Bab 4

1064 Words
Langit hitam menaungi Desa Bunga Wangi. Angin berhembus begitu kencang menerbangkan debu dan daun-daun kering di jalanan. Dari kejauhan tampak para petani yang merupakan warga sekitar berjalan dengan cepat meninggalkan sawah dan ladang, guna menghindari hujan yang akan segera turun membasahi apa saja yang ada di atas muka bumi ini. Perlahan langit mulai mengeluarkan rintik-rintik bening untuk membersihkan jalanan yang selama beberapa hari tidak di bersihkan. Semakin lama rintik-rintik itu semakin lebat. Angin sudah tidak lagi bersahabat dan tiada lagi memberi kesejukan bagi yang merasakan. Alam mulai memberikan ancaman bagi siapa saja penghuni di dalamnya. Pohon-pohon tinggi terseok-terseok mengikuti arah angin berhembus. PLN pun seolah tidak ingin memberi ketenangan bagi siapa yang ada di sini, PLN tiba-tiba memutuskan aliran listrik dan membuat suasana semakin mencekam. "Ayo... makannya mau kapan?" tanya Ria. "Sudah makannya sekarang saja, takut malam listriknya belum nyala nanti kita salah makan," kata Arif. "Ya nanti kamu yang tercabik-cabik habis kita makan ya, Rif," kata Ferdi. Semua tertawa mendengar candaan yang dilakukan Ferdi. Dalam temaramnya sore hari yang ditemani dengan hujan lebat kami menyantap makanan yang telah di masak hari ini. Cahaya lilin menjadi satu-satunya penerangan yang ada di sini. Canda dan tawa menjadi teman dalam setiap santapan kami. Braaakkk … terdengar suara pintu belakang terbuka dengan sangat keras. Semua terdiam dan saling memandang satu sama lain. Bulu kudukku mulai berdiri merasakan sesuatu yang tidak enak dan tidak nyaman akan terjadi. Aku merasakan sesuatu dari dunia lain berada di tengah-tengah kami. Entah kapan dia mulai berada di sini, menempatkan diri di antara para mahasiswa yang tengah bersantap. "Kok pintu belakang terbuka, siapa yang buka?" tanya Arif. "Ketiup angin kali," kataku mencoba menghempaskan semua perasaan tidak enakku. "Tadi sudah aku kunci," kata Fredi. "Kamu lupa kali, Fer," kata Arif. "Beneran tadi sudah kukunci," kata Ferdi meyakinkan. "Mungkin kamu lupa kali… Sudah ayo kita kunci lagi," kata Arif. Aku teringat akan peringatan pemilik rumah ini beberapa waktu lalu saat kami beru sampai. Jangan ada yang membuka pintu belakang apa pun yang terjadi. Tapi kenapa Ferdi bilang bahwa dia telah mengunci pintu belakang? Bukankah pintu belakang selalu dalam keadaan terkunci dan tidak pernah di buka sama sekali? Apakah Ferdi membuka pintu itu? Tapi untuk apa? "Fer, kamu membuka pintu belakang?" tanyaku setelah Ferdi mengunci pintu. "Ya, kenapa?" "Kenapa kamu buka, Fer? Bukankah ibu pemilik rumah sudah memperingatkannya?" "Memperingatkan apa?" "Pintu itu gak boleh di buka!" Ferdi terdiam mendengar perkataanku. Entah dia mengingat perkataan ibu Sang pemilik rumah, atau dia menyesali apa yang telah dia lakukan. Sekarang entah apa yang akan terjadi dengan kami semua yang ada di sini. Satu kesalahan telah kami lakukan, mau tidak mau kami harus bersiap menerima konsekuensinya. Angin berhembus semakin kencang menerbangkan spanduk posko ke sana-ke mari hingga membuyarkan semua pemikiranku. Rasanya ini bukan sesuatu yang baik dan ada sesuatu yang aneh. Anginnya begitu kencang dan di luar kewajaran, sepertinya konsekuensi itu akan segera kami terima. Perlahan tapi pasti, mataku terasa berubah menjadi lebih tajam seolah dapat menembus apa saja dengan tatapanku. Hari terus beranjak malam dan hujan belum juga kunjung reda. Satu persatu anggota kelompokku mulai tertidur dalam dekapan malam yang begitu dingin. Hanya tinggal aku dan beberapa teman saja yang belum dapat memejamkan mata ini. Dalam dinginnya malam yang semakin mencekam, perlahan hujan dan angin mulai reda, listrik pun mulai menyala memberi penerangan kepada setiap rumah yang ada di sini. Saat melihat jam menunjukkan pukul dua belas malam lebih lima menit. Mataku belum juga mau terpejam, begitu pun dengn teman-temanku. "Kita main kartu yuk," ajak Ferdi kepada empat teman laki-laki yang lain. Aku dan Evi menyaksikan mereka main kartu sambil menonton televisi. Tawa dan canda pecah saat ada yang kalah dan harus berlagak seperti seorang photo model profesional. Tok... tok… tok… Terdengar suara tongkat yang diketuk-ketuk ke jalanan seperti seorang kakek yang tengah berjalan menyusuri jalan di samping posko. Kami semua terdiam tidak ada yang bersuara dan memasang telingan tajam mencoba mendengarkan kembali bunyi itu. Tok… tok... tok… Suara itu terdengar lagi dan begitu jelas berada di jalan samping posko. Kurnia berdiri dan meninggalkan permainan kartunya. Dia membuka gorden dan melihat ke arah jalan. "Siapa?" tanya Evi. "Gak ada siapa-siapa," jawab Kurnia. "Ah bohong kamu. Jangan nakut-nakutin gitulah," kata Evi sambil beranjak dan ikut membuka gorden. "Gimana?" tanyaku penasaran. "Bener gak ada siapa-siapa di luar," jawab Evi. Seketika kami langsung mengambil posisi untuk tidur. Kami tidak berani tidur di kamar hingga memutuskan untuk tidur di depan tv. Sempat ku melihat jam, ternyata sudah jam satu dini hari. Waktu yang sangat wajar untuk berkeliarannya makhkuk-makhkuk yang tidak kasat mata. Perlahan mataku mulai terpejam dan menenggelamkanku ke alam mimpi yang kuharap indah setelah apa yang terjadi. Saat aku tengah nyaman dalam tidurku, aku terbangun karena terasa ada yang mengganjal di punggungku. Dengan perasaan berdebar aku mulai melihat ke belakang, ternyata kepala Kurnia tepat di belakang punggungku. **** "Satu, dua, tiga, empat, lho kok kurang satu sih," terdengar suara Evi membelah dinginnya subuh. "Apa yang hilang, Vi?" tanya Arif dalam kantuknya. "Diona engak ada, dia ke mana?" tanya Evi panik. "Aku di sini Vi, di kursi. Tadi aku pindah soalnya kepala Kurnia nyeruduk punggungku," kataku sambil mengikat rambutku dan bersiap untuk mengambil air wudhu. "Kamu itu bikin aku khawatir saja, Di," kata Evi. "Sudah jangan berisik, nanti anak-anak ikutan bangun dan khawatir," kataku. Mentari mulai menampakkan diri menyinari dunia. Burung-burung bernyanyi dengan begitu riangnya. Perlahan kami mulai membersihkan halaman yang kotor oleh daun-daun yang berjatuhan di hempaskan angin dan hujan. "Sudah bangun, Nak?" tanya Pak Lurah yang lewat ke dekat posko kami. "Sudah Pak. Bapak dari mana?" tanya Arif. "Itu Bapak baru bergotong royong membantu warga yang rumahnya terkena longsor," jawab Pak Lurah. "Kenapa tidak mengajak kami, Pak?" tanya Arif. "Tadi Bapak takut kalian masih tidur," jawab Pak Lurah. "Maaf Pak, semalam kami mendengar ada bunyi orang berjalan pakai tongkat di jalan, apa suka ada kakek-kakek lewat sini Pak kalau malam?" tanyaku. Mendengar pertanyaanku, seketika wajah Pak Lurah berubah menjadi pucat. Dia seperti kaget dan mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaanku. "Mungkin… mungkin kakek di belakang yang lewat. Bapak permisi dulu," jawab Pak Lurah. Kakek di belakang? Aku tahu betul di belakang posko kami tidak ada kakek-kakek yang menggunakan tongkat. Aku memang baru di sini, tapi setiap hari warga berkumpul tepat di belakang posko dan aku tidak pernah melihat kakek itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan tempat ini? Apa yang disembunyikan Pak Lurah dari kami?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD