↪Happy Reading↩
David melirik singkat Joyceline yang terlihat lebih diam sejak masuk ke dalam mobilnya. Namun dirinya juga enggan bertanya. Terlebih ketika menyadari jika aura Joyceline saat ini seperti benar benar tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Ekspresimu akan membuat banyak orang takut, Celine." tegur Lily ketika menyadari jika David berkali kali melirik wajah keruh Joyceline
Joyceline yang ditegur mengerjapkan matanya dan melirik Lily. Dia menyunggingkan cengiran kecil setelahnya.
"Aku kelelahan." celetuk nya
Lily menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Tahu betul jika teman nya itu sedang berbohong. Karena pasalnya, ini baru sore hari. Joyceline biasanya dapat menyelesaikan jadwal padatnya hingga subuh menjelang.
"Such a bad liar." gumam Lily
Joyceline melirik Lily dan menepuk bahu perempuan itu dengan raut kesal.
"Cukup bilang iya." desis Joyceline
Lily tertawa, dia enggan menanggapi apapun atas perkataan Joyceline. Yang mungkin akan memancing perhatian dan rasa keingintahuan dari Adam dan David. Dan berakhir dengan membongkar rahasia soal keluarga Joyceline.
Joyceline menyandarkan tubuhnya. Tatapan nya kembali mengarah keluar jendela.
"David, boleh aku bertanya?" tanya Joyceline
"Tentu." jawab David tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Tangannya dengan lincah memutar kemudi untuk mengendalikan mobil yang mereka kendarai.
"Apa Paman dan Bibi ku menelfon kalian saat aku diculik?" tanya Joyceline
David menukar tatapannya dengan Adam. Pria yang menjadi wakilnya itu malah melirik Joyceline yang berada di kursi belakang.
"Eum... Aku rasa tidak. Mungkin mereka tahu jika agensi mu akan mengurus hal ini...?" sahut David yang justru malah mengarah pada pertanyaan
Joyceline tertawa kecil, "Aku semakin tidak sabar ingin mendengar jawaban mereka tentang penculikan ku kemarin." ucap nya
"It's okay. Kita tahu jika Agensi sangat menyayangi semua artisnya." sahut Lily menenangkan sambil menepuk bahu Joyceline
Joyceline hanya tersenyum. Kemudian dia menutup kedua matanya dan menghela nafas.
"Lily, tolong bangunkan aku saat kita sudah sampai. Aku ingin mengistirahatkan mataku dari kilatan cahaya." gumam Joyceline
Lily mengangguk. Dia turut menyandarkan tubuhnya dan meraih benda berlayar 11 inch miliknya untuk menghubungi agensi soal mobil mereka.
✳✴✳✴✳
Joyceline berjalan masuk ke dalam perusahaan nya. Beberapa karyawan langsung tersenyum dan menyapa perempuan muda yang terbilang sukses dalam karir nya itu. Beberapa bahkan berdecak kagum. Tidak percaya jika mereka bekerja di perusahaan milik aktris muda ternama.
Joyceline, David, Adam dan Lily berjalan menuju lift terdekat. Lily langsung menekan tombol lift yang mengarah langsung ke lantai milik saudara Joyceline yang kini bertanggung jawab dengan urusan perusahaan, Queena.
Joyceline menunggu beberapa saat hingga lift berdenting. Pintu lift kemudian terbuka dan menampilkan ruangan besar bernuansa putih. Lantai ini di desain khusus untuk CEO.
Joyceline berjalan keluar dari lift dan langsung melangkahkan kakinya menuju satu satunya ruangan yang ada disana. Sebelum dia mengetuk pintu, terdengar suara perdebatan orang orang dari dalam ruangan.
Ada tiga suara yang mendominasi. Dan Joyceline hafal dengan ketiga suara itu.
Milik Paman nya, Bibi nya dan seorang lagi adalah milik pengacara keluarga nya yang diberi amanat dengan semua kekayaan keluarga Joyceline.
"Tapi kami memiliki pertimbangan untuk ini! Celine masih sibuk dengan dunia entertainment nya, bagaimana jika dia lalai karena harus menjalani dua kewajiban sekaligus?! Perusahaan ini bisa bangkrut!" terdengar Bibi nya berbicara dengan nada tinggi, membentak seseorang yang menjadi lawan bicara nya.
"Apa anda yakin ini bukan hanya siasat anda untuk mengambil alih perusahaan ini?" lalu suara pengacara keluarga nya lah yang terdengar
"Saya menemukan jika anda, telah berusaha mengambil alih perusahaan, rumah dan semua aset yang seharusnya menjadi milik Nona Joyceline. Anda berusaha mengalihkan semua aset berharga milik Tuan Aland yang awalnya atas nama Nona Joyceline, menjadi nama anak anda." lanjut pengacara itu
Joyceline terdiam. Dia menghentikan pergerakan nya untuk membuka pintu ruangan itu. Di sampingnya, ada Lily yang berdecak kesal setelah mendengar pembicaraan di dalam ruangan.
"Aku semakin yakin jika penculikan kemarin di dalangi oleh kedua orang licik itu, Celine." bisik Lily
"Mereka pikir, usaha mereka untuk melenyapkan mu dengan cara menculikmu akan berhasil. Karena itu mereka hendak mengalihkan semua aset mu menjadi atas nama Queena." lanjut Lily
Joyceline tersenyum dan melangkah kaki nya untuk duduk di kursi yang berada tepat di samping ruang CEO. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memejamkan matanya.
Sementara David dan Adam saling bertukar tatap. Mereka juga mendengar semua perdebatan yang terjadi di dalam sana. Soal pengalihan harta, aset dan semua kekayaan milik keluarga Joyceline. Keduanya lantas memberi jarak pada ruangan CEO itu.
Merasa tidak mempunyai kuasa untuk mendengar tentang masalah keluarga yang dialami Joyceline. Adam menyandarkan tubuhnya pada dinding kaca tebal yang berada di belakangnya.
"Aku rasa, ini bukan saat yang bagus untuk mengadakan pemeriksaan." ujar Adam dengan suara pelan
"Ya. Terlebih keadaan Joyceline yang cukup mengkhawatirkan. Jika memang dalang dari semua ini adalah keluarga nya sendiri, dia pasti merasa tertekan." sahut David sambil melirik Joyceline yang masih terdiam dengan mata tertutup
David menghela nafasnya, "Baik. Kita tunda pemeriksaan ini. Hanya saja, awasi keluarga Joyceline. Kita masih harus memeriksa fakta yang ada. Jangan karena mendengar hal ini, kita jadi menyimpulkan jika mereka sedang mencoba melakukan upaya pembunuhan." jelas David
Perhatian mereka teralihkan ketika mendengar Joyceline yang berdiri dari duduknya dan berjalan pergi begitu saja menuju tangga darurat. David bergerak cepat menyusul Joyceline. Dia tidak ingin jika perempuan itu bertindak sembarangan setelah mendengar perdebatan di dalam ruangan tadi.
"Temanmu... Kenapa menyusul Celine?" tanya Lily
"Tentu saja karena takut Joyceline melakukan yang tidak tidak. Kami perlu mengantisipasi." jawab Adam
"Kau sendiri? Kau teman nya, bukan?" tanya Adam
"Tentu saja." sahut Lily kalem
"Lalu? Kenapa tidak menyusulnya?" tanya Adam lagi
"Aku percaya Joyceline tidak akan mengambil tindakan sembrono. Walau dia terlihat seenaknya, tapi dia selalu mengambil semua tindakan dengan pertimbangan." jelas Lily
"Lagipula, aku perlu melakukan hal lain." lanjut Lily sambil mengendikkan dagu nya pada ruangan yang ada di sebrang mereka.
✳✴✳✴✳
Sementara di tempat lain, David mengerutkan dahinya ketika mendengar langkah Joyceline yang semakin naik ke bagian atap perusahaan. Dia semakin cemas setelah mendengar pintu atap yang dibanting.
"Joy?" panggil David dengan nafasnya yang terengah
Dia berlari dan langsung merengkuh tubuh langsing Joyceline yang berada di tepi pagar. David langsung membawa tubuh Joyceline untuk mundur dan menjauh dari pagar pembatas.
"Kau kira apa yang sedang kau lakukan?!" seru David. Dia menatap Joyceline dengan mata sedikit membelalak. Sementara yang ditatap justru balik menatap David dengan raut terkejut.
"Apa... Yang aku lakukan?" tanya Joyceline
"Ya! Kau kira apa yang mau kau lakukan?! Lompat dari pagar sana?!" sentak David
Joyceline tersentak dan melirik pagar tempatnya berdiri tadi. Dia kembali menatap David dan tertawa kecil.
"Jadi kau kira aku mau melompat?" tanya Joyceline
Masih dengan tawa nya, Joyceline bangkit dari tanah yang dia duduki dan kembali berjalan ke sisi pagar pembatas.
"Kemari." pinta Joyceline
David dengan cepat bergegas menghampiri Joyceline. Dia berdiri disamping perempuan itu dan menatap Joyceline dengan tatapan menghakimi.
"Lihat? Setelah pagar pembatas ini, ada sedikit ruang." ujar Joyceline sambil kembali melompati pagar pembatas. David menunduk dan menatap yang ada di depannya.
Benar. Ada ruang yang cukup besar disana. Bahkan ada pagar pembatas lagi disana. Ruang itu diisi oleh rumput palsu yang terlihat bersih.
Tatapan David mengarah pada sebuah rumah berukuran kecil yang terbuat dari kayu. Ada mangkuk dan tempat minum disana.
"Ini tempat hewan peliharaan ku." ucap Joyceline saat melihat tatapan David mengarah pada rumah kecil itu
Joyceline merendahkan tubuhnya, dia membuka pintu rumah rumahan kecil itu. Setelahnya, terlihat telinga panjang berwarna putih dengan kaki panjang berbulu yang melompat lompat. Kelinci.
Kelinci itu bergerak keluar dari rumah miliknya dan melompat menghampiri Joyceline.
"Tidak salah? Kau menyimpan hewan peliharaan mu di sisi gedung perusahaan?" tanya David bingung
"Yahh, bagaimana lagi? Hanya ini tempat yang aman bagi kelinci ku. Lagi pula ada cctv disini. Juga ada orang yang aku bayar untuk mengawasi hewan kesayanganku." jawab Joyceline ringan. Dia duduk di rerumputan palsu itu dan menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas. Tangannya mengusap dengan sayang hewan yang bergelung nyaman di pangkuan nya.
Joyceline menutup kedua matanya dan menghirup nafas panjang. Dia tidak menghiraukan David yang tengah menatapnya.
Kemudian David memutuskan untuk turun dan duduk di samping Joyceline. Dia melirik kelinci yang berada di pangkuan Joyceline. Hewan itu juga tengah menatapnya dengan kedua mata bulat nya yang besar. Terlihat penasaran dengan manusia lain nya yang datang bersama tuan nya.
Hewan berbulu lembut itu melompat dari pangkuan Joyceline dan menghampiri David. Kelinci itu kembali menatap David, seakan meminta izin untuk bergelung dipangkuan pria itu. Ketika David tersenyum, barulah kelinci itu melompat ke pangkuan nya dan bergelung nyaman disana.
Tangan David langsung bergerak mengusap hewan itu, menggantikan tangan Joyceline yang sebelumnya melakukan itu.
"Maaf karena sebelumnya mengira jika kau akan melompat dari sini." ujar David
"Tak apa. Aku terkejut melihatmu mengikutiku." sahut Joyceline tanpa membuka kedua matanya
"Kau pasti terganggu oleh ku, kan? Setelah melihat ini aku yakin kau kemari untuk menenangkan diri setelah mendengar pembicaraan di dalam tadi." ujar David, mencoba menenangkan Joyceline
Yahh, siapa yang bisa tenang setelah mengetahui jika dirinya bisa saja hendak dibunuh demi kekuasaan?
"Ini bukan yang pertama kali nya, David. Aku rasa... Sejak kedua orang tua ku tewas, aku tidak bisa bergantung pada orang lain. Terlebih orang yang sekarang mengaku sebagai keluarga ku." ucap Joyceline. Entah kenapa, berada di dekat David membuatnya bisa dengan leluasa menceritakan apa yang dia rasakan.
Entah karena David seorang polisi yang mungkin tidak akan bertemu lagi dengan nya di lain waktu, atau justru karena aura polisi yang David miliki membuat semua orang ingin mengakui sesuatu.
"Dan kau kemari untuk menenangkan diri, kan?" tanya David
"Iya." jawab Joyceline
"Tidak mengajak manager mu? Aku rasa, mungkin kau lebih baik berbicara dengan manusia juga. Dia mungkin akan memberikan mu saran atau menawarkan mu pilihan yang lebih baik." tanya David
Joyceline tersenyum, "Lily sudah seperti bagian dari diriku yang lain. Dia mengetahui semua yang terjadi padaku sejak dulu hingga saat ini. Aku tidak ingin menambah beban hidupnya. Ditambah dia sekarang menjadi manager ku." jelas Joyceline
"Aku bahkan yakin, jika Lily yang menyelidiki soal Paman dan Bibi ku yang mencoba mengambil alih harta peninggalan kedua orang tua ku dan melaporkan nya pada pengacara keluarga ku." lanjut Joyceline
"Dibandingkan merasa tertekan karena perlakuan orang orang yang saat ini mengaku sebagai keluarga ku... Aku lebih merasa tidak enak karena Lily harus terlibat dalam kegilaan Paman dan Bibi ku. Aku tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan jika ambisi mereka tidak terpenuhi." gumam Joyceline
"Kau punya aku sekarang." sahut David
"Karena ini mungkin bisa mengarah pada tindak kriminal dan berkaitan dengan pekerjaanku sebagai Polisi, aku berjanji akan menjadikan mu sebagai orang yang aku lindungi." lanjut David tegas
"Terimakasih." ucap Joyceline
Tanpa diketahui keduanya, seorang paparazzi memotret mereka dari gedung yang berada di sebrang mereka. Paparazzi itu tersenyum penuh kemenangan ketika melihat hasil fotonya.
"Ini pasti akan menjadi berita yang mengejutkan. Seorang publik figure, berkencan dengan seorang Polisi." ujarnya