Dihempas Kenyataan

1287 Words
Tandai jika masih terdapat kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih. _________________________________________________________________________________________________________ Ottawa, 3 month later... Usia kandungan Yasmine kini telah memasuki bulan keempat. Sejak ia dinyatakan hamil tiga bulan yang lalu, sejak saat itu juga Yasemine memilih untuk menutup dirinya kepada semua orang termasuk Justin, suaminya sendiri. Yasemine lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar sambil berpikir bagaimana caranya kabur dari mansion seluas ini. Ya, Yasemine berubah pikiran! Dia tidak lagi memperdulikan tentang nasib  jutaan dolar sejak ia menyadari betapa berharganya janin yang sedang ia kandung. Yasemine ingin memiliki anak ini untuk dirinya sendiri. Persetan dia seorang laki-laki atau perempuan, Yasemine tetap akan menyayanginya. Ceklek Yasemine tersentak kaget saat mendengar suara pintu yang dibuka secara kasar. Yasemine langsung bangkit dan mendapati Justin baru saja masuk ke dalam kamar dengan seragam tembaknya. Yasemine hanya diam, dia lalu kembali duduk menghadap balkon. Dia tidak memperdulikan Justin. Jika dia ingin kabur, maka dia harus bisa membuat pria itu tak lagi memperdulikanya. Justin membuka rompi anti pelurunya. Dia baru saja melakukan hobinya selama ini, yaitu menembak. Justin juga melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya yang berkeringat. Tubuh atletis dengan tato di rusuk kirinya membuat Justin terlihat begitu tampan dan menggoda. Pria itu melirik ke arah Yasemine sambil melepaskan jam tangannya. Wanita bersurai cokelat itu nampak memperhatikan pemandangan hutan dari balik pintu balkon yang terbuat dari kaca. Langit senja yang berwarna orange kemerahan membuat sinar matahari masuk dengan begitu sempurna ke kamarnya. Justin mendekati Yasemine. Ia memeluk wanita itu dan mencium keningnya singkat. "Tidak ingin keluar?" tanya Justin menatap ke arah Yasemine yang menjadi sangat pendiam sejak kehamilannya. Yasemine menggelengkan kepalanya, tapi dia masih setia pada kebungkamannya. Justin yang melihat Yasemine semakin hari semakin menutup diri pun berjongkok di hadapan wanita hamil itu. Justin menyentuh perut Yasemine yang sudah mulai membesar. Untuk ukuran tiga bulan, perut Yasemine memang sudah tergolong besar. "Hi baby, how are you?" sapa Justin lalu mencium perut Yasemine dengan sayang. Yasemine yang melihat Justin begitu menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya pun hanya bisa diam. Memang, sejak ia hamil, Justin jadi sering bersikap hangat dan lembut seperti saat ini. Pria itu bahkan tak segan-segan menuruti semua keinginannya tanpa mengeluh.  Yasemine yakin jika Justin melakukan semua itu karena ia menganggap jika anak yang ada di dalam kandungannya adalah seorang bayi laki-laki. Entah bagaimana perlakuan Justin jika yang dikandung olehnya adalah bayi perempuan. Mereka memang belum mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam perut Yasemine, namun Justin sangat yakin jika itu adalah seorang bayi laki-laki. Sibuk memandangi Justin, Yasemine pun tidak sadar jika Justin juga membalas tatapannya. "Yasemine?" panggil Justin sambil mengusap lembut pipi Yasemine yang hangat. Yasemine segera tersadar dari lamunannya. "Oh, hm?" gumam Yasemine salah tingkah. Justin lalu menuntun Yasemine untuk berdiri, ia menggenggam tangan wanita itu menuju balkon. Setelah sampai di balkon, Justin segera memeluk tubuh Yasemine yang semakin berisi dari belakang. Yasemine pun hanya bisa diam menikmati sinar matahari sore yang sebentar lagi pasti akan tenggelam. Hangatnya pelukkan Justin membuat Yasemine memejamkan matanya. Yasemine ingin membesarkan anak yang ia kandung bersama-sama dengan Justin. Tapi, itu tidak mungkin. Karena Justin pasti akan menceraikannya apapun yang terjadi. Pria itu bersikap manis karena anak yang ia kandung, dan Yasemine menyadari itu. Tapi, bagaimana reaksi Justin jika ia mengetahui jika Yasemine telah berubah pikiran? Bagaimana reaksi pria itu jika dia mengetahui jika Yasemine juga menginginkan bayi ini? Yasemine mencengkram pagar kaca yang menjadi pembatas balkon. Dia akan mencobanya! Dengan perlahan, Yasmine membalikkan badan. Dia menatap wajah tampan Justin dengan ragu-ragu. "Ada apa?" tanya Justin sambil mengusap pipi Yasemine. Yasemine menarik napas pelan. "Sepertinya aku berubah pikiran," ujar Yasemine dengan jantung yang berdegub kencang. Justin mengernyitkan dahinya, tanda jika ia tidak mengerti apa arti perkataan sang isteri. "Apa maksudmu berubah pikiran?" Yasemine memejamkan matanya, hingga... "Aku menginginkan bayi ini." Akhirnya Yasemine mampu mengutarakan niatnya pada Justin. Satu detik... Dua detik... Tiga detik... Justin tertawa dengan begitu kencang sesaat setelah mendengar ucapan Yasemine. Oh ayolah! Apa wanita itu bercanda?! Yasemine mengernyitkan dahinya heran. Kenapa Justin tertawa? "Kau pasti bercanda!" ujar Justin yang mulai menghentikan gelak tawanya. Namun Yasemine menggelengkan kepalanya. "Aku sedang tidak bercanda Justin. Aku memang menginginkan bayi ini," tegas Yasemine hingga membuat Justin sadar jika Yasemine tidak sedang main-main. Raut Justin yang tadinya penuh tawa, tergantikan dengan raut dingin yang sangat mengintimidasi. "Apa kau bilang?" bisik Justin lalu  memutar tubuh Yasemine hingga kini mereka bertukar posisi. Yasmine yang membelakangi pintu balkon dan Justin yang membelakangi kaca balkon. Justin menatap netra cokelat milik Yasemine dengan begitu dalam. Dan tentu saja itu membuat Yasemine bergetar ketakutan, tapi itu tidak membuat Yasemine menyerah akan haknya sebagai ibu dari bayi yang ia kandung. "Kenapa? Apa aku tidak boleh menginginkan bayiku sendiri?" Justin tersenyum tipis. "Bayimu kau bilang?" tanya Justin yang dengan perlahan mendekati Yasemine. Yasemine yang takut juga refleks memundurkan kakinya. "Apa kau sedang bermimpi menjadi isteriku yang sesungguhnya, Yasemine?" tanya Justin dengan nada mengejek yang sangat melukai hati Yasemine. Bruk! Punggung Yasemine membentur tembok. Dia tidak bisa lari lagi sekarang. Justin segera menghimpit tubuh Yasemine, dia meletakkan tangannya di leher Yasemine, persis seperti seseorang yang akan mencekik. Yasemine menahan napasnya. Dia beradu pandang dengan mata elang berwarna cokelat gelap milik pria itu. "Apa kau sudah mulai bermimpi tentang sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi? Apa kau bilang tadi? Kau menginginkan bayi itu? Cih! Kau pasti sudah gila! Wanita material sepertimu tidak akan pernah bisa mengurus pewarisku, Yasemine!" ujar Justin dengan begitu menekankan setiap kata yang ia keluarkan. Yasemine mencengkeram erat sisi dress hijaunya. Hatinya terasa sakit mendengar itu. Ya dia memang wanita materialistis, tapi apakah dengan pengakuan itu mengartikan jika dia tidak bisa menjadi ibu yang baik, bahkan untuk anak-anaknya sendiri? Tes.... Air mata Yasemine jatuh melalui sudut matanya. Tapi itu tidak membuat Justin luluh akan amarahnya. Lambat laun tangan Justine yang ada di leher Yasemine mulai mengencang, tanda jika Justin sedang bersiap mencekik isterinya sendiri. Yasemine seketika itu juga membulatkan matanya, dia mencengkeram d**a Justin yang tidak tertutupi oleh apapun. "Akan aku beritahu kau sesuatu," bisik Justin lalu mengarahkan mulutnya ke telinga Yasemine, dan membisikkan.... "Jika niatku dari awal adalah mencari seorang isteri dan ibu untuk anak-ankku, maka sudah pasti aku tidak akan memilihmu! Ada banyak perempuan sempurna di luar sana yang siap menungguku untuk menjadikan aku suami mereka! Dan apa kau tahu kenapa aku memilihmu dibandingkan mereka?" bisik Justin lalu kembali memandang manik cokelat Yasemine. "Itu karena kau bersedia menukarkan rahimmu dengan uang! Itu adalah suatu hal yang tidak bisa diberikan oleh wanita baik-baik! Dan kau tidak termasuk di antara mereka. Ingat posisimu Yasemine Katerina Douglass!" bisik Justin dengan begitu dalam, dan ia langsung menyentakkan tangannya dari leher Yasemine dengan kasar. Yasemine yang mendengar semua perkataan itu hanya bisa terdiam dengan hati yang sudah terluka. Justin seolah menyadarkan Yasmine jika dia bukanlah seorang wanita yang baik. Tentu saja! Demi uang dia rela meminjamkan rahimnya dan memberikan anaknya pada pria kejam seperti Justin Reign O'Brian. Yasemine lalu membalas tatapan Justin. Dia tersenyum penuh luka. Dia tidak menyalahkan perkataan Justin, ya dia sadar jika memang dirinyalah yang bermimpi terlalu tinggi. "Hm, kau benar. Terima kasih sudah menyadarkanku," gumam Yasemine lalu berbalik dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Justin di balkon seorang diri. Yasemine langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menumpahkan tangisannya di sana. Sementara itu di balkon, Justin langsung memukul tembok dengan tangannya untuk menyalurkan amarah yang sudah melingkupi dirinya. Justin merasa ada yang janggal dengan kata-katanya tadi. Ia merasa jika ia sudah sangat berlebihan. Tapi Justin enggan mengakui itu. Baginya Yasemine hanya seorang wanita yang bersedia melahirkan anaknya, lagipula ia membayar mahal untuk itu! Dengan semua egonya, Justin pun masuk ke dalam kamar. Ia mengetuk pintu kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat gerah sekarang. Tak lama, pintu terbuka. Yasemine keluar dari dalam kamar mandi dengan diam. Wanita itu bahkan tidak menatapnya sama sekali. Justin pun langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperdulikan hal itu. Yasemine berdiri di depan kaca. Ia mengusap sayang perutnya yang membuncit. Seulas senyum sendu terukir di bibir wanita cantik itu. "Maafkan mommy yang sudah menukar kamu dengan uang, sayang." Ah, Yasemine kini menyesali pilihannya! #To be Continued....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD