Arkan yang bersandar di dinding itu tidak langsung menjawab pertanyaan. Dia melirik Lunar yang sibuk menyantap makanan lebih dulu sebelum mengalihkan tatapan ke arah lain. Padahal dia sudah bertekad untuk menghabiskan waktu bersama Raya.
Agar bisa melupakan wanita menjengkelkan yang selalu hinggap di pikiran. Akan tetapi sepertinya sia-sia saja karena sampai detik ini pun Lunar tidak berhenti membuatnya berada dalam kesulitan.
"Ya. Aku bertemu dengan kekasihku," ucapnya berharap apa yang dikatakan bisa menyingkirkan apa yang tidak seharusnya dia pikirkan.
Lunar menganggukkan kepala lambat-lambat. Dia mencoba memahami kalau hubungan mereka hanya sebatas orang asing Saja, tetapi mendengar Arkan mengatakan hal itu kenapa rasa sesak ikut campur menghiasi dadanya? Dia tidak boleh seperti ini.
Larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Lunar tersedak. Arkan yang melihat bergegas ke lantai bawah untuk mengambilkan minuman. Tidak memberikan jeda untuk berhenti agar minuman bisa sampai pada Lunar secepatnya.
"Bagaimana? Apa sudah lebih baik?" Arkan mengambil alih gelas yang telah kosong, "Aku akan mengisinya kembaii."
Lunar bangkit pula dengan cepat agar bisa menghentikan langkah Arkan, "Tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja."
"Oh, baiklah," Arkan memperhatikan tangan yang tetap menggenggam tangannya. Dia menaikkan pandangan setelahnya menunggu Lunar untuk berbicara.
Bukan berbicara, melainkan Lunar menjawab kebingungan dengan tindakan. Dia melingkarkan tangan di leher pria itu, lalu mencium bibir yang hanya diam saja. Walaupun begitu dia tetap mengungkapkan apa yang dirasakannya sekarang.
Arkan yang masih terkejut harus mundur ke belakang karena didesak dengan ciuman. Gelas masih digenggamnya dan dia berusaha mendorong.
Akan tetapi entah mengapa penolakan bertolak belakang dengan keinginannya. Sehingga dorongan yang tercipta sangatlah lemah.
Saat Lunar menjarak, di saat itu pula Arkan mencuri waktu untuk berbicara, "Lunar ...," ucapnya dengan napas tersengal, "Kenapa
kau ... melakukan ini padaku?"
Lunar yang sudah tenggelam dalam hasratnya memandang dengan sayup, “Sepertinya aku menyukaimu," ungkapnya dengan suara lemah yang rendah.
"Itu tidak boleh terjadi."
Sayangnya perkataan Arkan tidak dapat menembus kesadaran. Lunar memutuskan percakapan dengan sebuah ciuman. Dia tidak mengerti rasa malu dan dia tidak mengerti pada apa yang dirasakan. Dia hanya tidak suka dengan Arkan yang dekat dengan wanita lain.
Dia tahu kalau perasaan yang seperti itu salah, tetapi apa yang harus dia lakukan? Sepertinya dia benar-benar sudah
jatuh cinta pada Arkan Grey.
Tidak peduli apakah dia seorang wanita yang merebut kekasih orang lain. Tidak peduli dia adalah wanita memalukan yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Apa dia begitu egois? Dia hanya ingin memiliki Arkan Grey, suaminya saat ini.
Arkan yang semakin terbuai menjatuhkan gelas begitu saja, lalu melingkarkan tangan ke pinggang Lunar. Membalas ciuman tersebut dengan hal yang serupa. Mereka sama sekali tidak peduli dengan suara gelas yang pecah dan berserakan.
Ciuman itu berlangsung sampai mereka menghampiri ranjang. Arkan duduk di sana dengan memangku wanita yang berusaha membuka pakaiannya.
Sudah seperti itu kKenapa Arkan tidak menolak? Sangat sulit ketika dia bersama Raya, tetapi kenapa sangat berbeda jika wanita itu adalah Lunar?
Dia tidak berniat untuk menolak sedikit pun ketika kemeja yang menutupi tubuh atasnya diturunkan. Bahkan saat Lunar membasahi lehernya, dia tidak menolak. Sebaliknya menikmati apa yang dilakukan Lunar kepadanya.
Sampai mata yang Sama-sama terhalangi oleh hasrat saling memandang kembali, Lunar berbicara lebih dulu, "Bolehkah aku memilikimu?"
"Aku sudah bersama dengan Raya," ucap Arkan mencoba memperingati diri sendiri.
"Tapi aku tetap ingin memilikimu. Aku tidak peduli apakah kau bersama dengan Raya atau tidak," kewarasan sudah tenggelam sepenuhnya.
Arkan menelan ludah dengan kasar. Mentalnya sudah berada pada titik terendah saat ini, "Kalau begitu lakukan," ucapnya dengan suara tercekat.
Lunar menyatakan kesenangannya dengan sebuah ciuman singkat, lalu dia membuat Arkan rebah di ranjang dengan dia yang menduduki. Dia membuka pakaiannya pula dan membuangnya ke lantai. Setelah itu dia menundukkan wajah hingga bisa mencapai Arkan.
"Kau akan menjadi milikku, Arkan."
Mereka sama-sama memejamkan mata dan saling menautkan lidah satu sama lain. Kenikmatan itu tanpa sadar membuat Arkan mengerang, begitu pun dengan Lunar.
Malam itu mereka habiskan dengan memadu perasaan yang sangat ingin menjadi satu. Layaknya ramuan sihir yang bercampur baur dalam berbagai macam bahan.
Lunar menggerakkan tubuhnya yang terasa berat untuk
digerakkan. Di saat itu pula mata yang memejam terbuka sepenuhnya. Dia memutar kepala ke kiri dan mendapati Arkan terlelap dekat di sisinya.
Apa yang membuat tubuhnya berat adalah karena pelukan Arkan. Pagi ini dia masih bisa merasakan bagaimana kulit mereka saling berbagi kehangatan.
Setelah tadi malam dia semakin menyadari kalau ternyata perasaannya pada Arkan bukan mengenai hasrat saja. Dia benar-benar menyukai Arkan yang berada dekat dengannya. Tanpa sadar lelaki ini telah mencuri perhatian dan perasaannya.
Dering ponsel yang berasal dari meja nakas di seberang sana mengusik lamunan. Lunar perlahan bangkit dan meraih ponsel yang tidak terlalu jauh jaraknya tersebut.
Raya yang menelepon nyatanya. Apakah dia harus mengangkat panggilan itu? Tetapi nanti akan menimbulkan masalah di antara hubungan Arkan dan Raya.
Pada akhirnya dia mematikan daya ponsel sepenuhnya. Ponsel diletakkan di tempatnya kembali sebelum dia berbaring. Alangkah terkejutnya dia ketika Arkan tidak lagi memejamkan mata. Sungguh membuatnya kelabakan bagaimana harus bersikap. Alhasil hanya menenggelamkan diri dalam selimut.
Tidak adanya pergerakan membuat dia menurunkan sedikit selimut agar bisa melirik Arkan. Lelaki itu kini memegang ponsel yang sepertinya sudah dihidupkan kembali dayanya. Di dalam selimut bibirnya mengerucut.
Tampaknya Arkan sangat mementingkan Raya di segala kondisi. Nyatanya baru saja bangun langsung mencari tahu siapa yang menelepon.
Arkan meletakkan ponselnya, lalu beralih pada wanita yang menutup diri di sampingnya. Dia menurunkan selimut itu hingga menampakkan wajah Lunar sepenuhnya.
"Raya meneleponku dan kau mematikannya."
"Aku hanya berpikir kalau kau butuh istirahat. Maaf karena aku mematikan panggilan dari Raya."
Lunar membelalakkan mata saat sebelah pahanya diangkat ke atas, lalu tubuh mereka didesak dekat. Menyatu dalam kenikmatan kembali.
Membuat sarafnya lemah sehingga dia menjadikan d**a Arkan sebagai pegangan agar tetap bertahan pada kesadaran.
"Ar ... kan...," sungguh membuatnya kesulitan bagaimana harus berbicara.
Arkan berhenti dari gerakannya sejenak, lalu mencium singkat bibir wanita yang sedikit menganga itu, "Kini giliranku untuk memilikimu," bisiknya dengan suara parau.
Dia memerangkap tubuh Lunar agar bisa dikuasai sepenuhnya. Melihat wanita di bawahnya tidak berdaya membuat keinginan liarnya semakin memuncak. Bagaimana Lunar bisa terlihat begitu memesona dengan wajah tanpa polesan itu?
“Kau harus bertanggung jawab atas hubungan yang kau mulai, Lunar.”
Lunar berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya satu persatu. Bertanggung jawab? Memangnya hal apa yang telah dia lakukan sampai harus mempertanggung jawabkan sesuatu?
"Bertanggung jawab?" pada akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.
"Apa kau ingin lari begitu saja setelah memikatku untuk bercinta denganmu?"
Lunar masih belum mengerti tanggung jawab apa yang di maksud. Dia berusaha menelaah kembali apa yang didengar satu persatu.
Memang dia yang meminta apa yang mereka lakukan semalam. Kalau memang harus bertanggung jawab, hal yang seperti apa yang harus dia lakukan?
“Maksudmu aku sudah memulai hubungan terlarang denganmu? Dan aku harus menyelesaikannya hingga akhir?"
“Rasa haus tidak hanya akan datang satu kali. Kau perlu melepaskan dahaga, begitu pula dengan aku," dia mengangkat Lunar agar bisa duduk bersamanya, "Aku tidak tahu kenapa hatiku yang mencintai Raya, tubuhku lebih menginginkan untuk bersamamu.”
Lunar menundukkan kepala merasa kecewa dengan apa yang didengar. Bukankah itu berarti dia hanya akan digunakan untuk memuaskan hasrat saja?
Kenapa dia terlalu egois untuk memiliki semua yang ada pada diri Arkan? Padahal dia yang membuat mereka terjerumus dalam hubungan terlarang. Dia pula yang merebut Arkan dari Raya.
"Hubungan ini apakah juga akan berlangsung selama satu tahun?"
"Ya. Setelah itu aku akan
menikahi Raya."
Lunar menggigit bibirnya menyatakan bagaimana kebimbangan menyertai. Sejujurnya dia sangat kecewa pada diri sendiri yang mencintai kekasih orang lain.
Pada keadaan yang mana mempertemukan mereka, dan pada Arkan yang tidak memberi kesempatan untuk perasaannya.
"Kau bisa memilikiku sekarang."
Namun, dia tidak memiliki pilihan lain selain menikmati waktu mereka yang tersisa untuk bersama. Setidaknya untuk saat ini dia adalah istri sah Arkan satu-satunya.
Dia bisa memiliki semua yang ada pada diri Arkan, meskipun tidak pada hati. Itu lebih baik dibandingkan dengan mereka yang harus berpisah tanpa bisa membagi apa pun.
"Satu yang harus kau tahu," ucapan itu menghentikan Arkan yang akan menyentuh lehernya, "Aku mencintamu."
Arkan mengepalkan tangan dengan erat. Kalimat itu entah mengapa menyakiti perasaannya. Dia tidak berkata-kata lagi dan memilih untuk mencium leher yang aromanya memabukkan itu.
Menggigit hingga suara desahan keluar dari mulut Lunar. Dia selalu terbakar hasrat ketika bersama wanita yang terlihat panas saat ini. Bagian mana dalam diri Lunar yang berbeda dari Raya?
###