BAB 1 : BEBEK KARET DAN TAMU TAK DI UNDANG
Kantor "Absolute Zero" tidak terletak di ruko kumuh, melainkan di lantai 42 sebuah gedung pencakar langit yang memiliki sistem keamanan biometrik mandiri. Ruangannya didominasi kaca kedap suara dengan pemandangan kota yang selalu terlihat seperti sirkuit komputer raksasa di malam hari. Di sini, udara selalu berbau antiseptik dan mesin server yang bekerja panas, menciptakan suasana yang lebih mirip laboratorium rahasia daripada kantor detektif.
Di tengah meja kerja yang terbuat dari bahan karbon hitam yang sangat rapi, duduk sebuah benda yang sangat kontras dengan kemewahan sekitarnya: seekor bebek karet kuning cerah. Bebek itu terlihat kusam, ada bekas goresan di sayapnya, dan matanya dicat ulang menggunakan spidol permanen hitam yang agak meluber. Benda itu bukan sekadar hiasan, melainkan satu-satunya "teman" bicara yang tidak pernah memprotes teori gila pemiliknya.
Bramantyo, sang detektif, duduk di depan bebek itu dengan ekspresi yang sangat serius, hampir menyerupai seorang biksu yang sedang bermeditasi. Dia mengenakan kaos oblong abu-abu yang agak longgar dan kacamata dengan lensa tebal yang seringkali melorot sampai ke ujung hidungnya. Tangannya yang terlihat gemetar kecil sebenarnya sedang menghitung ritme getaran dari kipas angin di pojok ruangan.
"Zaki, bebek ini sudah mulai kehilangan massa udaranya sebesar 0,02 persen sejak pagi tadi," gumam Bram tanpa mengalihkan pandangan dari si bebek. Suaranya terdengar cemas, seolah-olah dia sedang membicarakan kebocoran reaktor nuklir yang bisa menghancurkan satu benua. Dia menekan perut bebek itu perlahan, menghasilkan bunyi puekk yang sangat cempreng dan menyedihkan di ruangan yang sunyi itu.
Zaki, asisten setianya yang sedang sibuk mengawasi aliran data di monitor raksasa, hanya menghela napas panjang tanpa menoleh. "Bram, itu karena suhu AC kita turun dua derajat, hukum fisika dasar, kawan. Berhenti memperlakukan mainan mandi itu seperti indikator kiamat dan fokus ke enkripsi data klien yang baru masuk."
"Fisika dasar adalah awal dari konspirasi besar, Zak," sahut Bram sambil membetulkan kacamatanya yang miring. "Perubahan suhu ini tidak alami. Ada massa panas yang bergerak menuju pintu kita. Massa seukuran tiga orang dewasa dengan detak jantung di atas 90 denyut per menit. Dan bau mereka... bau orang-orang yang terlalu sering memegang bubuk mesiu."
Zaki akhirnya berhenti mengetik dan menoleh, matanya menyipit melihat indikator keamanan di layar kecil di sampingnya. "Lo bener. Lift baru saja berhenti di lantai kita. Tiga orang, bersenjata ringan. Lo mau pakai protokol 'Jenius' atau protokol 'Badut'?"
Bram langsung mengubah posisi duduknya menjadi sedikit meringkuk, wajahnya dibuat terlihat sangat linglung dan panik. "Protokol badut selalu lebih aman untuk asuransi kesehatan gue, Zak. Jangan lupa, gue cuma mantan juru masak tentara yang trauma sama bunyi petasan, oke?"
Pintu geser otomatis kantor itu terbuka dengan suara hiss yang halus, menampakkan seorang wanita elegan bernama Vanya. Dia mengenakan trench coat abu-abu dengan potongan sangat tajam yang menyembunyikan siluet senjata di balik pinggangnya. Di belakangnya berdiri dua pria berjas hitam yang memiliki postur tubuh seperti petarung profesional dengan tatapan mata yang kosong.
Vanya melangkah masuk, sepatunya berbunyi ritmis di lantai marmer, menciptakan gema yang membuat suasana semakin tegang. Dia berhenti tepat di depan meja Bram, menatap bebek karet kuning itu dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi. "Gue dengar 'Absolute Zero' adalah tempat terbaik untuk mencari orang hilang yang 'tidak boleh ditemukan' oleh polisi."
Bram mendongak, matanya berkedip-kedip cepat seolah dia sedang ketakutan melihat tamu secantik Vanya. "Eh, iya... selamat siang, Mbak. Ini... anu, Mbak mau pesan jasa instal ulang Windows? Atau mau benerin printer? Saya Bram, bagian administrasi, dan ini bebek saya, asisten kesehatan mental saya."
Vanya mengerutkan dahi, merasa seolah dia baru saja masuk ke ruangan orang gila daripada detektif elit. "Gue butuh detektifnya, bukan tukang servis komputer yang trauma. Di mana bos lo?" tanyanya dengan nada suara yang mulai naik, menunjukkan ketidaksabaran yang berbahaya.
"Saya bosnya, Mbak," jawab Bram dengan nada suara yang sengaja dibuat agak gemetar, tangannya pura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas yang sebenarnya sudah rapi. "Tapi saya nggak terima kasus berat. Kemarin saya baru aja nemuin kucing yang hilang di dalem kulkas pemiliknya sendiri. Itu aja saya udah pusing tujuh keliling."
Zaki menahan tawa dari balik mejanya, pura-pura batuk untuk menutupi reaksinya. Dia tahu betul bahwa saat ini Bram sedang memindai setiap detail dari Vanya—dari bekas luka di pergelangan tangannya hingga cara dia menumpukan berat badan pada kaki kanan, sebuah tanda bahwa dia sedang menyembunyikan cedera lama.
Vanya menaruh sebuah drive enkripsi di meja dengan bantingan yang cukup keras, membuat si bebek karet terpental sedikit ke samping. "Adik gue diculik oleh faksi mafia yang punya identitas tersembunyi sebagai kontraktor pertahanan. Mereka mau kode akses yang bisa mematikan seluruh jaringan listrik kota. Gue butuh adik gue balik dalam 24 jam, atau kota ini bakal gelap gulita selamanya."
Bram mengambil drive itu dengan dua jari, seolah benda itu adalah bom yang bisa meledak kapan saja. "Waduh, gelap gulita? Berarti saya nggak bisa nonton YouTube dong? Ini parah sih, Zak. Mbak, tarif saya mahal lho, minimal sepuluh juta buat bayar listrik sama beli makanan bebek saya ini."
Vanya menatap Bram dengan saksama, mencoba mencari celah di balik wajah culun detektif itu. Namun, yang dia temukan hanyalah seorang pria yang sepertinya lebih peduli pada mainan karetnya daripada konspirasi tingkat negara. Dia tidak menyadari bahwa di bawah meja, ibu jari Bram sedang menekan sebuah tombol yang mengirimkan sinyal gangguan ke alat penyadap yang menempel di kancing baju Vanya.