Dikerjain Leon

1242 Words
“Ya, kan, lagi tidur. Gak sengaja lah pasti.” Leon menguap lebar. Diliriknya jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia segera mandi, ganti baju lalu membuat roti sandwich untuk sarapan. Sementara Amanda hanya bengong, duduk-duduk saja di kamarnya. “Woi, bengong aja. Mandi kek, bikin sarapan kek, ngapain gitulah!” tegur Leon pada Amanda. “Habis Amanda bingung sih." “Kamu berangkat kuliah gak, hari ini? Kalau iya, naik ojek online aja, ya. Motormu belum tak ambilin soalnya. Katanya entar Sabtu bapakmu mau nganterin motormu ke sini, sekalian nengokin kamu.” “Hmmm ….” “Kalau laper bikin sarapan sendiri ya, kalau mau masak buka aja kulkas, banyak bahan makanan tuh di sana. Itu juga kalau kamu bisa masak!” “Hmmm ….” “Pagi-pagi kesambet! Gak bisa jawab apa selain hamhemhamhem?” Leon merasa kesal, ucapannya tidak diperhatikan Amanda. “Iya, Mas Leon yang cerewet! Amanda tuh dengerin dari tadi. Yaelah, dasar Aki-Aki!” Leon tak menanggapi ejekan Amanda. Ia terburu-buru memakai sepatu, karena sudah kesiangan. Disambarnya kunci mobil di atas sofa, lalu masuk mobil dan berangkat ke kantornya, tanpa berpamitan dengan Amanda. Amanda gondok setengah mati. ‘Dasar serbet warung, gak ada basa-basinya jadi orang. Say bye, kek. Cium kening, kek. Eh …’, rutuk Amanda dalam hati. Hari ini, Amanda ada kuliah siang. Rencananya pagi ini setelah makan dan sarapan, ia ingin memperkenalkan diri pada tetangga kanan kirinya. Kan gak enak lah, dah seminggu di sini masa’ main cuek-cuek aja. Iya, kan? “Halo, selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Amanda, Tante,” sapa Amanda pada tetangga sebelah kanannya, kebetulan orangnya tengah menyiram tanaman di depan rumah. “Halo, saya Mira. Warga kompleks biasa memanggil saya, Bu Lukman. Duh, cantiknya, ini istrinya Mas Leon, kan?” cerocos sang tetangga baru. “I-iya, Bu. Saya istrinya Mas Leon. Kalau boleh tahu, Bu Lukman sudah lama, ya, tinggal di sini?” “Oh, sudah lama. Lebih dari delapan tahun yang lalu. Waktu itu rumah sebelah belum dibeli Mas Leon, masih kosong. Anak saya dua-duanya--Doni dan Adya-- lahir di sini semua lho, Mbak. Saya doakan Mbak Amanda juga secepatnya hamil. Kalau sudah punya anak, rumah ramai terus deh, Mbak, dijamin! Ngomong-ngomong, Mbak Amanda dan Mas Leon ingin punya anak berapa?” “A-a-anu ….” Amanda tergagap, bingung mau menjawab apa. “Wah, masih pengantin baru, lagi hot-hotnya ini,” ledek sang tetangga lagi. Amanda tak tahan lagi. Ia segera menyudahi kunjungan basa-basinya. Dahinya berkeringat karena tegang, takut ditanyain macam-macam sama tetangga sebelah tadi. Ia masuk rumah, mengambil minuman dingin dari kulkas, lalu menonton televisi di ruang tengah. Lumayan, masih ada waktu dua jam untuk bersantai, sebelum berangkat kuliah. Ia memutuskan untuk makan siang di kampus saja, biar tidak repot masak. Lagipula, ia memang tidak terlalu pintar memasak. “Lho, kok pakai ojek online to, memangnya Mbak Amanda mau ke mana?” “Mau ke kampus, Bu Lukman. Kebetulan hari ini Amanda ada kuliah siang.” “Lho, jadi Mbak Amanda ini masih kuliah to?” “Iya, Bu, masih semester lima. Mari, Bu Lukman, saya berangkat dulu, ya!” Amanda memerintahkan sopir ojol untuk segera berangkat. Sepeninggal Amanda, Bu Lukman menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika istri Leon masih berstatus mahasiswa. Padahal setahu dia, Leon itu usianya hampir sama dengan suaminya, 35 tahun ke atas. * “Cie … cie … yang dah seminggu jadi pengantin baru. Tancap gas terus nih, pasti,” ledek seorang teman pada Amanda, di kampus. Pipi Amanda merona. “Udah deh, gak bosan apa ngeledekin aku melulu.” “Ceritain dong sama kita-kita, kehidupan berumah tangga enaknya kaya’ apa, tidur dikelonin suami asyiknya kaya’ apa. Siapa tahu kan, kita-kita jadi terinspirasi jadi pada pingin nikah muda kaya’ kamu." Amanda belingsatan, salah tingkah. Pipinya semakin merah. “Masa bodo!” ujar Amanda, sambil bergegas meninggalkan teman-teman, yang tengah menertawakannya habis-habisan itu. Ia melangkahkan kakinya ke arah kantin. Perutnya lapar, belum makan siang. “Buk, nasi rames lauk telur ceplok, sama es jeruk ,ya!” Amanda memesan makanan pada pemilik kantin. Diliriknya jam dinding yang menempel di dinding kantin, sebentar lagi jam tiga sore. Ia memutuskan untuk pulang jam empat sore. Toh di rumah juga gak ada siapa-siapa kan? Ketika tengah asyik bermain ponsel, sebuah panggilan masuk, dari Leon ternyata. Amanda segera menjawab panggilan itu. Bisa gawat kalau tidak segera dijawab. “Halo … ada apa, Mas?” “Ada apa … ada apa! Cepetan pulang! Kenapa kunci rumah dibawa, sih? Aku kan jadi gak bisa masuk rumah.” “Lah, kok nyalah-nyalahin sih. Biasanya kan Mas Leon bawa kunci cadangan,” tukas Amanda tak kalah sengit. “Kuncinya hilang, dah aku cari-cari gak ketemu tadi. Udah deh, buruan cepat pulang!" Dua puluh menit kemudian, Amanda sudah sampai rumah. Leon duduk di teras menunggunya pulang. Wajahnya ditekuk tujuh belas, seram pokoknya. Melihat gelagat tak baik ini, Amanda segera membuka pintu rumah. Baru saja ia menaruh tas punggung di kursi, Leon sudah menyuruhnya membuatkan es teh. “Ogah! Bikin aja sendiri. Amanda juga capek.” Amanda bergegas masuk kamar, ingin segera mandi sore dan berbaring di kasur. Sejurus kemudian, terdengar suara orang mandi. Amanda segera mengambil baju ganti, siap-siap mau mandi juga. Leon kalau mandi hanya sebentar biasanya. Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Leon keluar dengan belitan sehelai handuk di pinggangnya yang ramping. Amanda terkesiap. Amanda salah tingkah, ketika Leo mendekatinya dengan perlahan-lahan. Amanda mundur terus, hingga menabrak dinding. Leon menyeringai …. Jantung Amanda berdegup kencang. Keringat mulai mengalir di pelipisnya. Ia memejamkan matanya, tak sanggup melihat pemandangan menggiurkan di depannya. “Plak!” “Ah, kena juga nih, semutnya!” Suara tepukan Leon membuat Amanda kaget. Sontak ia membuka matanya. Sesaat kemudian, ia sadar, bahwa Leon telah mengerjainya. Sialan. Amanda mendorong tubuh Leon ke belakang. “Dasar jelek!” ucapnya, sambil berlari meninggalkan Leon yang tertawa-tawa. Sesampai di kamar mandi, Amanda mengguyur tubuhnya banyak-banyak. Seolah dengan guyuran air sebanyak itu, bayangan Leon dengan tubuh setengah telanjangnya yang sedari tadi menari-nari di benaknya itu bisa menghilang tak berbekas. Dasar Amanda. “Lho, kok?” Amanda melongo, tak ada handuk di kapstok kamar mandi. Ia mengingat-ingat kejadian tadi. “Mampus aku. Handuknya pasti terjatuh saat aku mundur-mundur tadi. Gara-gara Leon sableng sih,” gerutu Amanda, sambil menimbang-nimbang, jalan apa yang akan ia tempuh untuk mengeringkan tubuhnya. Minta tolong sama Leon mengambilkan handuk, apa handukan pakai baju kotor yang tadi saja, ya? “Mas Leon!” Amanda berteriak dari kamar mandi. Tak ada jawaban. “Mas Leon!” Amanda mengulangi lagi teriakannya. “Apaan wei, teriak-teriak kayak Tarzan!” Suara Leon tak kalah lantang. Amanda merasa lega, Leon mendengar teriakannya. “ Tolong ambilin handukku, dong, jatuh di lantai kayaknya tadi." “Ogah!” “Ayolah, please!” “Bilang dulu, aku ganteng, gitu!” “Ogah!” “Ya udah, aku pergi kalau begitu.” “Eh jangan! Ya udah deh, Mas Leon yang ganteng, tolongin ambilin handuk, ya!” Amanda terpaksa menuruti kemauan Leon. Suara tawa Leon terdengar membahana, ia merasa menang. “Nih, handuknya. Buka pintunya dikit, Dodol!” Amanda membuka pintu kamar mandi sedikit, lalu setelah merebut handuk dari tangan Leon, ia segera menutup pintu mandi cepat-cepat. “Dasar Leon jelek!” umpatnya pada Leon. Yang diumpat justru malah tertawa terbahak-bahak. Ia senang bisa menggoda gadis yang di matanya masih ingusan itu. Beberapa menit kemudian, Amanda sudah selesai mandi. Ketika ia baru saja membuka pintu kamar mandi, ia sangat terkejut, karena Leon tengah menunggunya tepat di depan pintu. “Ada apa, Mas?" tanyanya was-was.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD