BAB 9: ARJUNA KENCAN

1317 Words
SELAMAT MEMBACA *** Aruna tengah membantu ibunya menyiapkan sarapan untuk adik dan bapaknya. Dia tidak pergi sekolah, karena sedang libur dalam masa tenang sebelum menghadapi ujian nasional. Sejak pagi, mereka sudah berkutat dengan berbagai bahan makanan di dapur. "Bang Juna masih lama ya Bu di Jakarta nya?" tanya Aruna pada Sarni. Dia menatap kearah tangga menuju lantai dua dengan lesu. Sudah satu minggu, tidak melihat abangnya itu turun dari sana untuk sarapan. Rasanya seperti ada yang kurang. "Kurang tau ya Ibu. Coba Runa hubungi Mas Juna. Tanya kapan kesini?" "Nomornya itu tidak aktif terus Bu. Setiap aku telpon, pasti di luar jangkauan." Jawab Aruna. "Ya mungkin dia masih ada urusan di sana. Kenapa sih memangnya, orang Mas Juna pulang kerumah orang tuanya. Ya biarkan saja." "Memangnya tidak kerja? Kok lama pulangnya." "Mana Ibu tau. Kerja atau tidak ya suka-suka dia. Orang rumah sakit punya ayahnya sendiri. Siapa juga yang berani mecat, kalau bolos kerja." "Jangan-jangan Bang Juna sakit Bu. Pergi tiba-tiba tanpa pamitan kan kemarin." "Dia dokter, orang tuanya dokter. Punya rumah sakit, kalau dia sakit apa yang perlu di cemaskan. Lagian, dia pamitan kok sama Ibu sebelum berangkat. Bapak juga ada waktu dia pergi, pamitan kok kalau mau pulang kangen sama bundanya." Aruna tidak lagi menjawab, dia hanya diam. Benar juga yang di katakan ibunya. "Bang Juna itu ngambek sama Mbak, makanya perginya lama, tidak pamitan lagi sama Mbak. Kalau sama aku sih, dia pamitan lewat sms." Tiba-tiba Armaya muncul dari halaman belakang bersama bapaknya. Mendengar ucapan adiknya, Aruna langsung berfikir apa salahnya sampai membuat abangnya marah padanya. Dan lagi dari semua orang yang ada hanya dia yang tidak di pamiti jika ingin pergi. "Memangnya Mbak salah apa?" tanya Aruna. Bukannya menjawab, Armaya justru mengangkat kedua bahunya pertanda tidak mau menjawab. "Mbak fikir aja sendiri." Lastri dan Asep hanya saling pandang, mereka tidak tau apa yang sedang di bahas oleh kedua anaknya itu. "Sudah ayo sarapan," Ucap Sarni menghentikan obrolan Aruna dan Armaya. Akhirnya mereka ber empat sarapan bersama. *** Arjuna menatap perempuan di hadapannya dengan wajah malasnya. Sejak tadi perempuan itu terus saja menatap dirinya dengan genit dan tanpa malu sedikitpun. Apa tidak bisa bersikap lebih natural, agar dia tidak hilang rasa pada pertemuan pertama mereka. Jika seperti ini, bahkan belum setengah jam mereka bertemu Arjuna sudah ingin pergi. "Mas Juna, sudah lama ya jadi dokter?" tanya perempuan bernama Nala itu pada Arjuna. Jangan lupakan nada suaranya yang di buat semanja mungkin. Arjuna benar-benar tidak betah, ingin rasanya pergi begitu saja. Tapi bagaimana pun dia tidak bisa bersikap tidak menghargai perempuan seperti itu. Arjuna benar-benar mengutuk sikap bundanya yang mengatur kencan buta untuknya kali ini. "Sudah." Jawab Arjuna singkat. "Wahhh asik dong, nanti kalau Nala sakit bisa periksa sama Mas Juna. Pasti langsung sembuh, bisa gratis lagi." Ucap perempuan itu lagi dengan nada manjanya. Tangannya sibuk memilin ujung rambutnya yang menjuntai. Bahkan Arjuna sampai bergidik ngeri mendengar suara yang di buat mendayu-dayu itu. Apalagi gestur tubuhnya yang tidak bisa diam seperti ulat yang membuat kepalanya pusing. Siapa juga yang mau memeriksa dia apalagi minta gratis. Memangnya dia sekolah dokter tidak pakai biaya, lagipula dia kan dokter manusia bukan dokter ulat. "Kata tante Tari, Mas Juna sekarang di Jogja ya?" tanyanya lagi. "Iya." "Kerja di sana atau bagaimana?" "Kerja disana." "Nanti kapan-kapan, kalau Nala ke Jogja Mas Juna mau kan temani Nala jalan-jalan disana. Soalnya Nala kepingin ke Jogja, tapi tidak ada kenalan disana." "Eheemm, sepertinya tidak bisa. Saya kerja. Oiya, Nala maaf ya. Saya sudah ada janji mau main bola sama ayah saya sore ini. Kita cukupkan saja ya pertemuan kita. Sudah sore kamu juga harus pulang. Minumannya biar saya yang bayar. Saya duluan ya..." Arjuna langsung berdiri ingin membayar ke kasir lalu pergi. Bahkan perempuan bernama Nala itu, belum menjawab sepatah katapun. Namun, Arjuna sudah pergi. "Hati-hati Mas Juna. Nanti kapan-kapan, kita ketemu lagi ya..." Arjuna masih mendengar teriakan Nala, namun lebih memilih pura-pura tuli. "Amit-amit, jangan sampai ketemu lagi." Guman Arjuna lirih. Ingatkan dia untuk membuat perhitungan pada bundanya. Bisa-bisanya bundanya mengenalkannya pada perempuan setengah ulat yang menggelikan seperti itu. *** "Anak bunda yang ganteng sudah pulang. Bagaimana kencannya, lancar?" Utari langsung menyambut kedatangan Arjuna, begitu putranya itu memasuki rumah. Arjuna yang mendengar pertanyaan Utari kemudian membuang nafasnya dengan malas. Abi yang duduk di sebelah Utari, hanya bisa menahan tawa melihat wajah kesal putranya. "Cantik kan anaknya. Bunda pernah ketemu, sama anaknya Dian ini cantik memang dia." Ucap Utari lagi, memuji gadis yang dia kenalkan pada putranya itu. "Iya cantik." Jawab Arjuna dengan malas. "Terus-terus bagaimana? Suka tidak Bang?" Utari langsung antusias mendengar kata cantik keluar dari mulut Arjuna. "Abang kasihan sama bunda. Kalau modelan yang kaya tadi di jadikan mantu." "Kenapa? Katanya cantik." "Kalau cuma cari yang cantik. Ayam juga kalau di kasih bedak jadi cantik Bun." "Memangnya kamu mau Bunda nikahkan sama ayam?" "Sudah pokoknya, bunda tidak usah repot-repot bikin kencan-kencan buat Abang lagi. Setres abang Bun, kalau ketemu yang kaya tadi." Ucap Arjuna dengan wajah memelasnya. Dia melirik kearah Ayahnya, berharap ayahnya mau membantunya. Tapi sia-sia, Abi olah-olah tidak peduli dengan perdebatan anak dan istrinya. Mungkin, lebih tepatnya dia mencari aman saja. "Memangnya yang tadi kenapa sih Bang?" "Bikin setres Bun, bikin darah tinggi. Terus bikin cepat mati." Jawab Arjuna, kemudian berlalu dari tempat duduknya. Dia ingin pergi kekamar. Lebih baik, pergi dari pada mendengar ocehan bundanya yang justru semakin membuat kesal. "Besok Bunda kenalkan sama anaknya Dokter Salma Bang, cantik dia." Teriak Utari lagi. Entah masih di dengar atau tidak oleh Arjuna. "BESOK ABANG KEMBALI KE JOGJA!!!" Teriak Arjuna dengan keras dari dalam kamarnya. Utari langsung cemberut, lagi-lagi usahanya gagal. Abi yang melihat wajah kesal istrinya, lalu menutup majalah yang sejak tadi dia baca dan meletakkannya di atas meja. "Sudah, kalau dia tidak mau tidak usah di paksa. Sukanya kok nambah-nambahin kerjaan." Ucap Abi pada Utari. "Aku kan cuma usaha ngenalin dia Om. Mana tau ada yang cocok, lumayan bisa dapat mantu lagi." "Tidak usah di kenal-kenalkan. Nanti kalau jodoh juga ketemu sendiri. Arjuna kan laki-laki, masa kamu obral-obralkan seperti bujangan tidak laku begitu." Utari langsung menatap kesal pada suaminya. "Om mana faham, aku itu cuma." belum sempat Utari menyelesaikan ucapannya, Abi sudah lebih dulu memotongnya. "Cuma mau yang terbaik buat Arjuna. Saya faham Tari, maksud kamu baik. Tapi kita tidak bisa memaksakan sesuatu sama anak. Belum tentu baik menurut kita, itu baik buat anak-anak. Mereka itu sudah dewasa, sudah tau jalan mereka sendiri. Tidak perlu di tuntun lagi, kita tinggal awasi. Ingatkan kalau salah, mereka sudah bisa jalan, sudah bisa berlari tidak perlu di latih jalan lagi." Ucap Abi dengan panjang lebar. Utari tidak lagi mendebat ucapan suaminya, memang benar yang di katakan suaminya itu. Hanya saja, ahhh yasudahlah. *** Abi mengetuk pintu kamar Arjuna sebelum masuk, meski pintunya tidak di tutup Abi tetap mengetuknya. "Besok jadi pergi Bang?" tanya Abi pada putranya itu. "Lebih baik pergi lah Yah, dari pada di suruh kencan lagi sama Bunda." Jawab Arjuna. "Bunda tidak akan ngatur kencan lagi. Sudah Ayah nasehati," Abi duduk di kursi santai di kamar Arjuna. Membuka beberapa komik yang ada di atas meja. "Sudah lama bolos kerja Yah. Balik dulu aja lah." Abi mengangguk faham. "Yasudah kalau begitu, nanti ayah pesankan tiket untuk besok." "Abang sudah pesan Yah." Arjuna menunjukkan layar ponselnya pada Abi. Abi kembali mengangguk faham. "Minggu depan, Bunda sama Ayah juga kesana." "Kemana?" "Jogja Bang." "Mau ngapain Yah?" "Kok ngapain, minggu depan acara empat bulanan Jani. Katanya mau ada pengajian kecil-kecilan, jadi kami akan hadir." Arjuna langsung teringat dengan adiknya yang sudah hidup bahagia menyandang gelar ibu lurah itu. "Kok sudah empat bulan ya kandungannya." "Iya, makanya kamu cepat nikah biar tidak kalah sama Jani. Jani sudah mau punya anak, kamu istri saja belum ada." "Ayahhhh..." Abi langsung keluar dari kamar Arjuna, tidak mau menerima amukan putranya itu. Abi keluar dari kamar, sambil tertawa. merasa bahagia karena berhasil membuat putranya kesal. *** DI TULIS: Sleman, 26 Agustus 2022 DI PUBLISH: WNG, 30 OKT 2023
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD