“Di mana Big Papa?” tanya Marry, saat ini dirinya tengah berada di salah satu ruangan khusus yang menjadi laboratorium pribadi Black Shadow.
“Big Papa pergi tak lama setelah kau pergi, divisi ketiga baru saja mengalami kekacauan,” jawab Ivana, dia adalah dokter muda yang lulus kuliah dengan nilai terbaik, namun sayang, nilainya tak sebaik kelakuannya. Ivana, wanita berdarah campuran Asia dan Barat, namun wajahnya lebih dominan ke Barat. Pecinta sains. Tidak, sepertinya bukan hanya ‘pecinta’, tetapi sudah masuk ke ‘obsesi’. Wanita itu menjadi dokter atau ilmuan misterius Black Shadow, hanya beberapa orang penting yang boleh mengenalinya. Selain Marry dan Diandra, identitas Ivana juga masuk ke dalam rahasia besar Black Shadow. Kerahasiaannya makin kuat karena ia juga termasuk anggota ber-level sss.
“Di mana Diandra?” kini giliran Ivana yang bertanya, Marry yang mendengar ini segera menjawab,”Wanita itu sedang mengurus masalah barusan.”
Ivana mengangguk mengerti, lalu terkekeh. “Aku harap keberadaan nar***a AQM-304 tidak akan bocor ke telinga pemerintah.”
Marry memutar bola matanya malas. “Seharusnya ibumu dan kau tidak menciptakan barang merepotkan seperti itu.” Ivana yang mendengar ini tertawa, lalu membalas,”Kau pikir dari mana kekayaanmu selama ini, Marry?”
“Membunuh orang menyebalkan sepertimu,” balas Marry.
“Lagi pula sudah takdir kita menjadi seperti ini, hidup di dunia gelap yang memberlakukan hukum rimba, bukankah menantang?” ujar Ivana, kedua mata wanita itu menyipit sembari bibirnya tersenyum. Marry yang mendengar ini tersenyum miring, lalu memalingkan kepalanya ke arah lain dan membalas,”Diandra mengatakan bahwa sebenarnya sedari dulu kita bisa mengubah takdir kita, namun hanya diri kita sendiri saja yang tidak pernah berusaha keluar dari lingkaran hitam.”
Ivana terdiam sejenak, namun tak lama dia kembali tertawa, membuat Marry kembali menoleh dan menatapnya.
“Kita ini manusia yang serba salah, Marry. Keluar mati, bertahan pun pasti nanti juga akan mati. Tidak mungkin Big Papa akan memudahkan anggotanya keluar masuk begitu saja? Hidupmu bisa semakin menegangkan, karena akan diteror oleh Black Shadow. Jadi, dari pada memikirkan bagaimana caranya keluar baik-baik dari Black Shadow, lebih baik kau memikirkan caranya bertahan hidup, memb***h musuh, dan menduduki peringkat ke atas. Lagi pula, bukankah kau sudah melakukan segalanya untuk mendapati peringkat sss di Black Shadow? Hanya ada satu sampai tiga orang di divisi yang memiliki anggota sss. Terlebih lagi kau, aku, dan Diandra terpilih secara khusus untuk berada di divisi utama bersama Big Papa. Karena kau sudah melakukannya, kau tentu saja tidak akan bisa kembali dengan mudah, bahkan tidak akan pernah bisa. Sekali masuk, maka akan terjebak selamanya di dalam. Satu lagi, untuk apa kau memikirkan hal seperti ini? Bukankah sebelumnya kedua orang tuamu juga mengabdi kepada Black Shadow sampai mati?”
Marry memijit keningnya yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa. “Mendengar ocehan panjangmu barusan membuatku sakit kepala. Siapa pula yang tidak tahu hal seperti itu? Dan untuk kedua orang tuaku, takdir mereka yang mengabdi kepada Black Shadow sampai berani mengorbankan nyawa mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan takdirku. Jalan hidup mereka adalah miliki mereka sendiri, begitu juga untukku.”
Ivana tersenyum tipis. “Ya… Begitulah temanku Marry.” Marry yang mendengar ini mengerutkan keningnya, lalu menaikkan alis kirinya sedikit. Ivana terkekeh. “Tidak ada, aku hanya sedang membicarakan sifat kerasmu.”
“Apa yang sedang kau bicarakan sama sekali tidak masuk ke dalam topik yang sebelumnya kita bicarakan,” balas Marry malas, sambil memutar bola matanya jengah. Ivana sekali lagi terkekeh. “Baiklah, kalua begitu lupakan saja. Lebih baik jika kita fokus ke tulang bahumu yang retak.”
“Kira-kira, berapa lama aku bisa beraktivitas normal?” tanya Marry.
“Besok pun bisa, tidak ada alasan untuk Black Shadow beristirahat. Ini hanya tulang yang retak, bukan tulang melebur,” balas Ivana, membuat Marry menatap kesal ke arahnya. “Aku tahu itu, berhenti membahas aturan umum Black Shadow. Aku bertanya, kira-kira berapa lama aku bisa beraktivitas normal?”
Ivana menyeringai tipis, lalu menjawab, “Maaf, aku lupa bahwa ‘aktivitas normal’ milikmu berbeda dengan milik orang lain.” Marry yang mendengar ini mulai merasa jengkel, mengapa Ivana selalu saja mengucapkan sesuatu yang tidak berguna dengan senyumannya yang mengerikan itu? Dia dan Big Papa sama sekali tidak ada bedanya.
“Benar, kau baru sadar? Jika aku kembali ‘beraktivitas normal’, maka orang pertama yang akan aku bun*h adalah dirimu,” balas Marry. Ivana mengangkat kedua bahunya acuh, lalu menepuk bahu kanan Marry yang retak. Marry langsung menangkap tangan Ivana menggunakan tangan kirinya, lalu mencengkeram tangan perempuan itu kuat dan berkata,”Percayalah, selanjutnya bukan hanya bahuku yang retak, tetapi pergelangan tanganmu juga demikian.”
Ivana menyeringai tipis lagi, lalu membalas,”Oh, begitu? Wah… Aku sangat menantikan sensasi luar biasa saat kau mematahkan tanganku.”
Marry mengerutkan keningnya dalam, menatap Ivana jijik. “Psikopat.”
“Pembunuh,” balas Ivana.
Marry menghela napasnya gusar, setelah itu melepas cengkeraman tangannya dari tangan Ivana kasar, lalu berjalan keluar dari ruangan Ivana. “Sudah cukup, berbicara denganmu hanya membuat otakku tambah gila rasanya.”
Ivana tertawa lagi, wanita itu terlalu banyak tertawa. “Iya-iya, aku mengerti obsesimu padaku hingga membawa-bawa gila. Jangan lupa untuk rajin mengunjungiku tiga hari sekali!”
Marry yang mendengar ini tetap melanjutkan langkah kakinya, tidak menoleh atau pun menjawab. Ketika Marry hendak kembali ke kamarnya, dia berhenti di depan ruangan Big Papa terlebih dahulu. Terdengar suara Big Papa dari dalam, dan sepertinya juga ada Diandra di sana. Marry segera mengetuk pintunya, dan tak butuh waktu lama, Big Papa langsung mempersilahkan Marry masuk. Saat masuk, Marry melihat raut wajah Big Papa masih santai seperti biasa, walaupun sempat ada kejadian barusan. Melihat dari raut wajah tegang Diandra yang jarang muncul, pasti wanita itu sudah menceritakan apa yang telah menimpanya.
“Big Papa, apakah-“ belum sempat Marry bebricara utuh, Big Papa sudah langsung memotong ucapan tidak sempurnanya. “Marry.”
“Aku,” jawab Marry cepat.
Big Papa melirik ke arah bahu Marry yang diperban, lalu kembali menatap Diandra, dan kemudian ke arah meja. Di atas meja kini sudah ada tas n*****a AQM-304, mata Big Papa menatap dingin ke arah tas tersebut.
“Pihak Italia sudah mengerti alasan kita,” ujar Big papa. Marry yang mendengar ini mengangguk cepat. “Aku mengerti, besok aku akan keluar dari markas sambil membawa AQM-304, akan aku usahakan untuk segera mengantarkan n*****a ini ke Italia. Berikan aku waktu setidaknya satu minggu.”
Big Papa yang mendengar ‘satu minggu’ menaikkan alis kirinya. “Satu minggu?” tanyanya. Marry mengangguk lagi. “Maaf, namun untuk sekarang ini aku tidak bisa bergerak gegabah. Aku tahu tidak ada alasan Black Shadow untuk beristirahat, namun aku juga tidak dapat memaksa. Pihak Sawamura sangat agresif, jika kita juga menghadapinya secara agresif, hasilnya akan buruk.”
Diandra yang mendengar ini pun ikut mengangguk, lalu membantu Marry untuk meyakinkan Big Papa. “Kau tidak perlu khawatir, Big Papa. Aku juga akan membantu Marry, aku juga melihat betapa agresifnya gerakan mereka. Sepertinya mereka benar-benar serius mengincar AQM-304. Jika berbahaya seperti ini, apa tidak sebaiknya kita batalkan saja transaksi ini? n*****a ini juga tidak boleh bocor sampai ke telinga hukum.”
Big Papa yang mendengar usul Diandra segera menggelengkan kepalanya. “Tidak semudah itu, Diandra. Pembelian n*****a ini memiliki surat perjanjian dengan risiko tinggi, ini bukan transaksi jual beli makanan.”
“Mengapa anda harus setuju melakukan transaksi berbahaya seperti ini, Big Papa?” tanya Diandra lagi. “Seharusnya anda tahu bahwa transaksi ini memiliki efek dan risiko yang besar,” lanjut Diandra.
“Pihak mereka memiliki kartu kematian Black Shadow.” Bukan Big Papa yang menjawab, melainkan Marry. Diandra yang mendengar ini segera membelalakkan matanya. “Benarkah?!” Lalu wanita itu menatap Big Papa, menuntut penjelasan. “Mengapa anda tidak bercerita apa pun tentang masalah ini?”
Big Papa tersenyum tipis. “Aku bahkan tidak menceritakannya pada Marry, memang temanmu saja yang kelewat pandai mengorek rahasia.”
Marry menghela napas gusar. “Aku tidak peduli dengan kartu kematian Black Shadow yang mereka miliki, yang terpenting adalah jangan sampai kita mengirim seluruh stok AQM-304 ke mereka.”
“Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu kemarin malam? Aku hanya mengirim setengah,” ujar Big Papa, mengingatkan Marry.
Marry menganggukkan kepalanya singkat. “Ya-ya, bagus kalua begitu. Walaupun mereka memiliki kartu kematian kita dan AQM-304, setidaknya kita juga memiliki sesuatu yang berharga.”
“Kita hanya memiliki AQM-304,” jawab Diandra sambil memutar bola matanya malas. Marry yang mendengar ini mengangguk. “Ya, AQM-304 dan anggota sss dengan skill membunuh terbaik. Untuk apa mengkhawatirkan hal seperti itu? Lebih baik langsung dibersihkan.”
“Kau pikir membersihkan mereka seperti membersihkan kotoran?” kesal Diandra karena Marry terlalu menyepelekan masalah besar seperti ini. Marry mengangguk, lalu mengambil tas AQM-304 dan segera berbalik untuk keluar ruangan. “Ya-ya, benar. Terserah padamu saja, aku ingin kembali ke kamar lebih dulu.”
Setelah berada di luar ruangan Big Papa, raut wajah Marry yang tadi santai langsung segera berubah menjadi dingin dan datar.
‘Kartu kematian Black Shadow, ya?’ batinnya.