BAB 8: CINTA ATAU OBSESI

1914 Words
SELAMAT MEMBACA *** “Bang kedepan yuk, beli jajan.” Arjuna meletakkan kaca mata dan buku yang dia baca, dia menoleh kearah belakang dimana ada Armaya yang tengah berdiri disana. “Pergi sama Runa,” jawab Arjuna singkat. “Mbak Runa pergi sama temannya.” “Kemana?” “Tidak tau. Ayo Bang temani sebentar,” Ucap Armaya lagi. “Pergi sendiri, Abang sibuk.” Arjuna masih menolak permintaan Armaya. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan dia malas untuk keluar. “Sibuk apa sih Bang, memangnya Abang kerja malam-malam begini,” Armaya masih memaksa agar Arjuna mau menemaninya. Arjuna yang melihat sikap Armaya hanya bisa membuang nafasnya dengan kesal. “Malam minggu kan Bang, ayo lah. Besok kan libur, keluar-keluar cari angin sebentar.” Armaya menampilkan wajah polosnya untuk memaksa Arjuna. Arjuna yang sudah tidak memiliki alasan lagi, akhirnya berdiri dari duduknya dengan malas. “Bentar ambil jaket,” Ucap Arjuna sambil berjalan menuju kamarnya. Armaya bersorak senang karena berhasil membawa abangnya untuk keluar. Sudah di pastikan dia bisa jajan sebanyak apapun yang dia mau dan pastinya uangnya tetap utuh. Anggap saja Armaya licik, tapi itulah cara satu-satunya untuk menghemat uang. *** “Sudah banyak ini Arma, yang mau makan siapa?” Arjuna kesal dengan Armaya, sejak tadi pemuda itu terus saja berjalan kearah penjual makanan. Sedangkan bungkusan di tangannya dan di tangan pemuda itu sudah banyak. Bahkan Arjuna sangsi jika makanan yang mereka beli malam itu bisa di habiskan malam itu juga. “Sebentar Bang, mau beli sotong di tukang tahu bulat. Masih antri tapi,” Armaya sudah tetap berjalan kearah mobil pick up penjual tahu bulat yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Arjuna hanya bisa membiarkan Armaya melakukan apapun yang dia suka, di larang pun hasilnya percuma. Arjuna menunggu Armaya sambil mengamati kondisi di sekitarnya. Malam minggu, taman kompleks perumahan mereka cukup ramai. Apalagi banyak penjual makanan disana, banyak muda mudi yang duduk di kursi taman sambil menikmati jajanan sembari menikmati malam minggunya. Dan Arjuna bisa menebak, mereka kebanyakan berusia lebih muda darinya. Arjuna tersenyum kecut, betapa indah masa muda mereka. Sedangkan dia, dia bahkan tidak pernah bermain-main seperti itu saat muda. Hari-harinya selalu dia habiskan untuk belajar dan belajar, sampai-sampai dia kehilangan waktu-waktu santainya. “Sudah Bang ayo,” Arjuna langsung menoleh saat mendengar suara Armaya. Pemuda itu datang dengan dua bungkusan di tangannya. “Itu wedang ronde tidak sekalian di beli sama gerobaknya.” Ucap Arjuna dengan kesalnya pada Armaya. Dia lalu berjalan lebih dulu untuk pulang. Tidak peduli dengan Armaya yang mungkin saja masih ingin membeli jajan yang lain. “Abang tunggu!!” teriak Armaya sambil mengejar Arjuna. Akhirnya mereka menghentikan pemburuan jajan malam itu dengan banyaknya hasil buruan di tangan. Mereka pulang dengan jalan kaki, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah. “Awas kalau ini nanti tidak habis ya,” Omel Arjuna sambil jalan. “Habis-habis Bang, cuma segini.” Jawab Armaya dengan santainya. “Awas Abang lihat besok ada yang di buang!!” “Iya tidak di buang. Pokoknya, semua di giling malam ini.” Jawab Armaya dengan tawa pelannya. Tiba-tiba mereka menghentikan langkah. Lebih tepatnya Arjuna yang berhenti, begitupun dengan Armaya. Di depan mereka, ada Aruna yang baru saja turun dari boncengan sepeda motor seorang pria. Arjuna tidak mengatakan apapun, dia hanya diam sambil mengamati dari tempatnya berdiri. Armaya pun demikian, namun jika Arjuna menatap kesal pada Aruna dan teman laki-lakinya itu Armaya lebih senang menatap wajah kesal Arjuna yang berusaha dia sembunyikan. “Malam minggu itu memang cocok Bang buat pacaran. Beda sama kita yang jomblo-jomblo begini, bisanya cuma jajan sama lihatin orang pacaran.” Ucap Armaya pada Arjuna. Entah laki-laki itu mendengarnya atau tidak, dia memilih untuk melanjutkan langkahnya. Melewati Aruna yang masih berada di depan rumah begitu saja. “Kalian dari mana?” tanya Aruna saat melihat Arjuna yang berlalu begitu saya. “Beli jajan Mbak,” Armaya lah yang menjawab. Namun dia juga tidak berhenti. Aruna tidak ambil pusing, dia lalu masuk kedalam rumah. Sedangkan di jalan, Armaya di buat kewalahan mengejar langkah Arjuna. Padahal laki-laki itu tidak berlari, tapi kenapa langkahnya selebar itu. “Tunggu Bang…” berkali-kali Armaya berteriak minta di tunggu namun Arjuna seolah-olah tuli tidak memperdulikan teriakan Armaya sama sekali. Sampai di rumah, Arjuna langsung meletakkan bungkusan di tangannya dengan kasar keatas meja. Lalu dia bergegas untuk naik kekamarnya. Armaya yang ketinggalan jauh, dia baru sampai di rumah saat Arjuna sudah masuk kekamar. “Bang Juna tidak mau makan jajan!?” teriak Armaya dengan keras, sambil tangannya membuka setiap bungkusan jajan itu. “Bang!!!” panggil Armaya lagi. Namun berkali-kali di panggil pun, Arjuna tidak menjawab sedikitpun. Armaya tidak lagi memperdulikan Arjuna. Dia justru asik memakan jajanan yang dia beli. Bukannya dia tidak peduli dan tidak tau dengan apa yang terjadi, namun kemarin dia sudah mencoba apa yang dia bisa tapi hasilnya sia-sia. Jika sekarang dia pura-pura tidak tau bukankah itu pilihan yang bijak. Urusan hati bukan hak orang luar untuk ikut campur. “Wesss angellll angelll…” Guman Armaya sendirian. Armaya kembali menyantap makanannya sambil menonton televisi. “Enak ya, jajan banyak tidak bagi-bagi…” Armaya langsung menoleh saat mendengar suara Aruna. Dia melihat kakaknya itu datang dengan pakaian yang sudah berganti. “Pasti hasil malak Bang Juna.” Ucap Aruna saat duduk di sebelah adiknya. Dia mencomot satu tusuk bakso bakar dari sana. “Mbak tadi dari mana?” tanya Armaya. “Dari alun-alun.” Jawab Aruna santai. “Sama siapa?” “Teman.” “Teman siapa?” “Teman sekolah.” “Cuma berdua?” “Dia alun-alun kan banyak orang Arma, bukan Cuma berdua.” “Mbak pacaran?” Armaya menatap Aruna dengan tidak sukanya. Dia benar-benar tidak senang jika kakaknya itu mempunyai pacar. Aruna tidak menjawab pertanyaan Armaya, dia justru asik mengunyah makanannya. Seolah-olah tidak mendengar pertanyaan Armaya. “Mbak kan sudah di marahin kemarin, tidak boleh pacaran kok ngeyel sih.” Ucap Armaya lagi dengan kesalnya pada kelakuan kakak perempuannya itu. “Mbak kan cuma jalan-jalan bareng ke alun-alun Arma. Tidak aneh-aneh, anggap saja berteman.” Aruna berusaha membela dirinya sendiri. “Terserah Mbak lah, asal jangan menyesal di belakang aja.” Armaya langsung pergi kedapur setelah mengatakan itu. Sedangkan Aruna, berusaha tidak memikirkan ucapan adiknya. *** Arjuna membetulkan jaket yang dia pakai, setelah membayar ongkos taksi dia kemudian turun. Rumahnya tampak sepi, tapi mobil kedua orang tuanya ada di rumah. Siang ini Arjuna menginjakkan kakinya di Jakarta, setelah kejadian semalam yang berhasil membuat hatinya kesal setengah mati pagi tadi dia langsung membeli tiket penerbangan ke Jakarta. Dia ingin pulang, meski tidak untuk mengadu tapi setidaknya dengan pulang dan melihat bundanya bisa membuat suasana hatinya membaik. “Assalamu’alaikum Bunda…” Salam Arjuna saat memasuki rumah. Abi dan Utari yang tengah duduk santai di ruang tamu, langsung menoleh saat medengar suara Arjuna. “Waalaikumsalam. Ya ampun, tamu jauh datang.” Utari langsung menyambut kedatangan putranya. Dia tidak menyangka putranya pulang dengan tiba-tiba. Padahal kemarin-kemarin dia sampai lelah meminta putranya itu pulang tapi hasilnya nihil. Dan lihat sekarang, putranya pulang dengan tiba-tiba tanpa kabar dan paksaan. “Bunda apa kabar?” tanya Arjuna langsung saat menyalami bundanya. “Bunda sehat. Baik-baik saja, Abang juga sehat kan. Kok tiba-tiba pulang, Abang sakit. Ada masalah di rumah sakit?” tanya Utari beruntun. Arjuna hanya tersenyum dengan pertanyaan bundanya. “Ambilkan minum Tari, bukannya di wawancarai.” Perintah Abi saat mendengar pertanyaan beruntun istrinya itu. “Duduk-duduk, capek kan. Bunda ambilkan minum ya.” Ucap Utari langsung berlalu kedapur. “Ayah sehat?” tanya Arjuna kali ini pada ayahnya. Abi hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis. *** Sore harinya, Abi lewat di depan kamar Arjuna yang terbuka. Dia mengintip sedikit kedalam kamar, apa yang tengah di lakukan putranya. Ternyata putranya itu tengah membaca buku sambil melamun. “Mana bisa melamun, menyerap ilmu.” Arjuna langsung tersadar, dia buru-buru membetulkan posisi duduknya dan menatap ayahnya. Abi meneliti wajah Arjuna dengan lekat. Sekilas putranya terlihat dalam keadaan baik-baik saja, tapi mata tuanya, bisa menangkap kegelisahan disana. “Ayah tau lho kalau Abang wajahnya masam begini.” Ucap Abi langsung dengan menunjuk wajah putranya. Arjuna hanya menggeleng pelan. Ayahnya terlalu jeli pada setiap hal. Arjuna meletakkan bukunya, menatap ayahnya yang duduk di tepi ranjang. “Ada apa? Mau cerita sama ayah?” tanya Abi dengan pelannya. “Abang mau menikah Yah.” Ucap Arjuna langsung. Abi tidak kaget, dia justru kerkekeh pelan. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba putranya mengatakan ingin menikah. “Gadis mana?” tanya Abi dengan santainya. Namun Arjuna hanya diam. Tidak tau bagaimana menjelaskannya pada ayahnya. Banyak orang, banyak hubungan dan banyak kondisi yang harus di pertimbangkan. “Menikahlah kalau memang sudah siap dan memang mau menikah karena keinginan hati Bang. Ini bukan paksaan bunda kan?” Arjuna langsung menggeleng. Sungguh, ini tidak ada kaitannya dengan bundanya. Dia hanya merasa hatinya benar-benar sudah tidak sangup lagi. “Kalau memang mau menikah, ada calonnya. Bilang yang jelas Bang, anak mana. Dari keluarga mana, di mana rumahnya kita datangi kita lamar baik-baik.” “Bagaimana Ayah bisa yakin kalau bunda itu bisa jadi istri yang baik?” Arjuna justru mengalihkan pembicaraannya. Abi menatap lukisan di hadapannya, seolah-olah pikirannya kembali pada masa lalunya. “Pertama lihat bunda. Ayah sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menjadikan dia istri. Apalgi istri yang baik. Gadis muda yang naif, tidak jelas keluarganya, berpenampilan alakadarnya, lari-lari di kejar hutang. Kerja serabutan seperti tidak memiliki masa depan. Coba laki-laki mana yang mau sama perempuan seperti itu.” Abi menatap wajah putranya yang sepertinya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Padahal sudah berkali-kali kisah cintanya itu di ceritakan kepada kedua anaknya. “Abang kan tau, Ayah menikah sama bunda karena permintaan tante Naina. Karena ingin punya kalian. Tante Naina itu perempuan yang cantik, pintar, kariernya bagus tipe-tipe istri idaman untuk semua laki-laki. Ketimbang bunda tentu saja ayah lebih memilih tante Naina.” “Lalu bagaimana bisa Ayah yakin meninggalkan tante Naina yang sempurna dan berpaling pada Bunda?” “Itu kesalahan Ayah Bang. Ayah tidak bisa membedakan cinta dengan obsesi. Ayah menganggap tante Naina yang sempurna itu sebagai cinta sejati ayah, yang ternyata hanya sebuah obsesi bagi Ayah. Sampai-sampai Ayah mengabaikan bunda dan kalian saat itu. Koreksi ya Bang, bukan Ayah yang meninggalkan tante Naina tapi dia yang memilih laki-laki lain dan meninggalkan Ayah. Soal bisa sama bunda sekarang ini, ya karena takdir dan penyesalan Ayah. Setelah semua pelajaran yang Ayah terima, Ayah sadar kalau ternyata Ayah mencintai bunda. Tidak peduli bunda bisa jadi istri yang baik atau tidak, kalau memang kita mencintai seseorang kita terima kelebihannya dan kekeurangannya titik. Perkara tapi, itu urusan belakang.” Arjuna mengangguk faham mendnegarkan cerita ayahnya. “Ayah pernah terpuruk karena salah mengenali rasa di hati sendiri Bang. Jangan sampai kamu seperti Ayah. Kalau cinta, jangan ragu. Tapi kalau masih ragu, tanya lagi Bang sama hati itu betulan cinta atau cuma obsesi. Jangan sampai salah mengenali rasa, merusak semuanya. Jadikan hidup Ayah sebagai pelajaran. Cukup Ayah yang merasakan pahitnya penyesalan, kamu jangan sampai.” Abi lalu berdiri dari duduknya, berjalan kearah putranya. Dia menepuk pelan pundak Arjuna. “Kalau masih ragu kenali betul-betul rasa di hati Bang. Kalau sudah yakin nanti bilang sama Ayah. Ayah pasti lamarkan, siapapun itu Ayah akan dukung.” Ucap Abi sebelum pergi. Arjuna tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan entah ayahnya melihat anggukannya atau tidak. Dia benar-benar memikirkan ucapan ayahnya barusan. “Benarkan ini cinta, atau obsesi semata?” ***  DI TULIS: DI SLEMAN, 21 AGUSTUS 2022 DI PUBLISH : DI WNG, 17 OKTO 2023 SALAM E_PRASETYO
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD