BAB 7: KALAU SUKA, BILANG

1328 Words
SELAMAT MEMBACA *** Arjuna masuk kedalam rumah dengan pelan. Suasana sedikit tenang tidak ada suara televisi yang di nyalakan dengan suara keras seperti biasanya. Padahala biasanya jika dia baru turun dari mobil, suara televisi yang begitu keras sudah menyambut kedatangannya. Di depan televisi yang mati itu, Arjuna melihat Aruna tengah tertidur dengan tubuh terbungkus selimut. Dengan pelan Arjuna menyentuh kening Aruna ingin memeriksa apakah demam gadis itu sudah sembuh dan ternyata syukur lah demam Aruna sudah sembuh. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. "Bang Juna!" Arjuna langsung menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya dengan tiba-tiba. Arjuna meletakkan jari telunjuknya di bibir. Memberi kode pada Armaya agar tidak berisik dan mengganggu tidur Aruna. Namun, dasarnya Armaya yang tidak patuh atau memang sengaja dia tidak menurut pada perintah Arjuna. "Abang sudah pulang ya. Kok tumben sudah pulang. Ini jam berapa?" tanya Armaya dengan keras. Padahal pertanyaan yang dia lontarkan sama sekali tidak penting dan tidak perlu di jawab. Dia hanya sengaja ingin membangunkan kakaknya yang tengah tertidur itu. Arjuna menatap Armaya dengan tajam. Apalagi melihat Aruna yang mulai membuka matanya. "Berisik Arma," guman Aruna. Tangannya mengucek mata, mulutnya menguap. "Jam berapa sekarang?" Tanya Aruna lagi, sambil mengumpulkan nyawanya. "Setengah lima sore. Cepat bangun!" Ucap Arjuna dengan tegasnya. "Bau martabak," guman Aruna lagi dengan mata yang masih setengah terpejam. "Bang Juna bawa martabak, untukku kan?" Armaya yang melihat bungkusan di tangan Arjuna langsung mengambilnya. Mendengar kata martabak, Aruna langsung sadar sepenuhnya. "Mau martabak," ucap Aruna dengan semangat. "Kalau mau martabak bangun dulu. Jangan tidur terus," ucap Arjuna. Setelah itu dia berjalan meninggalkan Aruna dan Armaya. "Martabaknya aku habiskan ya Bang!!!" teriak Armaya saat melihat Arjuna pergi. "Bagi sama Aruna," Jawab Arjuna dengan suara kerasnya. Dia yang hampir sampai di kamar masih bisa mendengar perdebatan kecil antara Aruna dengan Armaya yang pasti tengah memperebutkan mertabak yang dia bawa. Padahal seingatnya tadi dia tidak hanya membeli satu bungkus tapi beberapa kenapa harus berebut apa tidak bisa jika di bagi baik-baik. Arjuna membuka pintu kamarnya, dia bergegas untuk mandi dan istirahat. Namun baru membuka kancing baju untuk mandi, terdengar suara teriakan Aruna dari bawah. "Bang Juna, Arma pelit. Tidak mau berbagi!!" Mendengar teriakan Aruna, Arjuna hanya membuang nafas lelahnya. Dia memakai kembali pakaiannya dan bergegas turun melihat kelakuan dua bersaudara yang sudah seperti kucing dan tikus itu. Sampai di ruang tengah, Arjuna kembali menggeleng melihat Aruna dan Armaya yang saling berebut martabak. Aruna tengah terlihat kesal, karena Armaya membawa semua martabaknya pergi. "Lihat Arma Bang, dia pelit!!" tunjuk Aruna dengan kesalnya pada Armaya. Arjuna langsung menatap tajam kearah Armaya. Pemuda itu hanya tersenyum tanpa dosa ketika Arjuna menatapnya dengan tajam. "Itu Abang belikan empat kotak, memangnya mau kamu makan semua Arma?" Ucap Arjuna pada Armaya. Armaya menatap Arjuna dengan malu, tangannya menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal. "Hehehe, ya tidak sebenarnya Bang. Cuma mau ganggu Mbak Runa," jawab Armaya. "Sudah jangan ganggu Mbak mu, sukanya kok cari suara." "Mbak Runa nya aja yang suka ribut Bang. Baru di ganggu begitu sudah ngadu-ngadu." Aruna langsung ingin memukul kepala adiknya saking kesalnya mendengar ucapan Armaya itu. "Aruna!!" Arjuna langsung memperingatkan Aruna. Aruna mengurungkan niatnya, menatap Armaya dengan kesal. "Arma ambil dua kotak, Runa ambil dua kotak. Sudah jangan berebut. Abang pusing dengar kalian ribut. Kalau ribut sana kelapangan," setelah mengatakan itu Arjuna kembali kekamarnya. Sedikit kesal dengan perdebatan Aruna dan Armaya. Sampai di kamar, bukannya tenang. Suara ribut-ribut kembali terdengar. Arjuna sudah geram sekali, rasanya ingin memukul dua kakak beradik itu. "Bang Juna, Mbak Runa mukul aku!!" Adu Armaya sambil mengusap kepalanya yang sepertinya di pukul oleh Aruna. Dia melihat Arjuna yang datang dengan wajah kesalnya, sebelum Arjuna marah Armaya lebih dulu mengadu. "Makanya kamu itu jangan ganggu Mbak mu terus, kena pukul rewel. Tapi sukanya ganggu," jawab Arjuna lagi. Armaya yang di pukul bukannya di bela justru di marahi. Sedangkan Aruna tersenyum penuh kemenangan, wajahnya terlihat mengejek kearah adiknya. "Bang Juna pilih kasih, belain Mbak Runa terus. Padahal yang mukul Mbak Ruma. Sudahlah, aku sadar diri. Nasib remahan rengginang." Armaya langsung pergi begitu saja meninggalkan mertabak yang awalnya jadi rebutan itu. Aruna membiarkannya, tidak mengejar ataupun memberikan mertabak yang tergeletak di atas meja. Justru duduk dengan manis menikmati martabaknya tanpa gangguan adiknya. Arjuna yang melihat Armaya pergi, kembali membuang nafasnya lelah. Dia benar-benar seperti mengurus dua balita yang tengah bertengkar. Yang satu marah dan apakah perlu dia juga mengejarnya untuk membujuknya. Benar-benar merepotkan. "Ini yang kamu makan yang mana?" tanya Arjuna pada Aruna. Aruna mengangkat sekotak martabak di tangannya. Mulutnya penuh dengan martabak dia tidak menjawab. "Makan pelan-pelan, jangan seperti orang rakus begitu." Tegur Arjuna. Aruna hanya mengangguk. Arjuna lalu pergi sambil membawa sekotak martabak yang lain. Sedangkan yang tiga kotak dia tinggalkan bersama Aruna. Arjuna berjalan kehalaman belakang, untuk mencari keberadaan Armaya. Sampai di halaman belakang, ternyata Armaya tengah bermain game di ponselnya sambil duduk santai di ayunan. Melihat Arjuna datang, Armaya hanya meliriknya sekilas tanpa menyapa. Arjuna meletakkan satu kotak martabak di sebelah Armaya, dia juga ikut duduk di hadapan pemuda itu. "Sudah jangan marah. Ini makan satu kotak." Ucap Arjuna pada Armaya. Armaya masih mengabaikan Arjuna, dia belum mengatakan apapun. Arjuna hanya diam menatap Armaya yang sepertinya benar-benar kesal. "Tidak usah, nanti beli sendiri." Jawab Armaya dengan ketus. "Masa marah begitu saja. Sudah besar kok cuma masalah martabak marahan sama Mbak nya." Ucap Arjuna lagi. "Kalau bicara besar, ya besar Mbak Runa. Dia juga tidak mau ngalah sama adiknya. Sana Abang harusnya nasehati Mbak Runa bukannya aku." Armaya mengusir Arjuna untuk pergi. Namun, Arjuna sama sekali tidak bergerak dari duduknya. "Sudah jangan marah lagi. Ini makan nanti dingin, kalau kurang di dalam masih ada." Arjuna menyodorkan kotak martabak itu pada Armaya. Namun Armaya langsung menggeleng pelan. "Tidak mau, itu punyanya Mbak Runa." "Siapa bilang. Kalau kamu yang makan ya punyamu." "Tapi Abang belikan semua untuk Mbak kan bukan untukku." "Beli empat kotak kan tidak untuk Runa semua. Ya untukmu juga, kalau bibi mau ya untuk bibi juga, paman juga. Beli banyak untuk di makan bersama." Jelas Arjuna. "Mana ada. Abang cuma perhatian sama Mbak, cuma belain dia. Abang cuma sayang sama dia, semua martabaknya punya dia, mana ada yang punya ku. Aku tidak mau makan, nanti beli sendiri sama bapak. Tidak mau punya Mbak." Ucap Armaya lagi, dia tetap menolak martabak pemberian Arjuna. Arjuna menatap Armaya dengan heran, ada apa dengan anak itu kenapa aneh sekali tingkahnya. masa cemburu dengan perhatiannya pada Aruna. Arjuna heran, tidak biasa-biasanya Armaya bertingkah demikian. "Kamu ini bicara apa Arma. Sudah jangan berfikir yang aneh-aneh, makan ini. Abang mau masuk dulu." Arjuna bangun dari duduknya, dia ingin kembali masuk kedalam rumah. Tapi ucapan Armaya yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Aku tau, kalau Abang suka sama Mbak Runa." Arjuna langsung menatap Armaya. Armaya pun menatapnya, seolah-olah yakin dengan ucapannya barusan. Arjuna langsung tersenyum, meski terkejut dia berusaha menguasai diri sebaik mungkin. "Abang juga suka sama kamu. Kalian kan adiknya Abang, masa Abang tidak suka." Ucap Arjuna dengan santainya. "Bukan, bukan itu maksudku. Abang lebih faham maksudku apa. Sikap Abang itu beda antara aku dan Mbak. Abang lebih perhatian, lebih khawatir kalau itu masalah Mbak. Tapi kalau aku, Abang biasa aja. Jangan ngelak, kalau suka bilang." Ucap Armaya lagi dengan seriusnya. Arjuna kembali terkekeh pelan. Tangannya langsung mengacak rambut Armaya membuat rambut pemuda itu sedikit kusut. "Kalau Abang lebih perhatian, lebih khawatir sama Runa itu karena Runa perempuan. Kalau kamu kan laki-laki, lebih hebat dan bisa menjaga diri sendiri. Abang tidak perlu cemas sama kamu." Arjuna tetap menjelaskannya dengan logis, berharap Armaya akan percaya dengan ucapannya. "Kalau suka bilang Bang, jangan pura-pura. Apa untungnya," Armaya masih belum menyerah. Dia tetap mendesak Arjuna untuk mengakui perasaannya. "Anak kecil mengerti apa. Sudah jangan berfikir aneh-aneh, belajar saja yang betul." Setelah mengatakan itu, Arjuna benar-benar berjalan meninggalkan Armaya dengan sekotak martabak yang dia letakkan di dekat pemuda itu. Arjuna tidak peduli jika Armaya tidak mau memakannya, dia bisa membawanya masuk. "Abang cemennnn ..." Teriak Armaya dengan keras. Arjuna yang mendengar teriakan Armaya sama sekali tidak mempedulikannya. Dia tetap berjalan meninggalkan halaman belakang menuju kamarnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD