Adam menyimpan gelasnya di atas permukaan meja. Dia menatap David yang terlihat kacau dengan kerutan di dahi nya.
"Jadi ini yang membuatmu kacau hari ini?" tanya Adam serius
David mengangguk, "Tentu saja. Aku tidak bisa berfikir jernih. Terlebih jika aku memejamkan mataku, bayangan seorang perempuan yang tengah menangis selalu saja terlihat." jawab David
Adam menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kekacauan yang bisa dibuat oleh seorang David Legiond yang terkenal kalem yang penuh kharisma ketika sedang mabuk.
"Mulai saat ini kau harus menjauhi alkohol." ucap Adam. Dia berdecak dan menatap David dengan mata memicing, "Lalu kau ingin memulai pencarian dari mana? Kau tahu sendiri jika kantor kita sedang disibukan oleh banyak hal."
"Dari ciri ciri yang kau sebutkan tadi, noda darah, bekas cakaran dan uang mu yang utuh... Sudah jelas dia bukan PSK." jelas Adam
"Dia memberontak dan tidak merampok mu sama sekali. Padahal kau sedang mabuk dan dia mengantarmu tepat di kamar mu. Sudah jelas dia mengetahui jika kau berasal dari keluarga berada. Dia juga sudah jelas bukan PSK karena dia menunjukan perlawanan dan... Dia berdarah. Mungkin saat mabuk kau sembarang menarik orang." lanjut Adam sambil bergidik ngeri
David menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Dia memijit dahi nya dengan perlahan, tidak habis pikir dengan apa yang akan dihadapi nya karena kecerobohannya.
Adam yang melihat bagaimana kacaunya David, memberikan tatapan prihatin nya.
"Bagaimana dengan CCTV? Kau bisa mengecek nya dari sana." saran Adam
"Aku tidak yakin. Tapi aku akan mencoba nya nanti. Aku akan mencari tahu siapa perempuan itu." sahut David
Pembicaraan keduanya terhenti ketika melihat Joyceline yang tengah berjalan seorang diri di luar cafe. Perempuan itu memakai payung, mengingat hari ini, hujan tiba tiba turun di tengah hari.
"Apa yang dia bawa?" gumam David saat melihat di tangan kanan Joyceline terdapat kantung plastik berwarna putih.
"Es krim?" lanjutnya
Adam mengerutkan dahinya. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan membuka chat room nya dengan Lily, manager dari Joyceline.
"Joyceline benar benar memberi es krim? Tapi Lily bilang jika perempuan itu tengah sakit hari ini." ujar Adam
David melirik Adam dan menaikan satu alisnya, "Kau dekat dengan Lily?" tanya nya
Pertanyaan David itu membuat Adam salah tingkah. Dia menyimpan ponselnya kembali sebelum akhirnya berdeham kecil. Enggan menjawab pertanyaan David.
"Aku akan menghampiri Joyceline. Jika sakitnya tambah parah karena dia memakan es krim, Lily akan sangat sedih." ucap Adam sambil beranjak
Belum sempat dia pergi, David terlebih dulu menahan nya. Dia berdiri dan tersenyum pada Adam, "Biar aku saja. Aku harus berterima kasih karena dia selalu memberikan ku makanan." tukas pria itu
Adam mengangguk dan kembali duduk di kursi nya. Memperhatikan Joyceline yang masih berada di seberang jalan.
"Hai." sapa David
Joyceline tersentak kecil. Dia melangkah mundur beberapa langkah untuk menghindari David. Tangannya meremas gagang payung yang dipegang nya dengan gugup.
"Hai, David." balas Joyceline sambil tersenyum dengan kaku nya.
"Hari ini hujan, dan... Kau hendak memakan ice cream?" tanya David sambil mengendikan dagu nya pada kantung plastik yang ada di tangan Joyceline
"Apa salahnya?" tanya Joyceline
"Aku dengar kau sakit." jawab David
Kedua mata Joyceline melebar, menatap David dengan sebuah harapan yang tanpa sadar meluap begitu saja. Berharap agar pria itu mengingat bagaimana perlakuan nya pada Joyceline semalam.
"Aku dengar dari Adam. Dan dia tahu dari Lily. Jadi, aku kira ice cream bukanlah hal yang baik untuk mu." lanjut David
Kedua mata Joyceline meredup, kehilangan binar penuh harap yang dia layangkan pada David secara tanpa sadar. Bibirnya mengulas senyuman tipis, 'Benar. Dia mabuk. Tidak mungkin dia ingat apa yang sudah dia lakukan padaku.' pikir Joyceline
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang kesehatanku." ujar perempuan itu. Joyceline menghela nafasnya sebelum akhirnya mengulas senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya.
"Aku harus pergi. Selamat tinggal!" lanjut nya pada David. Joyceline melambaikan tangan nya dan beranjak meninggalkan David begitu saja. Dia berjalan cepat walau sesekali meringis ketika merasakan sakit di pangkah paha nya.
David berbalik, dia memperhatikan tubuh kecil Joyceline yang perlahan mulai menghilang ditelan oleh jarak yang memisahkan keduanya.
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Entah kenapa, aku merasa jika dia menghindariku."
✳✴✳✴✳
Setelah berjalan jauh, Joyceline tiba di rumah miliknya. Rumah sederhana yang jauh lebih kecil dibandingkan rumah miliknya yang ditinggali oleh Paman, Bibi dan sepupu nya. Dia beranjak masuk dan menidurkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Baiklah." ucap Joyceline
"Mari kita anggap jika... Kejadian semalam bukanlah apa apa. Ya. Begitu saja." gumam nya
Joyceline menghela nafasnya. Dia memandang udara kosong di hadapan nya, "Aku harus menghindari David. Aku tidak baik baik saja saat bertemu dengannya. Aku bahkan takut saat bersentuhan dengan nya tanpa sengaja seperti tadi."
Joyceline merenungkan nasib nya. Dia tidak pernah memiliki pacar, dia tidak mengalami masa masa pubertas seperti teman sebaya nya saat remaja. Bahkan, saat menjalani syuting beberapa film pun, Joyceline selalu menolak adegan kissing yang biasanya adalah hal yang "lumrah" untuk seorang artis.
Dan kini, tiba tiba mahkota nya diambil begitu saja oleh David. Pria yang tidak akan pernah menjadi miliknya.
Tiba tiba Joyceline tertawa. Tawa miris lebih tepat nya. Dia mengingat jelas bagaimana David memanggilnya kemarin malam.
Adelia.
Pria itu membisikkan nama itu. Mendesahkan nama itu. Dan mengucapkan nama itu dengan penuh kelembutan.
Sekali mendengar saja, Joyceline tahu jika perempuan itu lah yang bertahta di hati David. Dia juga tahu, jika David melihat nya sebagai Adelia malam tadi.
"Adelia sialan." isak Joyceline tanpa sadar. Dia menangis terisak sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi nya dengan kasar.
"David sialan." umpat nya setengah terisak
"AAAAAAAAA AKU KESAL!" teriak Joyceline
Dia menendang udara dengan kesal. Tangannya mengusap mata nya yang basah, sebelum akhirnya mendengus.
"Jika aku tidak sok berbaik hati mengantar David, ini pasti tidak akan terjadi." gumam nya lemas
"Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan David tergeletak begitu saja. Dimana hati nurani ku?" lanjutnya
Joyceline terdiam setelahnya. Dia menutup kedua matanya dan tersenyum tipis. Dia merasa bodoh setelah mengomel sendiri seperti tadi.
"At least... Aku pernah merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang. Walaupun jelas, sentuhan dan kata kata cinta nya malam tadi bukanlah untukku." gumam Joyceline
✳✴✳✴✳
Keesokan paginya, Joyceline mengendarai mobilnya untuk pergi ke Agensi. Dia membuka jedela mobil lebar lebar, membiarkan angin berhembus dan meniup dirinya. Bibirnya tersenyum sementara mata nya fokus menatap ke jalanan di depan nya.
Dia melirik kotak bekal. Untuk David.
Ya, dia kembali pada kebiasaan lama nya. Tapi kali ini dia menetapkan hatinya, meyakinkan dirinya jika ini adalah untuk yang terakhir kali nya sebelum ia benar benar menjauhi David. Dia juga sengaja datang lebih pagi agar tidak bertemu dengan David.
Joyceline menghentikan mobilnya dan keluar dari sana. Tangannya meraih paper bag yang akan diserahkan pada David. Kemudian, dia melangkah masuk ke kantor polisi. Tidak lupa dengan sapaan dan seulas senyuman yang dia berikan pada semua petugas yang ada disana.
Setelah memastikan jika David tidak ada di ruangan nya, dia masuk ke dalam dan menyimpan kotak makanan tersebut diatas meja.
Joyceline termenung sejenak, mengingat kembali percakapan David dan Adam tentang David yang terang terangan risih dengan semua tindakan nya.
Perempuan itu menghela nafas nya dan tersenyum tipis, berusaha merelakan dan melupakan David dari kehidupan nya. Biarlah apa yang sudah terjadi diantara dirinya dan pria itu, ia anggap sebagai mimpi belaka.
"Joyceline?"
Tubuh Joyceline tersentak kaget, dia menoleh ke belakang dan menemukan David tengah menatapnya dengan tatapan bertanya. Karena terlalu fokus dengan pikiran nya, dia tidak akan mendengar pintu ruangan yang terbuka dan David yang memasuki ruangan nya.
Joyceline membalas sapaan David dengan seulas senyuman tipis. Tanpa berkata apapun seperti sebelum nya, dia beranjak pergi dari sana. Menyisakan tanda tanya yang semakin besar di kepala David tentang perubahan sikap Joyceline yang ditunjukan secara terang terangan padanya.
Sementara itu, Joyceline masih berjalan untuk keluar dari kantor polisi. Dia menaikan satu alisnya ketika melihat Adam baru saja memasuki kantor polisi. Pria itu tengah menyapa beberapa rekan nya.
"Hai Joyceline! Mengantarkan makanan seperti biasa?" tanya Adam padanya
Joyceline tertawa dan mengangguk, "Iya." jawabnya singkat
Adam tersenyum, dia menatap lekat Joyceline yang masih berdiri di hadapan nya. "Aku kira kau akan melupakan David. Karena kemarin aku tidak melihatmu kemari." ujar Adam
Senyuman di bibir Joyceline menipis sebelum akhirnya lenyap. Menyisakan senyuman kaku yang dia berikan pada Adam untuk menjawab ucapan yang di katakan pria itu padanya.
Menyadari ekspresi Joyceline, Adam mengetahui jika dirinya mungkin mengucapkan sesuatu yang menyinggung Joyceline. Dia tersenyum canggung dan mengusap belakang lehernya dengan gerakan kikuk.
"M-maksudku, aku selalu melihatmu kemari saat pagi hari. Tapi kemarin kau tidak datang kemari. Jadi aku merasa ada yang kurang." ralat Adam
Joyceline tertawa kecil, "Siapapun yang mendengar ucapanmu pasti akan salah paham." gurau Joyceline
"Aku dengar kau sedang dekat dengan Lily." ucap Joyceline tiba tiba
Adam berdeham dan menggaruk pipi nya sendiri. Dia menyunggingkan cengiran kecil pada Joyceline, seolah membenarkan ucapan perempuan itu.
"Baiklah, baiklah. Aku cukup peka. Hanya dengan senyuman dan gerak gerik mu, aku tahu kalian sedang masa pendekatan." goda Joyceline. Dia menyeringai, dan menatap Adam dengan alis yang dinaik-turunkan.
Adam tertawa melihatnya, "Pastikan kau tidak merajuk, Joyceline. Karena mungkin saja nanti Lily akan menghabiskan banyak waktu denganku." sahut Adam
"Ahh, aku tidak apa-apa." sambut Joyceline. Dia bahkan mengibaskan tangan nya, seolah mengisyaratkan jika dia sudah besar dan tidak akan merajuk sama sekali.
Setelahnya, Joyceline kembali menyunggingkan senyuman nya. "Jaga Lily ya! Dia sudah seperti Kakak ku sendiri. Dan tolong jangan bosan jika mendengar Lily mengeluh padamu soal diriku. Karena terkadang, aku membuatnya sakit kepala." ucap Joyceline
Perempuan itu melambaikan tangannya pada Adam dan keluar dari kantor polisi itu dengan langkah anggun.
Joyceline mendongkak, menatap langit pagi dan tersenyum tipis.
"Setidaknya aku berharap agar Lily menjalani kisah cinta nya dengan baik." gumam Joyceline
Setelah dirasa tugasnya selesai, Joyceline segera memasuki mobilnya. Dia kembali mengendarai mobilnya untuk pergi ke perusahaan tempatnya bernaung.
Ketika sedang menyetir, ponselnya berdering. Dia melirik singkat ponselnya yang menampilkan notifikasi dari Nabela, teman nya yang merancangkan busana nya kemarin saat menghadiri acara penghargaan.
Aku ada di agensi mu~ Cepat kemari! Lily dan aku ada di JNP's Cafe.
Begitu pesan yang tertera disana. Joyceline tersenyum dan menambah kecepatan mobil nya agar lebih cepat sampai di Agensi nya. Jalanan yang lenggang, seolah mengizinkan Joyceline untuk lebih cepat sampai disana.
Tiga puluh menit kemudian, perempuan itu sudah sampai di Agensi yang menaungi nya. Dia memasuki lift dan menekan tombol untuk menuju ke lantai 3 yang memang di jadikan sebuah Cafe oleh Agensi nya.
Dia menolehkan kepalanya, mencari dimana teman teman nya berada. Hingga sebuah lambaian tangan dari Nabela membuatnya segera berjalan menghampiri perempuan itu.
"Hai." sapa Joyceline sambil tersenyum lebar. Dia duduk di kursi yang berada di antara kedua teman nya.
"Aku mau pesan sarapanku. Kau mau?" tawar Lily dan Joyceline mengangguk. Dia memesan sebuah cake yang manis untuk mengawali hari nya.
Begitu pula dengan Nabela, desainer muda itu turut memesan makanan untuk mengisi perutnya.
Joyceline menatap Lily yang beranjak dari tempat nya duduk untuk memesan makanan. Meninggalkan nya dengan Nabela.
"Oh iya, Celine. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu!" seru Nabela bersemangat
"Kau ingat sebelum nya aku pernah mengatakan jika rasanya aku pernah bertemu dengan David Legiond?" tanya Nabela
Joyceline mengerutkan dahinya, setelah mengingat peristiwa yang dimaksud oleh Nabela, dia mengangguk kecil. "Benar. Saat kau meriasku. Tapi kau bilang mungkin yang kau temui adalah adiknya." jawab nya
Nabela mendesah lega, "Itu ternyata benar David. Bukan Dionald. David datang padaku dengan seorang perempuan. Dia memesan sebuah dress untuk digunakan oleh perempuan itu untuk pesta pernikahan Shannaya Legiond." jelas Nabela
"Perempuan?" tanya Joyceline tertarik. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Bukan Shannaya?"
Nabela menggeleng tegas, "Aku mengenal Shannaya. Tapi perempuan yang waktu itu datang dengan David bukanlah Shannaya." Nabela menyesap minuman nya sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapan nya, "Dia tinggi, rambutnya pendek dan um.. Seperti nya tidak terlalu ramah. Atau mungkin memang wajahnya saja yang terlihat seperti itu."
"Sedangkan Shannaya, rambutnya panjang dan punya kharisma yang khas. Aura seorang pebisnis benar benar memancar darinya. Aroma nya serupa dengan David. Wangi uang!" ucap Nabela
"Lalu, entah bagaimana... Tapi pesanan Dress itu dibatalkan saat dress nya sudah selesai. Saat aku hendak mengembalikan setengah uang yang sudah dia berikan padaku, dia menolaknya." Nabela melanjutkan penjelasan nya
Tiba tiba dia terdiam dan tersenyum pada Joyceline, "Dress kemarin yang kau pakai adalah dress pesanan David yang pria itu batalkan. Aku mengubah beberapa detailnya untuk menyesuaikan dress itu dengan pemilik nya yang baru, yaitu dirimu. Tapi tenang saja, dress itu belum pernah dipakai oleh siapapun."
Seketika Joyceline terdiam.
Pantas saja David melihatnya sebagai orang lain. Dan seperti nya, dress ini dipesan David untuk Adelia, nama perempuan yang kemarin David bisikan kalimat cinta. Walau dia belum pernah melihat Adelia memakai dress ini, tapi dia mengingat detail nya.
'Apa apaan rasa sakit di hati ku ini?'