Tahta Tertinggi
Nadya duduk sambil menelungkup kan kepalanya di meja. Kepalanya pusing, perutnya mual, suara bising membuat telinganya sakit. Di depannya Ratih, menager yang selalu menemaninya tak henti-henti menanyakan keadaannya, membuatnya semakin pusing.
"Aya, kamu beneran nggak apa-apa kan? Nanti masih bisa bertahan buat ngisi kan?"
Nadya yang lebih akrab di sapa Aya, mengangkat jempolnya. "Masih oke, tenang aja. Begitu aku berdiri di depan orang-orang aku pastikan mereka tidak akan melihat penderitaan ku." Katanya dengan percaya diri, tapi sesudahnya malah langsung menutup mulut dan berlari ke kamar mandi. Ratih menyusul di belakangnya.
Sambil memijit pelan tengkuk Nadya, Ratih mulai nasehatnya. "Kan aku udah bilang sebelumnya, kamu tuh di bilangin susah banget. Udah di bilangin minum obat biar nggak mabok, masih aja nekat. Tanggung sendiri kan akibatnya." Nadya tak begitu mendengarkan nasehat Ratih, dia masih fokus pada rasa mual yang di alaminya. Perjalanan memang bukan temannya, malah musuh yang patut di hindari kalau benar-benar tidak penting.
"Dari hotel ke sini Deket. Aku pikir aku bakal tahan..." Nadya mencuci wajahnya setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Ratih masih setia menunggui dan memberi perhatian.
"Aku tunggu di luar, sekalian pesenin kamu makan. Hari ini penting, masa bintang utamanya malah loyo." Nadya mengangguk saja, Ratih benar dia tidak boleh loyo nanti. Meskipun dia masih merasa tidak nyaman dengan keadaan perutnya, dia harus memaksa sesuatu untuk di cerna. Terlebih dia akan menghadapi banyak orang, sesuatu yang tak pernah menjadi keahliannya. Dia akan semakin membutuhkan banyak tenaga untuk menghadapi itu.
Setelah membenarkan dandanannya, Nadya menatap cermin di depannya. Heh nggak nyangka udah jadi sampah beberapa tahun ini akhirnya bisa berdiri di puncak juga. Jangan bikin malu nanti, ya. Aku nggak mau di pandang rendah lagi sama orang-orang. Sudah cukup buat aku di rendahkan karena aku bagian dari kamu.
Nadya tersenyum miring pada pantulannya di cermin, Wina selalu saja seperti itu. Meski tak suka dan sakit, selalu berada di sampingnya. Maka dari itu Nadya merasa Wina juga berhak mendapatkan apa yang dia rasakan saat ini juga. "Terimakasih, aku nggak bakal ngecewain kamu."
Setelahnya Nadya keluar dari kamar mandi. Nadya di sambut dengan segelas teh hangat dan beberapa makanan ringan. "Mana makanan utamanya, kok cuma ini?" Tanyanya pada Ratih.
"Takut kamu muntahin lagi, kan jadi mubazir. Lagi pula waktu kita nggak banyak. Tadi penyelanggara nyamperin, dua puluh menit lagi kita naik panggung."
Nadya hanya bisa menghela nafas. Susah payah dia berkerja siang malam supaya nggak perlu mikir buat makan apa, sekarang dia harus menjaganya karena pekerjaan itu sendiri. Nadya merasa usaha siang malamnya tak ada hasil, semua sia-sia. Kecuali dia yang tidak lagi menjadi seorang sampah.
"Kenapa menghela nafas gitu? Inget, ya, kamu sendiri yang bilang kalau 'harus profesional'. Jadilah orang dengan kata-katanya." Kata Ratih menegaskan dua kata "harus profesional"
"Iya, iya, bawel ih. Lagian aku kurang profesional apa coba? Jangan-jangan kamu lagi yang nggak profesional." Balas Nadya dengan wajah sedikit tertekuk dan senyum mengejek. Dia masih tak suka karena tak bisa makan banyak sekarang, tapi dia juga tak bisa tahan untuk mengejek Ratih.
"Heh, coba bilang lagi kalo berani." Ratih seketika berdiri sambil berkacak pinggang. Nadya memilih mengabaikannya dan melahap apa yang ada di meja. Dua puluh menit akan terbuang percuma jika dia terus berdebat dengan Ratih. Bisa-bisa gagal dia makan. Dan lagi dia punya prinsip untuk datang lebih awal dari janjian. Itu karena dia juga tak suka menunggu saat ada janji dengan orang lain.
Dia harus cepat menyelesaikan makannya dan pergi ketempat acara yang berada di tempat yang sama hanya terpisah ruangan saja.