Ucapan Karen kemarin terus terngiang-ngiang di kepalanya. Kekhawatiran tentang Radit yang mulai bosan terhadapnya, atau bahkan laki-laki itu yang sudah memiliki perempuan lain membuat Bina panik bukan main.
Dan entah kenapa ciri-ciri Radit kini semakin mengarah ke sana. Dia mulai jarang meneleponnya, bahkan tak jarang hilang kabar seharian. Padahal Radit cukup aktif di sosial medianya, tapi kenapa untuk menghubungi Bina saja rasanya begitu sulit?
Memikirkannya membuat mood Bina buruk, tak terkecuali hari ini.
“Muka lo kenapa sih, Na? Ditekuk mulu dari kemarin,” kata Gilang tidak senang.
Pasalnya suasana hati Bina yang buruk ini membuat Gilang jadi tidak leluasa menjahili gadis itu.
Dia takut kena damprat!
“Ck, diem deh, Mas. Hari ini jangan ganggu aku dulu,” kata Bina, membuat Gilang ikut-ikutan menekuk wajahnya.
Padahal menjahili Bina adalah moodboster baginya, tapi beberapa hari ini dia kehilangan kesenangannya itu!
“Stt... mau denger gosip nggak?” kata Dimas sambil berbisik-bisik di depan kubikelnya.
Selain jadul, bapak satu anak ini ternyata juga penggosip!
“Apaan, Dim?” sahut Gilang ikut-ikutan.
Bina memutar bola matanya malas. Timnya punya satu lagi penggosip di sini.
“Gosip tentang pak ketua nih,” katanya membuat Bina mulai tertarik.
Kalau tentang Hilman, dia pun juga penasaran.
“Kenapa si Hilman?” tanya Gilang tidak sabar, sedangkan Bina diam-diam memasang telinganya baik-baik.
Kubikelnya berada tepat di depan meja Dimas, jadi mudah saja bagi Bina untuk mencuri dengar. Sedangkan Gilang yang mejanya bersebelahan dengan Bina langsung mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan meja Dimas.
Keponya sudah melebihi ibu-ibu kompleks!
“Katanya dia mau resign.”
“Hah?!” kata Gilang dan Bina bebarengan.
Teriakan keduanya membuat Reno yang tadinya sibuk menatap mereka tidak suka. Buru-buru Bina membekap bibirnya, sedangkan Gilang justru berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Itu gosip dari mana?” tanya Reno yang tanpa disangka juga ikut penasaran.
Si kaku itu ternyata punya rasa penasaran juga.
“Tadi gue denger anak-anak HRD lagi diskusi soal orang yang mau gantiin si Hilman.”
Kalau sumbernya dari mulut HRD, ini bukan gosip lagi namanya. Sudah pasti fakta!
“Jadi..., resign beneran nih?” kata Gilang yang masih sulit percaya.
Pasalnya si Hilman ini terkenal dengan kecintaan dan keloyalannya terhadap perusahaan. Karier delapan tahunnya di sini sudah membuktikan betapa loyal dirinya.
“Kenapa resign, ya?” gumam Gilang yang masih penasaran dengan gosip tiba-tiba ini.
“Alasannya nggak penting, yang penting dia resign. Gue udah nggak betah dipimpin si Hilman, berasa kerja rodi tau nggak?” kata Dimas yang turut kuiyakan dalam hati.
Bina pun tidak cocok dengan sistem kerja Hilman yang terlalu “sat-set sat-set”. Ada kalanya mereka ingin bersantai sejenak, tapi karena atasannya seloyal Hilman ia jadi tidak bisa bersantai barang sedetik—seolah waktu sedetik itu bisa membuat perusahaan rugi milyaran rupiah!
“Entar malem kita makan-makan, yuk,” ajak Gilang membuat ketiga rekannya menoleh ke arahnya bingung.
“Tumben?” komentar Dimas.
“Dalam rangka apa nih?”
“Merayakan resign-nya si Hilman,” kata Gilang kurang ajar.
Gilang berani berbicara begitu karena tahu ketua timnya tidak ada di ruangan, Hilman sedang ada meeting di luar sejak pagi. Coba saja kalau ada Hilman di dalam, sudah pasti dia akan kicep di tempatnya.
***
Benar kata orang, gosip itu adalah fakta yang tertunda. Contohnya seperti sekarang, gosip Hilman resign ternyata benar adanya.
Pagi ini Hilman pamit dengan membawa box besar berisi barang-barangnya. Dia sempat memberi wejangan-wejangan kepada para timnya, yang dibalas para anggota tim dengan wajah sedih yang tidak terlihat meyakinkan.
Ya, setidaknya mereka sudah berusaha...
Dan alasan Hilman resign ternyata untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Dia ingin mengejar gelar yang lebih tinggi. Ya, bukan sesuatu yang mengherankan—mengingat mereka tahu bagaimana terobsesinya Hilman dengan pencapaian karier yang tinggi.
Setelah kepergian Hilman dengan acara yang cukup “mengharu biru” itu, kini mereka tengah menanti penggantinya yang mereka harapkan akan lebih baik dari Hilman—baik dari segi pekerjaan maupun hati nurani tentunya.
“Denger-denger dia masih muda,” celetuk Dimas yang entah mendapat gosip dari mana.
Apa jiwa kebapakan Dimas kini telah berubah menjadi keibuan? Kenapa dia jadi suka bergosip begini?
“Semuda apa?” pancing Gilang. Dua orang ini memang saling melengkapi.
“Katanya sih 27.”
Sontak Bina, Gilang, dan Reno menatap Dimas ngeri. Bagaimana mungkin ia mendapat informasi sedetail itu?
Dan seolah paham maksud tatapan rekan timnya, Dimas pun buru-buru menambahkan, “Temen gue ada yang kerja di bagian HRD.”
Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka membuat keempat orang di sana berdiri dengan buru-buru. Mereka bangkit bersamaan dengan serampangan. Karena Dimas dan gosip sialannya, mereka jadi tidak fokus menyambut atasan baru mereka.
Sosok pria berpenampilan rapi dan tegap memasuki ruangan. Pria tampan bertubuh tegap itu mengenakan kemeja broken white dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku. Paras dan perawakan pria itu sangat tampan, sangat-sangat tampan!
“Selamat pagi semuanya,” sapa pria itu yang dibalas oleh semua anggota tim di sana—semua, kecuali Bina.
“Saya Haga Prawira Utama, ketua tim baru di sini. Semoga ke depannya kita bekerja sama dengan baik.”
Semua orang terlihat menyambut sapaan pria bernama Haga itu dengan hangat, namun tidak dengan Bina. Gadis itu dari tadi hanya diam, dia bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun sejak Haga memasuki ruangan.
***
“Na?”
Namun yang dipanggil hanya diam, sibuk menyelami isi pikiran sendiri.
Gilang beradu tatap dengan Dimas, namun Dimas hanya membalasnya dengan mengedikkan bahunya tidak tahu.
“Na,” panggil Gilang sekali lagi yang kali ini disertai dengan sentuhan kecil di pundaknya.
“Eh, iya Mas? Kenapa?” ucapnya gelagapan.
Lagi-lagi gadis itu melamun...
“Tugas yang kemarin gue kasih udah selesai belum? Atau masih ada kendala?”
“Oh, udah kok,” kata Bina sambil mengotak-atik file program di laptopnya dengan ling lung.
“Lo hari ini kenapa, sih?” tanya Gilang dengan tatapan serius.
“Maksudnya?”
“Lo banyak diem, sering ngelamun juga. Kenapa? Berantem sama pacar?” tanya Gilang tanpa ada nada mengejek di suaranya.
Bina diam sebentar, namun setelahnya ia memasang wajah cerah sembari berkata, “Enggak kok, aku baik-baik aja.”
Gilang mengamati wajah Bina dengan seksama, dan kemudian menghela napasnya tanda menyerah. “Yaudah kalau nggak mau cerita.”
Walaupun Gilang terkenal iseng, namun sebenarnya dia orang yang pengertian dan juga peka. Sosoknya benar-benar seperti kakak bagi Bina.
Dan feeling Gilang memang benar, ada sesuatu atas diamnya Bina seharian ini. Bukan karena Radit—pacar Bina, melainkan karena pria yang beberapa saat lalu memperkenalkan diri sebagai ketua tim merekalah yang membuat Bina diam seharian ini.
Pria itu, Bina mengenal pria itu. Bahkan sangat amat mengenalnya dengan baik...