↪Happy Reading↩
Keesokan harinya, tanpa mengecek semua sosial media milik nya, Joyceline bangkit dari tidurnya dan melangkah memasuki kamar mandi. Dia mengusap wajahnya dan menunduk di hadapan cermin kamar mandi. Joyceline membasahi wajahnya dengan air yang mengalir dari keran.
Dengan mata tertutup, Joyceline meraih botol berisi sabun muka dan membuka tutupnya. Dia menekan sabun itu dan mengaplikasikan benda cair itu ke wajahnya dengan gerakan lembut. Bagaimana pun, wajahnya adalah aset berharga nya.
Setelah memastikan wajahnya bersih dari sabun muka yang di pakai nya, Joyceline segera meraih handuk halus yang berada di samping kepalanya. Dia mengusap halus wajah nya dengan handuk itu hingga wajahnya tak lagi dibasahi oleh air. Setelah itu, dia meraih pasta gigi dan sikat gigi miliknya.
Joyceline mengangkat kepalanya dan menatap pantulan wajahnya dicermin. Dia tersenyum seketika.
"Cantik, seperti biasa." decak nya kagum ketika melihat wajahnya sendiri di cermin.
Selesai dengan kegiatan di kamar mandi nya, Joyceline segera keluar dari sana. Dia berjalan keluar kamar dan turun menuju dapur. Perempuan itu menyempatkan diri untuk melirik keadaan rumah nya yang masih gelap dan sepi.
Wajar saja, ini pukul 5 dini hari. Siapa yang mau membuat keributan di hari sepagi itu?
Untuk saat ini, tentu saja Joyceline yang akan menjadi pelaku dari keributan dini hari itu. Dia hendak menyiapkan bekal makanan untuk David.
Perlakuan manis pria itu cukup untuk membuat Joyceline terpesona pada nya. Terlebih, David juga bersikap sewajarnya pada Joyceline. Tidak terlihat seperti yang sedang menarik perhatian Joyceline.
Tidak seperti pria lainnya.
Hal itu yang membuat Joyceline tersenyum. Dia jarang mendapatkan perhatian tanpa maksud tertentu. Terkecuali dari Lily, tentu nya. Joyceline pastikan perempuan itu 1000% tulus pada nya. Tidak ada indikasi untuk mendekati nya demi uang atau ketenaran.
Jari Joyceline mengarah pada saklar lampu yang berada di samping pintu dapur. Dia menyalakan nya dan menatap dapur yang di d******i oleh warna putih. Peralatan dan benda benda nya terlihat terawat dengan baik oleh para pelayan di rumah ini.
Joyceline mengerjapkan matanya ketika sekilas melihat bayang bayang Ibu nya yang sedang memasak. Dia dengan cepat menutup mata dan mengusap mata nya yang sedikit basah.
"Tidak baik terpaku pada masa lalu." ujarnya tidak nyambung
Setelah merasa cukup dengan kegiatan termenung nya, Joyceline segera menghampiri meja dapur dan membuka kulkas yang berada di dekat nya. Dia mengeluarkan ayam fillet dan sayuran.
Tangan Joyceline bergerak lincah dengan pisau dan berbagai alat masak lainnya. Dia hendak membuat menu sarapan yang mudah, tapi bisa mengenyangkan.
Cukup lama Joyceline berkutat di dapur. Hingga seorang perempuan paruh baya masuk ke dapur dan terkejut ketika melihat Joyceline memakai apron dengan rambut yang terikat sedikit berantakan.
"Non? Kenapa Non yang masak? Biar bibi saja! Non tinggal sebut mau makan apa." ujar perempuan paruh baya itu panik. Dia menghampiri Joyceline dengan tergesa.
"Tak apa, bi. Aku ingin memasak bekal untuk sarapan ku sendiri. Bibi memasak saja untuk orang orang yang tinggal disini." sahut Joyceline dengan seulas senyuman
"Non nggak sarapan disini?" tanya perempuan paruh baya itu
Joyceline menggeleng, "Aku tidak mau. Aku akan makan nanti, sambil menuju ke agensi ku." jawab Joyceline
Joyceline melirik ke arah jam. Benda itu menunjukan pukul 6 pagi. Berarti sudah satu jam dia berkutat dengan semua alat masak ini. Dengan cepat Joyceline meraih tutup kotak makan yang berada tak jauh darinya.
Ketiga kotak bekal itu ditumpuk dan dimasukan dalam sebuah kantung kertas. Joyceline tersenyum puas dan segera meraih kantung kertas itu.
"Aku sudah selesai, bi. Bibi bisa pakai dapurnya." ujar Joyceline sambil tersenyum dan berlari keluar dari dapur.
Dia melirik Bibi nya yang sedang bermalas malasan di sofa. Tubuh perempuan itu hanya dibalut kimono tidur dan wajahnya tertutup oleh masker.
Joyceline mendengus dan segera kembali menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Dia segera menutup dan mengunci pintu kamarnya setelah memasuki kamarnya. Tangannya menyimpan kantung kertas itu ke atas meja rias. Setelahnya, Joyceline kembali memasuki kamar mandi. Dia harus membersihkan diri dan bersiap untuk pergi.
✳✴✳✴✳
Joyceline mengerutkan dahinya ketika melihat keramaian yang ada di depannya. Kantor polisi tempat David bekerja terlihat penuh sesak oleh wartawan.
"Apa lagi lagi ada sesuatu terjadi? Penculikan? Pembunuhan?" gumam Joyceline
Tanpa sengaja, dia melihat seorang Polisi yang selalu bersama David tengah mengintip dari jendela. Adam. Pria itu terlihat mengerutkan dahinya dan menatap sekitar dengan bingung.
Tanpa sengaja, tatapan nya bertemu dengan Joyceline yang masih berada di dalam mobilnya. Dia melambaikan tangannya dan membuat beberapa isyarat dengan jari dan mulut nya.
"Per-gi le-wat be-la-kang." ucap Joyceline ketika berhasil menerjemahkan isyarat dari Adam. Joyceline dengan cepat memutar mobilnya sebelum para wartawan itu menyadari keberadaan nya. Dia membawa mobilnya memasuki jalan lain yang juga mengarah pada kantor Polisi tempat David bekerja.
Joyceline menghentikan mobil nya dan melepad seatbelt nya. Dia keluar dari mobil dan menatap bingung Adam dan David yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Apa terjadi sesuatu? Aku melihat banyak wartawan di depan sana." tanya Joyceline cemas
Adam melirik David. Inspektur muda itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Joyceline.
"Ada apa? Aku yakin kau pasti memiliki kepentingan disini hingga menyempatkan diri untuk kemari sebelum menemui Lily." ucap David
Joyceline berseru pelan, dia berbalik dan meraih paper bag yang ada di dalam mobilnya. Joyceline mengeluarkan dua kotak bekal miliknya dan milik Lily. Menyisakan satu kotak bekal milik David yang sengaja dia buatkan.
Setelah itu, Joyceline kembali keluar dari mobilnya dan menghampiri David.
"Ini." ujar Joyceline sambil menyerahkan kantung kertas itu pada David
Dengan alis terangkat, David meraih kantung kertas itu dan mengintip isinya.
"Untukku?" tanya nya memastikan
"Tentu saja." jawab Joyceline sambil tersenyum
"Bagaimana denganku?" tanya Adam jahil
Joyceline meringis, "Aku lupa. Sebenarnya aku membuat tiga kotak bekal. Tapi sisa nya adalah milikku dan Lily." jawab Joyceline
"Tapi jika kau mau, kau bisa mengambil milikku." lanjut Joyceline cepat. Dia menyunggingkan senyuman lebar pada Adam yang kini meringis mendengar jawaban Joyceline.
"Tidak perlu, aku hanya bercanda. Lagipula aku selalu menyempatkan diri untuk sarapan." sangkal Adam. Tidak nyaman setelah mendengar jawaban tulus dari Joyceline atas candaan nya.
"Tidak seperti David yang jarang sarapan atau bahkan tidak pernah sarapan." lanjut Adam sambil menyunggingkan senyuman ke arah David yang masih terdiam sambil menatap kantung kertas berisi kotak makan yang diberikan oleh Joyceline.
"Oh? Kau tidak pernah sarapan?" tanya Joyceline terkejut
Dia dengan cepat menetralkan raut terkejut nya dan menatap David dengan seulas senyuman penuh arti, "Kalau begitu aku berjanji untuk memberikanmu kotak bekal mulai hari ini." seru Joyceline
"Ah tidak, tidak. Jangan, aku tidak ingin merepotkan." sangkal David
"Tidak merepotkan, tenang saja. Lagipula, aku juga membuat bekal untuk aku dan Lily. Dulu, Ibu ku selalu memarahi ku jika aku tidak ingin sarapan." sahut Joyceline
"Dan kali ini aku yang akan memarahi mu jika kau tidak sarapan." lanjut Joyceline sambil tertawa kecil
"Ide bagus! David selalu melewatkan makan siang nya dan hanya meminum kopi." cetus Adam, mendukung ide Joyceline tentang kotak bekal dan David.
Joyceline menatap David dengan takjub, "Kau tidak mungkin diet kan? Jika aku diet pun, tidak seekstrim itu hingga melewatkan semua jam makan ku." ucap Joyceline
Pembicaraan itu terhenti ketika suara dering telfon dari mobil Joyceline terdengar. Joyceline dengan cepat berlari dan meraih ponsel yang berada di dalam mobilnya. Dia dengan cepat menggeser incoming call itu ke warna hijau dan mendekatkan ponsel miliknya ke telinga.
"Ya?" ujar Joyceline
"Kau dimana? Ini sudah pukul 7, Celine! Biasanya kau sudah sampai di rumah ku pukul 6 untuk sarapan." terdengar sahutan dari Lily yang terdengar cemas
Eh, cemas?
"Aku masih di jalan. Ada apa? Apa sesuatu yang penting terjadi?" tanya Joyceline
"Astaga, sudah ku duga kau tidak mengetahui apapun! Setelah aku mematikan telfon ini, non aktifkan ponselmu! Cepatlah pergi ke Agensi lewat pintu belakang." perintah Lily
"Hng, okay." sahut Joyceline
Tak lama kemudian, Lily mematikan sambungan telfon mereka. Joyceline juga dengan cepat me-non aktifkan ponsel miliknya dengan perasaan bingung. Setelah itu, Joyceline menyimpan ponselnya ke dalam mobil dan menghampiri David.
"Baiklah, hanya itu yang ingin aku berikan. Setelah ini, aku berjanji akan mengirim kotak bekal untuk mu setiap pagi. Jangan lewatkan jam makan mu!" ujar Joyceline
David tersenyum dan mengangguk, "Lakukan itu jika tidak merepotkan mu. Dan terima kasih untuk bekal ini." sahut nya
Joyceline mengangguk. Dia tersenyum pada Adam dan kembali berjalan memasuki mobilnya.
"Kau tidak mau memberitahu nya soal gosip itu? Dan... Sebenarnya dia tahu atau tidak tentang gosip itu?" tanya Adam
"Sepertinya tidak. Joyceline adalah pribadi yang mudah ditebak. Dan jika dia tahu, aku yakin dia tidak akan menghampiri ku pagi ini." jawab David sambil menatap mobil Joyceline yang berjalan keluar dari wilayah kantor polisi
✳✴✳✴✳
"Lily, ada apa? Entah kenapa, aku merasa jika para wartawan sedang mengikuti ku! Mereka ada di jalanan, ada di kantor polisi David dan sekarang ada di depan agensi?!" pekik Joyceline saat Lily menjemputnya di pintu belakang agensi
Perempuan yang sedang memasang raut serius itu melirik Joyceline dan mengerutkan dahinya, "Tunggu. Apa yang tadi kau katakan?" tanya Lily
"Para wartawan sedang mengikuti ku." jawab Joyceline polos
"Bukan yang itu. Setelahnya." ujar Lily
"Ah! Para wartawan ada di jalanan, di kantor Polisi David dan sekarang ada di agensi." ucap Joyceline
"Dan apa kau bisa menyimpulkan sesuatu dari hal yang kau lihat dan kau ucapkan?" tanya Lily
"Apa agensi sedang mencoba menjadikan David sebagai bagian dari kita?" tanya Joyceline polos
Lily mengerang, "BUKAN ITU!" kesalnya
"Aku benar kan? Kau adalah orang terakhir yang akan menyadari jika sesuatu sedang menimpa mu." ujar Lily
"Apa? Sebenarnya ada apa?" tanya Joyceline
"Rumor tentang hubungan mu menyebar, Joyceline. Seseorang memotretmu kemarin di atap perusahaan!" jelas Lily
Joyceline menatap Lily dengan aneh, "Memang nya apa yang dia foto? Di atap hanya ada aku dan Michael kelinci ku! Apa wartawan itu mengira jika aku menjalin hubungan dengan seekor kelinci?!" rutuk Joyceline
"Coba ingat kembali. Kemarin kau berada di atap dengan siapa." pinta Lily
"Dengan Michael dan..." gumam Joyceline menggantung. Joyceline mengerjapkan matanya berkali kali sebelum akhirnya melanjutkan ucapan nya, "Dan David." lanjutnya dengan nada pelan di akhir kata
"Jadi seorang paparazzi mengira jika aku mempunyai hubungan dengan David? Tapi kemarin dia hanya mengusap Michael! Kelinci genit itu berbaring di pangkuan nya dan meminta David untuk mengusap nya!" protes Joyceline
Lily menghela nafasnya. Dia membuka ruangan pribadi milik Joyceline yang ada di perusahaan. Setelah Joyceline masuk ke dalam ruangan, Lily menutup pintu ruangan nya dan menyalakan televisi yang ada di dalam ruangan.
Dia terus menerus memindahkan channel yang ada di televisi. Dan semua pemberitaan yang ada di semua saluran channel itu cukup untuk membuat Joyceline jengah. Terlebih karena headline yang ada di channel gosip itu sangat mengundang hasrat ingin menghujat yang ada di dalam diri Joyceline.
"Tidak tahan ingin berpacaran, dua pasang kekasih ini bermesraan di atap?!" histeris Joyceline
"Di saluran lain bahkan mereka masih mencari kebenaran atas skandal ini! TAPI KENAPA CHANNEL INI BERBEDA?!" lanjutnya
Lily menghela nafasnya, "Mungkin karena foto yang disebarkan oleh paparazzi itu. Sudut yang didapat oleh nya sangat tepat." ujar Lily
Dia mempause sebuah saluran gosip yang menampilkan foto nya dan David diatap. Pria itu tengah berada di hadapan Joyceline dengan kepala yang sedikit miring. Keduanya terlihat seperti sedang berciuman dari sudut ini.
"Karena foto ini, channel tadi menyimpulkan jika kalian tengah berkencan." ujar Lily
"Ugh, pasti paparazzi ini adalah amatiran. Sudut yang dia ambil dari foto ini membuat fotonya terlihat m***m!" rutuk Joyceline
Lily mencubit pipi Joyceline dan menariknya dengan perasaan kesal.
"Pikirkan karir mu, bukan sudut foto ini diambil!" gemas Lily
"Pikirkan juga perasaan David. Bagaimana pun dia seorang Polisi. Dia pasti tidak nyaman menjadi perhatian publik seperti ini!" lanjut Lily
Seketika Joyceline termenung.
Benar, tidak mungkin David tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Terlebih para wartawan berada di luar tempatnya bekerja. Tidak mungkin David tidak mengetahui alasan dibalik datangnya para wartawan itu.
Tapi... Kenapa pria itu tidak mengatakan apapun pada Joyceline?
"Jika keramaian seperti ini terjadi terus menerus, bisa bisa David kehilangan pekerjaan nya. Kehebohan seperti ini tidak bagus untuk seorang polisi sepertinya. Ini akan menghambat pekerjaan nya." jelas Lily
Bahu Joyceline melemas. Dia tahu betul bagaimana gigihnya para wartawan ini untuk mencari informasi. Bukan hal mustahil jika para wartawan akan mengusik kehidupan pribadi David. Dan itu akan berimbas pada pekerjaan yang pria itu miliki.
"Saranku, jauhi David terlebih dahulu." ucap Lily
"Untuk menjauhinya, aku mungkin tidak bisa..." gumam Joyceline dengan suara mencicit
"Kenapa?" tanya Lily
"Aku sudah berjanji untuk mengirimkan kotak makan untuknya setiap pagi." cicit Joyceline dengan suara pelan
Lily mengerang, "Baiklah. Sebatas mengantarkan makan siang. Tidak ada skinship, tidak ada adegan kissing atau tidak ada hangout bersama." tegas Lily
Joyceline tersenyum dan mengangguk, "Baik! Aku akan menuruti hal itu demi kebaikan aku dan David sendiri." ucapnya
"Dan catat satu hal lagi, Lily. Aku rasa aku belum segila itu hingga melakukan adegan skinship atau kissing dengan seseorang yang baru aku kenal!" celoteh Joyceline
Lily terkekeh, "Yah siapa tau? Kalian sudah dewasa."