Bina memasuki toilet dengan tergesa-gesa. Ia berdiri di depan wastafel dengan napas terengah-engah. Matanya menatap kaca di depannya, dan mendapati wajah pucat pasinya.
Kenapa? Kenapa takdir harus mempertemukan mereka kembali?
Kedua tangan Bina mencengkeram erat pinggiran wastafel. Dia ingin marah, tapi tidak tahu harus kepada siapa. Haruskah ia marah kepada semesta yang telah mempertemukannya kembali dengan lelaki yang beberapa tahun ini selalu hadir di mimpi buruknya?
“Kenapa kamu harus datang lagi?” gumam Bina dengan air mata yang mulai menggenang.
Memikirkan laki-laki itu membuat Bina terlempar pada ingatannya delapan tahun yang lalu. Sudah cukup lama memang, namun luka yang ditimbulkan masih sulit untuk Bina lupakan.
“Buat Kak Haga,” ucap Bina malu-malu.
Laki-laki bernama Haga itu menerima surat merah jambu itu dengan dahi berkerut. “Apa ini?” tanyanya dengan membolak-balikkan surat itu bingung.
“Jangan dibuka sekarang!” cegah Bina saat Haga sudah akan membuka surat pemberiannya.
“Buka kalau Kak Haga lagi sendiri.”
“Jangan dibuka kalau Kak Haga lagi sama orang lain,” pintanya. Meskipun bingung, namun Haga tetap menuruti permintaan Bina untuk membuka surat itu ketika dia sedang sendiri.
Bina senang. Surat yang telah ia buat sepenuh hati telah sampai pada Haga—orang yang dicintainya. Kini Bina hanya perlu menyiapkan mental untuk mendengar jawaban Haga nanti.
Keesokan harinya Bina datang ke sekolah dengan hati yang berdebar, dan dengan penuh semangat juga tentunya. Karena hari ini Haga mungkin akan memberikan jawabannya.
Namun kenyataannya bukan jawaban yang Bina dapat, melainkan gunjingan dari teman satu sekolahnya. Kabar Bina yang memberi surat cinta kepada Haga—si cowok populer di sekolahnya—tersebar dengan cepat. Bina sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa bocor.
Kecurigaan mulai menggelayuti dirinya, mungkinkah Haga yang membocorkannya?
Namun sayangnya Bina tidak bisa menemukan Haga sejak saat itu. Laki-laki itu seperti hilang ditelan bumi. Kabarnya dia pindah, tapi kenapa tidak memberi kabar dirinya?
Bina pikir hubungan mereka selama ini istimewa, itu sebabnya ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya lebih dulu melalui surat cinta beramplop merah jambu yang ia tulis.
Namun nyatanya tidak. Laki-laki itu justru memilih menghilang. Dia meninggalkan Bina bersama dengan gunjingan yang tidak berkesudahan. Bina melewati masa sekolah yang sulit karena Haga. Bina tidak merasa apa yang dilakukannya salah, tapi teman sekolahnya seolah menganggap Bina perempuan tidak benar hanya karena surat cinta itu.
Ia melewati masa sekolah yang sulit. Bullying, u*****n, hingga serangan fisik, hampir semuanya Bina dapat. Itu masa kelam yang tidak akan bisa Bina lupakan bahkan jika dia sudah mati sekalipun.
Dering telepon membuat Bina sadar akan lamunannya. Itu dari Gilang. Bina berusaha mengontrol diri. Ia hapus air matanya dengan kasar dengan telapak tangannya.
Ia berdehem singkat untuk menormalkan suaranya, baru setelahnya ia mengangkat panggilan dari Gilang. “Ya, Mas? Kenapa?”
“Kenapa lama banget ke toiletnya? Lo nggak papa ‘kan?” tanyanya terdengar khawatir.
Bina terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah kaca yang menampilkan bayangan wajahnya. Wajah pucatnya sekarang sangat jauh dari kata baik-baik saja. Ia tidak boleh kembali dengan wajah seperti ini.
“Aku izin pulang lebih dulu ya, Mas. Aku lagi nggak enak badan,” ucapnya dengan mata yang masih menatap lurus ke arah kaca.
“Lo sakit? Sekarang dimana? Biar gue anter ke kost-an lo sekarang,” katanya terdengar panik.
“Aku udah di taksi. Tolong sampein permintaan maafku aja ke yang lain, maaf karena nggak bisa ikut acaranya sampai selesai.”
Bina berbohong dengan begitu santai. Wajahnya masih terlihat datar meski saat berbohong sekalipun.
Dia tidak terlihat seperti Bina yang biasanya...
“Yaudah, hati-hati kalau gitu. Kalau memang sakit banget, minta Karen buat anterin ke rumah sakit. Atau kalau Karen nggak bisa, telfon gue aja.”
“Iya, Mas. Makasih,” balas Bina dengan wajah datarnya.
“Oke, gue tutup kalau gitu.”
Panggilan terputus. Namun tatapan Bina pada pantulan kaca di depannya masih belum terputus. Tanpa sadar genggaman tangannya pada pinggiran wastafel mulai mengendur. Kini ia bisa merasakan tangannya gemetar hebat.
Serangan itu muncul lagi...
Bina merogoh tas tangannya kasar, ia seperti tengah mencari sesuatu. Namun dia tidak menemukannya di sana. Wajahnya terlihat semakin frustasi, dan rasa cemas semakin menggerogoti dirinya.
***
Seorang laki-laki terlihat bersandar di dinding belakangnya dengan kedua tangan yang bersedekap. Sesekali matanya melirik ke arah pintu di sebelahnya, lalu beralih ke arloji di tangan kirinya seolah tengah menunggu sesuatu.
Pintu yang sedari tadi ia amati akhirnya terbuka, menampilkan sesosok perempuan yang sedari tadi sudah ia tunggu. Hal itu membuat Haga buru-buru menegakkan tubuhnya kembali.
“Pak Haga? Bapak ngapain di sini?” tanya perempuan yang sudah berada di dalam toilet itu selama berjam-jam. Entah apa yang dilakukannya, Haga pun bingung.
“Bina Renjani,” ucap Haga membuat perempuan bernama Bina itu menatapnya tidak paham.
“Nama kamu Bina Renjani ‘kan? Dari SMA Cendrawasih?”
Wajah bingung Bina kini tergantikan dengan wajah dingin.
“Aku Haga. Kamu inget aku ‘kan?” tanya Haga bersemangat. Dia bahkan tanpa sadar sudah meraih tangan Bina ke dalam genggamannya.
Senyum Haga merekah dengan lebarnya, namun tidak bertahan lama begitu Bina menepis tangan Haga yang tengah menggenggam tangannya.
“Maaf, saya nggak ngerti Bapak ngomong apa,” ucapnya dingin. Sikapnya sangat berbeda dengan Bina yang ia kenal saat SMA dulu.
“Kita dari sekolah yang sama, waktu itu kita juga ikut ekskul yang sama. Kita ikut ekskul fotografi, kamu inget ‘kan?” ujar Haga yang tampak tidak patah semangat.
“Iya, saya memang dari SMA Cendrawasih. Tapi saya nggak inget pernah kenal Pak Haga sebelumnya. Permisi,” pamit Bina.
Namun Haga masih tidak menyerah. Dia mengejar gadis itu dan menghadang jalannya. “Kamu nggak mungkin lupa. Ini aku, Haga. Kamu pernah kasih aku surat merah jambu, inget kan?”
Mendengar tentang surat merah jambu membuat tubuh Bina kembali gemetaran. Tangannya kembali berkeringat dingin, dan dia juga merasakan kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.
Sial, serangan itu datang lagi!
Padahal Bina sudah berusaha menenangkan diri selama berjam-jam di kamar mandi, tapi sekarang ia harus kembali berkutat dengan rasa paniknya karena pria di depannya ini.
Ya Tuhan, yang ditakutkannya terjadi. Haga mengingatnya dan bukan hanya dirinya, tapi juga tentang surat merah jambu itu yang sangat amat ingin Bina lupakan.
Surat itu awal dari kekacauan dalam hidupnya, dan pria di depannya ini pun juga sama—dia juga sumber dari malapetaka yang hadir di kehidupannya.
Namun orang yang paling ingin ia hindari kini justru datang tepat di hadapannya dan bahkan mengingatkannya kembali akan masa lalu pahitnya.
Sekarang apa yang harus dilakukannya?