Chapter 14 "Kencan Pertama"

1953 Words
Joyceline tersenyum menatap pria yang ada di depan nya. Dia menerima sodoran tangan dari pria itu dengan tatapan yang menghangat. Setelah itu, keduanya berjalan menyusuri sebuah taman hiburan besar untuk kencan. "YA, CUT!" seru seorang sutradara Joyceline melepaskan gandengan tangan mereka. Dia menunduk kan kepala pada lawan main nya di sebuah film. "Terima kasih atas kerja sama nya!" seru Joyceline. Dia melambaikan tangannya dan keluar dari wilayah yang tersorot kamera. Dia mengusap peluh di dahinya dan menatap lawan mainnya di depan sana yang tengah di rias oleh seorang penata rias. Tanpa menoleh, tangannya meraih sebotol air putih yang di berikan Lily. "Nice work. Seperti biasa." ujar Lily Joyceline tersenyum dan mendudukkan b****g nya di kursi yang tersedia. Dia menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak setelah menghabiskan hari nya dengan syuting sebuah film drama. "Apa setelah ini, aku luang?" tanya Joyceline pada Lily yang tengah mengemas barang barang Joyceline untuk diangkut ke mobil mereka. "Hm, tentu. Pemotretan yang seharusnya dijadwalkan malam ini telah di geser ke lusa. Jadi jadwal mu berakhir disini untuk hari ini." jawab Lily tanpa mengalihkan perhatian nya Joyceline menghela nafasnya dan mengangguk. Dia membuka kedua matanya ketika Lily mengajak nya untuk pulang. Perempuan itu beranjak dari duduknya dan berpamitan pada seluruh kru yang terlibat untuk syuting. Setelah berpamitan, perempuan itu melangkah ringan menjauhi lokasi syuting. Dia bersenandung sambil mengamati suasana di sekeliling nya. Taman hiburan ini cukup ramai. Tapi syukurlah syuting berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Tatapan Joyceline berhenti pada Lily yang tengah tersenyum sambil memandang layar ponselnya. Jadi Joyceline dengan jahil berjalan mendekat dan mengintip isi dari ponsel, sumber dari senyuman Lily. "Hmmmm, jadi begitu ya? Temanku ini akan pergi kencan~" gumam Joyceline di telinga Lily Lily tersentak kaget dan menatap Joyceline sebal, "Dilarang mengintip." ucapnya serius Joyceline tertawa puas mendengar nada serius dan ketus yang diberikan perempuan itu padanya. Kemudian dia mendengus dan merangkul Lily dengan seulas senyuman jahil. "Heheheheheh, apakah saat ini Lily sahabat ku ini sudah mengakhiri status 'Jomblo Sejak Lahir' nya?" tanya Joyceline "Anak nakal! Aku pernah berkencan saat SMA! Diantara kita berdua, hanya kau lah yang mendapat predikat 'Jomblo Sejak Lahir' ingat itu!" ketus Lily Joyceline mencibir dan menatap Lily tak kalah sinis. "Oohh, Lily ku sudah besar~" goda Joyceline "Aku ingin ikut kencan denganmu~ Tapi aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara kalian~" lanjutnya setengah merengek "Ikut saja. Aku tidak keberatan." sahut Lily enteng "Hei, apa kau tidak memikirkan perasaan Adam? Bagaimana jika dia... Hendak mencium mu, tapi ada aku diantara kalian? Dia pasti malu!" tolak Joyceline Kedua pipi Lily merona. Dia dengan perasaan sebal mencubit pipi Joyceline yang terlihat bangga setelah menyuarakan penolakan nya dengan alasan yang cukup... Memalukan. "Kau pikir pacaran itu hanya tentang berciuman?!" sebal Lily Joyceline tertawa dan bergegas untuk berlari ke dalam mobil miliknya ketika Lily kembali berniat mencubitnya. "Kau harus ikut, Joyceline!" tegas Lily begitu ia sudah memasuki mobil yang juga dimasuki oleh Joyceline "Apa? Tidak mau! Kau berniat memintaku melihat adegan ciuman diantara kalian? Aku tidak mau!" tolak Joyceline sambil menggelengkan kepalanya heboh Lily mendengus, wajahnya berubah murung. Joyceline yang peka dengan perubahan ekspresi sahabat nya itu menaikan satu alisnya bingung. "Kau seharusnya senang. Kau akan terbebas dari kesibukan mu setelah sekian lama nya hanya bekerja denganku." ucap Joyceline "Kau tahu kan? Aku orang yang cukup membosan kan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan Adam disana. Jika kau ada, maka kau akan mencairkan suasana diantara kita." jelas Lily. Dia menangkup kan kedua tangannya, memberikan mata penuh permohonan pada Joyceline yang kini terlihat bimbang. "Ku mohon..." pinta Lily Joyceline membuka jendela di samping nya, membiarkan angin sejuk khas malam hari membelainya. Dia melirik Lily dan menganggukkan kepalanya dengan ragu. "Tapi jika kalian hendak berciuman, tolong beritahu aku agar aku bisa menghindar dan pergi." sahut Joyceline dengan berat hati "YA! JOYCELINE! KENAPA KAU SELALU BERFIKIR JIKA AKU DAN ADAM AKAN MELAKUKAN HAL ITU KETIKA KITA BARU PERTAMA KALI BERKENCAN?!" ✴✳✴✳✴ Keesokan hari nya di pagi hari, Joyceline membangunkan Lily yang masih tertidur di dalam kamar tamu. Karena satu dan lain hal, Joyceline mengajak Lily untuk menginap di rumah peninggalan orang tua nya yang lebih dekat dengan pusat kota. Rumah yang dipakainya untuk menenangkan diri ketika peristiwa malam itu terjadi. "Lily!!" teriak Joyceline. Dia menepuk nepuk wajah dan bahu Lily untuk membangunkan nya. "Hari ini kau ada janji kencan!!!" teriak Joyceline lagi Kalimat kedua nya cukup ampuh untuk membangunkan Lily. Perempuan itu langsung bangun dengan nafas terengah, seolah baru saja mengalami mimpi buruk. "Astaga jantungku." gumam Lily Dia menatap Joyceline dengan kedua mata nya yang menyipit kesal, "Bisakah kau membangunkan ku tanpa berteriak?" tanya Lily Joyceline tertawa dan menggeleng, "Tidak bisa! Hari ini sahabatku akan kencan~" senandung Joyceline Dia berjalan keluar kamar dengan wajah yang menyebalkan. "Cepatlah mandi! Sekarang sudah jam 7 dan kau akan pergi kencan jam 9. Dari sekian banyak nya pakaian yang kau bawa dari rumah mu semalam, kau belum memilih pakaian, merias diri dan mandi!" seru Joyceline Perempuan itu tertawa puas ketika mendengar suara gaduh dari kamar Lily, menandakan jika perempuan itu mulai sibuk untuk bersiap. Lain dengan Lily yang baru bangun, dirinya sudah sejak tadi membersihkan diri. Hanya saja memang dirinya belum sempat merias dirinya karena menyadari belum ada tanda tanda kehidupan dari kamar tamu yang di tempati oleh Lily. Dan karena Lily sudah bangun, maka dirinya sudah bisa bersiap dan merias diri. Mengingat jika dirinya hendak mendampingi Lily untuk kencan pertama nya. Joyceline terkikik geli, membayangkan jika Lily akan kencan dan mungkin sahabatnya itu akan mendapatkan first kiss nya hari ini. Tapi sedetik kemudian, suara tawa nya menghilang. Dia mengingat bagaimana first kiss nya terenggut begitu saja oleh David yang sedang mabuk. "Sama sekali tidak indah." gumam nya Menyadari jika pikiran itu akan membuatnya kembali mengingat momen menyedihkan dalam hidupnya, Joyceline segera menggelengkan kepalanya dan menepuk pelan pipi nya. Seolah menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak terhanyut dalam lamunan nya. Joyceline meraih hair dryer dan mengeringkan rambutnya. Setelah selesai dengan urusan rambutnya, perhatian Joyceline mengarah pada wajahnya sendiri. Dia juga harus merias diri agar tidak terlalu pucat. Lima belas menit kemudian, Joyceline sudah menyelesaikan urusan nya. Dia hanya perlu mengganti pakaian tidur nya dengan pakaian lain. Jadi dia beranjak dari meja riasnya dan melangkah menuju lemari putih besar yang berisi pakaian nya. Tangan nya membuka lemari itu dan bergerak memilih pakaian yang sesuai dengan mood nya hari itu. Gerakan tangan Joyceline terhenti ketika menyadari jika tangannya menyentuh sebuah dress merah. Dress yang dipakainya saat peristiwa malam itu. Joyceline bergegas mengambil dress itu dan melipatnya. Dia harus menyingkirkan semua hal yang berhubungan dengan David dan malam itu. Tapi setelah menyadari jika ini ada dress yang dibuat oleh teman nya, Joyceline tidak jadi membuang nya. Dia membawa langkahnya menuju lemari nakas yang ada di samping tempat tidur nya. Joyceline menyimpan dress itu di dalam laci nakas. Apalagi mengingat jika hanya itulah satu satunya spot yang jarang dia perhatikan. Jadi potensi dress itu dilihat oleh Joyceline, tidak terlalu besar. "CELINEE, BANTU AKU MEMILIH PAKAIAN HUHUHU." Joyceline tersenyum dan tertawa kecil. Dia keluar dari kamarnya dan menghampiri Lily untuk memilih pakaian kencan nya. Sebelum beranjak keluar dari kamar, Joyceline menyempatkan diri nya untuk meraih dress pendek berwarna putih dengan aksen bunga dibagian rok nya. Dia akan memakai pakaian ini. ✴✳✴✳✴ "Apa aku cantik?" tanya Lily cemas. Dia bahkan mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas nya dan menatap dirinya sendiri dengan perasaan gelisah. "Kau meremehkan pilihanku?" tanya Joyceline tanpa mengalihkan perhatian nya dari jalanan. Khusus hari ini, dia akan menyetir dan membiarkan Lily duduk menenangkan dirinya. Hal ini dia lakukan setelah Lily berkali kali menginjak rem secara mendadak, lalu mengatakan jika dia cemas dan mungkin lebih baik membatalkan kencan ini. Dan tentu saja Joyceline langsung mengambil alih kemudi agar Lily bisa menenangkan dirinya dan kencan pun dapat berjalan seperti biasa. "Di taman tempat kemarin aku syuting?" gumam Joyceline setelah melihat titik lokasi tujuan yang dikirim kan Adam padanya sudah berada di depan mata. Lily mendadak ciut dan meremas tangan Joyceline yang bebas ketika mobil mereka sampai di parkiran taman dan Adam ada tepat di hadapan nya. Pria itu tengah bersandar di kap mobil dan memainkan ponselnya. Joyceline menghentikan mobil miliknya di tempat yang kosong, di samping Adam. Bertepatan dengan itu, sebuah notifikasi muncul di ponsel Lily. Kau sudah sampai? Joyceline tersenyum penuh arti. Dia melepas seatbelt yang digunakan nya dan membuka kunci otomatis mobilnya. "Keluar lah. Pangeran Adam mu menanti disana." usir Joyceline Lily mencubit lengan Joyceline yang dibalas dengan ringisan pelan. "Kau juga keluar!" tekan Lily yang diangguki Joyceline Lily mengatur nafasnya dan mengangguk kecil. Dia berjalan keluar dari mobil dan dengan sedikit kaku berjalan menghampiri Adam. Keduanya berbincang kecil sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju tempat pembelian tiket masuk. Sementara itu, di dalam mobil, Joyceline terkikik geli ketika menyadari jika Lily berkali kali melirik ke arah nya. Seolah memastikan jika Joyceline juga akan turun menyusulnya. Karena kasihan dengan wajah gugup Lily, Joyceline keluar dari mobilnya dan berniat menghampiri Lily agar perempuan itu bisa tenang. Dan tiba tiba, Joyceline melihatnya. Pria itu juga baru saja keluar dari mobil yang ada di samping nya, tempat dimana Adam berada. Pria yang sudah berhari hari dia hindari, kini berada di hadapan nya. Mungkin menemani Adam, entahlah. Tatapan kedua nya bertemu, dengan David yang menyapa nya terlebih dahulu. "Hai, Joyceline." sapa nya lembut Tidak ingin terlihat menghindari David, Joyceline juga mengulas senyuman tipis. "Hai David." sahutnya David tersenyum dan menghampiri Joyceline, "Menemani Lily?" tanya David Joyceline mengangguk. Dia meremas tali tas selempang nya tanpa menghilangkan senyuman tipisnya. "Bagaimana denganmu? Pergi untuk kencan?" tanya Joyceline pahit. Dia berusaha menahan rasa denyutan perih di d**a nya ketika mengatakan hal itu. Dan entah kenapa, dia merasakan rasa sakit di d**a nya itu menghilang ketika mendengar David tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Aku menemani Adam. Pria itu terus mengancam ku untuk mengikuti nya." jelas David Joyceline memberikan tawa canggung nya. Dia mengangguk mengerti setelahnya. "Ayo pergi. Mereka juga seperti nya sudah masuk ke dalam." ajak David Joyceline mengangguk dan berjalan bersisian dengan David. Keduanya mengantri dan menunggu untuk membeli tiket masuk. "Biar aku yang bayar." ujar David ketika Joyceline menyodorkan uang pada petugas. Dengan cepat, David menyodorkan kartu miliknya pada petugas dan kedua tiket pun berhasil mereka dapatkan. "Kalian pasangan yang serasi." puji petugas penjaga tiket Joyceline melirik reaksi David, tubuh pria itu terlihat menegang setelah mendengar pujian yang mungkin tidak dia inginkan itu. Joyceline tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Kami bukan pasangan. Kami hanya berteman." sangkalnya Si petugas tiket itu mengangguk mengerti dan tersenyum canggung. Mungkin dia juga menyadari reaksi David yang terlihat lain. "Aku akan menggantinya." ucap Joyceline ketika keduanya sudah memasuki taman bermain. "Tidak perlu. Harga diriku akan terluka jika perempuan mengeluarkan uang saat sedang bersama ku." sahut David Joyceline tersenyum tipis, "Jangan seperti itu. Aku akan menggantinya dengan cara lain yang mungkin tidak akan kau sadari." timpal Joyceline Joyceline kemudian mengalihkan perhatian nya ke arah lain. Dia melihat Lily dan Adam tengah bergandengan dan berjalan jauh di depan mereka. Dia tersenyum ketika melihat wajah Lily yang tidak menunjukan ekspresi canggung seperti yang tadinya perempuan itu takut kan. "Lily, kau berbohong. Kau bilang kau akan canggung, tapi yang ku lihat saat ini tidak ada ekspresi canggung sama sekali di wajahmu." gumam Joyceline "Lily bilang begitu?" tanya David yang mendengar gumaman Joyceline "Hm." angguk Joyceline. "Lily bilang jika dia adalah pribadi yang membosankan. Jadi dia memaksa ku ikut untuk mencairkan suasana." jelas Joyceline Dia tersenyum setelahnya, "Tapi sepertinya dia sudah nyaman saat ini." "Adam juga bicara seperti itu padaku. Dia bilang jika dia bukanlah orang yang bisa mencairkan suasana. Padahal aku sendiri, bukanlah orang yang asik untuk diajak bermain seperti ini." sahut David sambil tertawa kecil Dia menghela nafas dan menunduk menatap Joyceline yang jauh lebih pendek darinya. "Lalu bagaimana dengan kita?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD