Chapter 15 "Ciuman... romantis?"

2087 Words
Joyceline mengerjapkan matanya mendengar kalimat tidak terduga yang keluar dari mulut David. "Ya?" Pada akhirnya hanya dua kata itu yang bisa dia keluarkan dari mulutnya. Terlebih, mengenal karakter David yang abu abu, membuat Joyceline tidak ingin menyimpulkan pertanyaan David dengan seenak nya. "Karena mereka berdua sudah memiliki dunia sendiri, bagaimana dengan kita? Tidak mungkin kita mengekor mereka berdua kan?" tanya David Dan benar saja. David memiliki arti lain dari ucapan nya. Untung saja berhari hari menghindari David, membuat Joyceline berhasil mengurangi intensitas perasaan nya pada pria itu. Jadi dia tidak akan sakit hati saat apa yang sebenarnya di ucapkan David, tidak sesuai dengan keinginan nya. "Tapi aku tidak mungkin pulang... Aku sudah berjanji pada Lily untuk ikut dengan nya dalam kencan ini." gumam Joyceline David terdiam sejenak. Dia mengedarkan tatapan nya ke sekitar sebelum akhirnya tersenyum tipis, "Baiklah kalau begitu. Kita juga harus bermain. Sayang tiket nya, kan?" tanya David Joyceline menipiskan bibirnya dan mengangguk. Dia mengekor di belakang David yang berjalan terlebih dahulu di depan nya. Joyceline menaikan satu alisnya dan menatap David yang tiba tiba berjalan sejajar dengan nya. Tanpa berkata apapun, pria itu mengangguk dan tersenyum pada Joyceline. Perempuan itu tersentak kaget ketika merasakan David merangkul bahu nya. "Hati hati!" seru David pada seorang pria yang tengah berlarian. Dia menoleh pada Joyceline yang masih menampilkan wajah terkejutnya dan bertanya, "Kau tidak apa?" Joyceline menelan ludahnya dan mengangguk. Dia berdeham dan menggerakan bahu nya, mengisyaratkan agar David bisa melepaskan rangkulan nya. "Maaf ya. Aku terkejut karena melihat pria itu berlari kearah mu seperti itu." ujar David yang melihat reaksi tidak nyaman Joyceline Joyceline tersenyum tipis, "Tidak apa. Terima kasih, David." sahutnya David mengangguk, "Apa... Itu tadi tidak apa? Kau terlihat sangat terkejut dengan sentuhan sekecil itu. Padahal aku kira, seorang aktris seperti mu akan bersikap biasa saja. Mengingat kau bisa saja harus bersentuhan dengan lawan main mu saat syuting, kan?" tanya David "Aku sedikit trauma dengan sentuhan akhir akhir ini." jawab Joyceline Dia meringis mengingat jika sumber trauma nya ada di sisi nya saat ini. Tapi Joyceline dengan cepat menghela nafasnya, mencoba menahan rasa sesak yang tiba tiba datang. "Pasti sangat sulit." ucap David tiba tiba "Ya?" "Pasti sangat sulit memiliki trauma seperti itu ketika kau memiliki pekerjaan yang bersangkutan dengan hal seperti itu." lanjut David ketika menyadari jika kalimat nya susah untuk di mengerti "Aku... Tidak apa. Aku sedang berusaha menjauhi seseorang yang membuatku trauma seperti ini." sahut Joyceline, sengaja memancing ingatan David tentang peristiwa malam itu "Tapi seperti nya mustahil." lanjut perempuan itu dengan seulas senyuman tipis Joyceline melirik David. Pria itu tertegun untuk beberapa saat. David bahkan menatapnya dengan raut wajah yang sulit untuk dia artikan. Tapi beberapa saat kemudian, David kembali menetralkan ekspresi wajahnya. "Apa seseorang berbuat jahat pada mu?" Joyceline tertawa miris ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut David. Dia kira dengan kode dari ucapan nya, David akan mengingat atau menyadari sesuatu. Tapi nyatanya, malah hal lain yang dia katakan. "Iya, sebut saja begitu. Tapi aku sedang berusaha melupakan nya." jawab Joyceline Menyadari jika usaha kecilnya sia sia. Joyceline mengalihkan perhatian nya ke arah lain. Dia melebarkan matanya ketika melihat Lily dan Adam menaiki salah satu wahana yang cukup ke kanak kanakan. "Astaga." gumam nya ketika melihat Adam mau mau saja saat diajak Lily menaiki komedi putar berbentuk kuda 'Hanya sekilas saja aku tahu jika Adam adalah calon bucin.' pikir Joyceline "Mau naik juga?" tawar Adam. Joyceline dengan cepat menggeleng. "Ahh, tidak. Sepertinya itu akan menghancurkan image polisi mu. Jangan seperti Adam." sahut nya David tertawa. Benar. Dia juga tidak habis pikir kenapa Adam mau menaiki wahana yang biasanya ditunggangi anak anak. "Nanti... Tolong sampaikan permintaan maafku pada Adam. Dia pasti dipaksa oleh Lily." ujar Joyceline ✳✴✳✴✳ Setelah setengah hari berkeliling dengan mencoba berbagai makanan, Joyceline akhirnya menyerah. Dia tahu tidak mungkin menghindari David ketika pria itu berusaha keras untuk terlihat mencairkan suasana. Entah dengan bercerita tentang adiknya, menanyakan bagaimana kehidupan Joyceline sebagai seseorang yang bekerja di dunia entertainment, dan kadang pria itu akan berusaha melontarkan humor. Bahkan, Joyceline rasa, David sudah menceritakan banyak hal. Kecuali tentang percintaan nya. "Bagaimana denganmu? Apa kau pernah berkencan sebelum nya?" Pria itu malah membalikan pertanyaan dirinya ketika Joyceline mencoba bertanya tentang kencan atau hubungan percintaan nya. "Aku?" tanya Joyceline. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng, "Di dunia nyata, belum." putusnya pada akhirnya "Tapi ketika syuting, aku sering melakukan adegan kencan." lanjut Joyceline sambil tersenyum bangga David turut tersenyum, "Benar. Di dunia nyata, kau pasti sangat kikuk. Beda dengan saat syuting, kau bisa lancar berkencan karena script yang sudah di sediakan." gurau David Joyceline membuka mulutnya, hendak menyangkal candaan yang dilontarkan oleh David, tapi dia kembali menutup mulutnya setelah menyadari jika dia tidak memiliki alasan untuk menyangkal nya. "Benar. Anggap saja begitu." celetuk Joyceline pada akhirnya David tersenyum tipis ketika mendengar nada pasrah yang diberikan Joyceline padanya. Dia melirik dan menemukan perempuan itu tengah menunduk memainkan jari jari nya. "Sudah sore. Apa Lily menghubungi mu?" tanya David Joyceline mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang dipakainya. Dia membuka lockscreen nya dan membuka sebuah notifikasi dari Lily. "Dia bilang malam nanti akan ada festival kembang api. Jadi dia dan Adam akan menunggu festival nya dimulai." jawab Joyceline Jangan dulu pulang! Kau harus menungguku sesuai janji mu~ Ps: Beritahu aku apa yang harus aku katakan? Adam menyatakan perasaan nya padaku siang ini. Seulas senyuman terukir begitu saja di bibir Joyceline saat melihat sisa pesan yang diberikan Lily padanya. Pesan itu dikirim oleh Lily satu jam yang lalu. Sudah sangat lama. Joyceline pastikan, jika Lily pasti akan sedikit marah karena dia tidak membalas pesan nya. "Mau menonton nya juga?" tawar David Joyceline mengangkat kepalanya dan menatap David. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk ragu. "Lily melarangku pulang." jujur Joyceline "Tapi jika kau keberatan menemaniku, kau bisa pulang duluan, David." lanjut Joyceline saat menyadari jika David berkali kali melirik jam tangan nya Pria itu menggeleng, "Tidak. Aku hanya mengecek ada berapa jam lagi hingga festival itu dilaksanakan." sangkal David Keduanya terdiam dan mengamati sekitar dengan seksama. Mungkin, karena akhir pekan, taman hiburan ini jadi dipenuhi oleh pasangan yang sedang berkencan. Hingga kemudian tatapan Joyceline mengarah pada sebuah keluarga yang terlihat sangat bahagia. Joyceline menyunggingkan senyuman tipis ketika anak kecil yang sedang dia perhatikan, balik melihatnya dengan senyuman malu malu. Tatapan Joyceline mengikuti keluarga itu hingga dia tidak bisa lagi melihatnya karena kerumunan orang orang. Rupanya, David juga memperhatikan hal yang sama. Dia melirik Joyceline dan keluarga kecil tadi bergantian. Seolah mengerti, David tersenyum tipis. "Aku iri." ujar David Joyceline menoleh, "Ya?" tanya nya "Aku iri pada keluarga tadi." sahut David. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan ucapan nya, "Karena aku tidak pernah seperti itu." "Serius?" tanya Joyceline. Mendadak perhatian nya teralihkan oleh ucapan David. "Hm. Ayah ku, selalu sibuk dengan urusan nya." "Dan ibu ku... Sama sibuknya. Aku dan Dionald tidak memiliki banyak waktu dengan orang tua kami." Joyceline memutar posisi duduknya. Dia menatap David sepenuhnya dan menatap pria itu dengan raut sedih. "Kau pasti sangat sedih." gumam Joyceline David tersenyum samar. Dia menghela nafasnya dan mengangguk kecil. Tapi detik setelahnya, dia mengalihkan perhatian nya ke salah satu tempat makan dan menatap Joyceline. "Ayo kita makan." ajak David Dia berdiri dari duduknya dan menyodorkan tangan nya pada Joyceline. Perbuatan nya disahuti dengan kerutan dahi dan tatapan bertanya Joyceline. "Ayo. Aku tahu kaki mu terluka kan?" tanya David Joyceline meringis. Benar. Kaki nya lecet karena memakai sepatu yang sedikit kebesaran di kaki nya. Jadi dia meraih sodoran tangan David dan menggenggam nya pelan. Kedua nya bergandengan tangan menuju sebuah resto yang terlihat dibuat seperti bar. Begitu kedua nya masuk, keduanya sepakat untuk memilih tempat yang berada di ujung ruangan. Menghindari keramaian dan karena pemandangan dari ujung resto terlihat lebih menarik. Joyceline dan David langsung memesan makanan untuk mengisi perut mereka. "Uhh... Cocktail?" tanya Joyceline pada David ragu David tersenyum dan mengangguk. Dia menyesap sedikit minuman nya dan menatap jauh ke depan sana. "Jangan minum terlalu banyak." ujar Joyceline menasehati "Aku akan meminta Adam menyetir." sangkal David Joyceline menumpukan wajahnya pada kedua tangan nya. Dia menatap David dari sisi, menatap bagaimana garis rahang tegas yang dimiliki pria itu. Dan melihat bagaimana kedua manik mata kecokelatan milik David terlihat menerawang jauh ke depan sana. "Kau tahu, David? Seseorang akan sangat merepotkan saat mabuk." ucap Joyceline. Dia mencebikkan bibirnya dan menatap David dengan tatapan protes nya, "Lagipula ini masih terlalu sore untuk mabuk." lanjutnya David tidak membalas perkataan nya. Hal itu membuat Joyceline berdecak dan mencoba bersikap acuh. Dia mulai memakan makanan nya dan mengabaikan David yang masih termenung diam begitu saja. "Aku harap, kesalahan ku waktu itu tidak menghasilkan apapun." bisik David Bisikan itu pelan, memang. Tapi karena jarak antara Joyceline dan David cukup dekat, perempuan itu jadi bisa mendengar bisikan David dengan jelas. Dia menghentikan sendok nya yang sudah terangkat di udara begitu saja. Kemudian, Joyceline mengalihkan pandangan nya pada David. Memang tidak jelas kesalahan apa yang pria itu maksudkan. Tapi entah kenapa, Joyceline merasakan hati nya berdenyut sakit. Perkataan David seolah ditunjukan untuk kesalahan malam itu. Ketika pria itu mabuk dan... Bercinta dengan nya. Ah tidak. Hal itu tidak bisa di sebutkan sebagai bercinta. Karena nyata nya, David tidak melihatnya sebagai Joyceline. Nafsu makan nya hilang seketika. Karena itu Joyceline hanya menghela nafasnya berulang kali dan menundukkan kepalanya dengan resah. Berkali kali dia memikirkan... Apakah dia harus mengatakan hal ini pada David? Jika yang David sentuh malam itu adalah dirinya? Bagaimana reaksi pria itu? Joyceline tidak bodoh. Dia tahu jika David... Mengetahui perasaan istimewa yang dirasakan Joyceline padanya. David hanya bersikap baik, karena Joyceline telah membuatkan nya makanan setiap pagi nya. Joyceline juga tahu, jika David tidak memiliki perasaan apapun padanya. Pria ini hanya berbaik hati. Bagaimana reaksi nya jika dia mengatakan pada David jika saat itu, perempuan yang kehilangan mahkota nya dan menemani nya malam itu dengan melayani nafsu nya adalah Joyceline? Apakah David akan bertanggung jawab? Atau justru... Pria itu akan mengatakan jika Joyceline mengada ngada? Pria itu mungkin saja berfikir jika Joyceline menggunakan cara ini agar David mau menjadi miliknya. Tanpa sadar, air mata Joyceline menetes. Dia semakin yakin untuk menutupi hal ini dari David. Pria ini tidak perlu mengetahui jika perempuan yang tidur bersama nya adalah Joyceline. ✳✴✳✴✳ "Masih bisa berjalan?" tanya Joyceline. Dia menatap khawatir pada David yang berdiri dengan sedikit sempoyongan. "Maaf ya, aku jadi merepotkan." jawab David sambil meringis. Wajahnya sudah memerah, dia benar benar mabuk. Joyceline menghela nafasnya. Dia mendudukkan David pada salah satu bangku yang tersedia. Tangannya meraih ponsel dan mengetikkan pesan singkat pada Lily. Menginformasikan jika dirinya dan David akan keluar dari taman hiburan dan menunggu di dalam mobil. "Ayo kita keluar. Aku sudah memberi tahu Lily." ajak Joyceline Dia memapah David dan membantu pria itu agar bisa berjalan menuju mobil. Ada perasaan tidak asing yang menyelusup di hati David. Dia melirik Joyceline dan memicingkan matanya. "Rasanya... Aku pernah ada di posisi ini..." racau David "Jangan bicara. Kau bau alkohol." keluh Joyceline Beruntung nya, tempatnya dan David menunggu festival kembang api itu dekat dengan pintu keluar. Jadi dia tidak perlu memapah David dengan jarak jauh. Dengan susah payah, Joyceline mengeluarkan kunci mobil dari tas kecil miliknya. Dia menekan tombol yang ada di kunci mobil itu hingga lampu mobilnya berkedip dua kali. Joyceline membawa David masuk ke dalam mobil nya dan duduk di kursi penumpang di samping kursi pengemudi. Joyceline mengerang kecil dan meregangkan tubuhnya yang pegal karena harus memapah David. Kemudian, dia berjalan mengitari mobil, menduduki kursi pengemudi dan menyandarkan tubuhnya. Joyceline melirik David yang sudah memejamkan matanya. Wajah pria itu masih terlihat merah. Karena rasa lelah menghampiri dirinya, Joyceline pun menekan hasrat untuk melihat kembang api yang akan diluncurkan dalam hitungan menit. Dia lebih memilih memejamkan matanya dan beristirahat. Joyceline juga membiarkan lampu bagian dalam mobilnya dalam keadaan mati. Kebetulan cahaya bulan yang terang masuk menembus kaca mobil miliknya. Ketenangan pun menyelimuti mobil itu. Ditambah dengan lokasi parkiran dan sangat sepi, membuat keduanya semakin terlelap ke dalam alam mimpi. Cukup lama Joyceline memejam kan matanya. Bahkan, sepertinya dia sudah jatuh tidur dalam beberapa menit. Mendengar suara ledakan yang berada tepat di atas mobilnya, Joyceline terbangun dan mengerjapkan matanya pelan. Samar samar. Dia melihat jika David juga menatapnya dengan mata yang sayu. Pria itu mendekat, menangkup wajahnya dan meraup ciuman dalam dari Joyceline. David menyesap bibir Joyceline, menjilat dan mengekspor bagian dalam bibir Joyceline dengan ciuman menggebu. Bersamaan dengan itu, ledakan cahaya dari kembang api, terlihat memantul dari mata Joyceline. Hal itu membuat David terpaku. Dia kembali mencium Joyceline dan membisikan sebuah kalimat yang menggetarkan hati Joyceline. "Cantik. Kau sangat cantik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD