Perih... itu yang aku rasakan saat ini. Bekas cakaran Lia semalam masih sangat jelas di tubuhku—merah dan bergaris. Bekas cakaran itu bukan hanya ada di tanganku, tapi juga ada di wajahku. Samar aku melihat ada sesuatu yang aneh dengan bekas cakaran yang ditinggalkan Lia di kedua lenganku, tapi apa itu? Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Ingin ku pergi ke dokter dan memeriksakan bekas cakaran ini, tapi aku tidak tahu di mana ada dokter di sini. Selama aku tinggal di sini dan berkeliling tidak menemukan satu pun rumah dokter atau klinik, bahkan di sini tidak ada puskesmas desa. Di sini hanya ada bidan, sedang lukaku ini bukan luka yang dapat di obati oleh bidan, harus dokter yang mengobatinya. Perlahan kusingkap selimut yang menutupi tubuhku, ku paksakan untuk bangun dari tempat tid

