UR 03 : Menghindar

1251 Words
Pria itu, dia adalah sosok dari masa lalu Bina. Sosok yang sangat tidak ingin ditemuinya. Tapi apa daya, takdir berkata lain. “Na?” tegur Gilang yang tidak mendapat sahutan. Dia pun berdecak. “Nih anak ngelamun lagi?” “Langsung seret aja, udah telat nih kita,” kata Reno tidak berperasaan. Sekarang mereka hendak pergi ke restoran barbeque yang sudah dipesan oleh atasan mereka yang baru—orang yang saat ini sedang ingin Bina hindari! Pria itu—Haga Prawira Utama, dia adalah kakak kelas Bina waktu SMA dulu. Dan tidak hanya itu, Haga juga merupakan cinta pertamanya. Kata orang cinta pertama itu selalu indah, namun bagi Bina tidak! Cinta pertamanya ini seperti mimpi buruk yang sangat ingin ia hempaskan jauh-jauh. “Aku nggak ikut ya, Mas?” kata Bina pada para seniornya di sana. “Kenapa? Sakit?” Gilang tanpa sungkan langsung meraba pipinya, lalu beralih ke dahinya. Orang ini memang tidak punya sopan santun! “Jangan pegang-pegang!!” ucap Bina galak. Gilang memang memiliki kebiasaan yang tidak Bina suka, yaitu suka pegang-pegang sembarangan. “Tapi nggak panas,” kata Gilang—tidak menghiraukan bentakan Bina beberapa saat lalu. Bina melirik kesal Gilang, lalu beralih ke arah Reno dengan tatapan memelas. “Aku baru inget kalau hari ini ada acara, Mas.” Dalam hati Bina berharap semoga Reno bisa termakan dengan bualannya ini. Namun harapannya pupus begitu Gilang ikut menimpali, “Kalau bohong yang bagusan dikit dong.” Ya Tuhan, ingin rasanya ia memukul kepala pria ini kuat-kuat. Tapi Bina mana berani? Dia kan hanya junior di sini. “Eh, lama bener! Gue tungguin di depan lift dari tadi juga,” kata Dimas dengan wajah masamnya. Dengan langkah kesal ia kembali menghampiri ketiga rekannya yang dinilainya lamban. “Ikut bentar aja, Na. Nggak akan lama juga,” kata Reno yang secara tidak langsung menolak alasannya untuk mangkir dari acara makan-makan penyambutan ini. “Lho, kenapa? Bina nggak ikut?” tanya Dimas penasaran. “Siapa bilang? Dia ikut kok!” ralat Gilang yang langsung merengkuh bahu Bina kuat-kuat. Bina yang kesal langsung mencubit pinggangnya tanpa ampun. “Sakit, b**o!” umpatnya yang langsung dibalas Bina dengan pelototan tajam. “Siapa suruh main peluk sembarangan!” “Udah ayo, tim lain udah pada nungguin nih.” Reno memimpin langkah menuju lift, yang kemudian diikuti Dimas di belakangnya. Sedangkan Bina berjalan dengan ogah-ogahan yang diikuti oleh Gilang di belakangnya. Mereka kemudian sampai di depan lift, sembari menunggu lift terbuka, Bina berdoa semoga lift ini tidak akan pernah terbuka. Terjebak di lantai ini lebih baik dibanding harus ikut acara itu dan bertemu dengan Haga ‘si cinta pertamanya’ yang suram. Namun doa Bina tidak terkabul karena pintu lift terbuka dengan mudahnya, dan entah semesta memang membencinya atau apa, di dalam lift justru terlihat Haga dengan setelan broken white tadi pagi yang masih sama kerennya. Ya Tuhan, apa lagi ini? “Loh, Pak Haga bukannya udah di lantai bawah tadi?” tanya Dimas heran. Ya, padahal Haga memang sudah pamit sejak beberapa menit yang lalu. “Tadi saya ke lantai atas, ini baru mau ke bawah.” Lantai atas? Maksudnya lantai paling atas? Lantai paling atas kan hanya untuk para petinggi, seperti direktur, CEO, juga ketua direksi. Ada urusan apa Haga ke sana? Rasa penasaran ini mungkin bukan hanya menggelayuti Bina, namun juga para seniornya yang lain. Namun karena mereka hanya bawahan, maka mereka hanya bisa menyimpan rasa penasaran itu rapat-rapat. “Nggak masuk?” tanya Haga membuat keempat orang di sana masuk dengan canggung. Berada satu lift dengan Haga nyatanya benar-benar canggung, bukan hanya untuk Bina, tapi juga untuk para seniornya yang lain. Dulu dengan Hilman rasanya tidak pernah membuat para seniornya canggung, namun dengan Haga entah kenapa begitu canggung. Padahal Haga jauh lebih muda dibanding