Gunung Angker & Hutan Larangan
Perkenalkan namaku Andri, kejadian ini aku alami ketika aku masih duduk di bangku SMA dulu. Tepatnya pada tahun 1994 silam.
Di kampungku ada sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi. Kondisinya masih sangat asri dengan hutan yang sangat lebat.
Berkat gunung inilah udara di kampungku menjadi terasa bersih dan segar, apalagi pada jaman itu masih jarang sekali ada kendaraan bermotor.
Sepengetahuanku saat itu belum ada seorang pun yang pernah mendaki ke gunung ini, karena gunung ini terkenal angker dan di dalamnya terdapat Hutan Larangan yang tidak boleh dimasuki sembarangan.
Hampir semua orang di kampungku percaya pada cerita turun-temurun tentang keangkeran gunung tersebut.
Konon jika kita masuk kedalam hutan di gunung itu kita tidak akan pernah bisa kembali lagi dengan selamat, kecuali hanya orang-orang sakti yang memang berilmu tinggi. Itupun harus melalui proses-proses tertentu dan memerlukan ritual-ritual khusus sebelum mereka memasukinya.
Di area luarnya saja saat penduduk sedang mencari kayu bakar, mereka sering mengalami kejadian aneh. Seperti mendengar suara-suara menyeramkan, melihat penampakan atau bahkan tak jarang mereka juga sering dijahili oleh sosok yang tidak terlihat yang menghuni hutan tersebut.
Tapi meskipun sudah terkenal angker namun entah kenapa banyak teman-teman sekolahku yang ingin sekali mendaki ke gunung tersebut, beberapa kali aku juga mengingatkan mereka agar mengubur keinginannya itu dan menyuruhnya untuk pergi mencari gunung lain saja yang lebih aman.
Aku masih ingat sekali saat itu ketika liburan kenaikan kelas. Saat aku sedang tiduran di rumah, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang memanggilku.
"Andri... Ndri!"
"Andriii..."
Aku langsung bangkit dan bergegas menuju pintu depan, kusibak sedikit gorden lalu mengintipnya melalui jendela yang sudah kotor dan usang ini.
"Hah! Mau ngapain mereka?" ucapku heran.
Diluar aku melihat beberapa teman sekolahku. Mereka adalah Emon, Danu, Alif dan Astri yang kini tengah berdiri menghadap pintu sambil membawa tas-tas berukuran besar yang memeluk punggung mereka masing-masing.
"Eh kalian, tumben maen kesini? Ada apa nih?" tanyaku setelah membuka pintu.
"Kita gak di izinin masuk dulu nih?" jawab Emon sambil tertawa.
"Oh iya maaf tamu agung. Silahkan masuk, duduk yang rapih ya," balasku sambil bercanda.
"Mau pada kemana nih udah bawa-bawa tas segede kulkas begitu?" tanyaku.
"Kita mau naik gunung Ndri, lu ikut ya?" jawab Emon.
"Ke gunung mana?" tanyaku penasaran.
Emon menjelaskan panjang lebar kalau mereka akan mendaki gunung angker yang ada di kampungku ini.
"Gila! Kalian yakin mau naik kesana?!" Nada bicaraku meninggi setelah mengetahui maksud kedatangan mereka kesini.
"Ayolah Ndri, kita udah siapin semuanya, elu tinggal ikut doang nemenin kita," ucap Emon sedikit memaksaku.
"Jangan deh Mon, bahaya! Mendingan kita nyari gunung lain aja," bujukku agar mereka mengurungkan niatnya.
"Gue jamin gak bakal ada apa-apa, itu mah cuma mitos doang Ndri, lagian gunungnya juga pendek, besok juga kita turun lagi." ucap Emon keukeuh.
"Tapi disana emang beneran ada hutan larangan Mon, pamali kalo kita masuk kesana!"
"Bisa-bisa kita gak balik lagi!" lanjutku.
"Alaaah... Itu cuma cerita doang, lagian gue belum pernah denger ada setan yang makan manusia!" ucapnya lantang.
"Eh jaga mulut lu Mon! Jangan sompral begitu!"
Aku semakin kesal pada Emon. Entah apa yang membuatnya bersikeras untuk tetap mendaki gunung itu, padahal teman-teman yang lain terlihat biasa saja, tidak se-antusias Emon.
"Yaudah kalo elu gamau ikut gak apa-apa! Ayo gengs kita berangkat." ucap Emon dengan tegas.
Dia lalu keluar rumah diikuti oleh Danu dan Alif, sementara Astri masih duduk di kursi kayu, dia terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Lu yakin mau ikut mereka As?" tanyaku pelan.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Astri, dia hanya terdiam sambil menatapku dengan tajam.
"Astri ayo cepet! Biarin aja kalo Andri gak mau ikut!" teriak Emon di luar sana.
Lagi-lagi tanpa mengeluarkan sepatah katapun Astri langsung beranjak keluar. Mereka menggendong kembali tas-tas besar yang tadi dibiarkan berbaris rapi di teras rumahku. Dengan berat hati aku hanya bisa menyaksikan Emon, Astri, Danu dan Alif yang mulai berjalan menjauh memasuki kawasan gunung tersebut dan perlahan-lahan menghilang dari pandanganku.
Kulihat di sekitar tampak sepi sekali, para warga diwaktu seperti sekarang ini memang sedang sibuk-sibuknya berada di sawah. Kalau saja ada warga yang melihat mereka memasuki kawasan gunung itu pasti mereka akan dilarang, bahkan dimarahi.
"Aaah dasar keras kepala!" umpatku dalam hati.
Memang seperti itulah watak Emon, jika dia sudah mempunyai keinginan maka harus selalu terwujud. Dalam hal positif yang tidak melanggar aturan dan norma sifat seperti itu tentu sangatlah bagus, namun lain halnya dalam keadaan seperti ini.
**
Satu jam sudah berlalu. Selepas kepergian teman-temanku tadi entah kenapa hatiku jadi gelisah. Aku merasa kalau nyawa teman-temanku itu sedang berada dalam bahaya.
Pikiran dan batinku sibuk menimbang-nimbang antara menyusul mereka atau tidak.
Jujur saja, dalam hatiku sebenarnya ingin sekali berada diantara mereka, aku ingin menjadi yang pertama menolong mereka jika terjadi hal buruk yang mungkin saja menimpa mereka di dalam hutan di gunung itu.
Namun disisi lain aku juga takut, saat pikiranku liar mengingat semua cerita-cerita aneh dan keangkeran yang pernah terjadi di gunung tersebut, apalagi tentang Hutan Larangan yang sering dibicarakan itu.
"Apakah benar hutan larangan itu ada?" batinku bertanya-tanya.