Sekretaris Ham masih berada dalam lingkup kebingungan lantaran melihat Arkan saat ini tengah berada di rumahnya. Apa yang dilakukan seorang atasan di rumah bawahan?
Terlebih sekarang sudah bukan jam kerja lagi untuk mereka bertemu dan seharusnya mereka sudah berada di tempat masing-masing.
Padahal hari ini Sekretaris Ham ingin pergi mengunjungi Raya untuk memberikan makanan yang sengaja dibeli dengan alasan atasannya inilah yang meminta untuk diberikan.
Namun, apa yang dilihatnya kini adalah Arkan sendiri berada di rumahnya. Bagaimana caranya dia mengusir Arkan untuk segera pergi?
"Apakah ada pekerjaan yang belum diselesaikan, Tuan?"
Arkan menghela napas panjang dan mengerutkan dahi sembari memejamkan mata. Hampir saja merengek seperti anak kecil jika tidak sadar kalau sekarang bukan hanya dia saja yang berada di sana.
"Kau harus menemaniku untuk menenangkan diri."
Sekretaris Ham bergerak mendekat, "Apa Tuan sedang tidak baik-baik saja?" tanyanya menyiratkan arti dari kekhawatiran, "Kita akan ke rumah sakit kalau begitu."
"Aku memang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi apa yang aku rasakan sekarang bukan sesuatu yang bisa diobati dengan cara bertemu dokter," rasanya sangat frustrasi jika dia menjelaskan secara detail, meski mereka sesama pria, "Ini hanya sebentar saja Sampai bayangan tentangnya hilang. Aku hanya perlu kau menemaniku untuk mengalihkan perhatian," bangkit dari duduknya, "Kita pergi sekarang," berlalu pergi tanpa menunggu persetujuan.
Sekretaris Ham ingin sekali menolak perintah itu, tetapi dia tentu tidak bisa karena jarang sekali Arkan meminta bantuan di luar pekerjaan.
Pasti hal itu juga sangat penting sampai membuat atasannya berkunjung ke rumah sewanya ini. Dia harus menyelesaikan permasalahan itu secepat mungkin sebelum pergi mengunjungi Raya.
Lunar sudah lama memeluk dan memukul-mukul gulingnya. Dia mengerucutkan bibir sangat kesal dengan situasi yang sedang di hadapi saat ini. Di sisi lain dia juga bimbang apakah Arkan akan menjemputnya atau tidak?
Suara ketukan pintu membuat dia langsung berbaring seolah sudah tidur. Dia memicingkan mata dan berharap kalau perbincangan tidak terjadi di antara dia dan keluarganya. Tidak ingin jika kata "Pernikahan" dibahas karena dia enggan memikirkan hal rumit tersebut.
Kenyataannya kepura-puraan itu diketahui dan Lunar segera dipukul bokongnya dengan kuat. Dipukul begitu membuat orang yang berbaring segera bangkit. Raut wajah itu meringis kesakitan sembari memegangi b****g yang sakit.
"Bagaimana dengan Arkan? Apa dia akan menjemputmu?"
"Aku tidak tahu karena tidak bisa menghubunginya. Ibu membawaku pergi terburu-buru sampai tidak membiarkan aku membawa ponsel," sindirnya halus.
Sang ibu hanya bisa mengoceh kesal, "Kau harus menikah dengan Nico jika Arkan tidak menjemputmu. Sekarang temui ayahmu untuk membicarakan kekacauan yang kau sebutkan," perintahnya kemudian pergi dari kamar anaknya.
Apakah ibunya serius dengan hal itu? Dia masih terikat pernikahan dengan Arkan, lalu bagaimana bisa menikah dengan pria lain? Betapa dia sangat ingin membantah, tetapi sebaiknya tidak karena sekarang situasinya rumit.
Dia tidak boleh salah langkah karena kalau tidak, dia benar-benar akan dinikahkan dengan p****************g seperti Nico.
Lunar menyingkirkan semua kegelisahannya. Tidak berlama-lama untuk membiarkan dirinya bangkit dan keluar pula dari kamar. Dia memang harus bertemu dengan ayahnya.
Untuk membicarakan perihal kekacauan yang dia buat. Walaupun sebenarnya dia sendiri sangat takut membayangkan bagaimana ekspresi ayahnya nanti.
Ayahnya dikenal sebagai sosok yang tegas dan keras. Dia tidak pernah berani menentang keinginan ayahnya. Namun, satu kali dia menentang perihal pernikahannya dengan Nico. Dia tidak menyesal namun tetap berharap jika ayahnya tidak marah padanya.
Mereka bertiga berkumpul di ruang duduk untuk membicarakan hal penting tersebut. Tidak ada yang tahu betapa tegangnya Lunar saat ini. Belum memulai pembicaraan saja keringatnya sudah mengalir deras, apalagi nanti saat ayahnya berbicara. Sekarang dia berharap kalau ayahnya tidak marah.
"Maaf atas pernikahanku, Ayah," ucapnya diselipi rasa penyesalan di dalamnya.
Sang ayah bergeming menatap anaknya yang sedikit menundukkan kepala, "Apa pria itu telah menghamilimu?"
Bukan hanya Lunar saja yang terkejut karena sang ibu juga. Tidak pernah ter bayangkan jika pertanyaan itu akan ada di dalam percakapan mereka. Dibandingkan itu bagaimana Lunar akan menjawab?
Dia memang sudah melakukan hubungan intim dengan Arkan, tetapi belum ada tanda-tanda kehamilan yang terjadi. Lagi pula mereka baru melakukannya satu kali dan akan menjadi dua kali jika ibunya tidak berpikir untuk membawanya pergi.
“Tidak, Ayah. Arkan tidak menghamiliku," memperlihatkan bagaimana perutnya yang masih terlihat rata. Bahkan dia juga memukul-mukulnya sedikit untuk meyakinkan kedua orangtuanya kalau dia tidak hamil.
"Bagaimana kau bisa memiliki hubungan dengannya?"
Pertanyaan itu datang secara mendadak dan membuat Lunar sama sekali tidak siap. Kini cerita seperti apa yang akan disuguhkannya? Otaknya berpikir keras merangkai kejadian demi kejadian yang pastinya dibuat oleh imajinasinya sendiri.
"Ayah menanyaimu."
Colekan sang ibu membuat Lunar tersadar kalau sudah melamun terlalu lama. Dia menatap lurus ke arah ayahnya yang masih sedang menanti jawaban. Sama sekali belum bisa terpikirkan bagaimana pertemuan mereka terjadi.
"Aku ...."
Kedatangan Sora membuat semua mata teralihkan. Sang ibu yang lebih dulu menyambut sebelum akhirnya kini mereka duduk berempat di sana. Lunar dapat melihat bagaimana kakaknya itu datang dengan senyuman lebar.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Sekali lagi Lunar disadarkan dan sekarang oleh sang ayah, "Aku ...," dia harus menepis prinsip yang dimiliki untuk tidak berbohong pada kedua Orangtuanya hari ini, "Waktu itu aku melamar pekerjaan di Royal Grey. Tidak sengaja bertemu dengannya dan dari sana kami saling berkomunikasi."
Jika kedua orangtua mereka bisa puas dengan jawaban itu, tetapi tidak bagi Sora yang menilai kalau cerita yang didengarnya barusan seolah dibuat-buat.
Bagaimana bisa seorang Arkan Grey memiliki waktu untuk mendekati seorang gadis biasa yang mana adalah pelamar kerja? Sungguh tidak masuk akal. Lagi pula kenapa tidak memilih Arkan saja untuk menikah, bukannya memilih Nico yang sama sekali tidak disukai Lunar.
"Kalau dia memang menyukaimu, kenapa tidak menerimamu bekerja di Royal Grey?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.
Hal inilah yang tidak diinginkan Lunar terjadi.
Pernikahan dan pertemuannya dengan Arkan adalah palsu dan bagaimana caranya dia merangkai kepalsuan lainnya? Namun, dia tidak bisa menyerah jika sudah berurusan dengan Sora. Kakaknya itu tidak seperti apa yang dia kira selama ini.
"Bagaimana bisa seorang Arkan Grey menikah dengan karyawannya? Bukankah itu sebuah momok baru yang akan muncul di dalam perusahaan nantinya?" ucapnya penuh percaya diri.
Sora menaikkan sebelah bibirnya singkat. Jawaban itu membuatnya diam tidak bisa berkutik. Bagaimana adiknya itu bisa sangat percaya diri? Apakah karena statusnya kini sudah berubah menjadi Nyonya Arkan Grey?
###