“Beberapa orang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu untuk muncul kembali.”
---
Hujan mulai turun ketika matahari menghilang ke ufuk. Udara lembap mengendap di kulit, sementara aroma tanah basah menempel pada setiap hela napas.
Shen Li duduk di balkon kamar lamanya. Hujan menetes di atap, menciptakan ritme yang lembut dan tak beraturan. Genangan di jalan memantulkan cahaya lampu oranye yang bergetar samar diterpa angin. Di tangannya, secangkir teh melati yang telah lama kehilangan uap, dingin seperti jari jemarinya.
Walaupun topengnya telah ia lepaskan, rasanya masih membekas di wajah. Lapisan tipis yang tak kasatmata, separuh dirinya masih bersembunyi di bawah peran yang ia ciptakan.
Pagi tadi seharusnya sederhana. Hanya menyanyi, tersenyum, kemudian pergi. Namun dunia rupanya memiliki rencana lain. Sepasang mata yang dulu menjadi tempatnya bersandar kini menatapnya lagi.
Xuan Zhan.
Nama itu kembali berdetak, pelan tapi pasti, seperti nada minor yang enggan padam. Ia masih ingat bagaimana lelaki itu memanggilnya ragu-ragu, tapi sarat keyakinan. Dan bagaimana ia sendiri dengan suara yang hampir tak terdengar berkata, “maaf, Dokter. Anda salah orang.”
Kalimat itu terucap pelan, namun di dalam hatinya terdengar seperti ada retakan.
Shen Li menunduk, menatap teh yang tak lagi beruap. Dunia mereka berbeda sekarang, ia hidup di balik nama panggung dan topeng, sementara Xuan Zhan mungkin telah hidup dalam ketenangan dan keteraturan. Waktu berjalan, tapi hatinya tetap di tempat yang sama.
---
Di sisi lain kota, Xuan Zhan belum bisa memejamkan mata. Di ruang kerjanya di rumah sakit, hanya lampu meja yang menyala, menyoroti tumpukan berkas pasien yang rapi dan map berwarna biru muda di tangan. Tangannya menekan tepi map tersebut, seperti menahan sesuatu.
Di layar laptop, tertera nama Lili. Penyanyi bertopeng yang pagi tadi ia temui. Xuan Zhan menatap layar itu lama, napasnya terasa berat. Ia menelusuri video, potongan wawancara, dan foto panggung yang muncul satu per satu. Semua menampilkan sosok dengan suara lembut, terlalu akrab untuk diabaikan.
Ia menekan tombol play pada video 'Hujan di Pagi Hari'. Suara Shen Li memenuhi ruangan, bening dan sendu.
Xuan Zhan menyandarkan tubuh pada sandaran kursi, tangannya terlipat di d**a, mata menatap kosong. Ujung jarinya bergetar pelan di sandaran lengan kursi.
“Tidak mungkin aku salah,” gumamnya.
Ia menutup laptop, berdiri, dan berjalan menuju jendela. Hujan menempel di kaca, mengalir dalam garis panjang yang menyatu dengan pantulan wajahnya sendiri. Malam itu terasa sama seperti enam tahun lalu, ketika ia kehilangan Shen Li tanpa satu pun kata perpisahan.
Kini, dunia menempatkan mereka kembali dalam jarak yang sama. Entah itu kesempatan atau mungkin sebuah penebusan.
---
Matahari muncul di balik awan setelah hujan semalaman. Menyisakan udara lembab dan sedikit berkabut. Shen Li melangkah ke pasar kecil dekat dengan rumahnya. Mengenakan kemeja krem lembut dan cardigan abu muda, rambutnya digulung sederhana. Kantung kain tergantung di bahu, berisi bunga dan sayur.
Langkahnya terhenti di depan toko buah. Ia menatap apel yang berkilau basah di keranjang bambu. Lalu terdengar suara yang sangat dikenalnya memanggil, “Bibi Liu, tolong dua kilogram apelnya”
Nada suara itu tenang, dalam, dan tetap sama. Shen Li menoleh, napasnya seolah tersangkut di tenggorokan.
Di seberang, Xuan Zhan berdiri di bawah atap toko. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang dilapisi mantel panjang abu-abu gelap. Rambutnya sedikit basah oleh embun pagi, menetes di sisi pelipis. Ia sedang menunggu timbangan selesai, tangan satu di saku, satu lagi memegang kantong plastik berisi buah.
Mata mereka bertemu. Dalam sekejap, riuh pasar meredup, mengaburkan pendengaran.
Xuan Zhan menatapnya lama sebelum maju perlahan. Setiap langkah penuh kehati-hatian, seakan takut suara tapaknya akan memecah sesuatu yang rapuh di antara mereka.
“Jadi… benar itu kau,” katanya lembut, ada getar halus di ujung suaranya. “A Li.”
Shen Li menggenggam tali tasnya lebih erat. Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya.
“Sudah lama, Zhan Ge.”
“Enam tahun,” jawab Xuan Zhan pelan. Ia menatap lantai basah, lalu kembali menatap wajahnya. “Aku menghitungnya.”
Keheningan turun di antara mereka.
“Kau terlihat lebih kurus.” Xuan Zhan berusaha mengikis jarak yang terasa di antara mereka berdua.
Namun jawaban Shen Li hanya, “Benarkah?"
Ia tersenyum tipis, tapi tidak menyangkal. Shen Li mengalihkan pandangan ke apel.
Xuan Zhan mengangguk lemah. Ia menatap apel di tangannya, lalu mengembuskan napas panjang. “Aku sering ingin bertanya sesuatu padamu…”
Ia berhenti.
“Tapi mungkin bukan di sini.”
Shen Li mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Di sana ada luka yang sama-sama mereka kenali. “Aku tidak tahu apakah masih ada yang perlu dibicarakan, Zhan Ge.”
Namun di balik suaranya yang datar, ada getar lembut, seperti masih tersisa kepercayaan yang ingin dia yakini.
Rintik kecil mulai jatuh lagi. Xuan Zhan mengangkat payung hitamnya, menundukkan sedikit ke arah Shen Li. Mereka berdiri di bawah payung yang sama, cukup dekat untuk merasakan napas masing-masing.
Bukan untuk kembali, tapi mungkin untuk mulai memahami arti melepaskan.
---
Cahaya temaram menyelinap lewat jendela, memeluk ruangan dengan keheningan yang tenang. Langit akhirnya memiliki sedikit warna usai hujan reda. Shen Li memutuskan untuk pergi, ke taman kota yang dulu sering mereka datangi.
Bangku kayu di bawah pohon flamboyan masih ada. Ia menyentuh permukaannya, jari mengikuti serat kayu, lembut seolah menyentuh masa lalu yang masih hangat.
Langkah kaki terdengar di belakang. Xuan Zhan berdiri di sana, membawa dua gelas kopi. Napasnya sedikit terengah, tapi senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Aku pikir kau masih suka kopi pahit,” katanya tenang, namun nada suaranya berat.
Shen Li menerima salah satu gelas. Jarinya bersentuhan singkat dengan jari Xuan Zhan, sentuhan hangat yang segera mereka tarik kembali. “Terima kasih,” katanya pelan.
Mereka duduk bersebelahan, dipisahkan jarak sekecil genggaman tangan. Jarak yang terasa seperti enam tahun.
Cukup lama mereka terdiam, Xuan Zhan berinisiatif memecah keheningan. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi, ada hal yang selalu menghantuiku.”
Shen Li masih menatap ke depan, jari memutar tutup gelas kopi yang hangat di telapak tangan. “Tentang masa lalu?” tebak Shen Li.
Xuan Zhan mengangguk pelan. “Waktu itu aku mendengar sesuatu dan aku memilih percaya pada ketakutanku.”
“Mengira aku mengkhianatimu?” Shen Li melanjutkan kalimat itu, nadanya getir, tapi tetap tenang.
Xuan Zhan menunduk. “Aku marah, tapi lebih dari itu. Aku takut kehilangan dua orang yang paling kupercaya." Jeda, Xuan Zhan seperti sedang menelan pil pahit. "Aku diam dan menjauh. Itu kesalahanku.”
Shen Li menatap langit yang mulai kelam. “Tidak semuanya bisa diperbaiki hanya dengan penjelasan.”
Kata-katanya jatuh perlahan, tapi menancap dalam. Xuan Zhan menatap tanah, bahunya turun sedikit, napasnya berat. “A Li?” panggilnya nyaris berbisik, “Setiap kali mendengar lagu-lagumu, aku merasa kau bernyanyi untuk sesuatu yang hilang. Dan aku takut, kalau sesuatu itu adalah aku.”
Shen Li menunduk, menatap kopi yang mulai dingin. “Setiap kali aku bernyanyi tentang kehilangan, aku tidak menyebut siapa pun,” ucapnya lirih. “Tapi ya, Zhan Ge, setiap liriknya kutulis dari rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya.”
Tatapan mereka bertemu. Ia menatapnya lama, lalu tersenyum pahit. “Lucu, ya. Dulu kupikir waktu bisa menyembuhkan segalanya.”
“Tidak.” Shen Li menyanggah, lembut tapi pasti. “Aku tidak tahu apakah waktu benar-benar menyembuhkan. Ia hanya mengajarkan kita hidup berdampingan dengan rasa sakit.”
Kesunyian kembali melingkupi mereka.
Shen Li berdiri, menghembuskan napas dalam. "Terima kasih, Zhan Ge. Itu sudah cukup.” Tidak ada senyum yang terlalu lebar. Hanya lengkung tipis yang nyaris tak terlihat.
Xuan Zhan menatapnya, mata memantulkan sisa cahaya senja. “Kalau saja waktu bisa diulang.”
Shen Li tersenyum tipis, menggeleng. “Aku tidak akan mengulanginya.” Ia berhenti sejenak, menatap genangan kecil di dekat sepatunya. “Dan… kita tidak perlu memutuskan apa pun hari ini.”
Hening menggantung di antara mereka.
Shen Li berbalik lebih dulu. Langkahnya tidak tergesa, tetapi juga tidak ragu. Suara pijakannya lembut di atas jalan setapak yang lembap.
Xuan Zhan sempat mengangkat tangan, seolah hendak memanggil, namun jari-jarinya kembali terkulai di atas lutut. Kata-kata yang sudah sampai di ujung tenggorokan itu memilih diam.
Ia hanya menatap punggung Shen Li yang perlahan menjauh. Bukan untuk memastikan ia menoleh, tetapi untuk mengingat betapa dekat bayangan itu pernah berada di sisinya. Namun Shen Li tidak memperlambat langkahnya. Tak ada yang kembali kecuali suara hujan yang turun pelan, menyamarkan jarak yang kini kembali terbentang di antara mereka.
---
Hujan belum benar-benar reda ketika Shen Li tiba di depan rumah. Ia berdiri sejenak di bawah teras, tidak langsung masuk. Tetes air dari ujung rambutnya jatuh perlahan, menyatu dengan suara rintik yang masih tersisa.
Tangannya terangkat ke gagang pintu, namun ia menahannya sebentar. Seolah-olah memastikan bahwa yang tertinggal di taman tadi benar-benar sudah ia letakkan di sana.
Baru setelah itu ia masuk.
Ruangan terasa lebih hangat daripada udara luar. Sunyi, tapi bukan kesunyian yang menyakitkan.
Shen Li menuju kamarnya, menaruh tasnya di gantungan belakang pintu begitu juga dengan cardigan yang masih lembap, lantas berjalan ke jendela.
Ia membuka tirai sedikit, membiarkan udara malam masuk. Dingin tapi jernih. Tanpa sadar, Shen Li menatap telapak tangannya. Masih terasa sisa hangat dari sentuhan singkat di taman. Tapi cukup untuk mengguncang ketenangan yang ia bangun bertahun-tahun.
"Setiap liriknya kutulis dari rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya.”
Kata-kata itu terus berputar di kepala. Tapi dalam keheningan kali ini ia merasa ingin menulis sesuatu yang berbeda. Bukan tentang kehilangan, melainkan tentang pertemuan yang tidak lagi menyakitkan.
Ia menyalakan lampu meja, duduk di depan buku catatan tua. Pena di tangannya bergerak pelan. Beberapa bait pertama lahir dari kesunyian yang panjang.
Ada yang datang bukan untuk tinggal,
hanya untuk memastikan kau telah belajar bertahan.
Dan saat ia pergi, kau tahu rindu tak lagi terasa seperti luka.
Shen Li berhenti sejenak. Ia menatap jendela, hujan kembali turun, kali ini lembut, seperti pengiring nada yang lahir dari pikirannya.
Ia meraih gitar yang bersandar di dinding, memetik senar perlahan. Suara itu bening, menembus udara seperti bisikan. Tak ada lirik penuh malam itu, hanya irama yang menunggu waktu untuk diberi nama.
Tapi di antara setiap nada, Shen Li tahu, ia tidak lagi bernyanyi untuk seseorang yang pergi. Namun, ia juga tidak sepenuhnya yakin bahwa ia telah selesai menunggu.
---