Bab 22

727 Words

Santap malam hari ini berbeda dengan hari-hari biasanya. Biasanya penuh canda dan tawa yang terlontar dari satu ke yang lain lainnya. Tapi malam ini, semua terdiam membisu. Semua tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Tidak ada satu pun yang makan di atas meja makan. Semua memilih tempat sendiri-sendiri untuk menyantap makanan yang telah dibawanya. Aku memilih membawa makananku ke halaman depan dan duduk di kursi yang ada di sana. Aku nikmati santap malam ditemani ribuan bintang di langit. Rasanya aku ingin berteriak dan mengadu pada ribuan bintang itu. Tapi tidak mungkin aku mengadu pada mereka, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi. Sesuap nasi masuk ke mulutku, rasanya bukan lagi nasi seperti biasanya. Ini terasa bagai sekam yang masuk ke tenggorokanku dan memcabik tenggoroka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD