7 — Nada Setelah Hujan

1322 Words
“Kita tidak mengulang waktu. Kita belajar berjalan di atas lukanya.” --- Cahaya belum sepenuhnya datang. Langit Lincheng masih terbungkus kelam, dan lampu jalan berpendar lembut di genangan air. Shen Li berjalan perlahan di trotoar depan rumah sakit. Hoodie yang ia kenakan tak cukup menahan dinginnya embun, tapi gadis itu terus melangkah, menolak menoleh ke belakang. Wajah Xiang Ting yang meremehkan dan tatapan Xuan Zhan yang terlalu diam, menempel di benaknya. Seperti luka yang baru saja dibuka kembali. Udara fajar seperti menelan segalanya. Suara, napas, bahkan keberanian untuk menangis. Shen Li menegakkan bahu, menatap jauh ke arah lampu-lampu kota yang berpendar di balik kabut. Ia tahu, begitu melangkah keluar dari rumah sakit, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari dirinya sendiri. --- Hujan telah berhenti, tapi langit belum benar-benar pulih. Awan menggantung berat, menyelimuti kota dengan kabut. Lampu jalan memantulkan cahaya di aspal basah, membentuk riak bergoyang seperti air mata yang jatuh di permukaan kaca. Shen Li duduk di kursi belakang taksi, dagunya bersandar di jendela yang berembun. Pandangannya kosong, menembus pantulan lampu kota yang terpecah oleh tetes hujan. Setiap suara kecil dari wiper mobil terasa seperti jeda di antara pikirannya sendiri, jeda yang menekan d**a. Taksi berhenti di depan gedung kecil di sisi barat Lincheng. Studio itu sepi, hanya satu cahaya redup di lantai dua yang tersisa. Ia membayar sopir dengan tangan dingin, lantas turun perlahan. Sepatu kanvasnya menyentuh genangan tipis, menciptakan cipratan kecil. Pintu kayu studio berderit ketika dibuka. Aroma kayu lembap, tinta, dan debu lama menyambut. Studio itu bukan sekadar tempat berlatih. Ia merupakan ruang persembunyian kecil yang tahu tentang diam dan kehilangan. Di dinding tergantung foto-foto lama, partitur yang menguning, dan selembar kertas bertuliskan lirik yang belum selesai. Shen Li menaruh tas di meja, menyalakan lampu gantung kecil. Cahaya kekuningan jatuh lembut di wajahnya, menampakkan kelelahan yang sulit disembunyikan. Di pojok ruangan, gitar tua senarnya berdebu menunggu dalam kesunyian. Ia menarik napas panjang, duduk di depan piano, menekan satu nada. Suara itu menggema pelan, retak, lalu lenyap begitu saja. Ia menutup mata. Dalam remang, waktu mulai kabur. Beberapa kenangan melintas dalam benaknya, samar namun jelas maknanya. “Ayahmu tidak akan pulang, A Li.” Kalimat itu keluar dari bibir ibunya, datar, tanpa air mata, bahkan tanpa menyambutnya ketika ia pulang sekolah. Shen Li masih terlalu muda kala itu, tapi cukup mengerti bahwa kata tidak akan berarti selamanya. Sejak hari itu, rumah mereka tak pernah lagi merasakan kehangatan. Sejak hari itu, rumah mereka tetap berdiri seperti biasa. Namun wajah ibunya lebih sering tertunduk, dan suaranya jarang terdengar lagi. Lambat laun percakapan menghilang perlahan. Meja makan menjadi tempat yang sunyi. Shen Li pernah berdiri lama di ambang pintu kamar, ingin memanggilnya. Ingin memeluknya. Tetapi ada sesuatu pada punggung yang membungkuk itu yang membuatnya tak berani melangkah. Dan Shen Li belajar bahwa tidak semua kehilangan disertai tangisan. Setiap hari terasa ada tembok yang perlahan berdiri memisahkan mereka. Ia tumbuh dalam kesunyian itu, menata hari-harinya dengan hati-hati agar tidak menambah retak di antara mereka. Di lain waktu, Xuan Zhan datang. Seperti cahaya yang terlalu terang bagi ruang gelap yang sudah lama tertutup. Ramah, sabar, penuh perhatian, dan Shen Li yang tak terbiasa dengan kebaikan, malah merasa takut. Namun waktu berjalan, dan rasa takut itu perlahan berubah menjadi tempat berlindung. Sampai suatu hari, segalanya mulai menjauh. Xuan Zhan menatapnya di halaman sekolah, suaranya lembut tapi sarat tekanan. “A Li, ada apa denganmu sebenarnya? Aku sudah bertanya berkali-kali, tapi kau selalu bilang baik-baik saja. Kalau memang kau tak ingin bercerita, katakan saja.” Suaranya masih lembut, tapi ada kelelahan yang tak lagi ia sembunyikan. Shen Li menunduk. Jari-jarinya menggenggam tali tas dengan kuat, seperti berusaha menahan. “Karena memang begitu,” bisiknya. “Tidak, A Li”, suara Xuan Zhan merendah, tapi ada luka di dalamnya. “Kau berbohong.” Ia tidak lagi terdengar sabar. Meskipun ada sesuatu di matanya yang pecah saat mengatakan itu. Rahangnya ikut menegang, seolah menahan kata-kata lain yang tak jadi