5. Rindu Mematahkan Lehermu

1281 Words
Sesampainya Marry di bandara, Diandra langsung memeluknya erat, orang-orang yang melihat ini menganggap hubungan persahabatan mereka sangat erat. Banyak yang menebak secara diam-diam apa yang dibisikkan oleh Diandra kepada Marry, mereka menduga bahwa itu adalah kata-kata perpisahan manis, padahal kenyataannya adalah… “Jangan mati, s****n. Jika kau mati, maka bebanku akan bertambah. Kau hidup saja masih merepotkanku, apa lagi mati.” Seperti itu kira-kira…. Marry yang mendengar ini hanya menatap Diandra datar dengan ekspresi wajah jengah. Melihat raut wajah Diandra yang manis dan seolah sangat sedih melepas kepergiannya sangat tidak cocok dengan apa yang baru saja wanita s****n itu bisikkan. “Lepas. Bisa mati jijik aku dipelukanmu,” balas Marry, dan tak lama kemudian Diandra melepaskan pelukannya. “Jika ada yang macam-macam, langsung patahkan saja lehernya!” ucap Diandra pelan setelah melepas pelukannya, matanya menatap Marry dengan penuh semangat. Marry mengangguk. “Ya, setelah itu lehermu yang aku patahkan.” Diandra mengerutkan keningnya, kemudian memasang ruat wajah sedih dan berkata,”Ugh… Entah apa dendam yang kau simpan padaku, Marry. Mengapa kata-katamu jahat sekali? Itu terlalu kejam untuk hatiku yang lembut.” Marry yang mendengar ini segera memutar bola matanya jengah, lalu melirik berbalik dan berjalan masuk ke dalam gedung bandara, meninggalkan Diandra dengan segala drama membosankannya. Diandra yang melihat ini mendengus kecil, namun kemudian wajahnya kembali tersenyum ceria sambil melambaikan tangannya. “Dadah! Hati-hati! Semoga pesawat yang kau tumpangi tidak meledak!” Lalu Diandra segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi, sedangkan Marry hanya diam sambil menahan malu karena tingkah Diandra. Benar-benar memalukan, mengapa pula Big Papa memungut anak aneh seperti dia dulu. Jika tahu begini, Marry seharusnya meracuninya sejak kecil, agar masa depannya terasa damai, tidak seperti sekarang. Tetapi tak lama kemudian senyum tipis muncul di bibir Marry. Ya… Sebenci apa pun dia kepada tingkah Diandra, wanita itu tetap menyayanginya, karena Diandra-lah teman seperjuangannya dulu hingga saat ini. Marry duduk di kursi yang sudah disediakan, kelas pesawat yang dia naiki saat ini adalah ekonomi, bukan bisnis. Hal ini sengaja dilakukan olehnya, agar berbaur oleh orang-orang biasa. Saat ini dia masih menunggu jam pesawat terbang, langit juga masih terlihat gelap karena sekarang baru jam lima pagi. Hanya beberapa penumpang bandara dan staf setempat yang sudah datang, termasuk Marry. Sambil menunggu, wanita itu membuka ponselnya dan membuka media sosial. Konten media sosial yang paling dia gemari adalah berita terbaru tentang kriminal, khsusnya pembunuhan. Marry selalu ingin tertawa setiap kali membaca berita seperti ini, seharusnya … jika memang belum ahli menutup kejahatan, jangan membunuh. Bodoh. Lalu tak lama muncul berita kriminal terbaru, topiknya membahas tentang kerusuhan yang disebabkan oleh salah satu g**g Mafia, sialnya yang muncul adalah nama Black Shadow. Entah berita ini sungguhan atau bukan, entah pula divisi mana yang berulah, namun yang Marry tahu, anggota Black Shadow bukan penjahat rendahan yang sembarangan membuat kerusuhan. Aish… Fitnah tidak sedap seperti ini sudah dia terima pagi-pagi, sangat merusak perasaannya saja. Ketika Marry tengah sibuk bermain media sosial, membaca berita terbaru di sana, tiba-tiba entah dari mana pistol datang dan menancap tepat di samping kakinya berdiri. Marry langsung menegang, kemudian melirik dingin peluru yang menancap di lantai bandara, hanya berbeda lima centi meter dari kakinya berada. Marry tersenyum tipis, lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam kantung jaz miliknya. Baiklah, setelah berita fitnah buruk yang dia terima barusan, sepertinya sekarang dia menerima kejadian buruk yang sedikit lagi akan terjadi. Seluruh orang yang ada di dalam gedung bandara mendnegar suara tembakkan pistol barusan, membuat mereka panik dan berlarian ke sana kemari, hanya Marry yang masih tenang dan duduk santai di kursinya. Ck, padahal jam penerbangannya sebentar lagi, namun harus dihalangi oleh kejadian merepotkan seperti ini. Beruntung saat ini dirinya memakai masker, membuat sang penembak tidak melihat wajahnya. Tetapi… Dari mana orang itu tahu bahwa dirinya adalah dia yang sedang duduk di sini? Apa mungkin penyerang misterius yang kemarin malam kembali datang? Karena hanya dia yang menyerangnya tanpa melihat wajahnya, hmm … seharusnya iya. Suara ribut dari penghuni gedung bandara pun menjadi ramai, mereka berteriak panik. “Ada penembak! Lindungi diri kalian!” “Cepat panggil polisi! Cepat!” “Hei, apa yang kau lakukan?! Ayo ikuti aku!” “Kau! Kemari! Kemari! Berlindung bersamaku!” Dan suara tangisan anak kecil yang terkejut oleh suara tembakkan dan suasana kacau bandara. Marry mengeratkan pegangannya kepada tas AQM-304 tersebut, lalu merogoh jaz hitamnya untuk mengambil pistol tersembunyi. Marry berdiri dari duduknya, kemudian berjalan keluar bandara sambil melirik ke sana dan kemari dengan tatapan matanya yang tajam dan waspada. Marry berhenti tepat di depan pintu bandara, lalu tersenyum tipis dari balik maskernya dan berkata,"Oi, b******n, cepat muncul. Kau tak tahu jika aku sangat sibuk saat ini?” Tak lama setelah Marry berkata demikian, suara bisikkan dari belakang telinganya terdengar. “Marry.” Suaranya samar, tidak terlalu jelas namun Marry masih dapat mendengarnya. Marry terdiam, dia tidak langsung menoleh. Matanya melirik menggunakan ekor matanya, kemudian setelah itu dia segera berbalik sambil mengayunkan tas AQM-304. Pack! Tangan Marry berhasil ditangkis oleh pria misterius tersebut, walaupun tas AQM-304 masih itu masih menimpuk kepala pria tersebut. Mata tajam Marry dengan mata dingin pria misterius tersebut bertemu. Marry tersenyum tipis, lalu berkata,”Oh, kau lagi? Ada apa? Merindukanku?” Pria misterius itu tiba-tiba menarik tangan Marry, membuat Marry memiliki jarak yang lebih dekat dengannya. “Ya, kira-kira begitu.” Marry menaikkan alis kirinya sedikit. “Oh, kalua begitu sama. Aku juga merindukanmu.” Marry kemudian terlihat tersnyum manis dari balik masker hitamnya. Pria misterius itu terdiam, matanya hanya menatap Marry tanpa emosi, datar. Namun kemudian dia bertanya,”Rindu apa?” “Rindu mematahkan lehermu!” balas Marry, lalu senyum manisnya segera hilang, dengan cepat dia menarik balik tangan pria misterius tersebut, lalu kaki kanannya terangkat tinggi dan memberikan tendangan di kuat di bahu sang pria misterius. Marry langsung berlari menjauh, menghindari pria itu. Saat memiliki jarak yang sangat dekat dengan pria tersebut, Marry melihat kalung naga yang ada di leher pria tersebut. Si*lan, sepertinya orang itu adalah anggota Mafia asal Jepang, Sawamura. Sawamura adalah kelompok Mafia yang paling Marry benci, kedua orang tuanya mati di tangan Sawamura, dan kebetulan penyebab utamanya adalah n*****a yang sedang dia bawa ini, AQM-304. Jika ada anggota Sawamura yang berani muncul di depan umum seorang diri, pasti masih ada beberapa yang sembunyi di balik tirai. Tidak mungkin mereka turun tangan sendirian, dan mungkin saja pada saat malam p*********n itu juga demikian. Tak lama terdengar suara sirene mobil polisi, Marry yang mendengar ini tersenyum tipis. ‘Anda terlambat, pak!’ batinnya. Marry terus berlari, saat ini ada dua hal yang harus dia hindari. Pertama, Sawamura. Kedua, Polisi. Oh, astaga, firasat buruknya benar. Di tengah kesibukan berlarinya, kebetulan Marry bertemu dengan mobil yang sedang melintas. Dengan nekat, Marry menghentikan mobil tersebut. Tangan kanannya merogoh jaz hitam miliknya dan mengeluarkan pistol. “Keluar! Aku beli mobilmu!” ucapnya sambil secara paksa membuka pintu mobil, dia saat ini dikejar oleh waktu. Pria misterius tadi pasti tengah berlari juga untuk menyusulnya. Orang yang ada di dalam mobil itu bingung, wajahnya juga terlihat kesal. Marry yang mendengar ini segera berdecak kesal. “Ck, cepat keluar! Aku bayar mobilmu tiga kali lipat!” kemudian Marry mengeluarkan kertas cek dari tasnya, bruntung dia telah menyiapkan kertas cek siap pakai. Nilai yang tertulis di sana adalah $2.000.000. “Itu cek yang bernilai,kau tidak perlu khawatir isinya kosong dan aku menipumu. Jadi sekarang, cepat keluar,” ujar Marry, lalu menarik paksa pria itu keluar dari mobilnya. Saat Marry berhasil masuk ke dalam mobil, matanya melihat pria misterius itu muncul menggunakan motor sport. Marry menggertakkan giginya kesal. “Pria gila, sepertinya dia serius.” Marry segera menginjak pedal gas dan memutar balik mobil, setelah itu pergi meninggalkan kawasan bandara. Matanya sesekali melirik tajam ke arah spion kaca mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD