6. Gagal Terbang Ke Italia

1232 Words
“Katakan kepada Big Papa, bahwa aku tidak dapat berangkat ke Italia sekarang! Mendesak! Aku tidak dapat menjelaskannya sekarang!” seru Marry, dia menelepon Diandra setelah lama menghubungi Big Papa namun tidak ada hasilnya. Entah kemana pria tua itu, membuat Marry kesal. “Tidak dapat ke Italia?! Kau serius?!” balas Diandra, wanita itu terkejut bukan main. Terdengar dari suaranya, sepertinya wanita itu juga masih berada di luar berkendara mobil. “Ya! – Ah! s****n!” umpat Marry karena tiba-tiba pria misterius itu menembak kaca belakang mobilnya. Suara pecahan kaca terdengar nyaring sampai Diandra dapat mendengarnya. “Marry! Katakan, di mana posisimu sekarang!” pinta Diandra mendesak, nada bicara wanita itu berubah menjadi benar-benar serius, tidak seperti biasanya. Marry yang melihat ini segera menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan jalanan sekitar. “Aku masih di sekitaran bandara, tidak terlalu jauh,” jawab Marry cepat. Diandra yang mendengar ini mengangguk mengerti, lalu menjawab,”Aku akan memutar balik mobilku! Usahakan tidak melaju terlalu jauh!” Marry yang mendengar ini tidak menjawab apa pun, dia segera mematikan telepon dan kembali fokus menyetir. Pria itu benar-benar menyebalkan, menembaki mobilnya secara terus menerus. Marry mengambil pistolnya, kemudian membuka jendela mobil dan menembakkan peluru ke belakang. Karena sambil menyetir, membidik pria itu cukup sulit, terlebih lagi pria itu mengendarai motor, membuat dia mudah menyalip. Namun, bukankah identitas Marry adalah anggota sss? Seharusnya masalah ini bukanlah masalah. Marry dengan hati-hati tetapi pasti, membidik pria itu melalui kaca spion samping mobil. Baiklah, katakan caranya gila dan terdengar tidak masuk akal, namun… Dor! Peluru Marry melesat kencang, mengenai ban motor pria tersebut. Gerakan miliknya sempat oleng, membuat Marry tersenyum tipis lalu sengaja memperlambat laju mobilnya. Setelah jarak mereka termasuk dekat, Marry tanpa ragu langsung menghantam motor pria tersebut menggunakan body mobilnya. Brak! Bunyinya sangat nyaring, membuat situasi jalanan menjadi jauh lebih kacau. Banyak orang yang menonton penasaran, namun Marry tidak peduli. Wanita itu malah menyeringai puas. Namun tak lama kemudian saat Marry kembali melirik ke spion kaca mobilnya, dia melihat pria misterius itu melompat dari matornya lalu berputar dan dengan cepat naik ke atas atap mobilnya. Marry menggertakkan giginya kesal, keningnya mengerut. Tanpa peduli dengan suasana jalan raya yang sedang sangat ramai, Marry langsung menginjak pedal gas mobil lebih dalam. Membuat mobilnya melaju snagat kencang tak terkendali, Marry sesekali membuat gerakan abstrak, memboyak pria misterius yang tengah berusaha tetap bertahan di atas atap mobilnya. Dari kejauhan, tepat di depannya, Marry melihat mobil Diandra muncul dengan kecepatan yang tidak dapat diperkirakan. Diandra membuka jendela mobilnya, lalu membidik ke arah atap mobil Marry, berniat menembak pria misterius tersebut. Dor! Suara tembakkan terdengar nyaring, Marry pun sempat mengerutkan keningnya dalam karena guncangan tembakan milik Diandra. Pria misterius yang ada di atap mobil masih tetap bertahan, pria itu bahkan sempat melirik ke suatu arah, seperti melempar sebuah kode. Marry yang melihat ini sengaja mengganggunya dengan gerakan zig-zag yang kasar, membuat pria misterius itu terganggu dan kembali tiarap memeluk atap mobil. Diandra yang melihat ini tertawa keras, lalu kembali menatap Marry. Kedua mata mereka bertemu, dan secara bersamaan keduanya mengangguk. Diandra menggeser jalan laju mobilnya ke kiri, lalu saat mobil bereka berpapasan, kedua wanita itu langsung berseru sambil menyebutkan nama keduanya berbarengan. “Marry!” “Diandra!” Diandra mengadahkan kedua tangannya, lalu dengan cepat tas AQM-304 berpindah tempat ke tangan Marry. Setelah nar***a AQM-304 aman, Marry menghela napas lega, lalu kembali fokus mengurus pria misterius tersebut. Marry menambah kecepatannya lagi, menekan pedal gas mobil lebih dalam. Kerusuhan besar terjadi, suara sirene mobil polisi terdengar, namun hal itu tidak menjadi masalah besar untuk Marry. Diandra sudah melajukan mobilnya lebih dulu untuk kembali ke markas, karena bagaiamanapun sekarang dia lah yang berada di posisi genting. Tidak ada jaminan bahwa orang-orang Sawamura yang bersembunyi muncul dan menyerangnya, AQM-304 wajib dilindungi oleh anggota sss seperti mereka. Marry membawa mobilnya ke tanah kosong, menjauh dari keramaian dan kejaran polisi. Sampai dia melihat proyek gedung yang baru setengah jadi, Marry tersenyum tipis. Ide gila kembali muncul di otaknya, setelah itu dia bergumam,”Ucapkan selamat tinggal kepada kehidupan, tuan.” Marry terus melaju dengan kecepatan kelewat tinggi, sampai akhirnya mobil Marry menghantam keras bangunan. Boom!! Suara besar seperti bom meledak berdentum keras, mobil yang Marry kendarai hancur. Mobil itu meledak, mengeluarkan api besar. Suara runtuhan bangunan setengah jadi itu terdengar jelas, tak butuh waktu lama untuk ambruk. Marry mengatur napasnya, kini dia sedang berada di luar mobil, berusaha berdiri walaupun terasa sempoyongan. Wanita itu nekat menghantamkan mobilnya, kemudian dengan secepat kilat berhasil keluar dari mobil. Ya… Walaupun Marry sendiri mengalami cedera. Kemeja yang dipakai Marry sobek, terlihat di pergalangan tangannya ada darah segar mengalir. Napas Marry memburu, wanita itu memperhatikan tajam mobilnya yang terbakar, ingin memastikan apakah pria misterius itu mati atau tidak. Namun, sudah ditunggu cukup lama, sama sekali tidak ada gerakan darinya, seolah dia sudah mati dan terbakar. Hm, sepertinya memang seperti itu. Marry duduk di tanah, napasnya masih memburu. Tiba-tiba saat dia ingin merogoh kantung kemejanya untuk mengambil ponsel, bahu tangan kanannya terasa sangat sakit, membuat keningnya mengerut dalam. s**l, sepertinya tulang bahunya retak. Marry mengganti tangan kirinya untuk mengambil ponsel, dan beruntung karena bahu kirinya baik-baik saja. Marry menyalakan layar ponselnya, mencari kontak Diandra. Seharusnya wanita itu sudah sampai di markas dan mengamankan AQM-304, sehingga dia dapat kemari untuk menjemput dirinya. Tak butuh waktu lama seperti saat menelepon Big Papa, Diandra langsung menjawab panggilannya. “Marry, kau baik-baik saja?” tanya Diandra langsung begitu dia menjawab panggilannya, sauranya yang biasanya dipenuhi aura konyol hilang, kini hanya tersisa keseriusan. Marry yang mendengar ini mengangguk. “Ya, aku baik-baik saja, hanya tulang bahu kanan yang retak.” “Oh, baguslah. Apa kau perlu aku jemput?” tanya Diandra lagi. Marry sekali lagi mengangguk singkat. “Ya, tentu. Jangan lupa untuk menggunakan mobil yang lain, jangan menggunakan mobil yang sama, polisi sepertinya sedang mencari kita berdua. Pastikan kau hindari kontak dengan polisi, tetapi jangan sampai-“ belum selesai Marry bicara, Diandra memotong. “Iya-iya, aku mengerti, kau pikir aku anak baru lahir kemarin? Kau tidak perlu kahwatir, aku akan segera menjemputmu, kau tunggu saja. Jangan lupa untuk selalu waspada.” Diandra langsung mematikan sambungan teleponnya selesai bicara demikian. Marry mengeshare lokasi terkininya ke Diandra, lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam kantung kemeja lagi. Marry menghela napas gusar, dia ingin sekali rasanya melepas masker, namun mengingat saat ini dia tengah berada di luar, Marry mengurungkan niatnya kembali. Tidak ada jaminan bahwa Sawamura tidak akan secara tiba-tiba muncul dan melihat wajahnya, bagaimanapun, identitasnya dan wajahnya masuk ke dalam rahasia besar Black Shadow. Lima belas menit berlalu, Marry masih menunggu Diandra. Sepertinya wanita itu akan datang setelah dua puluh menit kemudian, mengingat jarak markas besar Black Shadow dari sini cukup jauh. Namun, siapa yang akan menyangka? Lima menit setelah Marry berpikir demikian, tiba-tiba ada suara derum mobil yang terdengar nyaring. Marry segera menoleh, menatap waspada ke arah mobil Lamborghini berwarna biru dongker mengkilat. Kewaspadaan Marry memudar ketika melihat tangan muncul dan melambai, itu adalah Diandra. “Asataga, mobil siapa yang kau hancurkan?” tanya Diandra sambil tersenyum menahan tawa melihat mobil yang Marry digunakan barusan kini telah meledak dan terbakar. Marry yang mendengar ini segera menajwab sambil masuk ke dalam mobil. “Tentu saja mobilku, satu setengah jam yang lalu aku membelinya seharga dua juta dollar.” Diandra mengangguk mengerti, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa banyak bicara lagi, Diandra segera menginjak pedal gas dan melaju kencang menuju markas Black Shadow.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD