Chapter 16 "Testpack"

1976 Words
Joyceline mengerjapkan matanya. Kedua mata nya membola setelah menyadari jika ini bukanlah mimpi. David mencium nya dengan lembut, tanpa tergesa seperti sebelum nya. Ketika pria itu mabuk dan meniduri nya. Joyceline mengatupkan bibirnya. Dia mendorong David dengan perlahan, mencoba memberi jarak antara dirinya dan David. "Sudah ku bilang untuk tidak mabuk." gumam Joyceline. Dia mendorong David agar pria itu kembali ke tempat duduknya. Mencoba untuk mencegah agar peristiwa sebelum nya tidak terjadi. Joyceline memegang kedua bahu David. Menatap dalam kedua mata pria itu yang masih menatapnya dengan sayu. "Kau tahu siapa aku?" tanya Joyceline serius "Aku Joyceline! Bukan mantan mu, bukan Adelia. Dan bukan siapa siapa bagi mu. Jadi... Aku mohon- jangan pernah melakukan hal seperti lagi padaku." lanjut Joyceline David tersenyum, kedua matanya menyipit ketika ia menyunggingkan senyuman manis yang lebar. "Kau memang Joyceline." jawabnya terdengar meracau Perempuan itu menghela nafasnya dan menatap langit malam yang masih dihiasi oleh ratusan cahaya yang cantik. Momen yang cukup indah, sebenarnya. Sayang nya David selalu bertingkah ketika mabuk. "David, dengarkan aku." ucap Joyceline tiba tiba Dia memiringkan tubuhnya, menatap David yang juga tengah menatapnya, masih dengan mata yang sayu. "Jangan pernah ulangi kesalahan seperti ini, David. Kemarin... Saat kau mabuk berat, kau melakukannya nya denganku." Entah keberanian darimana yang Joyceline dapatkan hingga berani mengatakan ini pada David. Atau mungkin karena David saat ini terlihat lebih bisa di kendalikan. Joyceline meremas tangan nya. Dia menghela nafasnya berkali kali untuk menghilangkan rasa gugup yang masih bersarang di da*da nya bahkan ketika pria itu, David, tidak mengucapkan apapun. "David... Bagaimana jika... Aku hamil?" Dan tatapan dingin dari David lah yang dia dapatkan atas pertanyaan nya. ✳✴✳✴✳ Joyceline terperanjat kaget. Dia mengusap peluh di dahinya dan menatap ke sekitar. Hanya kegelapan yang menyapa nya. Tidak ada David, tidak ada tatapan yang dingin, tidak ada langit yang di hiasi oleh cahaya kembang api. "Mimpi." gumam Joyceline "Hanya mimpi." ulang nya. Perempuan itu turun dari ranjang nya dan meraih gelas kaca yang berada di atas nakas. Dia mengisi gelas kosong itu dengan air putih dingin yang ada di dalam kulkas di kamarnya. Dia meminum nya dan termenung selama beberapa saat. Saat ini pukul satu dini hari. Sudah satu minggu sejak kencan Lily dan Adam berjalan. Malam itu, David memang mencium nya. Pria itu bahkan menjawab jika dia melihat Joyceline sebagai dirinya sendiri. Bukan Adelia ataupun mantan nya yang lain. Semua berjalan persis seperti mimpi nya tadi. Tapi dia tidak pernah mengatakan pada David jika dirinya... Adalah perempuan yang menghabiskan malam dengan David saat pria itu mabuk. Karena nyata nya, setelah David mencium nya dan mengatakan jika dia melihat Joyceline sebagai dirinya sendiri, pria itu merengkuh nya dan tertidur pulas. Ketika Adam dan Lily datang, Joyceline bahkan harus menahan malu dan meminta Adam untuk menyingkirkan David dari tubuhnya. Pria itu meminta maaf dan mengatakan pada dirinya jika David akhir akhir ini memang memiliki banyak tugas yang cukup menguras otak. Hingga pria itu melampiaskan nya dengan mabuk. Joyceline cukup mengerti. Dari ucapan Adam, dia bahkan tahu jika David tidak memiliki waktu untuk memikirkan peristiwa malam itu. Selama ini... Hanya dialah yang selalu berfikir tentang hal ini. Kembali ke masa kini, Joyceline menyimpan gelas nya ke atas nakas dan kembali menaiki ranjang. Dia membalut tubuhnya dengan selimut dan menatap langit langit kamarnya yang gelap. "Aku lelah." keluh nya "Aku ingin tertidur tanpa mimpi." gumam nya Seolah harapan nya terkabulkan, Joyceline kembali menutup kedua matanya. Tanpa perlu menunggu waktu lama, dia kembali tertidur. Dada nya naik turun dengan teratur. Pegangan nya pada selimut pun mengendur hingga terlepas sepenuhnya. ✳✴✳✴✳ Keesokan harinya, Joyceline mengawali hari nya dengan memuntahkan cairan. Di belakang nya, Lily memijit tengkuk Joyceline sambil melihat sahabat nya itu dengan raut khawatir. "Bagaimana bisa kau sakit, Joyceline?" tanya nya cemas Joyceline kembali memuntahkan cairan bening sebelum akhirnya memutar keran di hadapan nya hingga air mengalir dan membilas cairan itu. Dia membasuh wajahnya dan menatap Lily dengan lelah. "Seperti nya ini karena mimpi buruk ku." jawab Joyceline Lily mendesah pelan. Dia memijit dahinya dan menatap Joyceline yang sedang termenung dengan tatapan mengamati. "Sudah seminggu kau seperti ini." ujar Lily "Dan sudah satu minggu, aku mengalami mimpi buruk." sahut Joyceline. Dia mencebikkan bibirnya pada Lily dan memberikan wajah sedihnya. "Aku tidak sakit parah, kan?" tanya nya gelisah Lily terdiam sejenak. Dia menuntun Joyceline untuk keluar dari kamar mandi dan membawa nya untuk duduk di sofa. "Aku rasa bukan sakit parah." tukas Lily. Dia menyodorkan secangkir teh hangat pada Joyceline yang langsung di sesap oleh perempuan itu dengan perlahan. "Jangan jangan kau sakit karena terlalu lama menunggu ku saat kencan?" tebak Lily. Dia memberikan wajah bersalah nya pada Joyceline, merasa jika semua ini adalah kesalahan nya karena meminta Joyceline menemani mya kencan sampai malam. "Terlebih kau memakai dress tanpa lengan, kan?" tanya Lily memastikan Joyceline menghela nafasnya. Dia menepuk bahu Lily, meminta agar perempuan itu tidak perlu panik. "Aku sudah jauh lebih baik setelah tadi. Tak apa." jelas nya Joyceline mengusap wajahnya yang basah dengan handuk. Dia berjalan menuju lemari nya dan meraih satu setel pakaian untuk di gunakan. "Apa jadwal ku hari ini?" tanya Joyceline pada Lily Perempuan itu, Lily, menghela nafasnya dan meraih iPad nya. Dia mengucapkan beberapa jadwal pemotretan dan treatment yang harus di jalankan Joyceline agar kesehatan kulit nya terjaga. "Hanya itu?" tanya Joyceline "Hm. Hanya itu. Kau bisa beristirahat setelah semua nya selesai." jawab Lily Joyceline mengangguk mengerti dan melangkah masuk ke dalam walking closet. Dia mengganti bathrobe nya dengan celana highwaist jeans pendek dengan kaos putih polos. Tangan nya juga meraih cardigan oversize dan memakainya. Terlihat simpel dan cantik. Joyceline membiarkan rambut panjang nya terurai. Dia meraih tas sling bag nya dan mengangguk pada Lily setelah merasa jika persiapan nya sudah selesai. Tanpa berkata apapun, Lily beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Joyceline keluar dari kamar. Keduanya berbincang ringan sampai masuk ke dalam mobil. "Adam mengajak ku kencan sore nanti." ucap Lily "Wow. Dia sepertinya senang berkencan?" sahut Joyceline ragu Lily tertawa sebelum akhirnya menatap Joyceline dengan penuh kebanggaan, "Sebenarnya aku mengatakan jika aku ingin membeli sesuatu di mall. Dan menawarkan dirinya untuk menemani ku." Joyceline menganga. Dia menatap Lily dengan hampa sebelum akhirnya membuat wajah sedih untuk mendramatisir keadaan. "Astaga, Adam benar benar memenuhi ucapan nya untuk menggeser posisi ku!" seru Joyceline Lily tersipu. Dia menepuk pipi nya dan menetralkan ekspresi wajahnya. "Pokoknya sore nanti aku akan kencan!" ujar Lily "Ya ya ya. Selamat berkencan. Aku akan pergi untuk treatment sendiri saja!" sahut Joyceline Lily tertawa dan menatap Joyceline dengan jahil. Dia menjawil pipi sahabatnya itu dengan ekspresi menggoda. "Setelah aku pikir lagi, rasanya kau tidak akan kedinginan ya saat itu!" seru Lily "Apa? Apa maksudnya?" "David kan, memelukmu~ dia memelukmu dengan sangat erat seolah tidak ingin dilepaskan." jelas Lily "Sstttt, diamlah! Dia sedang mabuk!" sangkal Joyceline Lily tertawa melihat wajah sebal Joyceline. "Kau masih berharap pada David?" tanya nya Joyceline menggeleng, "Aku hanya menganggapnya sebagai teman." 'Walau memang tidak ada teman yang pernah menjadi teman tidur.' tambah Joyceline dalam hatinya "Kau bilang kau menyukainya...?" sahut Lily Joyceline terdiam sejenak, "Hanya sekedar suka seperti biasa." Lily mencebikkan bibirnya. Terlihat tidak percaya dengan ucapan Joyceline yang terdengar meragukan. "Entah mengapa aku merasakan ada sesuatu yang lebih diantara kalian." ✳✴✳✴✳ Joyceline mengikuti arahan dari sang fotographer dengan baik. Dia berkali kali duduk menyamping, memainkan properti yang diberikan oleh sang fotographer untuk membuat suasana lebih hidup dengan baik. Di sisi lain, Lily memperhatikan Joyceline dengan seksama. Entah kenapa, dimata nya, Joyceline terlihat berbeda. Ada sesuatu yang asing, tapi dia juga tidak mengetahui secara jelas apa yang asing dari Joyceline. Hingga telinga nya mendengar bisikan bisikan dari staff yang mengatakan jika kulit dan wajah Joyceline terlihat lebih cerah hari ini. Hal itu membuat Lily kembali mengalihkan perhatian nya pada Joyceline. "Benar. Dia terlihat jauh lebih cerah." gumam Lily Pemotretan itu berlangsung cukup lama. Apalagi mengingat jika Joyceline berkali kali mengganti pakaian nya untuk beberapa sesi foto. Lily mengerjapkan matanya. Dia melirik dua staff yang tadinya memuji Joyceline, kini berbalik membicarakan hal lain. "Ada yang bilang, perempuan terlihat jauh lebih cantik ketika tengah hamil." "Aku melihatnya beberapa hari yang lalu dengan David Legiond. Malam hari. Di dalam mobil. Mereka terlihat sangat intim." "Bukannya mereka hanya berteman?" "Siapa yang tahu? Mereka sudah dewasa dan aku melihat mereka tengah berpelukan. Memang tidak aneh melihat seorang pasangan berpelukan. Tapi bagi seorang teman lawan jenis, apa itu normal?" Lily berdeham dengan cukup kencang. Dia melirik tajam staff yang membicarakan hal hal aneh tentang Joyceline. Dia berjalan ke arah keduanya dan menatap mereka dengan angkuh. "Jangan. Menyebar. Gosip." tekan Lily "Gosip apanya? Aku sendiri yang melihat kejadian itu!" sangkal staff tadi Lily bersidekap. Dia menatap orang yang menyangkal nya dengan tatapan angkuh. "Kau kira sejauh apa hubungan Joyceline dan David?" tanya Lily "Kurasa cukup jauh. Hingga tidur bersama, mungkin? Ku dengar kalian para artis sudah tidak asing dengan having s*x?" PLAKK Suara tamparan itu terdengar kencang. Sangat kencang hingga Joyceline menghentikan kegiatan berpose nya dan menatap Lily yang tengah berada di sudut ruangan dengan dua orang staff. "Perhatikan, bagaimana kau menggunakan mulutmu!" desis Lily Joyceline tersenyum canggung pada sang fotographer. Dia berjalan keluar dari frame dan menghampiri Lily. "Ada apa?" tanya Joyceline pada Lily "Tanya kan pada staff ini. Apa yang sudah dia katakan hingga aku membuat keributan seperti ini." jawab Lily Joyceline mengalihkan perhatian nya pada dua orang perempuan berpakaian staff yang berdiri di hadapan Lily. "Ada apa? Lily tidak pernah marah seperti ini hanya karena hal sepele." tanya Joyceline menuntut penjelasan Tapi kedua nya enggan menjawab. Karena itu, Lily menjelaskan pada Joyceline jika keduanya membicarakan Joyceline yang dekat dengan David dan saat ini kemungkinan tengah hamil. Joyceline tersentak. Dia menatap kedua staff di hadapan nya dengan tatapan hampa. "Kenapa kalian menyimpulkan hal seperti ini?" tanya Joyceline "Ini." seru si staff pertama. Dia menyodorkan sebuah alat testpack ke arah Joyceline yang terdiam ketika melihat alat yang ada di hadapan nya. "Pakai alat ini dan buktikan jika kau tidak sedang hamil." lanjutnya Joyceline meraih alat itu dengan ragu. Dia memegang nya dengan erat dan menatap Lily. "Bagaimana cara memakai benda ini?" tanya Joyceline "Kau tidak perlu melakukan ini. Tapi aku tidak ingin nama mu dihancurkan begitu saja oleh orang yang menyebarkan rumor tidak berdasar. Ayo, aku antar." ajak Lily. Dia langsung melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam studio. "Ah, oke. Tunggu sebentar." ucap Joyceline setelah Lily selesai menjelaskan cara menggunakan testpack padanya. Lily kembali keluar dan membiarkan Joyceline berada di dalam kamar mandi sendirian. Sementara di dalam sana. Joyceline tengah mati matian menahan detakan jantung nya yang berdebar lebih cepat. Apalagi setelah dia menyadari jika jadwal menstruasi nya telah terlambat dari yang seharusnya. "Apa sebaiknya aku tidak melakukan nya?" gumam Joyceline ragu Dia menatap lekat alat yang ada di tangan nya. Rasa takut membuat tangan nya basah dan dingin. Tapi setelahnya, dia menghela nafasnya dan memakai alat tes kehamilan itu sesuai instruksi Lily. Joyceline menunggu beberapa saat sambil menatap alat tipis dan kecil itu dengan harap harap cemas. Setelah dirasa hasilnya sudah keluar, Joyceline menatap benda itu dengan lekat. "Celine? Sudah selesai?" Terdengar suara Lily dari luar kamar mandi. Hal itu membuat Joyceline keluar dari kamar mandi dan menyodorkan testpack nya pada Lily. "Kalian lihat? NEGATIF!" sembur Lily "Lain kali, jika aku mendengar kalian membicarakan hal lain tentang Joyceline dan menjadikan itu rumor tanpa alasan yang jelas, aku akan menjadikan kalian sebagai pengangguran." ancam Lily Joyceline tersenyum tipis pada dua staff yang ada di depan nya, "Ternyata pepatah lama itu benar ya. Asap tidak akan ada tanpa api." "Dan seperti nya... Aku sudah menemukan api atau penyebab dari rumorku yang kemarin. Jangan di ulangi lagi. Itu hanya akan memalukan diri kalian sendiri." lanjut Joyceline Diam diam dia merasakan beban yang menghinggapi hati nya sirna ketika mengetahui jika testpack itu memiliki satu garis. Tapi kenapa dia merasa masih ada yang mejanggal? Jika hasil nya negatif... Kenapa jadwal menstruasi nya berantakan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD