Menyakiti Dan Memiliki

1014 Words
Lunar membuka pintu apartemen yang berbunyi belnya. Tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu. Tamu yang datang ternyata adalah ibunya. Dia mempersilakan ibunya masuk ke dalam apartemen. Lalu dengan kecemasan yang masih meliputi dia mengambilkan minuman beserta camilan sebagai sambutan. Dia duduk bersama ibunya tanpa berani mengangkat kepala. Pada akhirnya dia bersuara juga karena terpikirkan kesalahan yang sudah dibuat, "Maaf ...." "Kau sangat merepotkan." Ucapan sang ibu membuat Lunar semakin menundukkan kepala. Dia tidak sepenuhnya menyesal, tetapi di balik itu dia juga merasa bersalah karena merepotkan kedua orangtua. Suara helaan napas panjang terdengar "Kau tidak tahu betapa malunya kami di hadapan semua orang karena kaburnya dirimu di acara pernikahan. Ayahmu sampai sakit karena hal itu." Lunar langsung mengangkat kepala, "Ayah sakit?" Sebelum keluarganya datang ke apartemen, mereka sempat berbicara melalui telepon. Tidak ada dari mereka yang mengatakan bagaimana kondisi sang ayah padanya. “Kondisinya sudah mulai membaik. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu." "Tapi tetap saja aku harus datang melihat kondisi ayah." "Tidak perlu. Kau tetap tinggal di sini saja," kemudian sang ibu bangkit dan melihat-lihat sekeliling ruangan, "Arkan Grey seharusnya sangat kaya dan kenapa kau hanya dibiarkan tinggal di sebuah apartemen? Tidakkah dia memiliki rumah untuk kau tempati?" melipatkan tangan di d**a sambil memasang raut wajah kesal. Baginya apartemen itu mewah namun seharusnya Lunar yang menikahi pria kaya raya bisa mendapatkan lebih dari itu. Sementara itu Lunar yang tadinya duduk diam sambil mengamati langkah sang ibu hanya menggeragap. Bagaimana dia menjelaskan situasi yang terjadi di dalam hubungan pernikahannya? "Apartemen ini lebih dekat dengan tempat kerja Arkan. Oleh karena itu kami memilihnya sebagai tempat tinggal," akhirnya menemukan jawaban yang tepat. Sekali lagi helaan napas terdengar, "Bagaimana hubunganmu dengannya? Apa dia sangat mencintaimu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. "Arkan?" “Tentu saja Arkan. Memangnya siapa lagi?" Lunar hanya diam saja sampai sang ibu berjalan ke lantai atas. Dia mengikuti langkah kaki itu dari belakang sambil memikirkan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan. Hanya dia yang mencintai Arkan hingga saat ini, tetapi dia tidak mungkin mengatakannya begitu, bukan? Ibunya pasti akan marah nanti jika mengetahui hal tersebut. "Kami saling mencintai," ucapnya lambat-lambat. "Karena itu kau kabur dari pernikahan?" sang ibu berhenti dan membalikkan badan memperhatikan anaknya, "Kenapa tidak memberitahukannya dari awal pada kami? Kalau begitu kau tidak perlu menikah dengan Nico." Suara pintu mengalihkan perhatian mereka yang berdiri di jenjang. Mereka bergeming sampai seseorang terlihat. Suasana menjadi hening saat Arkan ternyata adalah orang yang membuat pintu apartemen berbunyi. "Kau pulang sangat cepat hari ini. "Kau tidak pernah mengatakan padaku kalau ibumu akan datang," ucap Arkan tanpa basa-basi. Lunar memang sengaja tidak mengatakannya karena berpikir kalau Arkan tidak akan setuju dengan itu, “Ibuku hanya melihat keadaanku sebentar saja. Setelah itu akan kembali pulang." Arkan mengamati bagaimana ekspresi yang terlihat khawatir itu, "Lebih baik begitu karena aku tidak ingin ada orang asing lainnya di dalam hidupku.” Lunar menatap lurus pada pria yang kini berdiri di hadapan. Perkataan tadi seolah mengingatkan dia pada status yang dimiliki. Dia hanyalah orang asing, tidak berbeda dengan orang yang berada dekat dengannya. Mereka semua adalah orang asing di dalam hidup Arkan. Entah mengapa itu menyakiti perasaannya. "Kami akan segera pergi dari hidupmu." Arkan menggenggam tangan yang mengepal itu, lalu menciuminya hingga tidak lagi mengepal seperti tadi, "Lebih baik begitu," ucapnya tidak lepas mengamati bagaimana ekspresi Lunar. Lunar yang semakin tersakiti perasannya mau tidak mau membuat matanya panas ingin mengeluarkan tangisan, tetapi tetap ditahan sehingga hanya menjadi serpihan tipis yang membasahi bola mata. Dia menolak untuk diciumi lagi tangannya namun Arkan tidak ingin tampaknya, "Kau menyakitiku," pada akhirnya mulut yang bergetarlah menjadi pemutus ciuman itu. Arkan menaikkan sebelah bibirnya, lalu mengangkat dagu yang menunduk. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca dan baru saja mengalirkan air mata. Entah mengapa Lunar yang seperti itu membuatnya turut merasakan kepedihan. Dadanya bergemuruh akan sesak yang menyakitkan. "Aku hanya memberikan ciuman di punggung tanganmu, lalu bagaimana kau bisa merasa tersakiti?" Lunar memandang pria yang tidak berperasaan itu dengan geram. Dia sudah mengatakan perasaannya dan seharusnya Arkan tidak mengatakan sesuatu seperti "Orang asing" yang hanya menyakiti perasaannya. Dia ingin menjadi seseorang di dalam hidup Arkan selama pernikahan meski hanya sebentar saja. Tidakkah pria di hadapannya saat ini bisa memberikan kesempatan untuk itu? Tiba-tiba Lunar ditarik dan dibaringkan di atas ranjang. Dia yang belum sempat bangkit harus diam di tempat karena Arkan langsung memerangkapnya. Wajahnya dipalingkan ke kanan agar tangisan yang jatuh bisa disembunyikan. Sayangnya Arkan membuat mata itu kembali menatapnya. Apa yang dia lihat adalah tangisan semakin mengalir deras namun tanpa isak. "Sebegitu cintakah kau padaku? Sampai kau terlalu sensitif dengan apa yang aku katakan?” Bukan hanya sekali dia mengatakan kalau Lunar adalah orang asing. Jika awalnya biasa saja, tetapi kini Lunar yang mencintainya merespons kata-kata itu dengan tangisan. Kalau begitu dia benar-benar sudah menempati hati wanita ini, bukan? Kesadaran Lunar sedikit terkumpul setelah kalimat arogan itu keluar. Dia menangisi pria yang secara tidak langsung mengatakan kalau "Arkan adalah orang yang selalu dicintai oleh kaum wanita." "Aku mencintaimu, Arkan. Tapi tidak dengan kesombonganmu." dia mengusap air mata yang membasahi pipi, lalu tatapannya berubah menantang, "Perasaanku padamu tetap ada hingga sekarang, tapi tidak tahu nanti setelah pernikahan kita berakhir. Aku akan menikah dengan pria lain dan memiliki keluarga kecil bersama anak ...." Arkan sudah mengernyitkan alis dalam-dalam ketika Lunar memenuhi kamar dengan harapan yang seharusnya tidak berada di sana, "Berhenti mengatakan apa yang tidak perlu kau katakan di dalam pernikahan ini. Sekarang kau milikku seorang, sampai pernikahan ini berakhir," ucapnya dengan geram. "Kalau begitu ...," suara yang tercekat diredakan sebelum dia kembali bersuara, "Bisakah kau menjadi milikku seorang sampai pernikahan ini berakhir?" Arkan tertegun dan dia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Oleh karena itu dia hanya mengepalkan tangan yang menempel pada ranjang. Tentu Saja dia tidak bisa menjadi milik Lunar seorang karena masih ada Raya bersamanya. "Kau bisa memilikiku di sini," ucapnya kemudian mulai menciumi dan menjelajahi leher wanita itu. Sebelum mengajukan pertanyaan itu Lunar sudah tahu jawabannya. Dia tidak bisa memiliki Arkan seorang. Namun, dia masih dengan bodohnya mengajukan pertanyaan itu dengan harapan yang tentu saja mustahil. Dia sama sekali tidak bisa memiliki Arkan. Itu mustahil. ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD