↪Happy Reading↩
"Kamu seorang artis dan juga anak pengusaha. Bagaimana bisa keamanan mu sangat lemah, Celine?"
Joyceline menatap seorang pria yang berada di hadapan nya dengan raut tidak suka. Dia menyimpan cup minuman yang sedang diminum nya ke atas meja.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak membahas tentang keluarga ku, kan?" sarkas Joyceline
Pria di depan nya terkekeh dan mengangguk. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya, menatap penuh ketertarikan pada Joyceline yang masih menatapnya dengan tajam tanpa rasa takut sedikitpun.
"Karena fakta nya, aku sudah tidak memiliki keluarga. Orang orang yang kini tinggal di rumah ku, bukanlah keluarga. Melainkan hanya parasit. Mereka menyelinap masuk, dan menghisap semua milikku." tekan Joyceline
"Hm, aku suka reaksi mu." sahut pria di hadapannya
"Berhenti menggoda nya, Albert. Kau tidak akan tahu bagaimana mengerikannya Celine ketika marah." tegur Lily sambil mendudukkan b****g nya di kursi yang ada diantara Joyceline dan pria bernama Albert tadi.
Joyceline berdecak kesal dan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dalam diam berfikir kenapa wartawan masih memenuhi gedung agensi nya. Padahal sejak pagi, Joyceline terus menerus mengadakan sesi tanya jawab dengan mereka.
Tapi para pencari berita itu mungkin masih memiliki pertanyaan di dalam kepala mereka yang belum terjawab oleh Joyceline.
"Celine, apa kau tahu siapa yang menyelamatkan mu kemarin?" tanya Lily
Joyceline mengangguk, "Tentu saja aku tahu. Dia David Legiond. Usia nya masih muda, tapi pangkatnya di kepolisian sudah cukup tinggi." jawab Joyceline
"Aku rasa, aku menyukainya." celetuk Joyceline. Dia menyunggingkan senyuman lebar setelahnya. Terlihat seperti seorang anak kecil yang bahagia setelah diberikan sebuah permen yang manis.
"Apa maksud ucapan mu tadi?" tanya Lily tidak habis pikir dengan ucapan teman nya itu.
"Aku menyukainya. Sebatas itu." sahut Joyceline cepat
"Bagaimana denganku, kau tidak memyukaiku?" goda Albert
Joyceline memasang wajah kesal dan kembali menatap Albert dengan tajam, "Kau tampan dan berwibawa. Tapi dua poin yang bagus itu terhempas begitu saja setelah aku menyadari jika kau sangat sangat menyebalkan." desis nya sebal
Joyceline mendelik kesal dan menatap Lily, "Apa jadwalku hari ini?" tanya nya
"Pemotretan majalah 2 jam dari sekarang. Lokasi pemotretan tidak jauh dari sini. Ohh, dan ada kunjungan rutin sore nanti ke perusahaan milik keluarga mu." jelas Lily
Joyceline mengangguk mengerti. Dia mengemas barang barang nya yang terdapat di atas meja dan beranjak dari duduknya. Tak lama kemudian, Lily juga turut beranjak dari sana.
"Baiklah, aku harus pergi. Bye Albert, semoga aku tidak melihatmu lagi hari ini atau mood ku akan benar benar rusak!" ucap Joyceline sambil berlalu dari hadapan Albert disusul dengan Lily.
Joyceline berjalan menuju ke arah lift. Dia membiarkan Lily menekan tombol lift dan menunggu beberapa saat hingga pintu lift sepenuhnya terbuka. Sesaat setelah pintu lift terbuka, keduanya langsung melangkah masuk ke dalam benda kotak itu.
"Kau tidak serius tentang menyukai David, kan?" tanya Lily
"Aku hanya sekedar menyukainya, Lily. Hanya itu." jawab Joy sambil tersenyum penuh kepercayaan diri.
Lily menghela nafasnya dan mengangguk. Bertahun tahun berteman dan bekerja sama dengan perempuan di sampingnya membuat dia hafal dan paham betul dengan sikap Joyceline.
Joyceline bersandar di bagian belakang lift. Dia melirik kaca tembus pandang yang berada di samping nya, pemandangan kota di siang hari adalah hal yang pertama menyambutnya. Tatapan Joyceline perlahan meyendu.
'Jika orang tua ku masih hidup, mereka pasti akan memberikan tebusan untuk ku. Tidak seperti Paman dan Bibi ku kemarin. Mereka sepertinya malah akan tertawa dan menari bahagia seandainya aku mati.'
'Karena dengan begitu, semua harta ku akan jatuh ke tangan mereka.'
Joyceline menghela nafasnya sesaat setelah memikirkan hal itu.
Tatapan sendu Joyceline dan bagaimana cara teman nya itu menghela nafas, membuat Lily mengalihkan perhatiannya sepenuhnya pada Joy. Dia menyimpan benda pipih datar yang sedaritadi di pegang nya untuk melihat jadwal Joyceline beberapa hari kedepan.
"Ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Lily
"Aku tidak habis pikir dengan Paman dan Bibiku." ucap Joyceline
"Bagaimana mereka bisa membiarkan aku seperti kemarin? Aku bahkan sempat mendengar salah seorang polisi yang mengatakan jika Paman dan Bibi ku sama sekali tidak menghubungi polisi untuk meminta bantuan." lanjut Joyceline
Lily menepuk bahu Joyceline untuk menenangkan.
"Dengan begini sangat terbukti jika Agensi jauh menyayangimu dibandingkan Paman dan Bibi mu." sahut Lily yang tidak menenangkan sama sekali
Joyceline mendengus dan mengangguk membenarkan.
"Lily, jika nanti kau melihatku terbunuh, kau sudah tahu kan siapa yang bisa dijadikan tersangka?" tanya Joyceline hampa
"Dasar si bodoh ini! Aku akan membunuh siapapun yang membunuh mu!" kesal Lily
Joyceline menatap Lily dengan penuh haru. Dia menatap perempuan yang lebih tinggi darinya itu dengan kedua mata berkaca kaca. Dengan dramatis, Joyceline menutup mulutnya, seakan sangat tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Lily.
"Kau mau melakukan nya untukku? Untuk sahabat baikmu?" tanya Joy penuh haru
"Tentu saja! Jika kau tidak ada, aku akan menjadi pengangguran! Aku kan manager sekaligus orang tua mu!" sahut Lily
Joyceline menghilangkan tatapan penuh haru nya. Dia menatap sebal Lily yang tertawa dengan bahagia sesaat setelah mengucapkan ucapan terakhirnya.
"Lupakan. Kau melakukan nya karena takut jadi pengangguran. Bukan karena aku temanmu." sebal Joyceline
Lily tertawa dan merangkul Joy dengan raut yang memerah. Dia berusaha menghentikan sisa tawa nya yang tentu saja berhasil memancing raut wajah Joy semakin keruh.
"Aku bercanda. Tidak mungkin aku akan membiarkan mu menghilang di tangan mereka. Kita hanya memiliki satu sama lain, kan? Jadi aku pasti akan menjaga mu." ujar Lily dengan senyum sumringah nya
Joy turut tersenyum dan memeluk Lily dengan hangat.
"Terimakasih, Lily." gumam nya
✳✴✳✴✳
Joyceline memasuki sebuah apartemen yang menjadi tempat pemotretan nya hari ini. Dia menolehkan kepalanya, mencari seseorang yang mungkin akan dikenalnya untuk sesi pemotretan hari ini.
"Mereka semua asing. Tidak ada temanku yang datang untuk menjalani pemotretan ini?" tanya Joyceline
Lily mengangkat kepalanya yang sedaritadi tertunduk, dia turut mengedarkan tatapannya sebelum akhirnya menggeleng.
"Aku rasa tidak ada." celetuknya singkat sebelum kembali menunduk, menatap benda pipih berukuran 11 inchi itu dengan seksama.
Joyceline mengangguk mengerti. Dia berjalan menghampiri lift dan menekan lantai yang di tuju nya. Keduanya menunggu beberapa saat hingga sampai lah mereka di lantai 7, tempat dimana sesi pemotretan majalah akan dimulai.
"Joyceline!" seru seorang laki laki dengan warna baju yang mencolok. Dia berlari dan beberapa kali menjerit tertahan ketika melihat Joyceline.
Joyceline menahan senyuman nya, "Hai Joe. Senang mendengar kau mau menjadikan ku model dari brand pakaian ternama milikmu." sapa Joyceline
Joe, pria yang sedikit melambai itu memekik tertahan dan menggeleng heboh.
"Aku yang sangat senang ketika mendengar kau mau menjalani pemotretan dengan ku!" seru nya
"Ayo, masuklah. Kau harus mengganti pakaianmu." ajak Joe
Joyceline masuk bersama dengan Lily, dia menatap kagum ruangan kosong yang ada di dalam apartemen. Ruangan yang di d******i oleh warna putih itu dihias dengan beberapa furnitur yang terlihat mewah.
Terlihat menarik dan tidak membosankan.
"Tema pakaianku kali ini adalah remaja dan elegan." jelas Joe sambil memperlihatkan beberapa desain nya
"Remaja? Kau tidak salah memilihku, kan?" tanya Joyceline geli
"Oh no no no tentu saja tidak, Dear! Apa kau tahu jika kau masih sangat cocok bergaya ala remaja?" sahut Joe
Dia menyodorkan beberapa setelan pakaian pada Lily, "Ini dia, Lily. Kau bisa membawa Joyceline untuk berganti pakaian di kamar sebelah. Disana aman dan aku pastikan tidak ada yang mengusik privasi mu." ujar Joe sambil mengedipkan sebelah matanya centil
Joyceline tertawa dan mengangguk. Dia dan Lily kembali berjalan menuju kamar yang bertuliskan nama Joyceline.
"Seperti biasa, Joe sangat memuja mu." celetuk Lily
"Sejauh ini memang benar benar hanya brand milik Joe yang terlihat pas dengan look khas remaja. Dan dia bilang aku cocok untuk look yang satu ini." sahut Joyceline sambil tertawa kecil
Lily mendengus dan menggelengkan kepalanya. Dia memisahkan pakaian pakaian itu dan menyimpan nya diatas tempat tidur.
"Ini, pakai yang ini terlebih dahulu." ucap Lily sambil menyodorkan setelan pakaian berwarna pastel pada Joyceline
Dengan menurut, Joyceline berjalan menuju ke kamar mandi dan mengganti pakaian nya. Tak lama kemudian, dia kembali dengan pakaian serba pastel nya.
"Bagaimana? Terlihat cantik?" tanya Joyceline sambil tertawa
"Yah, sempurna seperti biasanya." jawab Lily singkat. Kemudian dia membuka pintu kamat mereka yang di ketuk. Seorang perempuan dengan berbagai set alat make up nya datang.
"Hai Joyceline!" sapa perempuan itu
Joyceline tersenyum, "Hai. Senang bekerja sama denganmu." sahut Joyceline
"Kemari, duduklah." pinta perempuan itu sambil menepuk kursi rias yang berada tak jauh dari nya
Joyceline menurut. Dia duduk di kursi rias dan membiarkan perempuan tadi memberikan sentuhan make up pada wajahnya.
✳✴✳✴✳
Setelah berjam jam berkutat dengan semua kamera, blitz kamera dan pakaian bermerk milik Joe, Joyceline akhirnya keluar dari apartemen itu.
Dia berjalan seorang diri sambil memegang ponselnya. Joyceline mendongkak ketika merasakan sinar matahari yang sejak tadi menerpa nya terhalang oleh sesuatu.
"Oh." beo nya ketika melihat tubuh tinggi seorang pria yang baru kemarin dikenalnya
"Berhati hatilah, Joy. Daerah ini rawan perampokan. Apalagi tatapan mu terkunci pada ponsel sejak tadi." ujar David sambil tersenyum tipis
Joyceline tersenyum dan menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket yang dipakainya.
"Aku sedang melihat sesuatu yang penting tadi." sahut Joyceline
"Mau menyebrang? Aku lihat Lily ada di sebrang sana." tanya David
Joyceline berjinjit, dia melihat Lily dari balik bahu David. Perempuan itu tengah berbincang dengan seorang pria berpakaian Polisi.
"Iya, aku mau menyebrang." jawab Joyceline pada akhirnya
"Ayo bersama ku." ajak David. Dia berjalan ke sisi Joyceline dan merentangkan tangan kirinya, berusaha menyetop kendaraan yang melintas untuk menyebrang.
"Terimakasih." ujar Joyceline ketika sudah sampai disebrang
David tersenyum dan mengangguk. Dia berpindah ke posisi partner nya.
"Ohh iya, kenapa kalian ada disini?" tanya Joyceline
"Hanya kebetulan sedang lewat disekitar sini. Dan aku melihat Lily berada di sini sedang memarahi ban mobil." jawab Adam sambil tertawa kecil
Joyceline melirik Lily dengan tatapan 'kau-pasti-bercanda-kan?' ketika mendengar dari Adam jika managernya itu memarahi ban mobil.
"Ban nya bocor. Karena itu aku marah." sahut Lily
Dia melirik sinis Joyceline sebelum akhirnya berkata, "Jangan berfikir yang aneh aneh." ketusnya
"Loh?! Jika ban nya bocor lalu bagaimana dengan kita?!" cetus Joyceline
Lily menghela nafasnya, "Hubungi agensi. Beritahu jika kita memerlukan mobil." ujarnya pada Joyceline
Joy mengangguk dan meraih ponselnya. Belum sempat dia mendial nomor agensi nya, David terlebih dahulu menahan tangan Joyceline.
"Ada tempat yang akan kau tuju setelah dari sini?" tanya David
"Iya, aku harus ke perusahaan keluargaku. Ada kunjungan rutin." jawab Joyceline sambil mengangguk
"Kalau begitu, kita pergi bersama saja. Kebetulan aku dan David juga akan menemui keluarga mu. Mereka bilang, mereka ada di perusahaan." ujar Adam
Joyceline terlihat mengerutkan dahinya tidak suka. Pemandangan itu di tangkap oleh David.
"Keberatan untuk pergi bersama kami?" tanya David
"Ah bukan itu." sahut Joyceline cepat
"Baiklah, ayo pergi bersama. Aku juga tidak sabar ingin mendengar pembelaan apa yang 'keluarga' ku katakan tentang penculikan ku kemarin." lanjut Joyceline. Dia berusaha menahan nada sinis dan sarkas yang ini keluar dari mulutnya.
Sayangnya, sekuat tenaga Joyceline menahan nada itu, David dan Adam dapat dengan jelas mendengar nada ketidaksukaan yang terdapat dalam ucapan Joyceline.
Lily meringis, "Maaf ya. Joyceline selalu berada dalam suasana hati yang buruk saat mendengar jika Paman dan Bibi nya disebut sebagai keluarga nya." ucap Lily