Makan Larut Malam

3280 Words
"Memangnya selain dirimu, aku bisa meminta bantuan pada siapa lagi? Hanya ada kita berdua saja di sini. Lagi pula kenapa kau tidak ingin membantuku? Apa kau merasa enggan karena hubungan kita hanya sebagai orang asing? Tidakkah kau bisa membantu orang asing ini?" Sungguh menjengkelkan. Lunar membuat dirinya seperti orang yang mengemis saja. Dia tidak harus membuat dirinya kesulitan. “Kau bisa melupakannya," pada akhirnya menyerah karena sudah terlanjur kesal, "Padahal permintaanku tidak sulit," gumamnya sambil membalikkan badan. Sepeninggal Lunar, tersisa Arkan saja di dalam ruang ganti. Dia memperhatikan telapak tangan yang terbuka. Masih bisa tercium bagaimana aroma pelembap yang dipakai Lunar. Tidak sulit? Seharusnya begitu. Namun, bagaimana tidak sulit jika bau itu memabukkan dan membuat hatinya bergemuruh? "Sial," ucapnya memukul lemari kayu yang ada di hadapan. Sampai di kantor pun Arkan masih tidak bisa menyingkirkan wanita yang berkeliaran di pikirannya. Ini sudah beranjak malam dan dia tetap berada di kantor. Tidak berniat untuk pulang yang mengharuskan dia bertatap muka dengan Lunar. Dia tidak ingin terus membayangkan wajah wanita yang telah membuat kehidupannya berubah haluan. "Menyingkirlah dari pikiranku, Lunar," kalimat itu adalah rapalan mantra di dalam hati. Selalu. Sekretaris Ham baru saja muncul setelah menyelesaikan apa yang diminta. "Semua pekerjaan telah selesai, Tuan. Kita sudah bisa kembali." Arkan mengepalkan tangan dengan kuat. "Bagaimana aku bisa kembali jika wanita itu masih ada di dalam apartemen?" ucapnya dengan nada kesal yang sudah memuncak. "Wanita itu ... apakah Nyonya Lunar?" Biasanya sekretaris Ham yang akan menyingkirkan penghalang Arkan, tetapi kali ini tidak bisa. Dia tidak bisa menyingkirkan istri atasannya sendiri, bukan? "Saya tidak bisa melakukan apa-apa pada nyonya, Tuan," dia berucap kembaili. Arkan melirik sekretarisnya yang sedikit menundukkan kepala. "Aku tidak memintamu untuk melakukan apa-apa pada Lunar," mengembuskan napas dengan kasar, "Bagaimana keadaan Raya? Aku sama sekali tidak mendapatkan kabar apa pun darinya." Sekretaris Ham terdiam mengingat apa yang terjadi ketika dia mendapatkan pesan untuk mengawasi Raya selama tidak ada Arkan yang mendampingi. Sejujurnya tanpa diminta, dia sudah melakukan itu semua. Bukan mengawasi lagi, tetapi melindungi Raya. Semua penghuni rumah kewalahan bagaimana harus menenangkan kesedihan Raya. Rintihan tidak berhenti sampai lewat tengah malam. Dia hanya bisa menunggu dari balik pintu. Hingga pada pagi harinya dia bisa mendengar bagaimana Raya memanggil namanya. Ya. Dia tertidur di luar pintu tanpa disadari. "Aku menanyakan keadaan Raya padamu. Lalu kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Lamunan sekretaris Ham langsung buyar, "Baik-baik saja, Tuan. Tidak terjadi hal buruk pada Nona Raya." Biarlah Arkan bersama Lunar di sana. Sementara dia yang akan mengisi kekosongan di sisi Raya. Menenangkan wanita yang sudah lama ingin dimilikinya. "Kau harus mengawasinya dengan baik. Katakan padaku jika ada hal buruk terjadi padanya." Sekretaris Ham tersenyum, "Dengan senang hati, Tuan." Arkan melirik jam dinding kantornya yang mana hampir mendekati malam. Dia sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Raya. Sebelum pulang bagaimana kalau dia makan malam bersama kekasihnya itu lebih dulu? "Aku ingin bertemu Raya. Kita akan menjemputnya untuk pergi makan malam." Senyuman yang menghiasi wajah sekretaris Ham seketika mengendur. Bertemu Raya sama artinya dengan dia yang akan melihat kemesraan dua orang tersebut. Sakit. Sayangnya dia tidak bisa menolak permintaan itu. Selain itu jika Raya bertemu Arkan, setidaknya kesedihan Raya bisa berkurang. “Saya akan menyiapkan mobil, Tuan," ucapnya kemudian mengundurkan diri lebih dulu. Bersama sang kekasih yang dia jemput, Arkan menuju sebuah restoran yang sudah menjadi tempat langganannya ketika pergi bersama Raya. Tempat itu memiliki Kenangan manis di dalam hubungan mereka. Di tempat itu Arkan menyatakan perasaannya. "Kita selalu membuat kenangan di tempat ini." Pegangan pada tangkai sendok sedikit mengendur. Raut wajah yang tersenyum senang berubah saat itu juga. Selama ini Arkan selalu menjadikan restoran itu sebagai tempat kencan mereka. Raya yang tampak tidak masalah dengan hal itu membuatnya tidak memikirkan tempat lain. "Apa kau merasa bosan? Kalau begitu kita bisa mengganti tempatnya. Kau ingin tempat yang bagaimana? Aku akan mencarikannya untukmu." Raya terdiam sejenak sebelum tawa kecilnya pecah, "Aku sama sekali tidak bosan, Arkan. Hanya saja setiap kali datang ke mari, aku teringat saat-saat yang kita lalui bersama." Arkan mengembuskan napas lega, "Aku juga tidak bosan menghabiskan waktu bersamamu di sini," menghias wajah dengan sebuah senyuman. Usai menghabiskan waktu makan malam dengan perbincangan hangat sepasang kekasih, mereka kembali pulang dengan Arkan yang mengantarkan kekasihnya lebih dulu. Waktu pertemuan sangat singkat. Tidak seperti sebelumnya yang mana mereka bisa bertatap muka lebih lama. Pagi, siang, mau pun malam. Kini mereka hanya mencuri waktu untuk pertemuan. Sebelum keluar dari mobil, Raya berhenti sebentar agar bisa menoleh ke belakang setelahnya. Memeluk Arkan dengan erat menyatakan bagaimana kerinduan selama mereka tidak bertemu. Begitu juga dengan Arkan yang membalas pelukan dengan hal yang sama. Raya melepaskan pelukan lambat-lambat tanpa menjauhkan diri sepenuhnya. Setiap menatap dua bola mata itu membuat perasaannya menguar ke mana-mana. Dia menyentuhkan jemarinya pada bibir pria itu. Arkan yang disentuh membuatnya terkejut dan menelan ludah dengan kasar. Dadanya bergejolak, tetapi berharap agar ciuman tidak terjadi di antara mereka. Seharusnya dia menyambut keinginan Raya, bukan? Seharusnya dia juga menginginkan hal yang sama, bukan? Lalu kenapa justru berbalikan dari hal yang seharusnya? "Masuklah ke dalam rumah sebelum malam semakin larut." Raya menjauhkan tangannya bersama pelukan yang tadinya masih setia melingkar di pinggang sang kekasih. Dia lupa kalau Arkan tidak lagi tinggal bersamanya. Sekarang sudah sangat malam untuk tetap melanjutkan kencan. Mereka sudah pergi terlalu lama dan Arkan juga harus pulang untuk bisa segera beristirahat. “Mimpi indah, Arkan. Aku mencintaimu." Arkan membuka sedikit bibirnya ragu untuk berkata, "Mimpi indah, Raya. Aku juga mencintaimu," tersenyum dan membiarkan Raya turun dari mobil. Sementara sekretaris Ham yang sengaja menunggu di luar agar tidak tersakiti dengan kemesraan dua pasangan itu langsung duduk di bangku kemudi, lalu melajukan mobil. Dari cermin tengah dia melirik Arkan yang sedang melamun. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. “Tuan, apa kita langsung pulang ke apartemen?" Arkan menatap lurus ke depan memandangi sekretarisnya yang fokus mengemudi, "Ya," kemudian menoleh kembali ke arah jendela yang ada di sampingnya. Sebentar saja sebelum ingatannya terkumpul sepenuhnya, "Tidak. Sebelumnya kita akan berhenti di restoran terdekat." Sekretaris Ham mengerutkan dahi, "Apa Tuan akan makan untuk yang ke-dua kalinya?" “Hanya belikan satu porsi makanan untuk dibawa pulang," ucapnya tidak ingin lagi diberikan pertanyaan. Sekretaris Ham berpikir sebentar sebelum menjawab, "Baiklah, Tuan." Seperti yang diminta hanya sekretaris Ham saja yang masuk ke dalam restoran. Membeli satu porsi makanan yang direkomendasikan di sana. Tidak menunggu lama untuk dibawa ke hadapan Arkan. “Pemilik restoran berkata menu makanan ini yang banyak dibeli oleh pelanggan, Tuan," memperlihatkan apa yang dibawa. Arkan meletakkan satu porsi makanan tersebut ke sampingnya, lalu membiarkannya di sana. Tidak tahu kenapa dia sampai berniat membelikan makanan untuk Lunar. Padahal sekarang sudah sangat malam dan mungkin saja wanita itu sudah terlelap. Dia tahu akan hal itu, tetapi kenapa masih membelinya? Apa dia berikan saja pada sekretaris Ham? Lunar terbahak-bahak sambil memakan camilan yang entah sudah ke berapa. Dia menangis kemudian sebelum tertawa lagi menyaksikan apa yang ditonton. Seperti itu berulang kali hingga tanpa sadar sekarang sudah jam dua malam. Dia meletakkan camilan dan juga bantal yang sejak tadi berada di atas paha. Mengalihkan perhatiannya sejenak pada hal lain. Ke mana Arkan sebenarnya sampai larut begini belum pulang? Apa menginap di rumah bersama Raya? Tetapi seharusnya hal seperti itu dikabari padanya terlebih dahulu agar dia tidak menunggu. Dia meraih ponsel yang diletakkan di atas meja, lalu mencari kontak Arkan. Sebelum menelepon dia teringat dengan perkataan kalau hanya boleh menghubungi untuk hal penting saja. Apakah memastikan kalau Arkan pulang atau tidaknya adalah suatu hal yang penting? Di saat berpikir untuk menghubungi sekretaris Ham, di saat itu pula suara pintu terdengar. Dia bergeser ke samping agar bisa melihat siapa yang datang. Sudah pasti dan memang Arkan yang datang. "Aku berpikir kalau kau tidak akan pulang," bangkit dan menghampiri lebih dulu. Arkan menyodorkan makanan yang dibawa, "Makanlah sebelum lebih dingin." Lunar terkesima setelah mengendus bau dari apa yang sudah berada di tangan, "Kau perhatian sekali. Aku sudah makan malam, tapi masih memiliki ruang kosong untuk ini." Arkan menatap bungkus makanan yang sudah kosong isinya. "Makan malam?" Lunar melirik ke mana arah Arkan menatap, "Bukan," ucapnya seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran Arkan saat ini. "Kasihan sekali aku yang memiliki suami kaya harus makan malam dengan camilan. Tentu saja aku memasak untuk mengisi perutku. Sekretaris Ham sudah mengisi kulkas yang kosong dengan bahan yang aku butuh kan. "Berhenti berbicara dan habiskan saja makananmu!" Arkan berlalu pergi sambil menarik dasinya dengan kasar agar memberikan ruang untuknya bernapas. Tanpa alasan dia merasa jengkel saat ini. Sedangkan Lunar merasa heran dengan bentakan barusan. Aneh sekali. Apakah Arkan memiliki masalah di kantor atau sedang bertengkar dengan Raya? Lunar menatap pria yang menaiki jenjang itu, "Ke mana kau akan pergi?" lantas dia bergegas menghalangi Arkan. "Tentu saja ke kamarku. Memangnya ke mana lagi?" tanpa memedulikan Lunar, dia menaiki tangga kembali. Tetapi Lunar tidak berhenti begitu saja untuk menghalangi. Dia bergegas menaiki tangga hingga mencapai pintu kamar lebih dulu. Duduk di lantai dan membuka makanan yang diberikan. Arkan meletakkan kedua belah tangan di pinggang, "Apartemen ini sudah memiliki fasilitas ruang makan yang mewah, lalu kenapa kau memilih makan di lantai?" Lunar menelan kunyahannya sebelum menanggapi, "Aku melakukannya dengan sengaja agar kau tidak bisa memasuki kamarku. Awas saja kalau kau mencoba masuk ke dalam kamar, aku akan tersedak karena makanan yang kau berikan." Setelah memberi peringatan, dia kembali sibuk menyantap makanan. “Apa? Kau menjaga pintu agar aku tidak masuk ke dalam kamarku sendiri?" Arkan tidak digubris sama sekali dan hal itu membuatnya kesal. Namun, ujung-ujungnya memilih untuk diam karena seperti apa pun berbicara tampaknya wanita yang sibuk menyantap makanan itu akan berpura-pura tuli. Di sisi lain dia juga tidak bisa beranjak begitu saja merelakan apa yang seharusnya merupakan miliknya. Dia juga tidak bisa menerobos karena Lunar duduk di depan pintu dengan pertahanan sempurna. Pada akhirnya dia duduk pula di lantai menunggu Lunar sampai selesai makan. "Apa kau pulang larut malam karena bertemu dengan Raya?" ### "Memangnya selain dirimu, aku bisa meminta bantuan pada siapa lagi? Hanya ada kita berdua saja di sini. Lagi pula kenapa kau tidak ingin membantuku? Apa kau merasa enggan karena hubungan kita hanya sebagai orang asing? Tidakkah kau bisa membantu orang asing ini?" Sungguh menjengkelkan. Lunar membuat dirinya seperti orang yang mengemis saja. Dia tidak harus membuat dirinya kesulitan. “Kau bisa melupakannya," pada akhirnya menyerah karena sudah terlanjur kesal, "Padahal permintaanku tidak sulit," gumamnya sambil membalikkan badan. Sepeninggal Lunar, tersisa Arkan saja di dalam ruang ganti. Dia memperhatikan telapak tangan yang terbuka. Masih bisa tercium bagaimana aroma pelembap yang dipakai Lunar. Tidak sulit? Seharusnya begitu. Namun, bagaimana tidak sulit jika bau itu memabukkan dan membuat hatinya bergemuruh? "Sial," ucapnya memukul lemari kayu yang ada di hadapan. Sampai di kantor pun Arkan masih tidak bisa menyingkirkan wanita yang berkeliaran di pikirannya. Ini sudah beranjak malam dan dia tetap berada di kantor. Tidak berniat untuk pulang yang mengharuskan dia bertatap muka dengan Lunar. Dia tidak ingin terus membayangkan wajah wanita yang telah membuat kehidupannya berubah haluan. "Menyingkirlah dari pikiranku, Lunar," kalimat itu adalah rapalan mantra di dalam hati. Selalu. Sekretaris Ham baru saja muncul setelah menyelesaikan apa yang diminta. "Semua pekerjaan telah selesai, Tuan. Kita sudah bisa kembali." Arkan mengepalkan tangan dengan kuat. "Bagaimana aku bisa kembali jika wanita itu masih ada di dalam apartemen?" ucapnya dengan nada kesal yang sudah memuncak. "Wanita itu ... apakah Nyonya Lunar?" Biasanya sekretaris Ham yang akan menyingkirkan penghalang Arkan, tetapi kali ini tidak bisa. Dia tidak bisa menyingkirkan istri atasannya sendiri, bukan? "Saya tidak bisa melakukan apa-apa pada nyonya, Tuan," dia berucap kembaili. Arkan melirik sekretarisnya yang sedikit menundukkan kepala. "Aku tidak memintamu untuk melakukan apa-apa pada Lunar," mengembuskan napas dengan kasar, "Bagaimana keadaan Raya? Aku sama sekali tidak mendapatkan kabar apa pun darinya." Sekretaris Ham terdiam mengingat apa yang terjadi ketika dia mendapatkan pesan untuk mengawasi Raya selama tidak ada Arkan yang mendampingi. Sejujurnya tanpa diminta, dia sudah melakukan itu semua. Bukan mengawasi lagi, tetapi melindungi Raya. Semua penghuni rumah kewalahan bagaimana harus menenangkan kesedihan Raya. Rintihan tidak berhenti sampai lewat tengah malam. Dia hanya bisa menunggu dari balik pintu. Hingga pada pagi harinya dia bisa mendengar bagaimana Raya memanggil namanya. Ya. Dia tertidur di luar pintu tanpa disadari. "Aku menanyakan keadaan Raya padamu. Lalu kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Lamunan sekretaris Ham langsung buyar, "Baik-baik saja, Tuan. Tidak terjadi hal buruk pada Nona Raya." Biarlah Arkan bersama Lunar di sana. Sementara dia yang akan mengisi kekosongan di sisi Raya. Menenangkan wanita yang sudah lama ingin dimilikinya. "Kau harus mengawasinya dengan baik. Katakan padaku jika ada hal buruk terjadi padanya." Sekretaris Ham tersenyum, "Dengan senang hati, Tuan." Arkan melirik jam dinding kantornya yang mana hampir mendekati malam. Dia sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Raya. Sebelum pulang bagaimana kalau dia makan malam bersama kekasihnya itu lebih dulu? "Aku ingin bertemu Raya. Kita akan menjemputnya untuk pergi makan malam." Senyuman yang menghiasi wajah sekretaris Ham seketika mengendur. Bertemu Raya sama artinya dengan dia yang akan melihat kemesraan dua orang tersebut. Sakit. Sayangnya dia tidak bisa menolak permintaan itu. Selain itu jika Raya bertemu Arkan, setidaknya kesedihan Raya bisa berkurang. “Saya akan menyiapkan mobil, Tuan," ucapnya kemudian mengundurkan diri lebih dulu. Bersama sang kekasih yang dia jemput, Arkan menuju sebuah restoran yang sudah menjadi tempat langganannya ketika pergi bersama Raya. Tempat itu memiliki Kenangan manis di dalam hubungan mereka. Di tempat itu Arkan menyatakan perasaannya. "Kita selalu membuat kenangan di tempat ini." Pegangan pada tangkai sendok sedikit mengendur. Raut wajah yang tersenyum senang berubah saat itu juga. Selama ini Arkan selalu menjadikan restoran itu sebagai tempat kencan mereka. Raya yang tampak tidak masalah dengan hal itu membuatnya tidak memikirkan tempat lain. "Apa kau merasa bosan? Kalau begitu kita bisa mengganti tempatnya. Kau ingin tempat yang bagaimana? Aku akan mencarikannya untukmu." Raya terdiam sejenak sebelum tawa kecilnya pecah, "Aku sama sekali tidak bosan, Arkan. Hanya saja setiap kali datang ke mari, aku teringat saat-saat yang kita lalui bersama." Arkan mengembuskan napas lega, "Aku juga tidak bosan menghabiskan waktu bersamamu di sini," menghias wajah dengan sebuah senyuman. Usai menghabiskan waktu makan malam dengan perbincangan hangat sepasang kekasih, mereka kembali pulang dengan Arkan yang mengantarkan kekasihnya lebih dulu. Waktu pertemuan sangat singkat. Tidak seperti sebelumnya yang mana mereka bisa bertatap muka lebih lama. Pagi, siang, mau pun malam. Kini mereka hanya mencuri waktu untuk pertemuan. Sebelum keluar dari mobil, Raya berhenti sebentar agar bisa menoleh ke belakang setelahnya. Memeluk Arkan dengan erat menyatakan bagaimana kerinduan selama mereka tidak bertemu. Begitu juga dengan Arkan yang membalas pelukan dengan hal yang sama. Raya melepaskan pelukan lambat-lambat tanpa menjauhkan diri sepenuhnya. Setiap menatap dua bola mata itu membuat perasaannya menguar ke mana-mana. Dia menyentuhkan jemarinya pada bibir pria itu. Arkan yang disentuh membuatnya terkejut dan menelan ludah dengan kasar. Dadanya bergejolak, tetapi berharap agar ciuman tidak terjadi di antara mereka. Seharusnya dia menyambut keinginan Raya, bukan? Seharusnya dia juga menginginkan hal yang sama, bukan? Lalu kenapa justru berbalikan dari hal yang seharusnya? "Masuklah ke dalam rumah sebelum malam semakin larut." Raya menjauhkan tangannya bersama pelukan yang tadinya masih setia melingkar di pinggang sang kekasih. Dia lupa kalau Arkan tidak lagi tinggal bersamanya. Sekarang sudah sangat malam untuk tetap melanjutkan kencan. Mereka sudah pergi terlalu lama dan Arkan juga harus pulang untuk bisa segera beristirahat. “Mimpi indah, Arkan. Aku mencintaimu." Arkan membuka sedikit bibirnya ragu untuk berkata, "Mimpi indah, Raya. Aku juga mencintaimu," tersenyum dan membiarkan Raya turun dari mobil. Sementara sekretaris Ham yang sengaja menunggu di luar agar tidak tersakiti dengan kemesraan dua pasangan itu langsung duduk di bangku kemudi, lalu melajukan mobil. Dari cermin tengah dia melirik Arkan yang sedang melamun. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. “Tuan, apa kita langsung pulang ke apartemen?" Arkan menatap lurus ke depan memandangi sekretarisnya yang fokus mengemudi, "Ya," kemudian menoleh kembali ke arah jendela yang ada di sampingnya. Sebentar saja sebelum ingatannya terkumpul sepenuhnya, "Tidak. Sebelumnya kita akan berhenti di restoran terdekat." Sekretaris Ham mengerutkan dahi, "Apa Tuan akan makan untuk yang ke-dua kalinya?" “Hanya belikan satu porsi makanan untuk dibawa pulang," ucapnya tidak ingin lagi diberikan pertanyaan. Sekretaris Ham berpikir sebentar sebelum menjawab, "Baiklah, Tuan." Seperti yang diminta hanya sekretaris Ham saja yang masuk ke dalam restoran. Membeli satu porsi makanan yang direkomendasikan di sana. Tidak menunggu lama untuk dibawa ke hadapan Arkan. “Pemilik restoran berkata menu makanan ini yang banyak dibeli oleh pelanggan, Tuan," memperlihatkan apa yang dibawa. Arkan meletakkan satu porsi makanan tersebut ke sampingnya, lalu membiarkannya di sana. Tidak tahu kenapa dia sampai berniat membelikan makanan untuk Lunar. Padahal sekarang sudah sangat malam dan mungkin saja wanita itu sudah terlelap. Dia tahu akan hal itu, tetapi kenapa masih membelinya? Apa dia berikan saja pada sekretaris Ham? Lunar terbahak-bahak sambil memakan camilan yang entah sudah ke berapa. Dia menangis kemudian sebelum tertawa lagi menyaksikan apa yang ditonton. Seperti itu berulang kali hingga tanpa sadar sekarang sudah jam dua malam. Dia meletakkan camilan dan juga bantal yang sejak tadi berada di atas paha. Mengalihkan perhatiannya sejenak pada hal lain. Ke mana Arkan sebenarnya sampai larut begini belum pulang? Apa menginap di rumah bersama Raya? Tetapi seharusnya hal seperti itu dikabari padanya terlebih dahulu agar dia tidak menunggu. Dia meraih ponsel yang diletakkan di atas meja, lalu mencari kontak Arkan. Sebelum menelepon dia teringat dengan perkataan kalau hanya boleh menghubungi untuk hal penting saja. Apakah memastikan kalau Arkan pulang atau tidaknya adalah suatu hal yang penting? Di saat berpikir untuk menghubungi sekretaris Ham, di saat itu pula suara pintu terdengar. Dia bergeser ke samping agar bisa melihat siapa yang datang. Sudah pasti dan memang Arkan yang datang. "Aku berpikir kalau kau tidak akan pulang," bangkit dan menghampiri lebih dulu. Arkan menyodorkan makanan yang dibawa, "Makanlah sebelum lebih dingin." Lunar terkesima setelah mengendus bau dari apa yang sudah berada di tangan, "Kau perhatian sekali. Aku sudah makan malam, tapi masih memiliki ruang kosong untuk ini." Arkan menatap bungkus makanan yang sudah kosong isinya. "Makan malam?" Lunar melirik ke mana arah Arkan menatap, "Bukan," ucapnya seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran Arkan saat ini. "Kasihan sekali aku yang memiliki suami kaya harus makan malam dengan camilan. Tentu saja aku memasak untuk mengisi perutku. Sekretaris Ham sudah mengisi kulkas yang kosong dengan bahan yang aku butuh kan. "Berhenti berbicara dan habiskan saja makananmu!" Arkan berlalu pergi sambil menarik dasinya dengan kasar agar memberikan ruang untuknya bernapas. Tanpa alasan dia merasa jengkel saat ini. Sedangkan Lunar merasa heran dengan bentakan barusan. Aneh sekali. Apakah Arkan memiliki masalah di kantor atau sedang bertengkar dengan Raya? Lunar menatap pria yang menaiki jenjang itu, "Ke mana kau akan pergi?" lantas dia bergegas menghalangi Arkan. "Tentu saja ke kamarku. Memangnya ke mana lagi?" tanpa memedulikan Lunar, dia menaiki tangga kembali. Tetapi Lunar tidak berhenti begitu saja untuk menghalangi. Dia bergegas menaiki tangga hingga mencapai pintu kamar lebih dulu. Duduk di lantai dan membuka makanan yang diberikan. Arkan meletakkan kedua belah tangan di pinggang, "Apartemen ini sudah memiliki fasilitas ruang makan yang mewah, lalu kenapa kau memilih makan di lantai?" Lunar menelan kunyahannya sebelum menanggapi, "Aku melakukannya dengan sengaja agar kau tidak bisa memasuki kamarku. Awas saja kalau kau mencoba masuk ke dalam kamar, aku akan tersedak karena makanan yang kau berikan." Setelah memberi peringatan, dia kembali sibuk menyantap makanan. “Apa? Kau menjaga pintu agar aku tidak masuk ke dalam kamarku sendiri?" Arkan tidak digubris sama sekali dan hal itu membuatnya kesal. Namun, ujung-ujungnya memilih untuk diam karena seperti apa pun berbicara tampaknya wanita yang sibuk menyantap makanan itu akan berpura-pura tuli. Di sisi lain dia juga tidak bisa beranjak begitu saja merelakan apa yang seharusnya merupakan miliknya. Dia juga tidak bisa menerobos karena Lunar duduk di depan pintu dengan pertahanan sempurna. Pada akhirnya dia duduk pula di lantai menunggu Lunar sampai selesai makan. "Apa kau pulang larut malam karena bertemu dengan Raya?" ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD