"Sekarang ke mana kita akan pergi, Tuan?" tanya Sekretaris Ham tidak buru-buru menghidupkan mesin mobil.
Tadi mereka sudah berkelana jauh dengan rute yang hanya itu saja. Sampai Sekretaris Ham memberanikan diri untuk bertanya dan mereka pun beranjak memasuki sebuah bar. Hanya sebentar saja karena atasannya itu tidak betah berlama-lama di sana.
Sekarang tanpa melakukan hal yang begitu penting, Sekretaris Ham rasanya cukup tersita waktu bebasnya. Sebenarnya dia sejak tadi sudah resah dan berulang kali melirik jam tangan.
Sekarang sudah lewat dari jam makan siang yang seharusnya. Sangat lewat dan makanan yang sengaja dia letakkan di kursi yang ada di sebelahnya menjadi dingin.
"Aku tidak tahu," ucap Arkan dengan cueknya.
Sepertinya Sekretaris Ham sudah tidak bisa menahan diri lagi. Rasa kesalnya sudah memuncak saja usai kalimat seakan tidak peduli dilontarkan.
Tanpa menunggu jawaban muncul, dia langsung memutar balik ke mana arah mobil akan melaju. Kecepatannya lumayan tinggi untuk ukuran Arkan yang ingin berjalan-jalan.
"H-hei! Sekretaris Ham!" teriaknya dengan nada meninggi, tetapi berapa kali pun teriakan dilambungkan, masih tidak digubris juga. Arkan yang kepayahan menahan tubuhnya agar tidak terombang-ambing berusaha tegar di belakang sana.
Setelah sampai di tujuan, baru Sekretaris Ham turun dari mobil untuk membukakan pintu kabin belakang. Di saat itu pula Arkan turun dari mobil dengan terhuyung-huyung lantaran kepala yang rasanya berputar. Perjalanan itu jelas berbeda dari tujuannya untuk menenangkan diri.
Arkan mengangkat kepalanya yang menunduk untuk mencari tahu ada di mana mereka saat ini. Dia yang ditekan otaknya karena pusing yang menjelar berusaha bertahan.
"Kau mengantarkan aku kembali pulang?" tanyanya menyelipkan nada protes yang lemah di sana.
Sekretaris Ham menundukkan sedikit kepalanya sambil berkata, "Selamat beristirahat, Tuan," setelah itu tanpa peduli akan apa yang terjadi pada atasannya, dia beranjak pergi dari sana.
Arkan menggeragap ingin menyerukan nama sekretarisnya, tetapi terlambat karena mobil itu sudah melaju pergi.
Sekarang dia mendengus kesal sambil berjalan memasuki area lobi. Padahal dia sama sekali belum ingin pulang ke apartemen, tetapi Sekretaris Ham mengantarkannya.
“Tuan Arkan."
Panggilan itu membuat dia menoleh ke asal suara. Tampak seorang wanita berpakaian formal berjalan ke arahnya. Dia mengenal wanita yang bekerja sebagai manajer di apartemen ini, Dena.
"Kita pernah bertemu beberapa waktu lalu."
Arkan tidak lupa saat di mana Dena membantunya untuk menyiapkan tempat bagi rekan bisnisnya menginap, "Ya," ucapnya, lalu sedikit menyunggingkan senyuman.
Dena memperhatikan sekeliling sebelum menatap lurus ke depan, "Apa Tuan hanya seorang diri?"
Arkan memperhatikan pula sekelilingnya, lalu menjawab, "Ya. Aku hanya sendiri," sedikit heran dengan pertanyaan itu.
Dena berucap ragu, "Kalau begitu bisakah kita mengobrol sebentar?"
Arkan hanya mengenal manajer apartemen itu sepintas saja. Lantas obrolan apa yang bisa mereka bicarakan? Lagi pula dia tidak suka membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak penting.
"Kau bisa mengatakan apa yang ingin kau katakan padaku di sini karena aku harus kembali ke apartemen."
Dena setidaknya terkejut menerima penolakan itu. Dia menggigit bibir bawahnya sebelum berucap kembali, "Kalau begitu kita bisa membicarakannya di apartemen."
Arkan terdiam sejenak memikirkan perkataan itu. Sekarang dia mengerti alasan apa yang membuat Dena datang. Sebelumnya dia berpikir kalau memang ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.
Tetapi tidak disangka jika sesuatu yang penting itu adalah apa yang dibutuhkannya saat ini. Dia berusaha menahan hasratnya akan Lunar yang pergi begitu saja tanpa menuntaskan apa yang seharusnya mereka lanjutkan dan sekarang wanita dengan tubuh yang bisa dibilang berkualitas tinggi datang padanya menawarkan diri.
Ini sungguh keterlaluan karena dia harus membuat keputusan dengan cepat. Semua yang ada pada dirinya dipertaruhkan. Dia berada dalam pilihan yang sangat menyulitkan. Apakah dia harus menerima tawaran itu untuk memadamkan hasratnya?
"Apa kita ... bisa?" tanya Dena seolah tidak sabar mendengar jawaban.
Belum sempat Arkan menjawab, tiba-tiba kedua tangannya diraih dan dicengkeram erat seolah bodyguard yang ada di kedua sisinya saat ini sedang memborgolnya. Dia menoleh ke belakang.
Ternyata di depan gedung sudah ada mobil yang menanti dengan penjagaan ketat. Melihat semua itu membuatnya tidak bisa berkutik. Tanpa bantahan kakinya dilangkahkan mengikuti jejak bodyguard yang memandunya.
Di dalam sana dia duduk bersama sang ayah. Entah apa yang membuat ayahnya tiba-tiba datang dengan membawa pasukan.
Padahal semua itu hanya akan membuat mereka terlihat mencolok. Dia tidak ingin ada berita yang mengatakan kalau pewaris Royal Grey adalah pria manja yang dijemput oleh sang ayah.
"Ayah bisa datang ke apartemenku saja. Tidak perlu membawa pasukan untuk membawaku," ocehnya kesal.
"Bagaimana aku bisa datang ke apartemenmu jika kau saja sedang berada di luar bersama wanita lain? Bahkan kau merencanakan untuk tinggal bersamanya lebih lama."
Arkan melirik ke arah luar jendela yang ada di samping ayahnya. Pasti sekretaris ayahnya yang mengatakan apa yang terjadi tadi. Dia menatap lurus ke depan setelah mengambil kesimpulan.
"Aku tidak berniat untuk menerimanya."
Damien tergelak, "Apa yang membuat hasratmu terpancing? Melihat karaktermu sepertinya bukan karena fisik wanita itu. Apa karena tinggal bersama Lunar?" sekali lagi dia tergelak.
"Bahkan kau tidak begini saat tinggal bersama Raya dalam waktu lama."
Arkan sungguh ingin mendebat, tetapi dia tidak ingin membahas sesuatu yang akan berujung sia-sia saja, "Untuk apa ayah datang menemuiku?"
Damien terdiam sejenak sebelum ekspresinya berubah serius, "Aku ingin berbicara soal Lunar yang tidak lagi bersamamu di apartemen."
"Sepertinya sekretaris ayah sangat cepat dalam mendapatkan informasi," melirik kembali wanita yang ada di luar sana, sekretaris ayahnya sekaligus wanita yang dekat dengan ayahnya.
"Ya. Lunar memang tidak berada bersamaku di apartemen,” memundurkan duduknya hingga bisa mencapai sandaran kursi, "Orangtuanya ingin aku menjemputnya jika memang masih ingin melanjutkan hubungan pernikahan," dia berdecak kesal.
"Mereka berkata kalau pernikahan kami tidak sah di mata mereka. Padahal mereka tidak tahu saja kalau Lunar yang memohon untuk menikah denganku," menaikkan sebelah bibirnya.
Damien mengembuskan napas lambat-lambat, "Kita harus menjemputnya sekarang."
Arkan memajukan tubuhnya drngan cepat dan kepala diputar menghadap ayahnya, "Apa? Menjemputnya? Dia membuat hidupku hancur dan dia sudah dibawa pergi."
"Lalu kau ingin membuat berita mengenai dirimu yang dicampakkan? Kita sudah sepakat kalau pernikahan kalian berlangsung selama satu tahun dan sampai saat itu tiba, kalau bukan berpisah secara baik-baik, setidaknya biarkan Lunar menjadi orang yang dicampakkan."
Arkan menelan ludahnya dengan kasar. Apakah di dalam hidup ayahnya cuma ada status yang baik? Sampai berpikir untuk menghancurkan hidup seseorang? Dia saja tidak terpikirkan untuk membalas Lunar yang menghancurkan hidupnya.
###