“Ya iyalah, dah tua ini dia. Amanda gak suka sama lelaki kayak gitu, kaku kayak kanebo kering.”
“Umur boleh matang, tapi wajahnya kan baby face. Gak kayak temanmu tuh, si Rio, wajahnya boros banget kayak om-om.” Bu Rahmat mencebikkan bibirnya.
“Mendingan juga si Rio ke mana-mana, dia tuh humoris, orangnya juga ramah, gak kayak Leon. Itu muka dah mirip kuburan aja, angker ….” Amanda merasa jengah, Rio sahabatnya, dibanding-bandingkan dengan Leon. Ia pun segera bangkit dari kursi, meninggalkan ibunya.
“Eh, mau ke mana ini? Diajak ngobrol kok malah kabur.”
“Mau masuk kamar, Bu. Masa’ iya mau nyangkul?”
Sang ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan Amanda.
Seminggu kemudian.
“Gak mau, ah! Enak aja maksa-maksa nikah sama orang yang tak dikenal. Lagian, Amanda kan masih kuliah. Suruh nikah sama orang lain aja deh, jangan Amanda!” Amanda menolak mentah-mentah keinginan orang tuanya, menikahkan ia dengan Leon, anak Pak Hendra.
“Dengar dulu dong, Nduk. Kasihan lho ibunya Leon, saat ini sakit keras, mikirin Leon gak nikah-nikah. Mereka sudah kepingin sekali gendong cucu, Nduk. Tapi Leon-nya malah cuek aja, gak ngertiin orang tua,” tukas Pak Rahmat panjang lebar, berusaha memberi pengertian pada anaknya.
“Tapi jangan Amanda yang dijadikan tumbal, dong, Pak!”
“Astaga! Kamu pikir ini pesugihan apa!” Bu Rahmat menertawakan Amanda.
“Tapi kan, Amanda masih kuliah!”
“Yang nyuruh kamu keluar kuliah juga siapa, sih? Setelah menikah kan kamu tetap bisa kuliah. Hal-hal lain bisa lah dibicarakan nanti,” rayu sang bapak, berusaha melembutkan hati Amanda.
“Tapi, Pak, Amanda gak kenal sama Leon. Gak suka juga sama dia!” Amanda masih saja ngotot, berusaha menolak perjodohan sepihak itu.
Sang ibu menengahi. “Cinta nanti akan tumbuh setelah kalian tinggal serumah, Nduk. Witing tresno jalaran saka kulina. Percayalah pada Ibu, Nduk. Tolong turuti keinginan kami, ya. Yakinlah, Nduk, kalau Leon itu lelaki yang baik. Orang tuanya sangat baik, anaknya tentu juga baik. Bibit, bebet, dan bobotnya terjamin lah pokoknya. Mau, ya, Nduk?”
Tiga minggu kemudian, berlangsunglah akad nikah antara Amanda dan Leon. Tanpa pesta, tanpa resepsi, hanya dihadiri keluarga terdekat kedua belah pihak keluarga. Bahkan teman-teman Amanda pun tidak ada yang diundang.
Sore harinya, Amanda langsung diboyong Leon ke rumah pribadinya, di kompleks Perumahan Azallona. Padahal sebenarnya Amanda belum ingin pindah. Ia masih ingin tinggal bersama keluarganya.
“Pengantin baru kok wajahnya cemberut gitu lho. Kan gak enak dilihat, Nduk!”
“Biarin!” Amanda menjawab dengan kesal, sembari tangannya sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam travelling bag. Setelah berpamitan pada semuanya, mereka pun meninggalkan rumah Amanda, menuju rumah Leon.
*
Di sinilah dia sekarang. Di sebuah rumah mungil berkamar dua, di sebuah perumahan KPR bersubsidi. Rumah Leon terletak di paling ujung, dekat dengan rimbunan pohon dan sungai kecil.
Amanda membuka pintu pelan-pelan. Sementara Leon tengah terengah-engah mengangkat dua travelling bag-nya Amanda.
Amanda memperhatikan ruangan-ruangan yang ada di rumah itu. Ada dua kamar tidur, sebuah kamar mandi, ruang makan, ruang tamu, dapur kecil, teras, dan garasi. Rumah seluas 84 m2 ini benar-benar telah difungsikan dengan baik. Setiap ruangan pun sangat rapi, sepertinya memang sudah siap untuk ditinggali.
Amanda membuka pintu sebelah kanan. Ada ranjang berukuran sedang, sebuah meja kecil, dan sebuah lemari baju di sana. Tampak beberapa baju milik Leon tergeletak di atas ranjang. Amanda segera menutup pintu itu.
Kini, ia membuka pintu sebelah kiri. Amanda melongo, demi melihat isi kamar itu.
“Itu gudang. Kamu mau tidur di situ memangnya?” ujar Leon pada Amanda.
Amanda menggelengkan kepalanya. “Terus Amanda nanti tidur di mana, dong, Mas?”
“Ya di kamar lah, masa’ iya di kebun?” Leon menjawab sambil meletakkan travelling bag Amanda di lantai kamar. "Buruan, diberesin barang-barangmu! Malah bengong aja dari tadi.”
“Lemarinya kan cuma satu, Mas, terus baju-baju Amanda ditaruh di mana, dong?”
“Dah aku kosongin lemarinya. Lihat aja kalau gak percaya!”
Amanda segera membuka pintu lemari itu. Dan memang benar, lemari itu kosong.
“Baju Mas Leon ditaruh di mana memangnya?” tanya Amanda, merasa bingung, karena tadi dilihatnya hanya ada sebuah lemari baju di rumah ini.
“Sementara aku taruh di kardus di kamar sebelah tuh. Nanti Sabtu aku mau beli sebuah lemari lagi.”
Amanda merasa GR, ternyata Leon pengertian juga. Mau mengalah demi istrinya. Eh, apa? Istrinya? Amanda mendadak tersipu-sipu. Ia segera menata baju-baju dan barang lainnya dengan rapi. Sementara Leon duduk-duduk di teras, sambil menikmati sekaleng minuman bersoda dari kulkas.
Di balik keangkuhannya, ada gundah di hati Leon. Ia tak tahu harus bagaimana memperlakukan Amanda. Jika bukan karena kondisi mamanya yang tengah sakit keras, ia pasti akan menolak perjodohan itu. Semua hanya demi kesembuhan sang mama.
Tak terasa, malam telah menjelang. Kini, Amanda dan Leon tengah menikmati nasi goreng.
“Nasi gorengnya kepedesan, Mas!” protes Amanda, sambil mencari air putih di kulkas. Ia merasakan mulutnya terbakar.
“Lain kali, ditanyain dulu dong, pedasnya seberapa, gitu!”
“Dah mending dibeliin, protes melulu kamu tuh!”
Amanda menghentakkan kakinya, kesal. Setelah dua gelas air es yang ia teguk, barulah ia merasakan mulutnya terasa enakan. Terpaksa, dibuangnya nasi goreng itu. Diliriknya piring Leon, tandas rupanya. Sepertinya, malam ini Amanda harus rela tidur dengan perut keroncongan.
Setelah membereskan meja makan dan mencuci piring, Amanda bergegas masuk ke kamar. Akhirnya ia punya me time juga. Ingin membuka ponsel, mengecek pesan di Aplikasi Hijau, tapi ia sudah lelah. Rasanya seperti mimpi, tadi pagi ia telah melangsungkan ijab kabul bersama pemuda yang baru saja bertemu dengannya tiga kali. Itu pun hanya sebentar, tanpa obrolan yang berarti. Pertama, ketika Leon dan orang tuanya menyambangi rumahnya, kedua lamaran, dan yang ketiga saat ijab kabul tadi pagi.
Amanda bangkit dari ranjang, ia ingin tahu Leon sedang melakukan apa. Dilihatnya pintu depan terbuka sedikit, berarti Leon ada di teras, pikir Amanda. Amanda membuka pintu pelan-pelan, mengintip dari celah pintu yang terbuka. Nampak Leon tengah menekuri ponselnya dengan mimik serius. Saking seriusnya, ia tidak menyadari jika ada Amanda yang tengah mengintipnya. Amanda tersentak. Foto siapa yang tengah dipandangi Leon itu?
Leon sontak menutup layar ponselnya, ketika ia menyadari bahwa Amanda tengah memperhatikannya dari celah pintu.
“Ada apa?”
“Gak apa-apa, Mas. Amanda cuma pamit, mau tidur, dah ngantuk.”
“Ya udah, sana tidur!”
“Mmm … Mas Leon nanti tidur di mana?”
“Di sofa lah, masa’ iya sekamar sama kamu?”
“Alhamdulilah …” Amanda tak mampu menyembunyikan kelegaannya.
Bayangan tentang seramnya malam pertama musnah sudah. Ia kini bisa tidur dengan tenang.
“Amanda!” Teriakan Leon menghentikan langkah Amanda.
“Kalau tidur, kamarnya jangan dikunci, ya!” lanjut Leon.
Sontak Amanda membalikkan badannya karena kaget. Berbagai prasangka buruk, hadir lagi di benaknya.
“Memangnya kenapa?” tanyanya panik.
“Aku mau ngambil beberapa barang di kamarmu. Emang kamu pikir aku mau ngapain? Curiga aja bawaannya …”
Amanda tersenyum kecut. Ia kembali meneruskan langkahnya.
Sesampainya di kamar, Amanda langsung mematikan lampu utama, dan menyalakan lampu tidur. Karena kecapaian, begitu merebahkan tubuhnya di ranjang, ia pun langsung tertidur.
Sejak hari itu, Leon resmi tidur di sofa, sementara Amanda tidur di kamar. Lemari mereka pun sendiri-sendiri. Amanda memakai lemari lama milik Leon. Sementara Leon menaruh baju-bajunya di kardus terlebih dahulu, sebelum ia membeli lemari baru untuknya.
*
Amanda terjaga dari tidurnya. Ia merasa ada sesuatu yang menempel di tubuhnya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan-lahan. Dan betapa terkejutnya Amanda, ketika melihat Leon tengah terbaring dengan d**a telanjang di sampingnya. Ia mengambil bantal, lalu dipukulkannya bantal itu pada Leon.
“Aduh!” jerit Leon. “Ada apa, sih?”
Amanda melotot. “Kan udah dibilangin, jangan tidur dekat-dekat! Tadi kenapa tangan Mas Leon nempel di tubuhku?”