Hilman. Entahlah, mungkin aura kepemimpinan Haga memang lebih dominan dibanding Hilman. “Saya pikir tadi Pak Haga udah di restoran,” kata Dimas mencoba memecah keheningan. “Saya masih ada urusan tadi. Tapi tim II udah ada di sana kok, saya suruh mereka duluan tadi.” “Kirain tadi kalian barengan sama tim II berangkatnya,” kata Haga heran. Dan tanpa malu Gilang langsung menyerobot, “Gara-gara ini anak nih, Pak! Lelet banget orangnya.” Tangan besar Gilang dengan tidak sopannya menekan puncak kepala Bina kuat-kuat. Orang ini sudah bosan hidup, ya? Bina menepis tangan besar itu kasar seraya melirik tajam ke arah laki-laki itu. Namun yang ditatap justru memasang wajah bodoh seolah tidak terjadi apa-apa. “Jadi mau bareng sekalian aja? Kebetulan saya bawa mobil,” kata Haga ramah. “Nggak usah, Pak. Kami juga bawa masing-masing kok,” tolak Dimas. “Kami juga rencananya mau langsung balik ke rumah masing-masing,” ucap Reno menambahkan. Kalau bolak-balik kantor memang akan makan banyak waktu, belum lagi kalau macet. Bisa-bisa mereka sampai rumah tengah malam. “Kalau Bina gimana?” Pertanyaan tiba-tiba Haga membuat Bina menegang. Padahal dia sudah mati-matian agar tidak terlihat oleh Haga. “Bina sama saya, Pak!” kata Gilang dengan cengiran khasnya—dan jangan lupa dengan tangannya yang dengan kurang ajarnya merangkul bahu Bina. Sepertinya dia masih belum kapok dengan cubitan maut Bina beberapa saat lalu. Dan dengan senang hati Bina akan kembali memberikan cubitan manis miliknya. “Akh!! Sakit, Na! Gila ya lo?!” “Mas Gilang yang gila!” balas Bina ikut berang. Dan terjadilah aksi adu mulut di antara keduanya, sampai-sampai mereka tidak sadar telah menjadi tontonan para senior dan bos mereka. Tidak lama Haga berdehem singkat, dan menyadarkan mereka bahwa bukan hanya mereka yang berada di dalam lift. “Eh, maaf Pak,” kata Gilang tidak enak. Sedangkan Bina memilih menghindar dari tatapan Haga. Pintu lift terbuka, dan mereka pun turun bersamaan. “Kalau begitu saya duluan,” pamit Haga. Ketua timnya itu melenggang lebih dulu yang langsung membuat Bina menghela napasnya lega. Tadi itu rasanya seperti uji nyali. “Mas Dimas, aku nebeng ya?” pinta Bina tanpa menghiraukan tatapan tidak terima Gilang. “Aduh jangan sama gue deh, Na. Istri gue lagi hamil, dia suka sensitif kalau nyium parfum perempuan di mobil. Suka curigaan gitu, kayaknya karena hormon ibu hamil deh.” “Ih, emang aku ada tampang-tampang pelakor apa?” sungut Bina tidak suka. Protesan Bina mengundang tawa geli Gilang. “Udah sama gue aja kenapa, sih?” “Nggak mau! Takut digrepe-grepe!” “Astaghfirullah, Na! Gue bukan cowok m***m kali,” katanya tidak terima. Salah sendiri suka pegang-pegang sembarangan! Sudah berapa kali Gilang memegangnya sembarangan hari ini? Sudah diperingati pun masih sama saja. Bina tidak mau ambil risiko! “Atau mau sama Reno aja?” saran Dimas. Bina menoleh takut-takut ke arah Reno, dan begitu melihat tampang kecutnya, Bina pun segera membuang muka. Itu juga bukan ide yang bagus... “Gue janji nggak akan pegang-pegang, lo boleh iket tangan gue kalau mau,” ucap Gilang meyakinkan. “Terus kalau tangannya diiket, yang nyetir siapa?” kata Bina sewot. Dia kan tidak bisa bawa mobil. “Iya juga, ya,” gumamnya seperti orang bodoh. “Iya pokoknya gue janji nggak akan pegang-pegang. Berani sumpah deh gue, udah ayo keburu nggak kebagian makanan nih kita.” Gilang lalu memimpin jalan yang dengan terpaksa Bina ikuti. Kalau saja tidak macet, mungkin Bina akan memilih untuk naik taksi. Tapi masalahnya saat ini adalah jam-jam macet, bisa berat di ongkos nanti. Dan lagi, apa dirinya memang harus ikut acara makan malam hari ini? Tidak bisakah ia kabur? Dia sungguh tidak ingin bertemu dengan “orang itu” apalagi sampai makan semeja dengannya. Semesta, tolong berpihaklah padaku kali ini saja...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD