Sekretaris Ham melonggarkan ikatan dasinya lambat-lambat. Dia masih saja mencuri pandang ke bangku penumpang belakang, tempat di mana Lunar dan Arkan duduk. Dadanya bergemuruh ketika melihat genggaman tangan yang tidak lepas. Padahal merupakan sesuatu yang bagus untuknya, tetapi melihat pengkhianatan Arkan rasanya akan begitu menyakitkan bagi Raya. Laju mobil berhenti saat mereka telah sampai di depan apartemen. Hanya mengantarkan Lunar saja, sementara Arkan akan berangkat bekerja. Tatapan mata itu dan juga lepasnya genggaman seakan tidak rela berpisah adalah pemandangan yang dilihat Sekretaris Ham pagi itu. Baru saja mobil melaju kembali, suara dering ponsel memecahkan suasana. Arkan meraih ponsel yang disimpan di dalam saku. Melihat siapa yang menelepon mengubah ekspresinya menjadi

