Situasi Rumit

1021 Words
Lunar memegangi bahu itu dengan kuat sambil menahan desahan yang tidak boleh lepas sepenuhnya. Dia yang selalu terbuai dengan sentuhan lembut Arkan tidak bisa menolak. Padahal seharusnya mereka berada di bawah bersama sang ibu, tetapi apa yang mereka lakukan di dalam kamar? Dia berusaha menyeimbangkan akal sehatnya kembali, "Ibu ... menunggu ...," ucapnya terputus-putus menahan kenikmatan yang menjalar di setiap jengkal jiwanya. Arkan berhenti sebentar untuk melihat wanita yang sudah dipenuhi keringat itu berbaring di bawahnya, "Kalau begitu apa kau ingin kita berhenti?” menyeringai sambil menyentuh paha yang terbuka lebar itu. Lunar menggigit bibir dalamnya mengartikan keraguan. Di harus menemui ibu, tetapi di Sisi lain sulit meninggalkan kenikmatan yang telah membuatnya tidak ingin beranjak terlalu cepat. "Kita bisa melanjutkannya nanti," ucapnya ada rasa tidak rela di dalamnya. Arkan tersenyum sambil mengakhiri percintaan mereka. Dia kemudian membantu istrinya itu mengenakan pakaian kembali. Berbeda dengannya yang memilih handuk sebagai kain untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. "Kau tidak akan ikut menemui ibuku?" sejenak dia lupa kalau tadi mereka sudah berdebat soal kedatangan ibunya, "Aku akan turun sekarang." Arkan mencegah dengan memberikan ciuman singkat di bibir itu, "Aku akan turun nanti setelah membersihkan diri. Kita tidak bisa membiarkan ibumu melihat menantunya dalam keadaan berkeringat, bukan?" Lunar berubah merah rona wajahnya, "A-aku ...," dia juga harus membersihkan keringat di tubuhnya. "Kenapa? Apa kau ingin mandi bersama?" ucapnya sambil menyeringai. Semakin merah rona wajah Lunar saat ini, "Tidak! Aku hanya akan membasuh muka." Dia beranjak ke kamar mandi dan membasuh muka dengan cepat, lalu wajah yang basah dikeringkan dengan handuk sebelum keluar dari sana. Sebentar dia melihat ke arah Arkan yang masih berdiri di tempat yang sama, kemudian berlalu melewati begitu saja. "Jangan lupa kalau kita akan melanjutkannya nanti,” ucap Arkan menggoda istrinya. Hal itu membuat Lunar tidak tahan lagi untuk berada di kamar yang memiliki nuansa pekat akan kata "Percintaan." Sungguh akal sehatnya nyaris hilang semua jika berada bersama Arkan. Dia harus kembali pada kenyataan yang sesungguhnya yaitu menemui sang ibu. Lunar merapikan lagi penampilannya sebelum turun ke lantai bawah. Tampak ibunya kini sedang duduk sembari membaca majalah ditemani minuman yang masih mengepulkan asap. Seharusnya teh sudah dingin karena dia berada di dalam kamar terbilang lama. Apakah ibunya menyeduh teh seorang diri? Lunar yang berjalan menghampiri langsung bertemu tatap dengan sang ibu. Penampilannya kini sedang ditatap dari atas sampai ke bawah seolah dia dipindai keseluruhan. Apakah dia ketahuan telah mencuri waktu ketika di dalam kamar tadi? "Mana suamimu?" pada akhirnya mengalihkan tatapan. "Arkan sedang mengganti pakaian. Sebentar lagi akan turun," kemudian duduk di samping ibunya, "Apa yang sedang ibu lihat?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan. "Sora sudah memiliki semuanya. Padahal majalah ini adalah keluaran terbaru," meletakkannya kembali ke tempat semula. Lunar memandangi ibunya yang sudah lama tidak bisa dia lihat, “Apa ibu dan ayah makan dengan baik?" "Tentu saja. Sora selalu Memberikan apa yang kami inginkan." Lunar tidak bisa membantah apa yang dikatakan. Memang Sora selalu memberikan apa yang diinginkan orangtua mereka. Namun, dia bertanya bukan karena tidak mengetahui bagaimana orangtuanya. Dia yang selalu berada dekat dengan mereka dan tahu apa yang mereka butuh kan. “Ibu, bukankah Sora sangat cantik dan baik?" memeluk ibunya dengan manja. "Dia juga sangat pintar!" Lunar tergelak, "Kalau begitu apakah aku juga pintar?" Sang ibu melepaskan pelukan, "Kepintaranmu berada di bawah Sora. Bagaimana bisa kau lari dari pernikahan dan mempermalukan keluargamu?" menggelengkan kepala sambil berdecak kesal, "Tapi kau sangat cerdik bisa mendapatkan pria kaya seperti Arkan." Lunar tidak bisa menahan tawa yang sudah membuat geli perutnya, “Itu berarti ibu lebih menyukai Arkan dibandingkan dengan Nico?" "Tentu saja! Arkan sangat kaya melebihi Nico. Aku menyukai kau bersamanya." Lunar memeluk ibunya kembali dengan erat. Dia senang bisa melihat senyuman menghiasi wajah ibunya, tetapi apakah akan tetap sama jika nanti pernikahan selesai? "Ibu, aku mencintai Arkan dan ingin hidup selamanya dengannya," ucapnya penuh harap. "Kau sudah menjadi istrinya dan tidak perlu khawatir akan hal itu," mengusap rambut anaknya dengan pelan. Apa yang dikatakan barusan rupanya terdengar oleh Arkan. Dia baru saja selesai dengan urusannya dan melihat interaksi yang tidak bisa diganggu. Membuatnya harus menunggu waktu yang tepat. Wanita itu selalu membuat jantungnya berdetak kencang setiap kali berkata ingin memilikinya. Menyingkirkan itu semua dia pun menghampiri mereka yang langsung tercerai pelukannya. Dia duduk di sana setelah memberikan hormat terlebih dahulu, lalu memperkenalkan diri. "Seharusnya aku datang bersama suamiku, tapi dia sedang sakit saat ini karena terlampau terkejut dengan kabar pernikahan kalian." "Kami menyesali hal itu dan kami akan pastikan untuk mengunjungi beliau secepatnya." "Mungkin di hadapan orang yang menyaksikan pernikahan kalian sudah resmi, tapi bagi kami pernikahan kalian sama sekali belum bisa diterima," bangkit kemudian sambil memegangi tangan anaknya, "Kau bisa menjemput Lunar untuk membawanya kembali bersamamu." Lunar kewalahan bagaimana menghadapi situasi. Seharusnya kedatangan ibunya hanya sebentar Saja seperti yang dia kataka pada Arkan tadi namun sekarang jelas kebalikannya. "I-ibu, apa yang sedang ibu lakukan?" bisiknya sambil menarik tangan ibunya pula agar duduk kembali, tetapi sangat sulit karena terus menerima penolakan. Dia melirik ke arah Arkan kemudian, “Ibu hanya bercanda. Kau tidak perlu memikirkannya dan anggap saja yang tadi hanya nyanyian." "Ibu tidak sedang bercanda, Lunar! Kau harus ikut pulang bersamaku," menarik anaknya sekuat tenaga hingga bisa berdiri bersamanya, "Kalau kau menginginkan anak kami, kau bisa menjemputnya," setelah itu menyeret anaknya keluar dari apartemen. Seiring langkah yang membawanya menjauh, Lunar menoleh ke arah Arkan dengan harapan agar apa yang terjadi hari ini dilupakan. Sungguh dia tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran ibunya yang membuat keadaan semakin rumit. “Arkan!" Teriakan itu menjadi akhir dari tatapan mereka. Arkan menyandarkan tubuhnya di kursi. Wanita itu yang mendatanginya dan membuat pernikahan mereka terjadi, lalu dia harus pergi menjemputnya kembali? Dia bangkit dari duduknya lalu menaiki anak tangga. Hanya beberapa anak tangga saja sebelum dia berhenti. Tangannya mengepal kesal dengan frustrasi yang semakin memuncak. Mereka akan melanjutkan percintaan yang tertunda, tetapi sekarang harus terhenti di saat dia sudah berharap lebih akan waktu yang akan mereka habiskan bersama nanti. Situasi semakin rumit saja. Kini apa yang harus dia lakukan? "Lunar, kau selalu menyulitkan aku, geramnya sambil menahan hasrat yang masih memenuhi jiwa. Dia membalikkan badan setelah itu, “Aku harus pergi menenangkan diri.” ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD