26. Ayah dan Putranya – II

1538 Words
26. Ayah dan Putranya – II Mendadak, terlintas di pikirannya akan lebih baik jika bermain-main sebentar di alam siluman dan jurang penuh bebatuan cadas daripada mengalami situasi semacam ini. Naraya disidang ibu, Aditya, Bagas, kakek-neneknya, dan tak lupa Pakde Widodo yang ikut dijadikan tersangka—melalui panggilan video. Setelah dilepaskan sang ayah dan dikembalikan kepada trio abdi itu, Naraya diturunkan di halaman rumah. Terjadi sedikit drama ketika pemuda itu tiba di rumah dalam keadaan semua orang sedang mencari-carinya ke seluruh penjuru kota. “Ibu enggak menyangka kalau kamu bakal minggat. Merepotkan banyak orang, paling parah lagi mereka yang menemukan kamu adalah orang-orang yang sangat Ibu hindari.” Ibunya tentu terlihat berkali-kali lipat lebih menyeramkan daripada hari biasa. “Aku mau bicara berdua saja sama Naraya. Kalian boleh keluar sekarang. Terus, tamu-tamu yang udah antar Naraya pulang, suruh mereka pergi juga,” imbuh ibu kemudian. Menyisakan hanya mereka berdua, Naraya semakin tercekik. Ayahnya sama sekali tidak membantu memberikan solusi menjelaskan apa pun kepada ibu. Sejak awal ayahnya memang tidak terlihat bisa diandalkan. “Bu… aku salah. Aku minta maaf,” ujar Naraya sembari menundukkan wajah, ia hanya tidak ingin berdebat lagi. Sudah cukup dengan semua hal baru yang terjadi. Semua itu menguras habis energinya dan ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan berdebat lagi. “Kamu langsung minta maaf begini, Ibu malah merasa ada yang salah. Kamu sama sekali enggak menjelaskan apa pun dan seolah-olah ingin mengakhiri ini sebelum Ibu bertanya lebih jauh.” Ibunya memang tepat, Naraya betul-betul ingin mengakhiri obrolan ini dan menghindari segala macam pertanyaan yang akan datang. “Waktu mereka ada keluar dari mobil, Ibu udah dapat perasaan enggak enak. Pas kamu turun dari sana, perasaan Ibu makin enggak karuan. Kamu malah enggak mau memberikan penjelasan. Pasti ada hal yang udah kamu sembunyikan. Dan semua itu pasti ada hubungannya sama mereka.” Naraya menghela napas, haruskah ia jujur saja? “Kalau aku bilang baru aja ketemu Ayah, apa Ibu bakal percaya?” Ibunya termangu, ekspresi terkejutnya tidak pernah seperti ini. “Kamu… apa? Ayah… ? Mereka pasti sudah nipu kamu—“ “Yang motong ekorku Ayah, ‘kan? Ibu sama Pakde Sugi juga lihat kejadian itu. Itulah asal-usul dari bekas kehitaman yang ada di tulang ekorku, ‘kan? Kukira dulu tulang ekor itu hanya sebutan, ternyata emang benar aku punya ekor di sana. Coba aja Ibu bayangkan kalau semisalnya aku masih punya ekor sekarang, pasti—“ “Cukup! Ibu enggak mau dengar itu lagi! Sudah sejauh mana mereka menipu kamu?! Apa mereka minta uang? Kamu diancam pakai apa? Apa… apa… apa… mereka melecehkan kamu?” Naraya tidak tahu dari mana mengapa ibunya mendapatkan ide bahwa ia baru saja dilecehkan oleh mereka bertiga. Namun, ibunya saat ini sangat terguncang. Ia mencengkeram bahu Naraya erat-erat, sungguh menyakitkan. Air mata berdesakan menuruni wajahnya, napas satu-satu, dan ekspresi itu… Naraya benar-benar baru melihatnya sekarang. Seperti perpaduan, marah, benci, sedih, khawatir, jijik, dan keputusasaan. “Ayah sendiri yang cerita ke aku. Aku bahkan dibawa ke alam siluman. Apa aku masih harus cerita soal gimana Ayah dan Ibu bertemu. Dengan begitu Ibu bisa percaya kalau aku baru saja ketemu sama Ayah? Itu juga sebutan yang enggak lazim sebenarnya, aku masih heran kenapa dia enggak minta dipanggil Bapa atau Romo kayak di film-film kolosal zaman dulu. Ibu sendiri pasti juga merasa aneh sama panggi—“ Naraya menghentikan perkataannya setelah melihat sang ibu tampak tertekan dan menangis tanpa bersuara di kursi. Kedua kakinya ditarik ke atas kursi, bahkan dipeluk erat-erat, dan dijadikan dinding kecil untuk menutupi wajah menyedihkannya saat menangis. “Ibu… maaf. Aku sudah dengar semuanya dari Ayah, ada banyak hal yang belum Ibu ketahui. Aku juga tidak bisa bilang Ayah benar ketika melakukan semua itu, tetapi ia tentu memiliki alasan. Ibu juga harus mengetahuinya suatu hari nanti.” Ibunya tidak kunjung menjawab. Tubuhnya bergetar. Ini bukan waktu yang tepat untuk meneruskan bercerita tentang hal-hal apa yang baru saja ia alami. Naraya bergabung dengan sang ibu di kursi, menemani hingga tak ada lagi tangis tersisa. *** “Pada akhirnya, Ibu jadi lebih banyak menangis. Aku sama sekali enggak menjelaskan apa pun sama Ibu. Aku sudah melukai hatinya.” Naraya berkata pada Ruben dan Azka melalui panggilan video daring. Namun, kedua sahabatnya lebih banyak menyoroti pemilihan kata Naraya yang semakin banyak berubah sejak pertama kali mereka melakukan panggilan video. Kendati begitu, mereka belum berani menegurnya. Naraya sedang banyak curhat semenjak keputusan pertamanya minggat, ada sela beberapa jam ketika mereka sama sekali tidak bisa menghubungi pemuda itu. Dan, ketika mereka bisa menghubunginya, Naraya membatalkan keputusan kembali ke ibu kota. Sebagai gantinya, ia membawa cerita yang agak… membingungkan. Beberapa kali ia menyebut tentang sesuatu yang tidak masuk akal, tidak bisa dinalar akal sehat manusia, tetapi semua itu hanya gumaman Naraya sesaat setelah obrolan virtual mereka tersambung. Menyadari jika kawan mereka menjadi lebih aneh, keduanya bahkan sempat bertukar pesan pendek tentang betapa anehnya kawan mereka yang satu ini. Naraya menjadi lebih sering melontarkan kata-kata formal alih-alih bahasa daerah yang sudah sepatutnya lebih mudah meresap ke otak. Hal yang terjadi justru di luar dugaan. “Menurut kalian, aku harus gimana?” Ruben dan Azka sedikit panic ketika Naraya melontarkan pertanyaan itu. Keduanya memang mendengarkan, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki solusi. Naraya lebih banyak menggumam tidak jelas, sesekali termenung selama panggilan berlangsung, dan terkadang melamun atau meninggalkan tempatnya entah ke mana. Selama sesi curhat itu ia lebih berfokus pada mendampingi ibunya yang terpukul dan keluarganya yang masih cemas alih-alih membagi cerita tentang hal apa yang terjadi padanya. Mereka tentu tidak bisa memberikan solusi. Di tengah kebingungan itulah sebuah suara ketukan menarik atensi Naraya. Ruben dan Azka bersumpah melihat sekelebat bayangan berbulu besar melewati jendela kamar Naraya. Keduanya sontak menjerit di waktu nyaris bersamaan. Naraya juga ikut terkejut. “Kalian kenapa?” “Gila, tadi kayaknya ada gorila lewat. Kayak gorila, tapi warnanya kayak monyet-monyet gunung yang biasanya ada di kebun binatang itu. Lo tadi liat gak, Azka?!” Ruben panik, pemuda itu tadi sempat terjungkal dari kursi putarnya. Azka pun sama terkejutnya. “Gue juga sumpah liat itu juga! Astagfirullah… Bunda… tadi ada penampakan. Ya Allah… Ya Gusti… Ya Tuhan… tadi itu apaan?!” Naraya memahami keterkejutan mereka. Ia sendiri meyakini bahwa yang baru saja melintasi jendela pastilah ayahnya. Mungkin ada sesuatu yang hendak disampaikan kepadanya, tetapi ayahnya datang di saat kurang tepat. Ruben dan Azka tidak memiliki keberuntungan sehingga wujud asli ayahnya tidak tampak bagi mereka. Ia harus menyudahi panggilan video itu sebelum keadaan bertambah menyeramkan bagi kedua pemuda itu. “Uhm… ada sesuatu di luar. Kalian gapapa kalau ditinggal sebentar?” Ruben dan Azka mengiakan saja tawaran Naraya. Mereka berdua memang bukan tipe-tipe orang yang pemberani. Dan ketika panggilan itu sudah sepenuhnya terputus, sosok ayahnya betul-betul menampilkan diri di jendela. “Sepertinya teman-temanmu sangat takut dengan sedikit pergerakan yang Ayah lakukan. Mereka mungkin akan pingsan jika melihat wujud Ayah sepenuhnya.” Naraya meringis sembari membalas, “Itu sudah jelas. Ayah jangan betulan mengejutkan mereka kalau misalnya aku dan mereka melakukan panggilan video lain.” “Haha, Ayah hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat. Karena Sugi membawa Parjo dan Minto yang meracuni Ayah, tentu saja Ayah khawatir kalau semisalnya mereka berdua berkhianat. Kalau kata Sugi sendiri dan dua pria itu yang menemui Ayah secara langsung, mereka berdua meminta maaf atas racun itu. Entah bagaimana ceritanya… mereka beranggapan karena sudah meracuni Ayah, mereka mendapatkan karmanya. Haha… konyol sekali karena mereka kena penyakit serius. Maka dari itu mereka mendatangi Ayah dan meminta maaf secara langsung.” Ayahnya mungkin sedang senang mendapatkan teman bercerita setelah sekian lama menikmati waktunya dalam kesendirian dan hanya bergaul dengan moneyt-monyet gunung. “Kalau Ayah begitu, jahat namanya. Tapi… aku hanya akan memperingatkan agar Ayah jangan bicara terlalu keras. Ibu tidur, simbah juga sudah tidur. Aku takut akan mengusik istirahat mereka. Ibu banyak menangis hari ini.” Ayahnya mengangguk paham. “Ya… Ayah tahu. Karena sedari tadi Ayah mendengarkan obrolan kalian. Memang menyedihkan karena sudah membuatnya menangis. Tapi… ia juga berhak tahu apa yang terjadi. Mungkin Ayah harus menemuinya suatu hari nanti. Walaupun ia sendiri tidak akan senang nantinya, tapi Ayah akan berusaha mengesampingkan ego.” Naraya berdecih. “Aku tidak yakin Ayah akan benar-benar melakukannya. Aku juga tidak yakin akan melakukan pelatihan yang Ayah sebutkan itu. Ayah sendiri saja mempertahankan wujud itu sudah memakan banyak tenaga, melatihku tentu saja akan menguras tenaga Ayah sampai habis.” Ayahnya tentu terkejut mendengarnya. “Hei… kalau di alam siluman, Ayah tentu tidak akan kebingungan dengan masalah itu. Kekuatan Ayah tidak akan berkurang di sana. Kau pun juga sama.” “Aku tidak akan melakukannya. Sudah cukup membuat Ibu menangis karena kita bertemu, jika berlatih dengan Ayah, bisa bayangkan betapa sakit hatinya Ibu? Kalau Ayah tidak menjelaskan segalanya kepada Ibu, tentu saja kesalahpahaman ini terus saja berlanjut.” Iswara yang pada dasarnya tidak gampang menyerah tiba-tiba saja terlintas satu ide. “Kau tentu ingin terhindar dari anak-anak nakal itu tanpa ketahuan bukan? Ayah bisa mengajarkanmu trik-trik mudahnya. Ya… itu kalau kau mau. Ayah pastikan itu bukan trik yang jelas. Mereka tidak akan pernah tahu kalau kau yang melakukannya.” Naraya melirik ayahnya agak antusias. Itu adalah tawaran yang ia nantikan. Cara untuk menghindari Bisma dan dua kroconya itu memang hal yang sangat ia butuhkan saat ini. Ah… kenapa ayahnya selalu saja membuatnya gamang? |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD