Bab 6

1060 Words
Semilir angin berhembus menerbangkan setiap helai rambutku yang tidak tertutup helm. Deru suara kendaraan mengisi setiap relung telingaku. Aku masih saja tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan dan lakukan Wilman. Bagaimana dia masih dapat bersikap biasa saja saat dia telah menghancurkan hatiku sedemikian rupa. "Berhenti!" pintaku saat sudah mulai memasuki jalan raya. "Kenapa?" tanya Wilman bingung. "Aku mau naik umum," kataku dengan suara yang cukup keras dan tegas. "Kenapa harus naik umum, Di?" tanya Wilman lagi. "Aku tidak ingin bersama dengan orang yang telah menyakiti hatiku, menghancurkan kepercayaanku," kataku sambil berusaha menahan air mataku yang siap jatuh membasahi pipiku. "Maksud kamu apa?" tanya Wilman yang terlihat masih kebingungan dengan arah pembicaraanku. "Masih tanya maksud aku apa? Kamu pikir sendiri apa yang kamu lakukan kepadaku saat pemberangkatan dulu. Sekarang hentikan motornya!" pintaku dengan tegas dan seketika itu Wilman memberhentikan motornya. "Dengarkan aku Di, dia bukan siapa-siapaku, kami hanya berteman." "Teman katamu? Jadi begitu cara memperlakukan teman, merangkul dia dan mengantarkan dia ke tempat KKN sampai kamu tega membohongiku dan membatalkan janjimu?" "Di, aku benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan dia." "Sudahlah." "Please Di, percaya sama aku!" "Percaya kamu bilang? Lalu nanti kamu hempaskan lagi kepercayaanku?" "Enggak Di, please." "Baiklah." Aku terpaksa mempercayai Wilman kali ini. Aku mempecayainya karena aku melihat cinta yang sangat besar di matanya. Aku kembali naik ke belakang Wilman dan tanganku berpegangan erat pada pinggangnya. Aku memang masih marah padanya, tapi tidak dapat kupungkiri jika aku masih sangat mencintainya. Perlahan namun pasti, kantuk menyelimuti kedua mataku. Aku terus mencoba terjaga tapi aku tidak mampu. Sesekali aku terantuk ke punggung Wilman. "Kamu ngantuk ya?" tanya Wilman. "Ehhhmmm...." jawabku. "Eratkan peganganmu dan tidurlah, aku akan menjalankan motor dengan pelan," kata Wilman. Aku menurut dengan apa yang dikatakannya. Aku seolah menemukan kembali Wilman yang aku sayangi dan cintai selama dua tahun ini. Kelembutannya mampu membuatku lupa akan apa yang dia lakukannya kemarin kepadaku. **** "Bangunlah, kita sudah sampai," kata Wilman membangunkanku. "Lho... kok kamu membawaku ke rumahmu?" tanyaku. "Aku ganti baju dulu, gak mungkin aku datang ke rumahmu dengan pakaian dinas," kata Wilman. "Diona… kamu apa kabar sayang? Mama kangen sama kamu, kamu kenapa gak ke rumah dulu sebelum berangkat KKN?" tanya Mama Yeni, ibunya Wilman. "Baik Ma, Ya Ma, kemarin Diona sibuk persiapkan kebutuhan di sana," jawabku. "Kamu kapan kembali lagi ke posko?" tanya Mama Yeni. "Senin sore, Ma. Aku harus bimbingan dan bertemu dengan beberapa dosen serta menghadap Prodi," jawabku. "Sebelum pulang ke posko kamu kesini dulu ya? Dan jangan lupa, besok temenin Mama arisan," kata Mama Yeni. "Ya, Ma," kataku. "Yuk, Di," kata Wilman yang telah selesai berganti pakaian. Setelah berpamitan aku kembali naik ke atas motor Wilman. Deru suara kendaraan kembali memenuhi telingaku. Rambutku kembali diterbangkan oleh angin yang membelai rambutku. Aku ingin bertanya kembali mengenai perempuan itu, tapi aku urungkan. Aku telah berkata bahwa aku memberinya kepercayaan lagi, jadi untuk apa bertanya lagi padanya? Tubuhku begitu lelah dan ingin segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku. Ketika sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan meninggalkan Wilman bersama dengan keluargaku. Tidak lama mataku mulai terpejam dan memasuki alam mimpi. ***** Aku berada disuatu rumah, rumah yang begitu besar. Sepertinya aku mengenali rumah ini, tapi aku tidak tau di mana. Aku terus berjalan mengitari rumah yang begitu luas ini, tapi tidak kutemukan seorang pun penghuninya. Derap langkah terdengar mulai mendekatiku. Aku berbalik dan mencari asal suara itu, tapi tidak ada siapa pun di sana. Aku kembali berjalan mengitari rumah ini dengan jantung berdegup kencang. Tiba-tiba aku merasakan ada tangan yang begitu dingin memegang pundakku dari belakang. Seketika itu bulu romaku langsung berdiri merasakan adanya makhluk lain yang tengah hadir di sekitarku. Aku kemudian membalikkan badanku berharap dapat menemukan seseorang dan berharap bahwa perasaanku itu salah, tapi lagi-lagi aku tidak melihat siapa pun di belakangku. Kususuri ruangan demi ruangan yang ada di rumah ini dengan seksama. Aku hanya melihat photo-photo terpampang di dinding rumah dengan sangat rapi. Ku perhatikan satu persatu photo itu yang terdiri dari seorang pria tua, seorang pria muda, seorang perempuan tua dan dua orang gadis cilik yang sangat cantik, sepertinya gadis itu anak kembar. "Tinggalkan rumah itu," terdengar suara teriakan seseorang yang menggema memecahkan sunyinya rumah ini. "Siapa di sana?" tanyaku. "Tinggalkan rumah itu atau kalian akan celaka!" perintahnya. "Rumah? Rumah yang mana?" tanyaku kebingungan. "Rumah yang kalian tempati," suara itu kembali menggema. Aku mulai mencari arah dari mana suara itu berasal, tapi lagi-lagi aku tidak menemukan siapa pun di rumah ini yang benar-benar sepi dan tidak ada penghuninya. Lalu suara siapa yang aku dengar tadi? ***** "Di… Diona, kamu tidak apa-apa?" terdengar suara Mama menggedor pintu kamarku. "Enggak Ma, memang kenapa?" tanyaku sambil mengucek mataku. "Tadi kamu teriak-teriak, ada apa?" jawab Mamaku. "Aku hanya mimpi Ma," kataku. Terdengar suara kaki Mama menjauh dari kamarku. Mimpi apa yang aku alami tadi? Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata? Tapi rumah siapa yang harus aku tinggalkan? Semua tempat yang aku tinggali aku rasa baik-baik saja, tidak ada yang salah  dengan tempat itu. Tidak ada kejadian yang aneh dengan semua rumah itu. Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera pergi ke ruang keluarga dan berkumpul dengan kedua orang tua dan adikku. Aku mencari sosok Wilman, tapi tidak kutemukan. "Dia sudah pulang, tadi mau bangunin kamu tapi kata Wilman gak boleh biar kamu istirahat," kata Mama. "Bagaimana tempat kamu KKN?" tanya Papa. "Berasa di buang dari peradaban. Gak ada warung yang jual cemilan, gak ada kendaraan umum. Satu-satunya kendaraan hanya ojek," jawabku. "Untung ya punya pacar baik, jadi pulang ada yang jemput," kata Dirga. "Besok kamu yang antar aku ke posko," kataku. "Aku sekolah sampai sore," kata Dirga. "Oh iya Ma, ada yang aneh malam jum'at kemarin," kataku. "Aneh apanya?" tanya Papa. "Jam satu dini hari ada suara tongkat di ketuk-ketukkan ke jalan, seperti kakek-kakek jalan pakai tongkat. Tapi saat kami melihatnya tidak ada siapa-siapa," kataku. "Hati-hati kamu di sana Di, tempatnya masih benar-benar mistis. Jaga sikap dan perilakumu!" kata Mama. Apakah benar tempat itu semistis yang dikatakan Mama dan Papa? Aku rasa daerah di sana baik-baik saja, tidak ada yang aneh seperti tempat-tempat mistis yang pernah aku singgahi. Aku memang senang pergi ke beberapa tempat mistis, tapi kenyataannya bukan mistis karena ada makhluk halus melainkan karena tempat-tempat itu masih memegang adat istiadat dengn sangat kuat. Tapi tempat KKN-ku tidak seperti itu. Mereka biasa saja dengan tempat aku tinggal. Lalu apanya yang mistis dengan tempat itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD