Bab 8

1079 Words
Aku merebahkan badanku di atas tempat tidur untuk menghilangkan penatku setelah beraktivitas seharian. Memang, tempat tidur di posko tidak senyaman di rumah, tapi tempat tidur ini cukup membuatku nyaman untuk menghilangkan penatku. Aku renggangkan otot-ototku untuk menghilangkan pegalku setelah perjalanan dari rumah-posko KKN. Rasanya perjalanan ini jauh lebih lama dari saat aku pulang kemarin. Dering handphone-ku memaksaku untuk beranjak dari tempat tidur dan mengambilnya dari dalam tas yang tergantung rapi di dinding berwarna putih. Bruuukkkk... tiba-tiba sebuah pigura terjatuh tepat di hadapanku saat aku mengambil tas. Aku mengambilnya dengan begitu hati-hati, khawatir jika pigura itu pecah. Tapi beruntung, pigura itu baik-baik saja. "Hallo Di..." terdengar suara Mamaku disebrang sana. "Ya, Ma." "Kamu sudah sampai posko?" "Sudah Ma, baru saja sampai. Kenapa Ma?" "Syukurlah...tidak apa-apa, hanya perasaan Mama tidak enak. Jaga diri baik-baik disana." "Ya Ma." "Ya sudah kamu istirahat sana.” Aku menelisik pigura yang ada di tanganku. Di sana terpampang dengan jelas seorang perempuan berambut panjang tengah berdiri di depan rumah berlantai dua. Rumah itu merupakan rumah tua namun terlihat begitu artistic. Sepertinya aku pernah melihat rumah itu, tapi aku tidak ingat di mana rumah itu berada. Rumah itu benar-benar sangat indah dan membuatku jatuh hati pada rumah itu. Tapi tunggu... darimana pigura itu berasal? Ini adalah sebuah dinding bercat putih yang hanya ada gantungan saja yang terpajang di sana, tidak ada pigura itu sebelumnya. Lalu darimana pigura itu berasal? "Di..." kata Evi mengagetkanku dari belakangku. "Ehhhh... ada apa Vi?" tanyaku kaget. "Kamu dari tadi dipanggil kok gak jawab, lagi apa sih?"  "Kamu liat pigura di tanganku ini?" "Pigura apaan, gak ada apa-apa Di." "Lho... tadi ada pigura, Vi." "Tapi itu gak ada, Di." "Ah... sudahlah. Tadi ada apa kamu manggil aku?" "Itu, daging ayam yang kamu bawa kamu mau nyisain apanya sebelum anak-anak pada makan dan kamu enggak kebagian?" "Aku sisain hati ampela saja, sisanya makan saja." Sepeninggal Evi, aku masih menatap tanganku kosong. Bagaimana mungkin pigura itu tiba-tiba hilang? Aku sangat yakin tadi pigura itu ada di tanganku, tidak mungkin jika pigura itu tiba-tiba hilang. Aku yakin aku tidak salah lihat. "Huuuuuaaaa..." tiba-tiba aku mendengar suara tangisan dari depan televisi. Aku kira itu hanya suara tangisan yang berasal dari acara di televisi yang sedang teman-temanku tonton. Tapi semakin lama tangis itu semakin menjadi dan semakin meraung. Aku langsung berlari, dan aku begitu kaget saat melihat Lia tengah menangis dan meraung bagitu hebatnya. Teman-teman yang lain mencoba menghentikan tangisnya tapi gagal, mereka malah dihempaskan oleh Lia. "Ada apa?" tanyaku sedikit kebingungan dengan apa yang kulihat. "Gak tahu kenapa Lia tiba-tiba ngejerit keras dan nangis," kata Evi. "Kamu... kamu sudah aku peringatkan, kenapa kamu hanya diam?" teriak Lia padaku. Mata Lia terbelalak nyalang menyorotkan permusuhan. Tidak ada tanda-tanda sifat lemah lembutnya yang biasa dia tunjukkan sehari-hari. Rambutnya terkesan acak-acakkan tidak terurus. Apakah yang ada di tubuhnya bukan Lia? Apakah dia kesurupan? "Kenapa kamu diam?" tanyanya lagi. "Kamu tahu maksudnya dia apa?" tanya Evi. "Aku gak tahu Vi, dia sepertinya kesurupan. Mana anak-anak laki-laki?" kataku. "Mereka tadi di undang ikut tahlilan di rumah pak RT," jawab Fitri. "Siapapun tolong panggil anak laki-laki sama siapa saja warga sini yang bisa bantu," kataku panik. Fitri dan Ria bergegas memanggil anak-anak laki-laki dan warga sekitar, sedang aku, Evi dan yang lainnya mencoba untuk menenangkan Lia. Kami menjaga agar dia tidak membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Ia terus meracau dan berusaha untuk mencakar apa saja yang bisa dia jangkau. Sebisa mungkin kami menghindarinya. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat terus kami lakukan karena cakaran Lia akhirnya melukai kami walau hanya sedikit. Menghindari amukan Lia bukanlah sesuatu yang mudah. Kami juga tidak boleh melakukan hal yang salah atau itu akan menyakitinya. Ini sebuah dilema bagi kami dalam menghadapinya. Sebuah pilihan yang sangat sulit, melawan Lia akan membuatnya terluka, tapi jika tidak melawannya maka kami yang akan terluka karena ulahnya "Di, coba kamu ajak bicara. Tadi dia bicara sama kamu," kata Evi. "Apa salah kami kepadamu?" tanyaku. "Kalian telah menggangguku," kata Lia. "Baik kami minta maaf, sekarang keluarlah dari tubuh Lia," kataku. "Tidak, aku tidak mau sebelum kamu bicara sama aku," kata Lia. "Vi, kamu ada kelebihankan?" bisikku pada Evi. Aku memang tahu dari mata Evi bahwa dia bukanlah gadis biasa, dia seorang gadis yang memiliki kelebihan atau disebut dengan indigo. Darimana aku tahu? Aku adalah seorang anak indigo, dan aku baru menyadarinya beberapa tahun terakhir ini. Aku sempat mengetahui bahwa dari kecil aku adalah seorang indigo, tapi kedua orang tuaku menutup kelebihanku dengan bantuan kakekku, semua untuk kebaikanku. "Bagaimana kamu tahu?" tanya Evi kaget karena aku mengetahui hal itu. "Tidak penting aku tahu darimana, yang penting sekarang kita nolong Lia. Jika menunggu anak-anak laki-laki dan warga pasti lama karena rumah Pak RT jauh, apalagi ini malam pasti Ria dan Fitri kesulitan sampai di sana dengan cepat," terangku. "Baik... apa yang harus aku lakukan?" tanya Evi. "Kita pegang tangannya sebelah-sebelah, selebihnya urusanku... kalian menjauhlah dan apa pun yang terjadi jangan mendekat!" perintahku. Setelah semua menjauh, dalam sekali lompatan aku dan Evi berhasil mencengkram tangan Lia, tapi sayang Lia berhasil menghempaskan kami dan mencakar tangan serta wajah kami. Kami tidak berputus asa, kami mencobanya lagi dan lagi. Hingga bekas cakaran pun telah memenuhi tangan dan wajah kami, tenaga pun telah mulai terkuras. Untuk kesekian kalinya kami berusaha menangkap tangan Lia dan menahannya. Dan kali ini kami berhasil. Aku langsung membaca ayat kursi dan meniupkannya ke ubun-ubun Lia secara berulang hingga perlahan dia melemah dan kemabali seperti biasa. "Lia kenapa?" tanya Arif yang baru datang bersama anak-anak laki-laki dan beberapa warga. "Dia kesurupan tadi, sekarang sudah gak apa-apa," kata Evi lemah. "Coba Pak Ustadz cek kondisi dia," pintaku. Pak Ustadz menghampiri Lia, dia memeriksa keadaan Lia. "Dia sudah tidak apa-apa, kalian melakukanmya dengan cepat dan tepat jadi dia selamat," kata Pak Ustadz. Tidak lama kemudian warga pun izin untuk pulang. Aku dan Evi beranjak dari samping Lia dan mulai berdiri meninggalkannya untuk beristirahat. Aku meminta teman laki-laki memindahkan Lia ke kamar dan beberapa orang menemaninya sambil membaca ayat kursi. "Kalian ggak apa-apa?" tanya Arif. "Gak apa-apa" kataku dan Evi sambil menahan sakit. Aku sendiri tidak yakin bahwa aku tidak apa-apa karena luka cakar yang aku alami lebih parah dari yang di alami oleh Evi. Aku tahu luka ini bukan luka biasa, aku dapat merasakan semuanya tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi tunggu... aku bisa melakukan itu, dan mau tidak mau malam ini aku harus melakukan semuanya. Aku tidak ingin ada yang menjadi korban lagi. Aku ingin semuanya baik-baik saja. Tanpa ada yang terluka lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD