Saat Orang Tua Amanda Datang

1222 Words
“Apaan?” “Anu, Mas, Amanda butuh daun salam sama sedikit lengkuas. Mas taruh di mana sih? Aku dah nyari di kulkas gak ketemu.” “Gak punya lah. Emang mau masak apa, sih?” “Sarden. Orang Mas punyanya cuma beberapa kaleng sarden sama mi instant doang.” “Aku mana punya lengkuas sama daun salam? Kalau daun jendela, ada tuh tinggal nyopot aja,” goda Leon, sambil cengar-cengir. “Daun telinga Mas Leon aja sekalian, biar gurih sarden-nya.” Amanda mulai manyun-manyun. “Dah sono, mintain tetangga! Malah bengong aja kayak sapi minta kawin.” Leon terbahak, mendengar ia disamakan dengan sapi yang mau kawin. Ia sempat menoyor kepala Amanda. “Berani-beraninya kamu ngatain aku kayak sapi minta kawin! Gak sopan, tauk!” Amanda terkekeh. Ia senang kali ini bisa membalas menjahili Leon. Beberapa saat kemudian. “Tahu gak, tadi tuh pas aku mau minta lengkuas di rumahnya Bu Lukman, aku malah diledekin. Di-ciecie-in … sumpah, malu banget. Lain kali kamu aja deh, yang minta bumbu ke tetangga. Bikin jatuh harga diri aja, ih.” Leon menyendoki makanannya sambil menggerutu. “Ah, cemen. Baru digituin doang. Gak bikin umur berkurang juga kan." Leon mencebikkan bibirnya. “Pinter ngomong kamu ya.” Sekarang giliran Amanda yang tertawa terbahak-bahak, sampai tersedak. “Sukurin! Kualat sih, kamu,” ledek Leon, sambil menyodorkan air minum untuk Amanda. Tak tega ia rupanya. Tepat pukul delapan, Pak Rochim datang. Leon menyambutnya, lalu mengantarkannya ke kamar belakang. Setelah berbincang-bincang, Pak Rochim mulai melaksanakan tugasnya. Setelah berpamitan dengan Pak Rochim, Leon dan Amanda berangkat naik motor berboncengan ke toko furniture. * “Selamat datang Mas, Mbak, mau mencari apa? Mari saya bantu,” sapa seorang karyawan toko. Leon menyebutkan barang-barang yang ia inginkan. Lalu karyawan itu mengajaknya untuk memilih-milih barang. “Ayo cepetan ikut!” Leon menggandeng tangan Amanda, yang sedari tadi memandangi meja rias cantik di depannya. Amanda tak mampu mengelak. Ia mengikuti ke mana saja Leon pergi, memberikan pendapatnya jika Leon bertanya. Saat berpindah tempat, Leon selalu menggandeng tangan Amanda. Jika saja Leon tahu, betapa kacaunya hati Amanda saat itu. Entahlah, tiap terjadi kontak tubuh dengan Leon, jantungnya pasti berdegup kencang, rasanya benar-benar tak karuan. Ketika hendak membayar barang-barang pembeliannya, karyawan tadi tiba-tiba bertanya. “Adiknya cantik sekali, Mas. Gak dibeliin meja rias sekalian apa? Biar tambah cantik loh.” Leon tersenyum kecut. Matanya melirik Amanda. Yang dilirik hanya cengar-cengir gak jelas, seperti biasa. “Mau dikirim jam berapa barangnya, Mas?” Amanda bertanya ketika sudah berada di boncengan. “Jam 12 katanya, sekalian nganterin pesanan orang-orang. Ke mana kita sekarang?” “Lha, katanya mau beli kue buat menyuguh Pak Rochim? O iya, gula pasir, teh, sama kopi hampir habis, Mas.” “Ya udah, sekarang kita ke toko Family aja. Komplit di sana. Tapi jangan lama-lama, ya!” “Iya … iya. Amanda gak suka shopping-shopping kok.” Setengah jam kemudian, mereka sudah dalam perjalanan pulang. Leon memacu motornya dengan laju. Terpaksa, Amanda memeluk pinggang Leon, agar tak jatuh. ‘Dasar modus’, maki Amanda dalam hati. Setelah melalui jalan kampung menuju kompleks perumahan Azallona, Leon mengurangi laju motornya. Diliriknya kaca spion, Amanda tengah asyik mengamati, melihat-lihat apa-apa yang mereka lewati. “Mas, bikinnya teh panas apa es teh, sih?” Amanda mendatangi Leon, yang tengah mengambil minuman dingin di kulkas. “Es teh aja, deh. Cuacanya panas banget soalnya. Entar kalau udah siap, panggil aja orangnya biar sekalian istirahat.” Amanda menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Beberapa menit berlalu, sejak Amanda bertanya tadi. Leon penasaran, di mana gadis itu sekarang berada. Begitu ia masuk rumah, terdengar suara Amanda tengah ngobrol berhahahihi dengan Pak Rochim yang tengah istirahat. Entah topik apa yang mereka bicarakan, namun mereka terdengar akrab dan santai. ‘Dasar bocah SKSD’, rutuk Leon dalam hati. Tiba-tiba, ada suara motor datang. Dua motor malahan. Leon bergegas keluar, ingin melihat siapa yang datang. Demi melihat siapa yang datang, Leon sontak berteriak memanggil Amanda. “Amanda … cepetan sini keluar! Lihat siapa yang datang!” Amanda tergopoh-gopoh keluar rumah. Ia melongo. Ternyata tamunya memang sangat spesial. “Bapak … Ibuk …!” Amanda menyambut kedua orang tuanya dengan riang gembira. Ia melompat-lompat, persis anak kecil yang habis mendapat hadiah balon. Leon melongo melihat tingkah Amanda. Amanda dan kedua orang tuanya berpelukan, melepas rindu. Leon mengajak mertuanya masuk rumah. "Maaf, ya, Pak, Buk, rumahnya berantakan, karena sedang ada tukang mbenerin kamar yang satunya,” ujar Leon pada mereka, sambil menunjukkan kamar yang dimaksudnya. “Oh, untuk kamar calon anak kalian nanti, ya? Wah, bagus itu. Lebih baik memang dipersiapkan jauh-jauh hari,” cerocos Bu Rahmat, ibunya Amanda. "Eh, memangnya kamu sudah positif apa, Nduk?” Mata Amanda melotot. Seketika ia melirik Leon yang berdiri di sampingnya. Wajah Leon pias. Ia memberi kode kepada Amanda dengan mengedipkan sebelah matanya, ia ingin Amanda mengalihkan topik pembicaraan ibunya. Namun, Amanda tidak paham maksud Leon. “Belum, kok, Bu, Amanda belum positif. Doakan saja, ya, Bu.” Leon bertindak cepat, menjawab pertanyaan Bu Rahmat, sambil merengkuh bahu Amanda dari samping. Melihat kemesraan Leon pada anak gadisnya, Bu Rahmat mesam-mesem. Demikian juga dengan Pak Rahmat. Kini, pasangan suami istri itu tengah melihat-lihat kamar belakang, mengobrol dengan pak tukang. “Aduh!” Leon mengangkat kaki kirinya, yang baru saja menjadi korban keganasan Amanda--diinjak. “Sakit, tau!” Leon masih meringis, kakinya masih terasa nyeri. “Jangan suka curi-curi kesempatan, ya. Awas kamu, Mas!” Amanda mengancam Leon, dengan mengepalkan dua buku jarinya ke depan. “Heh, dengerin sini! Aku mesra sama kamu itu hanya akting, pura-pura. Biar orang tuamu gak curiga sama kita. Paham gak?” Amanda berusaha mencerna ucapan Leon barusan. Ia lalu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Benar juga sih, kan gak lucu kalau orang tuanya sampai tahu jika hingga saat ini mereka tidak satu ranjang, belum ngapa-ngapain. Bisa kacau entar. Amanda menarik napas panjang, berusaha menekan emosinya, agar sandiwara yang akan ia mainkan hari itu berjalan lancar. ‘Sabar, Amanda! Besok pagi bapak ibumu sudah pulang Dan kamu bisa kembali menjadi dirimu sendiri’, ia mensugesti dirinya sendiri. Amanda berinisiatif menggandeng tangan Leon duluan, mengajaknya bergabung dengan bapak ibunya, yang kini tengah duduk di ruang tengah. Yang digandeng hanya mesam-mesem saja. Amanda menyalakan kipas angin, karena memang hawa di tempatnya tinggal, selalu panas dan gerah. “Bapak Ibuk mau minum apa?” Amanda menawari orang tuanya, sembari memutar arah kipas angin, agar anginnya merata. “Es teh saja, Nduk, kalau ada. Panas benar ya, di Azzalona. Di Muntilan lebih adem hawanya.” “Oke, Buk. Amanda bikinin sekarang, ya!” Amanda segera beranjak menuju dapur. Sementara Leon menemani bapak ibu mertuanya mengobrol. Amanda tak habis pikir, Leon langsung mengobrol akrab dengan orang tuanya, seakan sudah kenal lama. Berbeda dengan perlakuannya pada dirinya, yang cenderung kaku dan galak. "Kamu betah tinggal di sini, Nduk?” tanya sang ibu pada Amanda, sambil menyerutup es tehnya. “Betah dong, Buk. Tetangganya ramah-ramah kok,” jawab Amanda, sambil menowel lengan Leon, minta dukungan darinya. “Syukurlah kalau begitu, Ibuk jadi lega. Yang baik sama siapapun, ya, Nduk, biar orang lain juga baik sama kamu. Kurangi sifat pecicilanmu itu. Jangan bikin malu suamimu!” “Iya, Buk, Amanda ngerti kok.” "Nak Leon, tolong Amanda dibimbing, ya. Disabar-sabarin, ya, Mas, soalnya kadang-kadang dia ngeselin banget kayak anak kecil. Maklum, anak bungsu, Mas,” ujar Pak Rahmat panjang lebar, pada Leon. Mendengar hal itu, Miranda pun melotot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD