Chapter 6 "Pria baik yang berbahaya"

2210 Words
↪Happy Reading↩ "Wow David. Aku kira kau lebih cocok disebut sebagai selebriti dadakan." decak Shanna yang membuat David menoleh pada perempuan yang menjadi sepupu nya itu David tersenyum, terlebih ketika melihat Shanna datang mendekati nya dengan perut yang membesar. Perempuan itu kini tengah hamil besar. "Aku dengar gosipnya. Kau tidak mau menceritakan nya padaku?" tanya Shanna dengan sebelah alis terangkat, menggoda pria tampan di samping nya soal Joyceline dan hubungan 'baru' mereka yang tengah hangat dibicarakan oleh netizen "Kau tahu betul, aku tidak suka menjadi perhatian kan?" sahut David "Ah, dia cantik." ucap Shanna sambil menatap lurus televisi yang ada di depan nya David turut menatap televisi yang sedang di lihat oleh sepupu nya itu. Ada Joyceline disana, tersenyum cerah menatap kamera. Di pipi nya terdapat olesan dari sebuah krim yang diiklan kan oleh nya. "Kau lihat kan, Shanna? Dunia kita terlalu berbeda. Dia terlihat sangat nyaman berada di depan kamera. Tidak seperti aku." ujar David "Lagipula, hubungan kami tidak seperti apa yang dibicarakan oleh orang orang. Dia hanya seseorang yang kebetulan aku selamatkan saat diculik." lanjut David Shanna mengalihkan pandangan nya pada David. Dia menatap David dengan penuh ketertarikan. "Di culik? Kenapa?" tanya Shanna "Yah... Apalagi? Karena dia artis. Mungkin penculiknya juga mengira jika dia bisa mendapatkan uang yang banyak dari keluarga nya dengan menyandera Joyceline." jelas David "Ah benar juga. Resiko seorang publik figur terkenal. Ada berbagai ancaman. Maafkan aku, bergaul lama lama dengan Chaim membuat kinerja otak ku melemah." sahut Shanna "Lalu? Bagaimana? Apa penculiknya berhasil mendapat uang banyak?" tanya Shanna penasaran "Tidak. Adam menginterogasi para penculiknya. Dan mereka semua mengatakan jika keluarga Joyceline sama sekali tidak memberikan tebusan untuk Joyceline. Malah Agensi perempuan itu yang sangat panik." ucap David Shanna menghentikan pergerakan nya untuk meraih biskuit Ibu hamil nya. Dia menatap David dan mengerutkan dahinya. "Aku tidak yakin jika orang yang mereka maksud sebagai keluarga adalah 'keluarga' yang asli." celetuk Shanna "Memang bukan keluarga asli. Kedua orang tua Joyceline sudah tewas dalam sebuah kecelakaan. Keluarga yang tersisa sekarang hanya Paman dan Bibi nya." gumam David Suara dering telfon dari ponsel yang David kenakan membuat pembicaraan mereka terhenti. Dia mengerutkan dahi ketika melihat ID caller yang menghubungi nya adalah Adam. "Ya Adam?" sapa David "Kau dimana, sir? Bukannya kemarin kau meminta ku untuk menjemputmu selagi para wartawan masih menggila dan mencari informasi tentang mu?" sahut Adam David mengerang dan menepuk dahi nya. Dia dengan cepat meraih lencana miliknya yang masih berada di atas meja. Setelah nya, dia langsung duduk di samping Shanna dan memakai sepatu nya. "Ada tugas memanggil. Aku harus pergi bekerja. Kau tinggal saja disini selagi kau nyaman." ujar David tergesa "Ah aku juga akan pergi. Kebetulan sebentar lagi suami ku tercinta akan menjemputku." sahut Shanna sambil tersipu malu "Kau menyebut suami mu ini dengan kata 'tercinta' saat dia tidak ada di hadapan mu. Padahal jika bertemu, kau selalu memarahi nya." Terdengar suara Damian yang berjalan memasuki rumah David. Dia tersenyum menyapa pada David dan merangkul pinggang Shanna. "Ayo pulang." ajak Damian Shanna memanyunkan bibirnya dan mengangguk. Tapi kedua tangannya refleks memeluk Damian yang berdiri di samping nya. "Ada tugas malam malam, David?" tanya Damian "Iya. Ada tugas mendadak." jawab David Damian mengangguk mengerti. Dia membawa Shanna keluar dari rumah David. Bersamaan dengan itu, David juga turut berjalan keluar dari rumah nya. Dia menenteng jaket jeans di tangan kiri nya. Langkah ketiga nya terhenti ketika merasakan ada kilatan cahaya berasal dari balik pepohonan. Tidak terlalu besar memang, tapi cukup untuk ketiga nya menyadari jika... Ada seseorang yang mengambil gambar mereka tanpa izin. "Mereka lagi." keluh David Damian melirik Shanna. Dia mengangkat satu alisnya. Seakan saling mengerti satu sama lain, Shanna mengangguk membenarkan. "David, masuklah ke rumah Shanna. Ada jalan bawah tanah yang akan membawa mu langsung ke jalan perkotaan. Mereka tidak akan bisa mengikuti mu." ujar Damian memberi saran David mengangguk, "Baiklah. Aku pergi." pamitnya Shanna dan Damian menatap kepergian David hingga tubuh pria itu menghilang di balik pintu rumah Shanna yang berada di samping rumah David. "Kau tahu, sayang? Aku merasakan... Jika kehidupan David akan diwarnai oleh sesuatu yang rumit dimulai dari sekarang." bisik Damian pada Shanna. Dia mendekatkan dirinya pada Shanna dan mengecup singkat sudut bibir perempuan itu. "Baiklah, pria m***m. Aku masih marah padamu. Jadi jangan mencoba menggodaku." balas Shanna sambil berbisik ✳✴✳✴✳ David menyandarkan tubuhnya ke sisi dinding. Dia memasang telinga nya rapat rapat, mencoba mendengarkan pembicaraan yang terjadi antara umpan dan target. "Nona, kau bisa pastikan jika aku akan memberikanmu pekerjaan dengan gaji yang besar. Kau bisa mendapatkan gaji pertama dengan nominal yang besar jika bergabung dengan kami." terdengar suara pria yang berusaha meyakinkan seseorang, yaitu seorang polisi perempuan yang menjadi umpan untuk operasi kali ini. "Mustahil! Aku tidak yakin. Aku menyesal datang ke tempat ini! Janji mu sangat tidak meyakinkan." sahut seorang perempuan "Arrggghh! Lalu kau ingin aku mengatakan apa?!" si pria mengerang kesal "Katakan padaku, pekerjaan apa yang sebenarnya kau janjikan padaku?" "Menjadi supir!" "Apa?! Menjadi supir?! Kau akan memperkerjakan seorang perempuan sebagai supir?!" "Bukan supir biasa! Dan ini bukan pekerjaan biasa. Kami membutuhkan seorang supir perempuan untuk mengantarkan paket. Dan hanya perempuan!" tegas si pria "Kenapa harus perempuan?" "Kenapa kau sangat gemar bertanya?!" sentak pria itu "Karena kau bilang pekerjaan ini mempertaruhkan kebebasanku! Jadi aku ingin tahu, apa gaji dan pekerjaan itu sepadan dengan kebebasanku?" jawab si perempuan "Kami membutuhkan perempuan sebagai pengedar! Atasanku bilang jika petinggi Polisi yang berjaga di pelabuhan itu menyukai perempuan dan tentu saja kau bisa melewati penjagaan dengan mudah. Setelahnya, kau hanya perlu mengantarkan paket itu ke gudang. Puas?!" David mengeratkan jari jemari nya pada pistol yang ada di tangannya. "Alpha, target terkunci. Kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan." terdengar juga suara dari Adam. Pria itu mengawasi target dari arah lain. "Dalam hitungan ketiga." lirih David David berjalan perlahan, membawa kakinya untuk mendekat pada ruangan di samping nya. "Satu..." "Dua..." "Tiga, sekarang!" David langsung berlari dan menodongkan moncong pistolnya pada seorang Pria yang sedang bersama partner nya yang menyamar. Mata nya menatap tajam pria berkulit eksotis yang berada di depannya. David mengeratkan cengkraman nya pada senjata api miliknya. Pria ini, pria yang ada di depannya adalah seseorang yang turut mengajak Dionald adiknya ke jalan yang salah. Pria ini juga adalah orang yang memberikan obat obatan terlarang pada sepupu nya, Annie. "Elvan Fabio, anda ditangkap atas penyalah gunaan, pengedaran obat terlarang dan sebagai penduduk ilegal. Anda akan dihukum sesuai dengan pasal yang berlaku dan kau dipersilahkan membela diri di depan hakim." seru David ✳✴✳✴✳ Keesokan paginya, David terkulai lemas di meja nya. Dia mengantuk. Ditambah penangkapan malam kemarin dinilainya sangat emosional. David berusaha mati matian menahan kepalan tinju nya untuk tidak melayang pada Elvan. Beruntunglah ada Adam yang peka dengan keadaan. Jadi dia langsung memborgol lengan Elvan dan menyeret pria itu ke dalam mobil polisi. Setelah mobil polisi itu melaju, Adam kembali dan menatap David yang masih terlihat kesal. Tanpa berkata apapun, David dan Adam berjalan ke dalam mobil masing masing dan turut melaju ke kantor polisi. Dan ya, disini lah keduanya sekarang. "Inspektur David, kau tidak boleh meminum kopi." ujar Adam ketika David bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mesin kopi yang berada di pojok ruangan. "Aku mengantuk." jawab David singkat. Dia mengerjapkan matanya dan meraih cangkir kecil, mengisi nya dengan kopi yang berasal dari mesin. Tak lama kemudian, pintu ruangannya di ketuk pelan. Seolah memperbolehkan tamu nya masuk, pintu itu terbuka dengan lebar. Menampilkan sosok Joyceline yang mengerjapkan matanya dengan tangan yang masih terangkat diudara. "Oh? Pintunya terbuka sendiri! Aku tidak mendorongnya!" jelas Joyceline dengan tergesa ketika melihat dua pasang mata menatapnya Kemudian tatapan Joyceline mengarah pada cangkir bening di tangan David. Dia mengenal jelas cairan berwarna pekat yang terdapat di cangkir itu. "Oh, jangan minum kopi di pagi hari. Aku tebak kau belum mengisi perutmu, kan?" tanya Joyceline dengan raut wajahnya yang sumringah. Terlihat kontras dengan David yang masih terlihat lesu setelah malam kemarin dia begadang. Joyceline melangkahkan kaki nya untuk memasuki ruangan David. Di tangan nya terdapat paper bag berisi kotak bekal. Dia melangkah menuju meja yang tertulis kan nama David. Kemudian dengan hati hati (terlebih dia tahu banyak berkas yang mungkin penting di meja David) Joyceline mengeluarkan satu persatu kotak bekal dari dalam paper bag. "Aku membawakan bekal juga untukmu!" seru Joyceline saat melihat wajah iri Adam Benar saja, ada dua kotak bekal berukuran cukup besar. Satunya, dia serahkan pada David dan satunya lagi dia serahkan pada Adam. "Di dalam nya ada menu untuk sarapan dan ada buah buahan di space yang terpisah." jelas Joyceline dengan senyuman lebar "Jangan minum kopi, aku sudah membawakan jus. Minum kopi itu nanti, setelah mengisi perutmu." lanjut Joyceline "Baiklah, aku tidak bisa berlama lama. Aku pergi dulu ya? Jangan lupa habiskan sarapan kalian atau aku akan marah." gurau Joyceline sambil kembali melangkah keluar dari ruangan David "Joyceline, tunggu!" panggil David. Dia dengan tergesa mengambil mantel yang di sampirkan di kursi kerja miliknya. "Ini, pakai ini. Kau pasti terlalu sibuk dengan kotak bekal milik ku hingga lupa membawa jaket, kan? Jadi pakai punyaku. Cuaca sedang dingin dan kau... Memakai pakaian yang terbuka." ujar David sambil memakaikan mantel pada bahu terbuka Joyceline. Wajah Joyceline merona. Terlebih saat wajah David berada di dekat bahu nya. Saking dekatnya jarak mereka, Joyceline bisa merasakan nafas David yang berhembus teratur menerpa kulit nya. Belum lagi dengan aroma parfum David yang maskulin. "A-ah terima kasih." gagap Joyceline. Dia menunduk, menatap dirinya sendiri yang sekarang memakai mantel milik David yang berwarna hitam. Benda hangat itu melindungi perut dan bahu nya dari angin pagi hari yang dingin. David tersenyum dan mengangguk. Joyceline semakin salah tingkah. Dia dengan cepat berbalik dan pergi dari sana. Beberapa kali menyapa Polisi yang berpapasan dengannya dengan seulas senyuman ramah. Ketika Joyceline keluar dari kantor Polisi, dapat dia rasakan pipi nya merona. Bukan karena cuaca dingin, tapi karena perlakuan singkat David padanya yang menimbulkan detakan tidak wajar di jantung nya. Joyceline menipiskan bibirnya, berusaha menahan senyuman lebar yang sangat ingin dia keluarkan ketika mengingat jarak antara dirinya dan David saat pria itu memakaikan mantel. Tidak ingin terlihat gila, Joyceline segera masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak lagi menahan senyuman lebarnya. Bibir tipis berwarna pink rose itu tersenyum dengan indahnya, dia melemaskan tubuhnya pada sandaran kursi dan memejam kan matanya. "Aku rasa... Aku benar benar jatuh cinta." bisiknya ✳✴✳✴✳ "Mood mu sedang bagus?" tanya Lily ketika melihat Joyceline tersenyum lebar. Bahkan setelah berjam jam pemotretan. Biasanya perempuan itu akan mengeluhkan sesuatu pada Lily. Entah lelah, pakaian yang dia pakai atau apapun itu yang bisa dia keluhkan. Tapi sejak awal, ketika sepatu yang dipakainya terlalu kecil, Joyceline hanya meringis sambil tersenyum lebar. Ketika kaki nya yang lecet sedang di obati pun, Joyceline masih tersenyum lebar. Seharusnya itu hal yang bagus... Tapi ketika mengingat senyuman Joyceline yang masih bertahan ketika seorang staff tanpa sengaja menumpahkan kopi nya pada iPad Joyceline... Lily mulai ketakutan. "Lily, sepertinya aku benar benar jatuh cinta!" seru Joyceline pada Lily dengan mata yang berbinar Lily yang melihat itu mengerutkan dahinya. Dia menempelkan punggung tangan nya pada Joyceline, mengecek suhu tubuh perempuan itu dan membandingkan nya dengan suhu tubuh nya sendiri. "Normal." gumam Lily "Aku serius, Lily. Aku rasa, aku jatuh cinta." gumam Joyceline "Aku juga serius. Aku rasa, ada yang salah dengan kepalamu." sahut Lily "Atau mantel hitam yang kau gunakan tadi mengandung bahan berbahaya?" tanya Lily pada dirinya sendiri "Ahh, mantel itu... Hehehehehehe." ucap Joyceline sambil tersenyum malu malu dan melirik mantel yang berada di samping nya. "Aku rasa benar. Mantel ini yang salah. Aku akan membawa nya ke agensi dan meminta mereka untuk mengecek apa ada sesuatu yang berbahaya di dalam mantel ini. Serbuk atau apapun yang bisa membuat pemakainya gila." tegas Lily. Dia langsung mengambil mantel itu dan dibalas oleh raungan tidak terima Joyceline. "Jangaannnnn, itu mantel dari belahan jiwaku!" kesalnya. Lily tersentak kaget, dia menoleh dan menaikan dua alisnya saat mendengar dua kata di akhir kalimat milik Joyceline yang mengandung unsur ke-alayan. "Pardon? Apa yang baru kau ucapkan?" tanya Lily "Itu mantel dari David! Dia memberikan nya padaku. Dia bilang, dicuaca sedingin ini, aku memakai pakaian yang terbuka. Jadi dia meminjamkan mantel nya padak!" jawab Joyceline sambil merebut mantel itu dari tangan Lily. Lily mengerjapkan matanya dan mendekatkan kepalanya pada Joyceline. Dia mengendus udara dan memberikan wajah menyebalkan nya pada Joyceline. "Aroma apa ini?" tanya nya malas "Ahh, ternyata aroma bucin." lanjutnya meledek Sementara di tempat lain, selepas Joyceline keluar dari kantor Polisi, Adam memberikan tatapan jahil nya pada David. "Kau memberikan mantel mu agar Joyceline tetap hangat? Ah romantis sekali." ujarnya David tersenyum, "Dia memakai pakaian yang terbuka di cuaca sedingin ini. Apa salahnya jika aku memberikan mantel ku padanya?" sahutnya. Dia menyimpan cangkir kopi nya dan beranjak menuju tempat duduknya sendiri. David membuka kotak bekal yang diberikan oleh Joyceline. Sayuran, daging dan buah buahan. Benar benar sarapan yang lengkap untuk mengawali hari. "David, dari ucapanmu... Apa kau menyukainya?" tanya Adam setelah berhasil menelan sayuran yang di kunyah nya "Tidak. Aku hanya kasihan padanya." jawab David sambil mulai memakan makanan nya Sementara itu, Adam menyimpan garpu nya dan menatap David dengan wajah terkejut. "Jadi kau hanya berbaik hati?" tanya Adam terkejut. Dia tambah terkejut ketika melihat David mengangguk. "Kau tahu, David? Aku rasa pria baik hati sepertimu jauh lebih berbahaya dibandingkan pria b******k diluaran sana." ujar Adam jujur
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD