Tandai jika masih terdapat kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih.
_________________________________________________________________________________________________________
Semuanya berubah sejak percakapan sore itu. Hubungan Justin dan Yasemine memburuk. Mereka tak lagi saling menyapa ataupun berbicara. Mereka berdua tinggal di atap dan tidur di ranjang yang sama, namun mereka berdua seperti orang asing.
Ah, atau lebih tepatnya Yasemine lah yang mengasingkan diri dari Justin.
Yasemine hanya akan menjawab perkataan Justin jika itu menyangkut kandungannya. Selebihnya, Yasemine hanya bungkam seribu bahasa. Wanita itu tetap membiarkan Justin menyentuh perutnya untuk menyapa anak mereka tapi Yasemine tidak pernah membiarkan Justin menyentuh bagian tubuhnya yang lain, meski itu hanya sehelai ujung rambut.
Kenyataan yang diucapkan Justin membuat Yasmine membangun tembok tak kasat mata yang begitu kokoh. Yasemine menyadari jika dia di sini hanya sebagai pencetak keturunan yang sudah dibayar dengan mahal. Selebihnya, dia bukan siapa-siapa. Dan hal itu berlanjut hingga usia kehamilan Yasemine memasuki bulan ketujuh.
Malam ini hujan turun dengan begitu deras di langit Ottawa. Yasemine sedang membaca buku kehamilannya sembari menghirup teh lemon yang selalu menjadi minuman favoritnya. Saat sedang asyik menikmati suasana, Justin tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar dengan keadaan basah kuyup. Yasemine hampir saja menurunkan kakinya dan mendekati Justin, sebelum ucapan Justin sore itu kembali mengingatkan Yasemine akan posisinya.
Akhirnya, Yasemine hanya meliriknya sekilas. Ia menutup buku kehamilannya, dan tidur membelakangi Justin.
Sedangkan Justin?
Pria itu hanya bisa menatap punggung Yasemine yang nampak tidak memperdulikannya. Wanita itu bersikap seolah tidak melihatnya sejak percakapan sore itu. Dengan berat hati, Justin melangkah ke dalam kamar mandi. Justin melepas semua pakaiannya, ia mandi dengan menggunakan air hangat dan langsung memakai pakaiannya. Setelah selesai, Justin kembali membuka pintu kamar.
Ia melirik ke arah Yasemine yang lagi-lagi tidur membelakanginya. Ia tahu jika Yasemine belum tidur. Gerakan gusar wanita itu adalah bukti yang nyata.
Justin naik ke kasurnya. Ia ikut membaringkan tubuhnya ke ranjang, tapi kali ini dengan menghadap ke arah punggung Yasemine. Ia menatap tubuh wanita muda itu. Rambut panjang Yasemine tidak bisa menutupi tubuhnya yang semakin hari semakin berisi hingga membuat lekukannya terlihat jelas.
Justin menggeram.
Ah s**l! Kenapa dia malah memperhatikan bentuk tubuh Yasemine yang semakin seksi dan menggoda itu?
Yasemine yang memang belum menutup matanya pun menyadari jika Justin tengah menatapnya. Yasemine tidak tahu kenapa Justin menatapnya dengan begitu intens..Lama mereka terdiam, hingga akhirnya Yasemine merasakan pergerakan di ranjangnya.
Astaga! Justin mendekatinya!
Yasemine semakin mengeratkan cengkramannya pada selimut saat ia merasakan nafas hangat Justin yang menerpa punggungnya. Justin menghirup dalam-dalam aroma memabukkan milik Yasemine.
Malam ini ia tidak bisa lagi menahan hasratnya! Ini sudah lebih dari cukup!
Empat bulan Justin menahan hasratnya pada Yasemine yang bertingkah seperti manekin hidup. Dan kini, ia rasa ia harus segera menuntaskan hasratnya! Tanpa bisa dicegah, Justin menyentuh punggung Yasemine yang terbalut gaun tidur berbahan satin. Ia menelusuri punggung itu dengan gerakkan seringan bulu.
Justin menenggelamkan pada pundak Yasemine yang menguarkan aroma plum italia yang begitu khas. Namun belum sempat ia melakukan hal yang lebih jauh, Yasemine tiba-tiba saja bangkit menjauhi Justin. Dan itu membuat Justin langsung menatap marah ke arahnya.
"Ka-kau sedang apa?" tanya Yasmine dengan terbata. Justin menipiskan sudut bibirnya, ia ikut bangkit dan berdiri.
"Aku meginginkanmu, Yasemine," jawab Justin to the point. Yasemine menggelengkan kepalanya.
"Ak-aku tidak mau!" tolak Yasemine, dan Justin kembali tersenyum.
"Memangnya aku perlu persetujuamu? Setelah puluhan juta dollar yang aku keluarkan, apa kau pikir kau masih memiliki hak atas hidupmu selama satu setengah tahun ini?"
Jleb!
Kata-kata Justin kembali membuat Yasmine terluka.
Tapi Yasemine menutupi itu. Baiklah! Jika Justin menganggapnya w************n, maka ia pun akan bersikap seperti w************n sekarang. Daripada terus menangis, lebih baik Yasemine merealisasikan ucapan Justin sekalian. Yasemine menarik nafas pelan ia menghapus kasar air matanya. Ia mendekati Justin.
"Terima kasih atas kata-katanya Mr.O'Brian. Silakan nikmati tubuh saya sesuka hati Anda," balas Yasemine lalu membuka gaun tidurnya di hadapan Justin hingga tubuh polosnya yang berisi, kini terekspos jelas di hadapan Justin.
Justin menggeram marah, ia tidak suka dengan Yasemine yang seperti ini!
"Silakan dinikmati Mr.O'Brian. Jangan sampai Anda menyia-nyiakan jutaan dollar Anda dengan hanya memandangi tubuh jala-..."
"DIAM YASEMINE!!!" bentak Justin dengan begitu keras hingga membuat Yasmine berjengkit ke belakang karena keterkejutannya.
Justin yang sedari tadi menahan amarahnya akan semua ucapan Yasemine pun kini membawa tubuh itu ke dalam dekapan hanya dengan sekali tarikkan. Justin menatap netra cokelat itu dengan amarah yang berapi-api. Yasemine pun melakukan hal yang sama. Dia juga membalas tatapan Justin tanpa rasa takut.
Kesabarannya sudah habis!
Justin selalu mengungkit uang jutaan dollar itu untuk semua hal, seolah Yasemine terus diingatkan untuk apa, dan karena apa dia ada di sini.
"Kenapa?! Aku memang jala-..."
"KAU!"
Yasemine langsung memejamkan matanya saat ia melihat tangan Justin yang terangkat dan hampir menampar wajahnya. Justin yang sedang dilanda emosi pun hampir saja menyakiti Yasemine, isterinya sendiri. Justin mengetatkan rahangnya, dan dengan kasar ia menurunkan tangannya.
"Jangan menguji kesabaranku atau kau-...!"
"Atau apa ha?! Kau mau menamparku?! Tampar saja!!! Tampar aku sesuka hatimu Justin! Jangan sia-siakan uang jutaan dollarmu!!! Ayo tampar!!!" teriak Jasmine sambil menatap manik cokelat Justin dengan amarah yang berapi-api.
Justin mengepalkan erat buku jarinya. Yasemine sudah melewati batasannya terlalu jauh!
"Hentikan Yasemine," bisik Justin yang masih mencoba untuk bersabar. Yasemine terkekeh pelan. Tatapan matanya mulai berubah, kini Yasemine tidak lagi menatap Justin dengan amarah yang berapi-api, Yasemine kini menatap Justin dengan pandangan terlukanya.
"Aku tahu jika aku adalah wanita yang rendah di matamu. Aku wanita materialistis yang rela menjual darah dagingnya untukmu!"
Tes....
Air mata Yasemine menetes. Dan Justin hanya bisa diam melihatnya.
"Tapi, tidak bisakah kau membiarkanku menikmati bagaimana rasanya jadi seorang ibu? Tanpa kau beritahu pun aku sudah menyadari posisiku. Jadi tolong berhenti mengungkit jutaan dollar yang kau keluarkan untuk membeli rahimku. Jika saatnya tiba, aku akan mengembalikan uangmu tidak perduli bagaimanapun caranya," ujar Yasemine yang kini telah menangis di hadapan Justin.
Justin tertegun melihat wajah kecewa wanita itu. Ini adalah pertama kalinya Yasemine menangis begitu hebat di depannya.
"Aku tahu kau tidak pernah menganggapku sebagai isterimu. Aku tahu jika kau hanya menganggapku sebagai wanita rendah penjual rahim. Aku sadar jika bukan wanita yang layak untuk kau anggap sebagai isteri." Yasemine merasakan perih di hatinya saat ia mengatakan untaian kalimat itu. Harga dirinya ia hempaskan malam ini.
Sementara Justin yang mendengarnya hanya bisa diam, entah kenapa ia malah tidak suka dengan kalimat itu. Justin kembali menelisik ke dalam manik cokelat Yasemine yang sedari tadi meneteskan air mata. Tapi sayangnya, Yasmine segera menghapus air matanya, ia berusaha tersenyum agar terlihat tegar di hadapan Justin yang jelas sudah mengetahui jika wanita itu sedang merasakan kehancurannya.
"Tapi tak apa, aku akan menunggu seseorang di masa depan yang mau menganggapku sebagai isterinya. Dan saat itu terjadi mungkin aku tidak akan pernah lagi mengingat tentangmu dan anak yang ada di dalam kandunganku. Kau tenang saja, aku tahu posisiku," tutup Yasemine lalu menurunkan pandangannya.
Justin tidak bisa lagi menahannya!
Ia langsung mengangkat dagu Yasemine dan memberinya ciuman possesif yang begitu menuntut. Yasemine yang tidak siap pun hanya bisa mengeratkan cengkraman tangannya pada lengan Justin. Justin terlihat begitu menuntut pada setiap gerakkannya seolah memberitahu jika ia sedang marah.
"Justin, bayinya...hah...hah..." gumam Yasemine disela ciuman mereka. Justin langsung membuka matanya. Ia mengangkat tubuh t*******g Yasemine dan membawnaya ke ranjang. Justin memangku Yasemine dengan begitu possesif, tangan kekarnya ia lingkarkan di pinggang wanita itu.
Netra cokelat mereka saling beradu pandang dengan napas yang saling bersahut-sahutan.
"Ada beberapa hal yang harus kau ketahui Yasemine," bisik Justin lalu mengecup kilat bibir basah isterinya.
"Pertama, aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti manekin,"
Cup!
Justin kembali mencuri ciuman itu.
"Kedua, aku tidak pernah menganggapmu sebagai w************n. Aku menghormatimu sebagai seorang wanita yang mau mengandung anakku."
Cup!
"Oh! Justin!" Yasemine langsung berteriak saat bibir hangat pria itu mengecup dan menghisap kulit lehernya dengan begitu kuat.
"Dan yang terakhir-..."
"Kau tidak akan pernah menikah dengan orang lain setelah bercerai denganku. Aku jamin itu!"
Dan setelahnya Justin langsung membungkam Yasemine dengan ciuman kasarnya. Justin mencium Yasemine dengan semua emosinya. Yasemine yang bingung dengan perakataan Justin pun perlahan mulai mengikuti irama yang dibuat oleh sang suami.
Yasemine mengalungkan tangannya di leher Justin. Mereka saling mencecap, merasakan, menyentuh dan mencapai puncak terakhir. Hujan yang semakin deras tidak membuat kedua insan itu merasakan dingin karena tubuh mereka yang tidak mengenakan sehelai benang apapun.
Di sela puncak terakhirnya, Justin berucap...
"Larilah sesukamu nanti, tapi akan aku pastikan jika kau akan kembali ke tempat semula Yasmine. You're Mine," bisik Justin sebelum ia membawa Yasemine ke puncak kenikmatan malam itu.
#To be Continued....