keluar. Hujan kecil turun dari atap gedung sekolah, menetes di antara mereka. Shen Li mengangkat wajah sebentar, cukup untuk melihat matanya yang teduh berubah muram. Ia ingin bicara, ingin berkata bahwa semuanya terlalu berat untuk dijelaskan. Tapi bibirnya kelu. Xuan Zhan mengembuskan napas, frustrasi. Ia akhirnya berbalik. “Kalau kau tidak mau jujur, ya sudah.” Langkahnya menjauh, meninggalkan Shen Li berdiri sendiri di bawah atap hujan. Dan itulah awal dari jarak yang tak pernah bisa dijembatani lagi. Suara denting piano menariknya kembali. Hujan mulai turun lagi, tipis, nyaris seperti napas. Ia menatap bayangan dirinya di permukaan piano, lalu bergumam lirih. “Seandainya dulu aku berani bicara sedikit saja.” Senyumnya muncul samar, pahit tapi tenang. Kata-kata itu selalu sama sejak enam tahun lalu, penyesalan yang lembut, menempel seperti noda di hati. Pikirannya melayang pada nama Jiang Yan Feng. Nama yang entah bagaimana, menjadi sumber kesalahpahaman panjang itu. Dia ingat, hari itu ia merasa sangat berat dan lelah. Shen Li duduk menekuk lutut di taman kecil dekat rumahnya. Menghela napas berulang kali. Di sebelahnya buku catatan terbuka, kosong, tanpa jejak tinta. Jiang Yan Feng datang tanpa bicara. Duduk di sebelahnya sambil menyerahkan sebotol minuman dingin. Tidak ada kata penghiburan, apalagi sentuhan. Tapi dari sudut pandang orang lain, kedekatan mereka dapat menimbulkan kesalahpahaman. Dan entah bagaimana, semenjak kejadian itu, segalanya mulai berubah. Tatapan sinis bermunculan, disusul desas-desus yang tumbuh seperti jamur selepas hujan. Xuan Zhan kala itu hanya diam, menatapnya dengan tatapan acuh tak acuh, dan tak lagi bertanya. Shen Li mengembuskan napas panjang, lalu berdiri dan melangkah ke arah jendela. Dari sana, ia melihat refleksi dirinya bercampur dengan rintik hujan. Wajahnya kehilangan banyak rona, tapi masih menyimpan ketenangan. Hanya saja sorot mata itu masih saja menahan sesuatu. Ponsel di meja bergetar. Nama Ma muncul di layar. Sekilas rasa bersalah melintas. Ia mengangkat. “A Li, kau sudah sarapan?” Suara nyonya Zhang terdengar lembut tapi rapuh. Shen Li menahan napas sebelum menjawab. “Sudah, Ma. Bagaimana kondisimu hari ini?” “Sedikit pusing. Tapi dokter bilang aku boleh pulang beberapa hari lagi.” Bahu Shen Li sedikit rileks. “Bagus. Aku akan menjemputmu, Ma.” “Tidak usah buru-buru. Latihanmu jangan ditinggalkan.” Shen Li tersenyum tipis, menatap jemarinya yang bergetar. “Aku tidak sedang berlatih, Ma. Hanya... menenangkan diri.” Hening sejenak. Lalu suara nyonya Zhang kembali terdengar, lirih tapi tegas. “Hidup tidak selalu bisa ditenangkan, A Li.” "Aku tahu.” Shen Li menyandarkan tubuhnya pada dinding. “Tapi jangan biarkan kesunyian menelanmu.” Sang ibu menambahkan. Shen Li menelan ludah, dadanya sesak oleh sesuatu yang tak sempat diucapkan. “Ma… kalau waktu bisa diulang, apa Mama masih ingin semuanya seperti dulu?” Keheningan tinggal lebih lama di antara percakapan mereka. Suara di seberang menjawab pelan, tapi pasti. “Tidak ada yang ingin mengulang luka, A Li. Tapi kita bisa belajar berjalan di atasnya.” Shen Li menunduk. Senyum kecil muncul, basah oleh air mata yang tidak ia usap. Kemudian sambungan terputus. Hanya hujan yang tersisa. Ia kembali ke kursi piano. Tangannya gemetar, tapi ia mulai menekan tuts satu per satu, pelan, tanpa arah. Nada-nada itu rapuh, seolah terbuat dari napas yang takut patah. Di sela suara hujan, ia menulis di buku catatan yang sama seperti dulu. Aku pernah belajar mencintai dalam diam, karena di sanalah kau pergi tanpa kata. Dan aku tetap di sini, menunggu suara yang tak sempat padam. Tinta menetes, bercampur air mata, memburamkan huruf terakhir. Ia tidak menghapusnya. Sinar pertama datang, pelan dan lembut, menyentuh ruangan tanpa banyak suara. Lampu kota satu per satu padam. Studio tenggelam dalam cahaya kekuningan yang mulai meredup. Shen Li berdiri lama di tengah ruangan, mendengarkan gema langkahnya sendiri. Ia tahu beberapa luka tidak akan pernah sembuh. Namun dari sanalah, lahir nada-nada yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang pernah hancur. Ia tersenyum kecil. Lalu mematikan lampu, melangkah keluar, membiarkan suara hujan menelan dirinya, meninggalkan studio yang kini menyimpan satu rahasia lagi. Tentang seseorang yang belajar memaafkan dunia, meski dunia belum tentu memaafkannya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD