UR 06 : Orang Asing

1731 Words
“Permisi, Pak. Saya mau lewat,” kata Bina sambil berusaha melewati tubuh besar Haga yang masih terus berusaha menghadangnya. “Kamu nggak mungkin lupa kan, Na? Surat itu kamu tulis dan kamu kasih ke aku. Kamu—“ “Saya bilang, saya nggak ingat!!” teriak Bina membuat orang di sekitar mereka melirik penasaran. “Dan tolong, Pak. Saya mau pulang, jangan halangin saya,” lirihnya dengan napas yang memburu. Haga terlihat shock melihat Bina yang berteriak seperti itu. Karena tidak mau membuat suasana semakin kacau, ia pun membiarkan Bina pergi meski dengan berat hati. Matanya terus menatap punggung Bina yang perlahan menghilang. Dari awal dia sudah tahu kalau itu Bina—cinta pertamanya. Tapi dia masih tidak yakin, sudah bertahun-tahun berlalu, dia takut salah mengenali wajah orang. Tapi begitu Gilang mengatakan kalau Bina berasal dari SMA Cendrawasih, keyakinan Haga memuncak. Dan ternyata benar, dia adalah Bina yang selama ini ia cari. Namun sekarang, orang yang selama ini ia cari justru bersikap seolah tidak mengenalnya. Bertemu dengan Bina ternyata tak semenyenangkan yang ia duga. *** Makan malam tim berjalan membosankan bagi Haga. Kenyataan Bina yang pulang lebih dulu membuatnya tidak bersemangat. Selain itu, sikap gadis itu juga agak membuat Haga kepikiran. Dan ia bersyukur acara makan malam selesai lebih cepat. Ia pun langsung mengemudikan mobilnya ke apartemen miliknya. Dan begitu sampai ia langsung melemparkan tubuh ke sofa ruang tamunya dengan kemeja kerja yang masih melekat di tubuhnya. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Tangannya bergerak mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka bertemu Bina mampu membuat pikirannya kacau seperti ini. Karena gadis itu, Haga jadi tidak fokus sepanjang makan malam tim. Dan gadis itu merupakan bawahannya, yang artinya mereka akan bersinggungan hampir setiap hari. Apa Haga sanggup menghadapi sikap Bina yang menganggap dirinya seolah orang asing? Rasanya ia tidak rela. Padahal dulu hubungan mereka cukup istimewa, atau mungkin hanya Haga saja yang berpikir seperti itu? Haga kembali mengingat masa-masa sekolahnya dulu, masa dimana ia dan Bina masih memiliki habungan yang cukup baik. “Bagus,” kata Haga begitu melirik ke arah hasil jepretan Bina. Hari ini sedang ada turnamen basket antar SMA di sekolah mereka. Dan Haga serta Bina yang merupakan anak ekskul fotografi bertugas untuk mengabadikan momen hari ini. “Kak Haga...” gumam Bina yang kaget dengan kehadiran tiba-tiba kakak kelasnya. “Udah bagus, tapi lebih bagus lagi kalau subjeknya jangan terlalu di tengah frame. Agak divariasi biar kelihatannya lebih alami,” ucapnya memberi saran. Kecintaan Haga pada dunia fotografi yang membuatnya kenal dengan Bina, si anak tahun pertama yang baru mengikuti ekskul fotografi. Tanpa mereka sadari, hubungan keduanya menjadi semakin dekat. Bina yang haus pengetahuan akan fotografi dan Haga yang selalu senang menjelaskan ini itu membuat interaksi di antara keduanya semakin menyenangkan. Dan semakin lama hubungannya dengan Bina menjadi terasa lebih dari hubungan kakak kelas dengan adik kelas. Haga menyadarinya, dan sejujurnya dia pun menikmatinya. Dia sempat berpikir untuk meminta Bina menjadi kekasihnya, namun urung begitu suatu pagi Bina membawakannya surat merah jambu dengan kedua pipi yang memerah. Tanpa membaca pun Haga sebenarnya sudah tahu itu apa. Helaan napas terdengar dari bibir Haga. Mengingat “surat merah jambu” itu membuat Haga senang dan sedih di saat bersamaan. Dengan malas Haga bangkit dari sofa yang ditidurinya. Dengan langkah berat ia berjalan menuju kamarnya. Ia buka nakas samping tempat tidur, dan matanya menangkap surat merah muda