Namun nyatanya semesta benar-benar tidak berpihak kepadanya. Dia gagal kabur, Gilang mencegahnya dan langsung menyeretnya masuk ke dalam mobilnya.
Benar-benar menyebalkan!
Dan seperti tebakan Bina, malam ini jalanan benar-benar macet. Untung dia tidak jadi naik taksi. Dan untung juga Gilang menepati janjinya untuk anteng di tempatnya. Selama perjalanan, dia benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengusiknya.
Sudah jam tujuh malam, sepertinya Bina perlu menelepon Radit—pacarnya. Setidaknya dia perlu memberi kabar kalau malam ini dia ada agenda makan malam tim.
“Na,” panggil Gilang pada Bina yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
“Na,” panggilnya lagi.
“Lo denger gue nggak, sih?” sungut Gilang yang mulai kesal diabaikan.
“Duh bentar, Mas. Lagi telfon nih,” bisiknya sambil menunjukkan ponsel di telinganya.
Gilang menghela napasnya kasar, dan berusaha kembali fokus pada jalanan di depannya.
“Radit kemana, sih?” gumam Bina karena teleponnya yang tidak kunjung diangkat.
Dan Bina menyerah pada percobaan ketiga, ya mungkin Radit memang sedang sibuk.
“Nelfon siapa, sih? Pacar?”
“Iya,” jawab Bina lesu.
“Masih belum putus juga?”
“Kalau ngomong sembarangan banget!” berang Bina.
Gilang dan mulut rem blongnya itu memang selalu sukses membuatnya kesal bukan main. Bisa-bisanya dia mendoakan hubungannya dengan Radit putus!
“Si Adit nggak bisa dihubungin lagi ‘kan? Yaudah, putus aja kenapa sih?”
“Namanya Radit!” ralat Bina. Enak saja main ubah nama orang sembarangan.
“Iya, apalah itu,” balasnya terdengar tidak peduli.
“Lo tuh b**o atau apa sih, Na? Coba deh lo pikir baik-baik tentang sikapnya akhir-akhir ini. Nelfon udah nggak pernah, giliran ditelfon nggak pernah diangkat. Terus minggu kemarin dia nggak jadi ke Jakarta nemuin lo ‘kan?”
“Mas Gilang kok tau?”
“Apa sih yang nggak gue tau,” ucapnya jumawa. Padahal Bina yakin Gilang pasti tahu info ini dari mulut ember Karen.
“Sikapnya si Adit itu udah ada indikasi ke arah selingkuh, paham sampai sini?”
Memang Mas-Masnya di kantor sudah sering menasihatinya begitu, kecuali Reno tentunya—manusia kaku itu mana mau tahu soal permasalahan asmaranya.
Tapi Bina yang memang sedang jatuh cinta ini mana mau mendengarkan. Rasanya sudah seperti masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Lagipula, bukankah kata orang percuma menasihati orang yang sedang jatuh cinta?
“Enggak, Mas. Aku percaya Radit nggak kayak gitu,” jawab Bina yang lagi-lagi batu.
“Dasar ngeyel! Entar kalau udah kejadian, jangan nangis-nangis ke gue.”
“Idih, siapa juga yang mau nangis-nangis ke situ? PD banget!” Bina lalu berbalik memunggungi Gilang dan memilih fokus pada jalanan di sampingnya. Dia sedang tidak ingin berdebat dengan Gilang, apalagi soal Radit.
Sebenarnya walaupun di mulut, Bina selalu bilang “aku percaya Radit” namun di dalam hatinya ia merasa ragu. Ia bahkan kepikiran soal kemungkinan Radit yang mendua sejak beberapa hari yang lalu.
Dia sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak, apalagi Radit juga tidak bisa dihubungi sejak kemarin. Hal itu semakin menambah overthinking-nya.
***
Sesampainya si restoran, Bina langsung duduk dengan lesu. Dimas dan Reno yang sudah lebih dulu sampai di sana menatapnya dengan kening berkerut.
“Lo apain anak orang? Kenapa suntuk banget mukanya?” tanya Dimas khawatir.
“Kenapa gue, sih? Salahin tuh si Adit!” jawab Gilang yang tidak suka disalahkan.
“Berantem sama pacarnya?”
“Nggak tau, tanya sendiri aja.” Gilang lalu mengambil duduk di samping Bina dan matanya langsung memindai isi meja dengan semangat.
“Ini kenapa tinggal segini? Gue nggak disisain?” gerutunya. Terlihat hanya tinggal beberapa lembar daging, dan sisanya hanya sayur-sayuran saja.
Percuma ditraktir di restoran mahal kalau ujung-ujungnya cuma dapat hijau-hijauan!
“Tinggal pesen lagi, udah di-booking ini sama si bos.”
Ucapan Dimas membuat senyum Gilang kembali merekah. “Akhirnya dapet bos yang agak bagusan dari Hilman,” katanya sambil mengambil sumpit miliknya.
Dia mulai mengambil daging yang tersisa, kemudian menaruhnya ke atas panggangan dan mulai membolak-baliknya perlahan.
Setelah dirasa matang, ia angkat daging itu dan ia letakkan ke atas piring di depan Bina. “Makan,” katanya singkat.
Bina menatap daging di depannya heran, lalu matanya beralih ke arah laki-laki di sampingnya.
“Gue suruh lo makan, bukan ngeliatin gue,” katanya dengan mata yang masih fokus pada daging yang sedang dipanggangnya.
Buru-buru Bina membuang muka, tangannya terangkat mengambil sumpit dan mulai melahap daging pemberian Gilang.
Enak...
Terima kasih pada Gilang karena sudah berbaik hati memanggangkan daging ini untuknya.
“Baru sampai, Lang?” tanya Haga yang tiba-tiba saja datang. Dia duduk di sebelah kiri Dimas—yang sialnya tepat berseberangan dengan tempat duduk Bina.
Bina kira kursi di sebelah kiri Dimas itu kosong, ternyata itu tempat Haga. Tahu begitu ia duduk di tempat lain saja!
“Iya, Pak. Macet tadi.”
Haga terlihat menganggukkan kepalanya singkat, dan tanpa sadar matanya bersitatap dengan mata Bina.
Buru-buru Bina membuang muka. Tangannya terlihat sibuk menyumpit daging di depannya dan langsung melahapnya dalam sekali suap.
“Ck, lo udah kayak orang nggak makan seminggu!” komentar Gilang begitu mendapati cara makan Bina yang serampangan.
Ingin rasanya ia menyumpal mulut julid Gilang. Kenapa sih dia selalu mencari gara-gara dengannya?
“Nih.” Tanpa diduga Gilang kembali meletakkan daging-daging yang sudah ia panggang dengan susah payah ke atas piring Bina.
“Makan pelan-pelan, nggak akan ada yang ambil juga,” ucapnya membuat Bina malu setengah mati.
Mereka kemudian mulai makan dengan tenang. Sesekali mereka juga saling mengobrol ringan, tapi tidak dengan Bina. Sedari tadi gadis itu hanya diam.
Kepalanya terus menunduk dan hanya fokus pada daging-daging di piringnya tanpa memedulikan percakapan di sekitarnya.
Bukannya dia sombong atau apa, dia hanya takut kembali bersitatap dengan Haga. Sejauh ini sepertinya Haga memang tidak mengingatnya. Dan itu bagus. Jadi akan lebih baik jika Bina menghindari kontak mata di antara mereka agar kemungkinan Haga mengingatnya semakin kecil.
Haga, si cinta pertamanya itu—apa jadinya kalau dia benar-benar mengingatnya? Kira-kira akan bagaimana sikapnya nanti?
“Oh jadi Pak Haga asli Jakarta?” tanya Dimas yang sayup-sayup masih bisa ia dengar.
“Iya. Saya memang kuliah di luar negeri, tapi dari SD sampai SMA saya sekolah di sini.”
Dan percakapan mereka mengenai sekolah membuat Bina tidak nyaman.
“Dari SMA mana, Pak? Siapa tau kita satu sekolah,” kata Gilang yang juga berasal dari Jakarta.
“SMA Cendrawasih.”
“Oh, Bina kan juga lulusan SMA Cendrawasih. Iya kan, Na?”
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat tubuh Bina menegang.
“Oh, ya?” balas Haga tertarik.
“Angkatan berapa?” tanyanya membuat telapak tangan Bina mulai berkeringat dingin.
Menit demi menit berlalu, semua orang di meja terlihat menanti jawaban Bina. Namun Bina sepertinya tidak menyadari hal itu, saat ini dia sedang fokus menenangkan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat hingga rasanya ingin meledak.
“Na? Lo kenapa?” tanya Gilang yang menyadari wajah pucat gadis itu.
“Sakit?” Tangan Gilang sudah akan menyentuh dahi Bina, namun urung karena Bina yang tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.
“A-aku..., mau ke toilet sebentar. Permisi,” pamitnya dengan langkah terburu-buru.
Semua orang menatap kepergiannya dengan sorot khawatir. Namun satu orang lagi justru terlihat begitu santai sambil menyesap minuman di tangannya.