana pun dia harus tetap bersikap profesional. Jadi dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia pun menjawab, “Sa-saya masuk ke sini karena murni ikut seleksi.”
Haga agak mengendurkan mimik wajahnya saat disadarinya suara Bina yang agak tercekat.
Apa... dia sudah terlalu keras?