yang masih ia simpan sampai sekarang. Ia raih surat itu, dan senyum getir mulai menghiasi bibirnya. Terus ia pandangi surat di tangannya tanpa ada niatan membukanya. Surat ini, surat cinta dari Bina untuknya. Haga sangat senang saat menerimanya. Tapi batinnya berperang saat tahu bahwa keadaan membuatnya tak bisa membalas surat ini. Takdir memang kejam... *** Pagi ini Haga sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Hari kedua ia menjalankan perannya sebagai ketua tim membuatnya cukup bersemangat. Ia berjalan menuju walking closet-nya, matanya memindai isi lemari, dan kemeja polos abu menjadi pilihannya hari ini. Ia kenakan, dan seperti biasa ia biarkan satu kancing di bawah leher tetap terbuka. Lalu tidak lupa dengan lengan kemeja yang ia gulung sampai lengan. Untuk dasi? Dia memang tidak pernah memakainya, itu membuatnya merasa tercekik. Itulah kenapa dia menyukai posisinya sekarang, karena dasi sama sekali tidak diperlukan. Ketika dirasa cukup, Haga keluar dari walking closet-nya dan bersiap untuk sarapan. Dia menantikan masakan rumah untuk sarapannya hari ini, namun ia lupa kalau pembantunya yang selalu datang setiap pagi sedang sakit. Jadi mau tidak mau dia hanya bisa sarapan roti dengan selai. Padahal dia mau kopi. Tidak apa-apa, dia akan membelinya di perjalanan nanti. Di tengah sarapannya, ia memindai isi apartemennya yang terlihat sepi. Dulu ketika di Singapore, dia juga tinggal sendiri. Keluarganya ada di Singapore, namun dia lebih suka tinggal sendiri di apartemennya. Namun berada di sini, entah kenapa terasa lebih sepi. Mungkin akan menyenangkan jika dia memiliki seseorang di sini, dan seketika pikirannya teringat akan Bina yang baru ia temui kemarin. “Ck, mikir apa sih gue!” makinya begitu pikiran memiliki Bina mulai mampir ke kepalanya. Di saat Haga berusaha mewaraskan pikirannya, ponselnya berdering dan memunculkan sebuah nama yang membuatnya berdecak tidak suka. “Morning, honey.” Sapaan dari seberang telepon membuat Haga memutar bola matanya malas. “Kenapa?” jawabnya tanpa basa-basi. “Kemarin aku telfon kamu, kenapa nggak diangkat?” balas wanita dari balik telepon. “Nggak sempet,” jawabnya singkat. “Ck, selalu aja gitu. Kamu memang nggak pernah berubah.” “Ada apa, Cla? Aku nggak bisa lama-lama, mau berangkat kerja,” kata Haga sambil menatap arloji di tangan kirinya tidak sabar. “Aku ini tunangan kamu lho, Ga. Jangan dingin gini dong,” protesnya. Ucapan Clara seketika membuat Haga terdiam. Dia lupa akan fakta itu, dan bisa-bisanya ia berpikir untuk memiliki Bina di sisinya disaat dia masih punya Clara sebagai tunangannya. “Ga? Halo? Kamu masih di sana ‘kan?” “Cla, aku sibuk. Aku tutup dulu.” Haga lalu memutuskan panggilannya. Dia terdiam sesaat. Ucapan Clara beberapa saat lalu membuat mood Haga tiba-tiba menjadi buruk. Benar, Clara memang tunangannya. Banyak hal yang terjadi sejak Haga memutuskan untuk pindah ke Singapore. Banyak hal, termasuk hubungannya dengan Bina maupun dengan Clara saat ini. *** Haga mengemudikan mobilnya dengan tidak bersemangat, entah kemana perginya semangatnya beberapa saat lalu. Yang jelas, ia merasa energinya habis setelah ditelepon Clara. Sepertinya ia butuh kopi. Jadi ia memutuskan berhenti di coffee shop sebentar, dan membeli satu untuknya. “Iced americano satu,” pesannya pada barista di depannya, dan kemudian ia teringat akan timnya. Sepertinya dia harus membeli beberapa. “Ah, maaf. Iced americano lima,” ralatnya. Tapi matanya mendapati menu matcha latte. Dia lalu teringat akan seseorang, seseorang yang sangat menyukai matcha. “Tambah matcha latte-nya satu ya, Mbak.” Sudah lama sekali, tapi dia bahkan masih mengingat hal kecil mengenai gadis itu. *** Pagi yang cukup lengang di HappyShop. Semua divisi masih terlihat santai karena memang hari masih terlalu pagi. Ada yang masih sibuk memesan sarapan lewat OB, ada juga yang masih sibuk membuat kopi atau cokelat panas di pantry. Namun beda cerita dengan tim developer yang berada di divisi product yang terlihat tidak santai bahkan di hari yang masih sangat pagi. Ini masih pagi, masih sangat awal untuk bekerja. Tapi tim developer punya deadline yang tidak bisa ditawar. “Na, ini bener nggak sih yang dikasih sama tim UI design?” tanya Gilang di sebelahnya. “Harusnya sih bener, kan udah atas persetujuan ketua timnya UI design. Memang kenapa, Mas?” “Ini nggak sesuai sama style guide yang kita kasih,” ucap Gilang membuat Bina mulai panik. Pasalnya semua project-nya kemarin ia buat mengikuti desain dari tim UI. Kalau salah, tamat sudah riwayatnya. “Coba lo konfirmasi ke anak UI, suruh mereka tanya langsung ke ketua timnya.” “Tapi kayaknya mereka belum pada dateng deh, Mas.” “Konfirmasi via email dulu aja,” kata Gilang yang saat ini sudah dalam mode serius. Walau kadang selengekan, namun saat bekerja dia bisa menjadi sangat serius—contohnya seperti sekarang ini. Bina sudah akan menghubungi tim UI melalui email, namun urung begitu Haga datang dan meletakkan beberapa cup kopi dari coffee shop ternama ke atas meja Dimas. “Buat kalian,” ucapnya singkat. “Wah, dalam rangka apa nih, Pak?” tanya Dimas antusias. Gilang bahkan sudah berdiri dari duduknya demi mengintip ke arah meja Dimas. “Nggak dalam rangka apa-apa, saya cuma kebetulan lewat dan sekalian beli kopi.” Wajah orang-orang di meja itu terlihat antusias, bahkan menurut Bina kelewat antusias. Mungkin karena selama bekerja dengan Hilman, mereka hampir tidak pernah mendapatkan hal semacam ini. Hilman si pelit itu mana mau mengeluarkan uang demi bawahannya! “Wah, makasih ya, Pak!” kata Gilang yang tiba-tiba saja sudah berlari menuju meja Dimas. Bina memutar bola matanya tanpa sadar, mungkin hanya ia dan Reno—si senior kakunya—yang masih bisa bersikap normal di sini. “Loh, kebanyakan satu nih, Pak,” kata Gilang yang menyadari jumlah minuman yang dibawakan ketua timnya. “Ini... matcha latte-nya buat siapa?” tanyanya lagi. Minuman itu terlihat berbeda sendiri di antara iced americano di sekitarnya. “Buat Bina, jaga-jaga kalau dia nggak suka kopi. Saya masuk dulu,” pamit Haga tanpa mau menoleh ke arah anggota timnya yang terlihat kebingungan. Bina menatap matcha latte di atas meja Dimas dengan tatapan yang sulit diartikan. Haga masih mengingatnya, setelah delapan tahun berlalu ternyata laki-laki itu masih mengingat minuman favoritnya. Tapi apa Bina terkesan? Tidak juga. “Lo nggak suka kopi, Na?” tanya Gilang penasaran. “Tapi memang Bina nggak pernah minum kopi ‘kan?” sahut Dimas. Selama bekerja di sini mereka memang belum pernah melihat Bina membawa kopi dari luar ataupun membuatnya sendiri di pantry. “Siapa bilang? Aku suka kok,” katanya seraya meraih iced americano di atas meja Dimas. “Tapi kata Pak Haga tadi—“ “Dia sok tau,” pungkas Bina membuat orang-orang di sana terlihat semakin kebingungan. “Jadi matcha latte-nya buat siapa dong?” tanya Dimas seraya mengangkat matcha latte di tangannya sayang. “Buat gue aja.” Tanpa malu Gilang langsung menyerobot minuman itu dari tangan Dimas. Sikap Gilang membuat Reno yang sedari tadi fokus pada pekerjaannya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir. Sedangkan Bina, dia memilih diam. Pikirannya sibuk memikirkan kembali sikap Haga yang sampai sekarang masih mengingat minuman favoritnya. Dia bahkan membelikannya untuk Bina. Dan Bina tidak suka, sikap Haga membuatnya merasa gelisah dan tidak nyaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD