25. Ayah dan Putranya – I
Itu adalah cerita panjang yang memberikan banyak guncangan bagi Naraya. Kelahirannya sejak awal membala bala. Ibunya nyaris meninggal dan ayahnya bahkan membagi energi kehidupan kepada ibu. Menyadari bahwa ibunya bahkan tidak menyadari alasan masih bertahan hidup sampai sekarang adalah karena pengorbanan pria yang selama ini tidak diinginkan kembali kepada mereka. Karena asal-usul dan banyak hal belum terungkapkan ini, menciptakan benang-benang kusut di dalam kepalanya. Naraya nyaris tidak bisa berdiri ketika sang ayah mengulurkan tangan, mengajaknya menyusuri alam siluman ini lebih luas.
“Kau pasti sangat terpukul mendengar semua ini. Ayah sebenarnya juga tidak suka dengan cara Sugi membawamu kemari, tetapi ini adalah momen terbaik. Karena Ayah sama sekali tidak bisa meninggalkan gunung ini, jadi ini akan menjadi kesempatan terakhir Ayah bertemu denganmu. Ya… itu karena kau akan meninggalkan tempat ini, ‘kan?” Iswara menarik tangan Naraya membawanya keluar dari air terjun, mereka dihadapkan pada jurang dalam yang ditumbuhi banyak batu-batu cadas di bawahnya.
Naraya menyipitkan mata ketika embusan angin menampar wajahnya keras-keras. Ia melebarkan mata sedikit, mendapati ayahnya sama sekali tidak terusik dengan angina kencang itu. Rambutnya yang panjang dan berwarna abu-abu beterbangan seperti sarang laba-laba. “Apa maksud Ayah dengan tidak bisa keluar dari gunung ini?”
Pria itu tersenyum, bukan senyum bahagia tentunya. “Karena gunung dan hutan ini menjadi jantung Ayah, satu-satunya energi yang bisa Ayah pakai untuk bertahan hidup setelah membaginya kepada kalian berdua. Ini adalah wujud yang tidak bisa Ayah gunakan berlama-lama di alam manusia. Wujud monyet tidak memakan banyak energi sehingga tidak banyak tenaga terbuang, tapi… dengan wujud ini dan wujud sempurna, akan memakan banyak tenaga dan mungkin membahayakan nyawa Ayah.”
“Dan Ayah juga sama sekali tidak pernah menyebutkan hal itu kepada Ibu.” Naraya tidak memberikan tanda tanya pada perkataannya, pun ia juga tidak yakin bahwa itu adalah pertanyaan, terkaan, atau pernyataan.
“Kalau Ayah mengatakannya, mungkin ia tidak akan membenci Ayah seperti itu. Mungkin keadaan akan lebih baik, mungkin saja kita masih bersama.”
“Lantas kenapa Ayah tidak mengatakannya dari dulu?!” Nada bicara Naraya naik. Kali ini ia betul-betul marah. Hal sepenting ini tidak dikatakan kepada ibunya tentu saja menimbulkan kesalahpahaman. Awal dari segala sikap dingin ibunya kepada ayah.
Iswara tidak bisa lari ke mana-mana lagi. Ditatapnya sang putra dengan mata yang menguraikan penyesalan. “Itu karena Ayah tidak ingin terlihat lemah di mata ibumu. Sebagai sosok yang selalu dipandang kuat, Ayah tidak ingin memberikan kesan tidak berdaya kepadanya. Karena rasa minder itu… kalian berdualah yang pada akhirnya terluka. Kalau saja pada waktu itu Ayah berani menjadi orang lemah… menurunkan sedikit ego Ayah… mungkin saja kita masih bersama.”
Naraya memalingkan wajah, tidak menduga jika ia bisa menyaksikan sisi lemah ayahnya di saat seperti ini. Ketika nyawanya bisa saja dalam bahaya karena satu langkah saja bisa menjatuhkannya dari ketinggian ini dan… menjumpai batu-batu cadas di bawah sana. “Kenapa Ayah tidak mencoba mengatakannya pada Ibu selagi ia ada di sini? Apakah Ayah juga kembali dikalahkan oleh ego? Ayah sudah sampai di titik mengakui semuanya padaku? Apa salahnya dengan mengatakan yang sesungguhnya pada Ibu?”
Ayahnya tampak lebih kacau daripada ketika mengaku ke Naraya. “Untuk itu… Ayah harus menyiapkan hati.”
Naraya mengernyit. “Sudah kuduga kalau akan begini jadinya. Aku tidak bisa membantu Ayah sama sekali kalau Ayah juga tidak mau berusaha. Beberapa jam yang lalu, aku membenci Ayah sampai ke ubun-ubun. Sekarang aku betul-betul merasa kasihan. Ayah mungkin dikenal sebagai makhluk mistis kuat, tapi di mataku Ayah tak lebih dari pria labil yang sama sekali tidak memiliki keberanian mengakui perasaanya pada wanita yang ia cintai.”
“Tapi setidaknya kau tidak membenci Ayah lagi.”
“Aku masih membenci Ayah, hanya saja dikalahkan rasa kasihan itu.”
Sudah jelas sekali jika mereka berdua sama-sama tidak ingin kalah. Naraya memalingkan wajah lagi, mendadak merasa angina menerpa wajahnya makin kencang. Ia telah berada di ujung tebing, kakinya terperosok jatuh. Kalau bukan karena bantuan dari ayahnya, ia pasti sudah jatuh ke dalam sana dan berakhir entah menjadi apa. Hanya saja, ia tidak menduga dengan bantuan jenis apa yang diberikan sang ayah. Ia bergelantungan di udara dengan salah satu kakinya dibelit ekor sang ayah. Pemandangan seperti ini mungkin akan menimbulkan gelak tawa.
“Thole*, kau tidak apa-apa?” tanya Iswara khawatir. (*Panggilan untuk anak laki-laki)
“Aku enggak apa-apa, cuma kayaknya mau muntah aja.” Posisi ini benar-benar tidak menyenangkan untuk Naraya yang juga tidak terlalu menyukai pemandangan menyeramkan di bawahnya.
Pada akhirnya Naraya tidak jadi muntah setelah diturunkan. Tidak menyangka pula jika ekor sang ayah tetap kuat walaupun pria itu menekankan kondisi tubuhnya yang melemah. Ayahnya malah memberikan tawaran yang kembali menegakkan seluruh bulu kuduknya. “Sebenarnya Ayah membawamu ke sini supaya kau bisa berlatih. Ke depannya kau pula yang akan menjaga gunung ini bukan. Kau tentu ingin menjadi lebih kuat daripada dirimu yang sekarang.”
“Apa? Menjaga gunung? Ayah tidak salah bicara, ‘kan?”
“Ayah sudah tidak sanggup merawat gunung ini lagi. Dengan kondisi Ayah yang saat ini semakin lemah, kau memang harus meneruskan tugas Ayah.”
Naraya buru-buru menolak. “Bagaimana bisa Ayah memberikan tanggung jawab luar biasa besar itu padaku? Kalau Ayah memberikan tanggung jawab yang bahkan tidak mampu aku bayangkan bagaimana sulitnya, bukankah itu sama saja dengan menggiring gunung ini pada kehancuran. Aku bahkan sama sekali tidak tahu seluk beluk gunung ini! Bagaimana bisa Ayah menunjukku dengan tiba-tiba.”
Iswara menghela napas pelan, diraihnya kedua tangan Naraya dan menyatukannya dalam genggaman. “Ayah tahu ini akan menjadi sangat sulit untukmu. Tapi seperti yang Ayah bilang, Ayah semakin lemah semenjak membagi energi kehidupan itu pada kalian berdua. Energi kehidupan yang berada dalam tubuh Ayah adalah api, api itu sudah Ayah berikan kepada kalian berdua, sisa api yang sedikit itu Ayah gunakan untuk melindungi tempat ini, sedangkan sisa bara api yang menopang tubuh Ayah, didapatkan dari energi di luar tubuh Ayah. Mereka hanyalah angin yang menjaga agar nyalanya tidak mati, jika bara itu betulan mati… maka Ayah akan mati juga. Saat ini pun Ayah berhati-hati sekali agar tidak memadamkannya.” Iswara meletakkan salah satu telapak tangan Naraya di dadanya, detak jantungnya lemah, tidak sehangat suhu manusia normal—walaupun ia bukan manusia—begitu dingin.
“Maka… kau pasti akan mendapati banyak bagian dari gunung ini semakin hancur, sering kali para petani mengeluh tanah mereka tidak lagi subur, longsor yang semakin sering terjadi, dan banyak hal lain mengancam gunung. Itu karena Ayah semakin tidak bisa mempertahankan mereka. Diperparah lagi dengan manusia yang semakin jahat kepada alam ini. Mereka menebangi pohon seolah pohon-pohon itu bisa tumbuh lagi dalam semalam tanpa mengganti apa yang sudah mereka tebang. Tanah-tanah yang seharusnya memberikan cukup nutrisi disirami dengan bahan kimia yang justru membunuh tanah itu perlahan. Pabrik-pabrik membuang limbah mereka ke sungai, membunuh hewan-hewan yang bisa dimakan tanpa mengeluarkan uang. Padahal mereka mencari sepeser dua peser rupiah dari pabrik yang bahkan membunuh sumber makanan gratis yang sudah diciptakan Tuhan untuk mereka, bukankah itu miris?”
“Pidato” panjang ayahnya membuka kembali lembaran-lembaran novel yang pernah ia baca tentang krisis iklim dan alam. Mendengarnya langsung dari “perwakilan alam” mendadak memberikan getaran sendiri bagi Naraya.
“Ayah… ini masih terlalu berat untukku. Aku tidak bisa melakukannya langsung. Aku harus belajar beradaptasi.”
Sebuah senyum bahagia terbit di wajah sang ayah. Kali ini Naraya bisa menilainya dengan jelas. “Kalau begitu, kau harus mendapatkan pelatihan privat dari Ayah. Tapi sebelum itu, Ayah harus membawamu pulang ke ibumu.”
Naraya mengerang tidak senang. “Aku tidak tahu harus mengatakan apa ke Ibu nanti.”
“Jadilah laki-laki sejati, Thole.”
Naraya menjadi tidak senang dengan panggilan itu.
|Bersambung|