Di sini matahari tidak pernah bersinar terang seperti saat aku di rumah. Di sini aku tidak merasakan hangatnya mentari merasuk dalam jiwaku. Udaranya sangat dingin walau tidak turun hujan. Embun tidak pernah beranjak meninggalkan Desa Bunga Wangi. Embun seolah menjadi kawan yang setia menemani warga beraktifitas di ladang dan sawah.
Jalan kaki setiap pagi menuju sekolah di mana aku ikut membantu guru-guru di sana untuk mengajar siswanya seolah menjadi keseharian selama aku di sini. Peluh yang bercucuran ku usap dengan sehelai tisue yang putih dan bersih. Peluh dan jarak yang jauh tidak menghalangiku untuk sampai di sana.
Di sekolah ini hanya ada lima mahasiswa yang membantu, termasuk aku. Selebihnya mereka membantu di sekolah yang dekat dengan posko. Di sana ada tiga sekolah, mulai dari Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, dan Madrasah Tsanawiyah. Sedang disini hanya ada satu dan jaraknya sangat jauh.
Respon kepala sekolah jauh dari yang kami bayangkan—jutek, merasa terganggu, dan pikiran-pikiran jelek lainnya. Beliau sangat bahagia dan merasa terbantu dengan hadirnya kami di sekolah itu. Mereka menitipkan asa yang tinggi bagi kami.
Aku terhenyak saat memasuki ruang kelas lima. Bagaimana tidak, fasilitas di sini jauh sangat berbeda dengan sekolah yang ada di dekat posko. Di sekolah dekat posko meja dan kursi tertumpuk di gudang. Sedang di sini, bukan kelebihan meja dan kursi yang kulihat, tapi kekurangan yang terpampang di hadapanku.
Tidak sedikit siswa yang duduk bertiga dalam satu bangku. Hatiku terenyuh melihat pemandangan yang sangat miris di hati. Aku tidak pernah menyangka jika kondisi ini ada di kotaku, kota yang tidak pernah ter-ekspose tertinggal dalam dunia pendidikan. Tapi di sini murid duduk bertiga dan tidak ada kursi guru sama sekali.
Aku memberi pelajaran matematika kepada mereka sesuai dengan buku pegangan yang di berikan guru. Tapi lagi-lagi aku terhenyak dengan kenyataan yang ada di sini. Bagaimana aku tidak kaget, murid kelas lima belum hapal perkalian sama sekali. Semuanya hanya tergantung pada satu alat bernama kalkulator.
Kenyataan itu bagai menjadi palu godam yang sangat keras ke dalam diriku. Mereka akan menghadapi Ujian Nasional tahun depan, tapi mereka belum menguasai perkalian, sesuatu yang sangat dasar. Dan aku menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak selamanya memberi pengaruh positif bagi siapapun yang menggunakannya.
Ku tutup buku pegangan yang diberikan guru. Kuajarkan anak-anak itu perkalian dari awal secara berulang, tanpa bantuan kalkulator sama sekali. Tujuanku bukan lagi mengajar sesuai buku, tapi bagaimana mereka dapat hapal perkalian dalam waktu yang singkat.
Aku memang bukan mahasiswa keguruan yang mengerti cara mengajar. Aku hanya mahasiswa ekonomi yang lebih memahami soal penjualan di banding dengan mengajar. Tapi hati ini begitu terenyuh saat melihat mereka tidak mampu melakukan perkalian.
Perlahan tapi pasti, mereka mulai dapat menguasai perkalian satu sampai sembilan dengan baik dan benar. Hingga bel tanda sekolah berkhir berbunyi dan mereka telah menguasai semua perkalian itu.
Selama perjalanan pulang aku bertukar pikiran dengan teman-temanku. Di mana mereka memang mahasiswa Fakultas Pendidikan yang secara keseluruhan memahami cara mengajar yang baik. Mereka pun benar-benar kaget melihat kondisi di sana, suatu kondisi yang tidak pernah ada walau hanya dalam bayangan kami sekalipun.
Saat sampai posko, aku kaget melihat motor Wilman terparkir di depan posko. Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan datang ke poskoku. Aku pun tidak pernah tahu dia tahu poskoku dari mana karena aku tidak pernah memberitahukannya. Tidak mungkin dia tahu dari orang rumah, karena orang rumah hanya tahu nama desa aku KKN, bukan alamat poskoku.
"Nah, itu Diona sudah pulang, Pak," kata Arif.
“Bapak… kenapa Arif panggil Bapak kepada Wilman? Jangan-jangan dia datang pakai…” tanyaku dalam hati sambil berjalan menuju teras posko.
Aku begitu terkejut saat melihat Wilman masih mengenakan pakaian dinasnya lengkap dengan tanda pangkat palang dua di pundak—Inspektur Satu. Dia memutuskan untuk berkuliah setahun setelah keluar dari AKPOL. Dan setahun yang lalu dia naik pangkat tepat saat anniversary jadian kami yang pertama.
"Mau apa kamu ke sini?" tanyaku sambil melepas sepatuku.
"Jemput kamu. Kata Mama kamu hari ini atau besok pulang, karena Senin mau bimbingan, jadi aku jemput," katanya menjelaskan.
Oh my God… aku baru ingat kemarin calon mertuaku telpon dan bertanya letak poskoku dan kapan aku pulang. Aku tidak pernah terpikir jika beliau akan memberitahukan soal itu kepada Wilman, atau mungkin Wilman yang memintanya untuk meneleponku.
"Aku pulang besok, kamu pulang saja," kataku.
"Mama memintamu menaminya bertemu dengan Ibu-ibu Bhayangkari besok, katanya ada arisan," kata Wilman.
"Aku kan belum...," kataku.
"Itu baik buat kamu saat menjadi Ibu Bhayangkari nanti," potong Wilman.
Bagaimana mungkin dia masih berpikir kalau aku akan menjadi istrinya setelah apa yang dia lakukan? Bagaimana mungkin aku mau menjadi istrinya setelah ada perempuan lain yang memanggil dia 'sayang' setelah semua pengajuan pernikahan hampir selesai? Tapi aku tidak mungkin berdebat dengannya, teman-temanku tidak tahu dan tidak boleh tau masalahku.
"Aku masih ada yang harus diselesaikan, pulanglah biar nanti kutelpon Mama," kataku. Aku memanggil calon ibu mertuaku dengan sebutan Mama.
"Aku sudah izin sama Arif, sekarang berkemaslah," suruh Wilman.
Aku tidak mungkin lagi membantah perkataan Wilman atau semua temanku akan tahu masalah antara kami. Aku langsung bergegas ke kamar dan membereskan beberapa barangku yang akan aku bawa pulang.
"Ri, tolong handle beberapa tugasku ya. Aku sudah menuliskan rinciannya dalam kertas yang aku simpan di kamar. Aku baru kembali Senin sore karena aku sudah janji untuk bimbingan," kataku kepada Ria sebelum aku keluar dari posko.
"Kamu enggak kembali habis dzuhur saja, Di?" tanya Ria
"Enggak bisa Ri, aku janji bimbingan jam sebelas, lalu aku harus izin dosen untuk tidak mengikuti pertemuan pertama perkuliahan. Aku juga harus menghadap Ketua Prodi,” jelasku.
"Kamu sampai di sini jam berapa, Di?" tanya Fitri.
"Aku enggak tahu Fit, bagaimana selesainya urusanku saja di kampus," kataku.
"Di... cepetan kalau terlalu sore takut hujan," kata Wilman.
"Bentar, aku tunjukan dulu rincian tugasku pada Ria," kataku mengulur waktu dan kembali ke kamar mengambil buku note-ku.
Aku menjelaskan semua yang sudah aku tulis secara rinci kepada Ria hingga dia benar-benar memahami semuanya. Pekerjaan itu sebenarnya bukan untuk hari ini atau besok, tapi untuk senin. Kegiatan hari ini sudah selesai dan besok kami libur dan tidak ada kegiatan apa pun yang akan kami lakukan.
Jika aku bisa memilih, sesungguhnya aku tidak ingin pulang bersama Wilman. Hatiku masih hancur dengan apa yang aku lihat beberapa hari lalu. Tapi aku tidak mengerti bagaimana Wilman masih mau menjemputku dan merasa tidak bersalah dengan apa yang telah dia lakukan. Dia pun seolah tidak ingin menjelaskan semuanya padaku. Tidak tahukah dia bahwa hatiku masih sakit, hatiku masih hancur dengan apa yang telah dia lakukan kepadaku beberapa waktu lalu?