“Cuma mau nanya, malam ini menunya nasgor, mau pedasnya seberapa?"
“Bilang aja sama yang jual, pedes dikit pokoknya."
“Oke.” Leon pun berlalu, menuju garasi.
Malam ini malam minggu. Bukan malam spesial bagi Amanda, karena sejak menikah dengan Leon, bagi Amanda semua hari adalah sama, sama-sama hari yang menyebalkan.
“Manda, keluar sini, makan malam dah siap!” Leon berteriak memanggil Amanda.
Amanda membuka pintu kamarnya. Dilihatnya dua bungkus nasi goreng sudah tersedia di meja makan.
“Punya Manda gak pedas amat, kan, Mas?”
“Enggak. Kan cabainya satu, sesuai keinginanmu.”
Mereka berdua pun makan malam bersama. Hanya denting sendok yang terdengar. Tanpa percakapan, seperti orang asing. Amanda melirik piring Leon, sudah hampir habis isinya. Sementara punya Amanda, baru berkurang sedikit nasinya. Dia terbiasa makan lambat-lambat.
Setelah menghabiskan nasinya, Leon segera beranjak dari kursinya. Mengambil rokok di kamar sebelah, lalu duduk-duduk di teras. Kebetulan, malam itu cerah, bintang-bintang bertaburan di langit, mempercantik suasana malam.
“Amanda, sini!” Leon berteriak memanggil Amanda.
Hening. Tidak ada jawaban. Leon memperkeras suaranya. “Amanda, sini cepet!”
Sejurus kemudian, terdengar pintu kamar dibuka secara kasar. Amanda berjalan seraya menghentak-hentakkan kakinya.
“Kenapa, sih, sukanya teriak-teriak kayak gitu? Gak bisa apa ngedatengin trus manggil yang lembut gitu?” Amanda memandang Leon dengan wajah kesal. Kedua tangannya berkacak di pinggang.
“Gak usah kebanyakan protes, duduk sini!” perintah Leon, sambil menyingkirkan bungkus rokok dan korek apinya, agar Amanda bisa duduk di situ.
“Besok jam setengah 10 ikut aku, ya.”
“Mau ke mana, emangnya?”
“Ke toko furniture, beli lemari, kasur, sama meja buat aku.”
“Udah, ini doang yang mau diomongin?”
“Diem dulu di situ. Aku mau ngomong banyak, tahu!”
“Besok bangun pagi, ya. Jam delapan pagi ada Pak Rochim mau ke sini.”
“Siapa Pak Rochim? Mau apa ke sini?”
“Dia tukang. Mau beres-beres kamar sebelah, masang keramik juga. Besok pagi, pakai motorku, beli camilan buat Pak Rochim di depan pertigaan Japunan sana. Bikinin minum juga, ya. Bisa kan, bikin teh?”
Amanda bangkit dari tempat duduknya, dengan bibir mencebik ke arah Leon. Dasar cowok menyebalkan! Masak iya bikin teh aja Ia diragukan kemampuannya?
Melihat Amanda hendak pergi, Leon langsung menangkap tubuh Amanda, memegang kedua lengannya, lalu memaksanya duduk kembali.
Amanda terkesiap. Jantungnya berdegup kencang. Setiap terjadi sentuhan dengan Leon, selalu seperti itu efeknya. Amanda menundukkan kepalanya, berusaha mengendalikan diri.
“Kali ini aku mau bicara serius. Manda, kamu bisa masak gak sih?”
“Ini nanya beneran apa lagi ngeledek?”
“Nanya beneran, lah.”
“Mmm … bisa sih, tapi yang simpel-simpel aja. Tumis-tumis gitu, bikin sop, goreng lauk. Emang kenapa sih? Manda mau disuruh masak tiap hari?”
“Ya gak tiap hari juga sih. Masak iya kita jajan melulu tiap hari? Kan boros juga. Bisa-bisa habis gajiku. Belum buat bayar tagihan listrik, air, rokok, bensin, uang sakumu, bayar kuliah kamu juga.”
Amanda terdiam. Ia membenarkan perkataan Leon. Kalau jajan tiap hari, memang jatuhnya boros. Amanda berjanji dalam hatinya, akan lebih hemat, agar pengeluaran Leon tidak bengkak.
“Tapi jangan banyak protes ya, kalau masakan Manda gak enak.”
“Gak enak, jitak!” ancam Leon, sambil menyulut lagi rokoknya.
“Dasar jelek! Galak!” Amanda meninggalkan Leon dengan tampang sejutek-juteknya.
Keesokan paginya, Leon sudah nampak segar dan rapi. Padahal baru jam tujuh pagi. Sementara Amanda masih belum nampak batang hidungnya.
Leon berjalan menuju kamar Amanda. Ia membuka pintu pelan-pelan. Nampak di ranjang, Amanda masih tertidur lelap.
Selimut dan gulingnya terlempar ke lantai. Leon menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat gaya tidur Amanda yang amburadul.
Gadis itu mengenakan celana pendek dan tank top. Leon sempat tergetar melihat pemandangan aduhai yang terhampar di depannya. Bagaimanapun juga, Leon adalah lelaki normal. Leon mengalihkan perhatiannya, ia merasa jengah.
Leon mendekati Amanda. Ditepuknya tangan Amanda beberapa kali.
“Bangun, Manda! Sudah siang.” Leon berusaha membangunkan Amanda dengan hati-hati.
Tak ada respon. Kali ini, Leon mengguncangkan tangan Amanda beberapa kali. Leon merasa kesal, karena Amanda susah sekali dibangunkan. Leon terdiam beberapa saat, memikirkan cara agar bisa membangunkan gadis itu.
Tiba-tiba, Leon membaringkan tubuhnya di samping Amanda. Tubuhnya menyenggol tubuh Amanda. Amanda tersentak, bangkit dan terduduk seketika. Ia mengucek-ucek matanya. Dilihatnya Leon tengah cengar-cengir memandanginya. Amanda langsung tersadar, jika saat ini ia memakai baju minim untuk tidur, seperti biasanya. Kedua tangan Amanda reflek menutupi dadanya.
"Gak sopan! Keluar sana! Gangguin orang tidur aja deh ….” omel Amanda, dengan nada panik, karena celana yang ia kenakan begitu pendek.
Leon tersenyum nakal melihat Amanda yang nampak salah tingah. Ia suka melihat kepanikan gadis itu.
“Apa lihat-lihat?” Amanda memelototkan matanya ke arah Leon.
Secepat kilat, diraihnya selimut yang tercecer di lantai. Lalu ia menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut itu.
“Kok ditutupi sih?” Leon menggoda Amanda. “Kan aku pingin—”
“Pingin apa?” sergah Amanda cepat, sambil mempererat selimutnya.
“Pingin anu, tuh …”
“A-a-anu apaan?” Amanda tergagap, ia semakin panik.
“Pingin ngeguyur kamu pakai air seember. Hahaha … “ Leon tertawa puas.
Amanda langsung mengambil bantal gulingnya, lalu memukuli Leon dengan sekuat tenaga. Ia benar-benar kesal pada Leon. Karena selalu berhasil mempermainkannya.
“Aduh! Aduh!”
Mendengar Leon berteriak, Amanda tidak serta merta menghentikan serangannya. Ia tetap menyerang Leon dengan bertubi-tubi. Mumpung ada kesempatan melakukan pembalasan, kan? Pikir Amanda saat ini.
Tiba-tiba, Leon membalikkan tubuhnya secara mendadak, lalu menangkap kedua tangan Amanda.
Namun yang terjadi berikutnya, keduanya justru membeku bersamaan, tubuh seakan melumpuh, dunia seakan terhenti beberapa saat. Kedua anak manusia itu sama-sama tengah menikmati sensasi aneh yang mereka rasakan saat itu.
Leon menatap wajah manis Amanda-- yang juga tengah terpaku menatapnya. Tak ada perlawanan dari Amanda. Amanda bisa merasakan deru napas Leon yang memacu, embusannya hangat menyapu wajah Amanda. Bibir Amanda yang ranum sedikit terbuka, seakan menggoda Leon untuk mengulumnya.
Tak tahan ditatap seperti itu, Leon menundukkan kepalanya. Namun, justru napas Leon malah semakin memburu. Bagaimana tidak? Di depannya, terpampang buah d**a Amanda yang menyembul sebagian dari tank top-nya, bergerak naik turun menggoda.
Amanda segera menyadari hal itu. Langsung disentakkannya kedua belah tangan Leon kuat-kuat, hingga ia hampir terjengkang dari ranjang. Wajah Amanda semakin bersemu merah.
Didorongnya Leon dengan sekuat tenaga, agar segera keluar dari kamarnya.
Untungnya, Leon menurut, tidak melawannya. Ia keluar kamar dengan senyum tengil di bibirnya. Ia meraih rokok di meja, lalu menyulutnya.
Di teras, Leon tengah menghisap rokoknya kuat-kuat, lalu menghempaskan asapnya pelan-pelan, membentuk lingkaran-lingkaran yang bergerak. Leon tak habis pikir. Mengapa ia suka sekali menggoda gadis itu? Ada kebahagiaan tersendiri yang ia dapat, saat berhasil membuat gadis itu cemberut.
Ah, Amanda. Leon memastikan dirinya untuk lebih mampu mengendalikan diri sekarang, karena ternyata pesona Amanda cukup kuat menyihirnya. Gadis yang hampir tak pernah ber-make up itu, memiliki wajah ayu, dengan hidung mungil dan pipinya yang agak chubby. Tubuhnya langsing berisi, karena ia suka berlatih taekwondo. Rambutnya hampir selalu wangi tergerai, seakan menggoda siapapun untuk membelainya.
Terdengar suara berisik dari kamar mandi. Rupanya, Amanda tengah mandi. Beberapa menit kemudian, terdengar suara kompor dihidupkan. Leon penasaran, Amanda mau memasak apa untuk sarapan.
Ia bangkit, berjalan menuju dapur. Tampak Amanda mengenakan celana jins pendek belel warna biru dan kaos v-neck hitam, tengah menuang minyak ke dalam wajan. Di samping kompor, ada irisan bawang merah, bawang putih, dan sedikit cabai, siap untuk ditumis.
“Mas Leon, sini dong!” Amanda memanggil Leon dengan nada lembut.