8 — Yang Tertinggal

1595 Words
“Tidak semua yang retak harus diperbaiki. Ada yang cukup dipahami.” --- Pagi Lincheng datang tertahan oleh sisa hujan semalam. Langit masih ditutupi sebagian gumpalan awan, cahaya matahari merambat di dinding gedung rumah sakit, memantul redup, menyerupai kenangan samar. Shen Li berdiri di depan ruang rawat ibunya, memegang tas kecil. Wajahnya pucat, tapi ada ketenangan tipis, ketenangan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sudah terlalu lama menahan gemuruh. Ia belum tidur semalaman. Hanya duduk di studio, menatap piano yang akhirnya ia tutup perlahan, seolah menutup semua kata yang tak sempat ia ucapkan. Shen Li tidak masuk. Ia menunggu di lorong, menyandarkan punggung pada dinding. Langkah kaki terdengar pelan di sepanjang lorong. Lambat tapi pasti. Shen Li tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. “Sudah di sini sejak pagi?” Suara itu datar, tapi ada sesuatu di baliknya. Shen Li mendongak. Xuan Zhan berdiri di sana. Matanya merah, entah karena begadang atau menahan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keletihan. “Aku hanya menunggu mama selesai diperiksa,” jawab Shen Li pelan. “Bagaimana keadaannya, sudah lebih baik?” “Ya, dokter bilang dua hari lagi boleh pulang.” “Syukurlah.” Xuan Zhan mengangguk kecil. Keduanya terdiam. Udara di antara mereka terasa berat. Lorong rumah sakit sunyi, hanya suara alat medis dari kamar sebelah yang berdetak lembut, seperti jam yang menandai waktu yang terus berjalan, meski hati mereka masih tertinggal di masa lalu. Xuan Zhan menatapnya cukup lama untuk membuat Shen Li ingin berbalik. “Kau terlihat lelah. Tidak cukup tidur?” Shen Li tersenyum tipis. “Sedikit.” “Sedikit?” Xuan Zhan menaikkan alisnya. “Cukup untuk tahu, beberapa hal tidak bisa diperbaiki hanya dengan tidur.” Xuan Zhan terdiam. Kalimat itu menusuk ke dalam hati. “Melihatmu lagi di lorong rumah sakit membuatku berpikir, kau masih sama,” kata Xuan Zhan kemudian. “Masih menyimpan semuanya sendiri.” Shen Li menunduk. “Aku hanya tidak tahu harus bagaimana.” “Kau bahkan tidak mencoba menjelaskan." Xuan Zhan berkata pelan, tidak menyudutkan, tidak menghakimi. Hanya ada perasaan menyayangkan. “Kau pun tidak bertanya.” Keheningan jatuh perlahan, memberikan waktu bagi mereka untuk bernapas. Di sisi lain, cahaya pagi menembus jendela, membentuk garis tipis di lantai. “Mungkin… aku juga tidak sepenuhnya benar waktu itu,” kata Xuan Zhan kemudian, suaranya rendah. “Aku tahu seharusnya aku lebih terkendali.” “Tidak ada yang salah,” balas Shen Li. “Hanya saja, mungkin kita memang tidak tahu apa yang harus dilakukan waktu itu.” Kata itu tak diucapkan, namun terasa di antara mereka, dan cukup untuk mengguncang hati yang telah lama mengeras. Shen Li menatap papan nama ruangan di depannya. “Saat itu aku ingin menjelaskan. Tapi rasanya tidak ada kata yang cukup. Aku takut semuanya jadi lebih buruk.” “Dan memang lebih buruk,” sahut Xuan Zhan lirih. “Ya,” Shen Li tersenyum kecil. “Kau benar.” Hening lagi untuk kesekian kalinya. Pintu kamar terbuka pelan. Seorang perawat keluar sambil menutupnya dengan hati-hati. Saat melihat Xuan Zhan berdiri di depan ruangan, ia tampak sedikit terkejut. “Dokter Xuan,” sapanya sopan, sedikit menunduk. Xuan Zhan beralih seketika. Wajahnya kembali netral, seperti menarik tirai di antara dua dunia. Ekspresinya kembali netral dan membalas dengan anggukan kecil. Perawat itu melirik Shen Li sekilas. Ia tampak sedikit bingung melihat Dokter Xuan berdiri cukup lama di luar ruangan, namun tetap menjaga sikap profesionalnya. “Nyonya Zhang sudah beristirahat. Kalau ingin masuk, jangan terlalu lama, ya.” “Baik,” jawab Shen Li pelan. Perawat itu mengangguk lagi dan berlalu, langkahnya menjauh di lorong. Keheningan yang tersisa terasa berbeda, lebih nyata, lebih sadar bahwa mereka sedang berdiri di tempat yang bukan milik kenangan, melainkan milik aturan dan batas. Shen Li menatap Xuan Zhan sejenak sebelum berkata, “Aku masuk dulu.” “Baik.” Xuan Zhan mengangguk. “Aku hanya mampir sebentar. Masih ada jadwal nanti.” Shen Li membuka pintu perlahan. Namun sebelum tertutup sepenuhnya, terdengar suara lembut itu lagi. “A Li.” Shen Li berhenti, tapi tidak menoleh. “Apa?” “Aku senang kau kembali.” Shen Li tidak merespon. Ia hanya menutup pintu perlahan, menahan napas di baliknya. --- Di dalam, nyonya Zhang sudah tertidur. Cahaya pagi menembus tirai, menyorot wajah sang ibu yang tampak lebih tenang. Shen Li duduk di kursi dekat ranjang, menatap lama. “Ma,” bisiknya, “kalau saja semua bisa diulang, aku ingin membuat semuanya tidak berakhir seperti ini.” Tak ada jawaban. Namun kata-katanya tetap keluar, seperti doa yang menembus dinding waktu. Dari luar, suara langkah terdengar menjauh. Mungkin itu Xuan Zhan, mungkin juga bukan. Tapi kehadirannya masih terasa samar, seperti bayangan yang menolak pergi meski hari sudah terang. Cahaya matahari merangkak naik, Shen Li menulis sesuatu di buku catatannya. Tulisan tangannya sedikit gemetar, tapi setiap huruf lebih jujur. Ada nama yang tak lagi kusebut, tapi masih tinggal di antara jeda napasku. Kadang tenang, kadang luka, tapi selalu ada di sana. Tak sempat padam, tak bisa hilang. Ia menutup buku, menatap jendela yang diterpa cahaya lembut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Shen Li menarik napas dan tidak merasa sesak. --- Sore datang dengan warna kelabu. Langit Lincheng menggantung rendah, angin membawa aroma rumput basah. Shen Li keluar dari kamar setelah memastikan ibunya kembali tertidur. Ia menuruni tangga perlahan, langkahnya nyaris tak bersuara. Ruang tunggu di lantai bawah sepi. Shen Li duduk di kursi dekat jendela, menatap taman kecil di luar. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan mengisi rongga d**a. Dunia terasa jauh, seperti suara dari balik air. “Masih di sini?” Suara itu membuatnya tersentak kecil. Xuan Zhan berdiri di samping mesin kopi, memegang dua gelas kertas. Jas dokternya kini terlipat di lengan, menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Urat di pergelangan tangannya menegang halus ketika ia menyerahkan satu gelas padanya. “Latte. Masih suka?” Shen Li menerima gelas itu perlahan. Uap hangat naik, menyentuh wajahnya lembut. “Kau masih ingat?” Xuan Zhan tersenyum tipis. “Beberapa hal memang sulit dilupakan.” “Bahkan setelah enam tahun?” tanya Shen Li, suaranya hati-hati, hampir berbisik. Tatapan Xuan Zhan meredup, matanya menatap jauh ke masa lalu. “Justru karena enam tahun,” jawabnya, lembut tapi penuh arti. Mereka duduk berdampingan. Terpisah satu genggaman, namun jarak itu terasa lebih jauh dari enam tahun yang telah lewat. “Aku melihatmu di studio beberapa hari lalu,” ujar Xuan Zhan pelan, suaranya tiba-tiba hadir begitu dekat di sisi Shen Li. Shen Li menoleh perlahan, sorot matanya menyimpan keterkejutan tipis. “Kau melihatku?” “Aku hanya lewat,” jawabnya tenang. “Awalnya kukira aku keliru.” “Lalu kenapa tidak menyapa?” tanyanya, hampir tanpa berpikir, seakan pertanyaan itu sudah lama tertahan. Xuan Zhan menatapnya sejenak. “Kau terlihat sedang berbicara dengan seseorang yang tak ada.” Kejujuran itu sederhana. Shen Li hanya menahan senyum samar, tanpa menyangkal. “Mungkin memang begitu,” sahutnya lembut. Ia menunduk, menatap permukaan kopi yang perlahan mendingin di tangannya. “Aku hanya menulis lagu,” lanjutnya pelan, hampir berbisik. “Kadang aku berbicara dengan masa lalu.” “Apakah kenangan itu masih menyisakan luka?” tanya Xuan Zhan, suaranya rendah. “Tidak menyakitkan… hanya masih menyisakan sesuatu,” jawab Shen Li, seolah menimbang tiap suku kata sebelum dilepaskan. Jawaban itu menggantung di antara mereka. Tidak tajam, tidak pula rapuh. Namun cukup untuk membuat Xuan Zhan terdiam. Tatapannya tak segera berpaling, seakan berusaha memahami jarak yang tak terlihat. “Ada hal-hal yang dulu sulit kupahami,” kata Xuan Zhan pelan. “Termasuk caramu bersikap tenang dalam situasi yang membuatku gelisah.” “Kau pikir aku tenang?” tanya Shen Li, matanya menatapnya samar, menunggu jawaban yang jujur. “Ya. Kau terlihat seolah tidak butuh siapa pun,” jawabnya, suaranya pelan hampir seperti pengakuan rahasia. “Padahal aku hanya menunggu seseorang yang ternyata tak bisa hadir,” bisik Shen Li, menunduk, menahan perasaan yang menumpuk. Xuan Zhan menunduk pula. Tangannya mengepal di pangkuan, seolah menahan sesuatu yang lama terpendam. “Aku pikir aku sudah cukup mengerti waktu itu. Ternyata tidak.” “Dan aku terlalu takut untuk menjelaskan,” sahut Shen Li, suaranya gemetar pelan. “Setiap kali aku mencoba, semuanya terasa semakin salah.” Mereka terdiam lama. Di luar langit telah berganti warna. Lampu taman menyala perlahan, memantulkan bayangan mereka di kaca, kabur, tapi nyaris bersentuhan. “Apakah kau menyesal kembali ke Lincheng?” tanya Xuan Zhan, menunggu jawaban yang jujur. “Tidak,” jawab Shen Li singkat. “Walau semuanya masih sama?” “Justru karena itu aku harus kembali. Aku tidak ingin pergi lagi tanpa sempat berpamitan,” kata Shen Li, nada suaranya tenang tapi sarat makna. “Apakah kau masih marah padaku?” Shen Li terdiam cukup lama. “Entahlah,” jawabnya akhirnya. “Aku hanya belum lupa.” Dan dengan kalimat itu, sesuatu di antara mereka kembali berdenyut, bukan untuk merasakan lagi. Melainkan kembali bernapas. Jam di dinding berdetak pelan. “Aku harus kembali ke atas,” katanya lembut. “Aku antar.” Xuan Zhan menawarkan diri, bentuk kepedulian yang tersisa. “Tidak perlu. Aku ingin sendiri dulu.” Shen Li berdiri. Buku catatannya tergenggam erat, bagai tameng hati. Langkahnya pelan, tapi pasti. Seperti seseorang yang akhirnya pulang ke dirinya sendiri. Sebelum belok ke arah tangga, ia berkata tanpa menoleh, “Zhan Ge, beberapa hal tidak perlu diperbaiki, tapi bisa dipahami ulang.” Ia tersenyum kecil, lalu pergi. Xuan Zhan hanya berdiri diam, menatap punggung itu menghilang di balik cahaya lampu lorong. Kopi di tangannya telah dingin. Ia tetap menggenggamnya, seakan itu satu-satunya yang masih bisa ia pertahankan. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD